
"Mas, Mama dan Papa sudah menunggu kita, rasanya tidak sopan jika kita terlalu lama di sini dan membuat mereka menunggu. Lagian Papa dan Mama juga akan pergi ke bandara. Ayo kita turun!" ajak Dira tang berusaha melepas pelukan sang suami.
Hasbi yang sebenarnya berat pun akhirnya mengangguk juga. Tidak mungkin mereka mengabaikan kewajibannya di perusahaan. Pria itu hanya berharap semoga waktu berjalan dengan cepat dan dia bisa bertemu dengan istri di rumah. Dira ingin membawakan tas kerja sang suami. Namun, Hasbi melarang, justru dirinyalah yang membawakan tas untuk istrinya.
Dira hanya diam dan mengikuti langkah sang suami menuju meja makan. Benar saja di sana sudah ada Mama Liana dan Papa Edo yang sedang menunggu. Sepertinya mereka sedang berbincang serius.
"Kenapa kalian lama sekali? Hasbi juga, biasanya sekali panggil langsung turun," tegur Mama Liana.
"Mama seperti tidak tahu pengantin baru saja. Apa harus aku jelaskan dulu semuanya," jawab Hasbi dengan entengnya.
Dira yang merasa terkejut pun hanya tersenyum canggung. Bisa-bisanya sang suami berbicara begitu, padahal dirinya saja enggan menanggapi pastinya akan memalukan.
"Iya, tahu yang masih pengantin baru," sahut Mama Liana sambil tersenyum.
Papa Edo pun menyenggol lengan sang istri agar tidak lagi menggoda anak dan menantunya. Lihat saja wajah Dira yang sudah memerah. Hasbi juga begitu, tidak biasanya anak itu menimpali ucapan sang mana, ini kenapa malah saling lempar gurauan.
"Setelah ini Papa dan Mama mau berangkat langsung ke luar kota. Kalian jaga diri baik-baik, jangan bertengkar karena masalah sepele. Apa pun masalah yang ada, selesaikan baik-baik," ujar Papa Edo pada anak dan menantunya.
"Papa ini kayak mau pergi lama saja. Di sana "kan cuma beberapa hari, itu pun kalau Papa dan Mama nyaman di sana, kalau tidak besok juga sudah pulang lagi."
__ADS_1
Mama Liana menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan. "Sebenarnya Mama juga malas pergi ke sana. Kalau tidak mengingat hubungan darah juga Mama ogah pergi ke sana," timpal Mama Liana dengan ketus.
Hubungan dia dan keluarga suaminya memang kurang baik. Mereka selalu menyombongkan diri satu sama lain dan menghujat orang yang miskin meskipun itu saudara sendiri. Dulu saat masih ada orang tua mereka masih segan dan berpura-pura saling menghormati meskipun dalam hati saling membenci. Saat orang tua sudah meninggal barulah mereka menunjukkan dirinya.
Bahkan mereka sekarang sudah tidak pernah lagi berkumpul seperti dulu, yang setiap lebaran pasti menginap di rumah orang tua. Mama Liana tidak mau ambil pusing, justru dia merasa senang tidak berkumpul dengan mereka. Setidaknya dia tidak capek hati selalu berdebat dengan para saudara.
"Ma, tidak boleh seperti itu di depan anak-anak, nanti yang ada mereka malah mencontoh perbuatan kita yang tidak baik. Ingatlah, perbuatan yang tidak baik akan kembali pada pelakunya. Kita sebagai orang tua harusnya bisa menasehati anak-anak agar selalu berbuat baik. Meskipun banyak orang yang berbuat jahat pada kita," tegur Papa Edo.
"Tapi lama-lama juga kesal."
"Iya, Papa tahu. Sudah tidak usah diteruskan lagi."
Akhirnya Mama Liana diam meskipun hatinya masih dongkol dengan sikap para iparnya itu. Dira dan Hasbi saling berpandangan, merasa tidak nyaman dengan kondisi yang seperti ini.
"Iya, tidak apa-apa. Papa dan Mama juga mengerti jika kalian juga punya tanggung jawab," sahut Mama Liana.
"Nanti kalau sampai sana jangan lupa kirim pesan ke Dira ya, Ma, biar Dira tenang karena Mama sudah sampai dengan selamat."
Mama Liana merasa tersentuh dengan perhatian yang diberikan oleh menantunya. Selama ini saat dia akan pergi ke mana pun tidak ada yang khawatir padanya, entah sampai tujuan dengan selamat atau tidak. Apakah perjalannya menyenangkan atau tidak, sungguh dia merasa senang akhirnya bisa merasakan apa yang orang lain rasakan.
__ADS_1
Meskipun Hasbi juga khawatir padanya, tetapi tidak pernah memberi perhatian seperti yang dilakukan Dira. Tanpa sadar wanita itu meneteskan air mata, bukan karena sedih, lebih tepatnya karena terharu
"Kok Mama malah nangis? Apa Dira salah bicara, Ma?" tanya Dira yang merasa bersalah saat melihat sang mertua meneteskan air mata.
"Tidak, Mama justru senang karena tahu beginilah rasanya memiliki anak perempuan. Mama jadi merasakan bagaimana diperhatikan. Kalau suamimu mana pernah perhatian seperti kamu, Mama mau pergi ke mana pun dia pasti biasa saja."
Dira pun mendekati sang mertua dan memeluk wanita itu. Sungguh dia merasa menjadi menantu berharga jika seperti ini. Padahal niatnya tadi memang benar-benar peduli pada sang mertua, bukan untuk cari perhatian atau sejenisnya.
"Ma, Mas Hasbi juga pasti sebenarnya sayang dan khawatir pada Mama, hanya saja tidak mengungkapkannya secara langsung. Mama tahu sendiri 'kan anak Mama itu seperti apa?"
Mama Liana mengangguk, memang benar apa yang dikatakan Dira. Padahal hubungannya dengan sang putra cukup dekat, tetapi Hasbi memang bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan perasaannya.
Hasbi merasa senang saat melihat mama dan istrinya begitu dekat. Meskipun ada rasa kesal juga karena sang mama ternyata selama ini tidak menganggap perhatiannya. Dia akui jika dirinya sedikit kaku dalam bersikap, tetapi tidak mengurangi rasa peduli yang dimiliki untuk kedua orang tuanya.
"Sudah-sudah, ini kenapa malah jadi sedih-sedihan begini? Seharusnya Mama senang punya menantu seperti Dira, bukan malah menangis," tegur Papa Edo.
"Tentu saja, Pa. Mama senang memiliki menantu seperti Dira. Justru Mama begini karena terlalu bahagia."
Semua orang pun melanjutkan sarapan pagi karena mereka juga akan melakukan pekerjaan masing-masing. Dira dan Hasbi pergi ke kantor dengan menggunakan mobil masing-masing. Hasbi sempat menawarkan diri lagi untuk mengantar sang istri, tetapi wanita itu menolak karena tidak ingin merepotkan suaminya, sementara Mama Liana dan Papa Edo pergi ke bandara dengan diantar sopir.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama, Dira akhirnya sampai juga di kantor. Tampak sudah banyak orang yang datang. Wanita itu segera masuk ke dalam ruangan, ternyata di sana teman-temannya sudah rapi dan bersiap menyambut atasan baru mereka.
Semua pegawai diharapkan berkumpul di aula, akan ada sambutan dari pemimpin baru serta ada aturan baru yang akan diterapkan. Dira pun hanya mengikuti saja, dia tidak mau ambil pusing siapa yang akan memimpin perusahaan ini, asalkan semua berjalan dengan normal dengan aturan yang masih dalam batas wajar juga.