Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
70. Rencana pernikahan


__ADS_3

Semua orang menikmati sarapan dengan lahap dan perasaan bahagia. Sesekali mereka saling bercanda dan yang paling mendominasi tentu saja suara Khairi. Anak itu terlihat begitu bahagia karena hari ini dia memiliki banyak keluarga. Semuanya pun menyayanginya.


Setelah selesai sarapan, Asha meminta Tiara untuk mengajak Khairi bermain di luar. Untung saja gadis itu hari ini tidak ada mata kuliah jadi, bisa libur, sementara Khairi untuk hari ini Asha memutuskan untuk libur saja. Saat kedatangan para orang tua tidak mungkin membiarkan sang putra pergi.


"Jadi sekarang rencana kalian apa?" tanya Papa Roni memulai pembicaraan.


"Rencananya saya ingin menikah kembali dengan Asha. Itu juga yang membuat aku meminta kalian semua ke sini. Aku ingin kalian semua juga menjadi saksi pernikahan kami. Apalagi Papa Harto juga harus menjadi wali, sekaligus ingin meyakinkan Asha karena dia ragu kalau kalian semua merestui pernikahan kami," jawab Aji, sementara Asha hanya menundukkan kepala.


Para orang tua semuanya merasa senang karena memang dari awal juga mereka sudah setuju, kalau Aji kembali menikah dengan Asha. Semua juga tahu jika Aji juga masih mencintai istrinya. Berkali-kali Papa Roni ingin menjodohkan putranya dengan anak temannya, tetapi selalu menolak karena yakin jika Asha akan kembali bersama dengannya.


"Sebelumnya Mama minta maaf sama kamu, Asha. Semua ini terjadi juga karena Mama yang dengan mudah terpengaruh omongan orang lain, tanpa menanyakan asal usul dari masalah itu. Maafkan mama," ucap Mama Tia dengan mata berkaca-kaca.


Asha mendekati mantan mertuanya dan menggenggam telapak tangannya. Dia senang akhirnya wanita itu mau menerima kehadirannya, padahal sebelumnya sangat takut jika dirinya ditolak. Dari para orang tua, Mama Tia lah yang paling keras menolaknya saat itu.


"Tanpa Mama minta maaf pun aku sudah memaafkan mama. Aku akui itu semua karena kesalahanku juga. Seharusnya aku yang berkata jujur di sini jadi, Mama tidak bersalah."


"Karena itu mau memohon terima Aji jadi suamimu lagi. Mama tidak sanggup melihat anak Mama menderita karena kehilangan kamu. Sudah cukup selama ini penderitaannya karena kehilangan kamu."


"Penderitaan? Penderitaan apa, Ma?" tanya Asha yang sama sekali tidak mengerti.


"Aji pasti tidak cerita sama kamu bagaimana menderitanya dia setelah kamu tinggal pergi, seberapa berusahanya dia untuk mencari kamu ke mana-mana."


Asha hanya menggeleng sebagai jawaban karena memang Aji belum bercerita. Lebih tepatnya belum secara detailnya. Dia tahu beberapa saja, itu pun tidak sengaja. Salah satunya mengenai penyakit asam lambung yang dia tahu dari dokter.


"Aji sangat menderita sejak kepergian kamu. Dia mencari kamu ke mana-mana, menyewa detektif preman semua dia lakukan agar bisa menemukan kamu. Dia juga sempat jatuh sakit karena asam lambung yang cukup parah. Dia tidak terlalu menjaga pola makannya, bahkan sampai tubuhnya kurus. Penampilannya pun tidak terurus lagi, sampai akhirnya mama kamu datang memberi pengertian pada Aji, bahwa apa yang dilakukan ini sama saja menyiksa diri sendiri. Kalaupun kamu melihatnya pun juga akan ikut sedih. Sejak itu dia mulai bangkit dan lebih kuat, tapi tetap dia berusaha untuk mencari kamu apa pun caranya. Seberapa banyak dia mengeluarkan uang dan membayar orang. Nyatanya dia sendiri yang malah menemukan kamu. Mungkin ini yang dinamakan jodoh."

__ADS_1


Asha tersenyum dan mengangguk, rasa haru menyelimuti hatinya. Dia tidak menyangka jika Aji begitu besar usaha pria itu untuk bertemu dengannya. Asha merasa menjadi seseorang yang diinginkan saat ini, padahal sebelumnya dirinya merasa rendah diri karena tidak ada yang mengharapkan keberadaannya. Dia juga pernah mendengar dari Aji bahwa pria itu membayar orang untuk mencarinya, tetapi tidak menyangka kalau itu benar-benar terjadi. Wanita itu pikir kemarin hanya bualan Aji semata.


"Jadi kapan rencananya kamu akan menikah? Papa juga sudah tidak sabar ingin menjadi wali kembali," ujar Papa Harto yang sedari tadi hanya diam menyimak.


Aji tersenyum sambil melirik ke arah Asha. Namun, wanita itu malah menunduk. Akhirnya dia yang menjawab, "Karena pernikahanku akan dilaksanakan secara agama saja jadi, kapan pun bisa dilakukan. Mengenai pesta aku pun bisa melakukannya dengan cepat. Warga di sini juga siap membantu."


"Baguslah kalau begitu. Nanti kamu atur saja mau bagaimana. Papa ikut saja," sahut Papa Harto yang kemudian menatap yang lain. "Bagaimana dengan kalian?"


"Kalau kami juga setuju saja mau pestanya bagaimana."


"Baiklah, nanti biar aku bilang sama Pak lurah dan Pak RT di sini."


"Tunggu, Mas. Sebelumnya boleh tidak kalau aku menginginkan acara ini hanya sederhana, hanya keluarga inti saja, tidak perlu ada acara resepsi. Bagaimanapun aku juga sudah pernah menikah, ada anak juga. Rasanya tidak pantas jika mengadakan pesta yang terlalu berlebihan," sela Asha yang merasa keberatan dengan rencana yang disusun calon suaminya.


Wajah Asha bersemu merah saat Aji memanggilnya 'sayang'. Ini pertama kali bagi wanita itu mendapat panggilan seperti itu, tetapi sebisa mungkin dia bersikap biasa saja. Malu rasanya jika dirinya bersikap seperti anak muda yang sedang kasmaran.


"Iya, Mas. Kalau begitu jamuan saja, tidak perlu acara resepsi."


"Baiklah kalau begitu, biar aku diskusikan dulu sama Pak lurah. Semoga mereka bisa membuatkan acara dengan segera. Aku juga perlu mencari seorang pemuka agama."


Pembicaraan selanjutnya pun membahas mengenai rencana pernikahan Asha dan Aji. Meskipun acara akan diadakan sederhana, tentu saja sebagai seorang suami Aji ingin memberikan yang terbaik. Pria itu juga akan menghubungi jasa catering karena tidak ingin lebih merepotkan warga.


Setelah perbincangan selesai, Mama Nisa dan Mama Tia berniat mengajak Khairi pergi ke mall bersama dengan suami mereka. Awalnya Asha melarang karena mereka juga pasti sudah lelah, baru sampai tadi pagi subuh, tetapi belum sama sekali istirahat dan sekarang sudah mengajak Khairi jalan-jalan. Namun, Mama Nisa mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Nanti malam mereka bisa beristirahat. Sekarang mereka ingin bersenang-senang dengan cucunya.


Akhirnya Asha pun membiarkan saja mereka membawa Khairi. Anak itu juga tampak senang bisa pergi bersama dengan opa dan omanya, sementara Aji sendiri pergi ke balai desa untuk bertemu dengan Pak lurah dan meminta bantuan beberapa warga, untuk membantu rencana pernikahannya. Semua warga tentu merasa senang dengan rencana itu. Apalagi Aji juga menjanjikan upah pada mereka yang mau membantu.

__ADS_1


"Khairi belum pulang?" tanya Aji saat dia baru pulang dari balai desa.


"Belum, Mas. Sepertinya mereka akan pulang sore. Tadi mama kirim pesan seperti itu."


"Mereka sepertinya sangat menikmati waktu sekali. Apa kamu sudah senang?" tanya Aji dengan menatap wajah cantik calon istrinya.


Asha mengangguk dan menatap ke depan. "Aku sangat bahagia dan juga lega. Akhirnya apa yang aku takutkan selama ini tidak terjadi. Aku pikir saat nanti bertemu dengan mereka, mereka akan kembali memisahkanku dengan Khairi. Ternyata apa yang aku takutkan itu tidak terbukti, bahkan mereka juga sangat menyayangi Khairi. Aku sangat bahagia."


"Itu memang yang aku harapkan. Setelah ini aku harap hanya kebahagiaan yang hadir dalam hidupmu. Jangan pernah lagi merasa sedih. Jika ada sesuatu yang tidak kamu suka atau mengganjal dalam hatimu, katakan saja padaku. Sekarang tanggung jawabmu sudah aku ambil alih. Aku harap kamu juga terbuka padaku."


"Akan aku coba, Mas. Untuk saat ini mungkin masih sulit karena belum terbiasa, tapi aku akan mencobanya. Aku akan mencoba menjadi istri yang baik untukmu, semoga kamu tidak menyesal karena memilih aku menjadi istrimu."


"Itu tidak akan pernah terjadi. Kita pernah hidup satu atap meskipun hanya sementara dan itu sudah cukup membuatku yakin bahwa kamu adalah istri yang terbaik untukku," jawab Aji dengan yakin. Entah apa yang akan terjadi dalam rumah tangganya kelak, yang pasti saat ini dia hanya ingin bisa bersama dengan wanita itu.


Asha tersenyum dan menunduk. Tidak ada lagi perbincangan diantara keduanya, tidak tahu lagi harus membicarakan apa. Jantung keduanya saat ini juga berdetak tak beraturan. Setiap sedikit pergerakan saja sudah membuat sesak napas. Hingga tiba-tiba wanita itu teringat sesuatu.


"Mas, nanti setelah menikah kita akan tinggal di mana?"


"Terserah kamu mau tinggal di mana. Aku akan ikut ke mana pun kamu mau, tidak akan memaksamu. Kalau kamu memang tidak siap untuk pergi ke kota, kita bisa tinggal di sini."


"Lalu bagaimana pekerjaanmu? Kamu tidak mungkin bekerja di kantor cabang terus, kantor pusat pasti juga sangat membutuhkanmu."


"Aku bisa mengerjakannya dari jarak jauh. Kalaupun aku ada pekerjaan yang mendesak dan mengharuskanku untuk datang ke kantor pusat, aku akan pergi. Mungkin aku akan pergi ke sana sebentar, tidak apa-apa 'kan kalau kita LDR-an?"


Asha terdiam, entah apakah dirinya sanggup berjauhan dengan sang suami atau tidak. Lima tahun sudah mereka terpisah, apa mungkin harus ditambah lagi, tetapi kembali ke kota dan kembali ke tempat tinggalnya dulu, rasanya dia tidak ajan sanggup. Pasti kenangan buruk itu akan kembali, sekarang saja terkadang masih terbayang.

__ADS_1


__ADS_2