
"Maaf kalau mama membuatmu tidak nyaman," ucap Hasbi saat mereka sedang dalam perjalanan.
"Tidak apa-apa, Aku justru senang dengan sikap Mama Liana yang apa adanya, daripada harus berpura-pura baik yang nantinya malah akan semakin menyakiti hati. Bukankah lebih baik berbicara apa adanya?"
"Mama memang suka berbicara sesuai isi hatinya. Syukurlah kalau kamu tidak keberatan, aku pikir tadi kamu tidak nyaman dengan apa yang dikatakan mama."
"Tidak juga, mamaku juga orangnya apa adanya. Apa yang dipikirkan itu yang akan dia katakan."
Hasbi mengangguk dan kembali bertanya, "Mengenai permintaan Mama tadi bagaimana?"
"Permintaan yang mana?" tanya Dira yang tidak mengerti.
"Mengenai setelah menikah, kita tinggal di mana? Mama ingin kita tinggal di rumahnya, apa kamu setuju?"
"Kalau mengenai itu terserah sama kamu. Kamu adalah suamiku, bagiku ke mana pun kamu pergi, aku akan ikut selama kamu memperlakukanku dengan baik dan bertanggung jawab atas diriku. Aku juga akan melakukan tugasku sebagai seorang istri."
"Alhamdulillah, syukurlah kalau kamu berpikir seperti itu. Aku juga tidak berniat untuk pergi dari rumah. Aku adalah anak tunggal, hanya aku yang kedua orang tuaku memiliki. Aku tidak mungkin meninggalkan mereka. Kamu juga tidak perlu melayaniku karena di rumah juga ada asisten rumah tangga. Kamu cukup melakukan apa pun yang kamu sukai. Aku juga tidak akan mengekang kamu, kalau kamu tetap ingin bekerja juga silakan."
"Terima kasih. Aku memang tetap ingin bekerja, tapi aku juga tidak akan melupakan tugasku sebagai seorang istri."
Dira tersenyum lega, sedari kemarin dia ingin menyampaikan keinginannya, tetapi selalu terhalang keadaan. Syukurlah sekarang Hasbi sendiri yang memberi ruang untuknya.
***
__ADS_1
"Bapak memanggil saya?" tanya Vania yang baru saja memasuki ruangan atasannya.
"Ya, saya ingin bertanya sedikit padamu. Apa aku semalam melakukan sesuatu yang aneh atau melakukan kesalahan padamu dan juga papamu?" tanya Rendra sambil menatap wajah asistennya.
"Maksud Anda apa? Kesalahan apa?"
"Kenapa kamu malah balik bertanya? Aku 'kan bertanya padamu, barangkali aku melakukan sesuatu di luar kendaliku atau hal-hal yang semacamnya."
Rendra bingung harus menjelaskan bagaimana. Dia takut jika sudah berbuat sesuatu yang nanti akan membuatnya malu, saat bertemu dengan Vania ataupun papanya karena pria itu benar-benar tidak ingat apa yang sudah terjadi malam itu. Ingin berusaha melupakan pun tidak bisa, untuk mengingat juga tidak bisa melihat apa pun.
"Bapak tenang saja, tidak terjadi apa-apa. Anda juga tidak melakukan apa-apa. Hanya saja sepanjang malam Anda terus saja memaki seorang gadis. Kalau tidak salah namanya Angel."
"Memang apa yang aku katakan?" tanya Rendra yang semakin penasaran.
"Saya tidak tahu, Pak. Anda bicaranya kurang jelas jadi saya tidak dengar. Saya juga kurang memperhatikan karena saat itu sudah tengah malam, saya sudah mengantuk," jawabnya berbohong.
"Apa kamu berkata jujur? Jangan sampai aku mendengar hal yang tidak-tidak tentang diriku di luaran sana."
Vania menatap ke arah atasannya dengan pandangan tidak suka. Dia bukan orang yang suka banyak bicara, apalagi mengatakan hal yang tidak-tidak tentang orang lain. Bagaimana bisa atasannya berkata seperti itu.
"Bapak tenang saja, tidak akan ada hal seperti itu. Lagi pula saya juga bukan orang yang suka banyak omong terhadap orang lain. Apalagi sampai menyebar memfitnah. Papa saya juga bukan orang yang suka ikut campur dengan urusan orang lain. Kalau bukan karena aku yang akan menjemput Anda, Papa juga tidak akan ikut campur dengan urusan Anda. Ini semua juga karena bartender itu yang menghubungiku, kalau tidak saya dan papa sudah tidur nyenyak di rumah," ujar Vania dengan nada ketus.
Rendra terkejut dengan jawaban Vania, dia tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan asistennya. Pria itu hanya tidak ingin malu di depan karyawannya, tetapi sepertinya Vania salah paham atau mungkin kata-katanya tadi yang terdengar menyakitkan.
__ADS_1
Sebelum Rendra menjelaskan maksud kata-katanya, gadis itu lebih dulu pamit undur diri, Rendra pun tidak mencegahnya karena tahu Vania sedang emosi, percuma juga menjelaskan. Pasti nanti akan semakin menambah masalah. Lebih baik nanti saja dia meminta maaf.
Sementara itu, Vania yang sudah kembali ke mejanya menggerutu kesal. kalau tahu dirinya akan dituduh seperti itu, lebih baik dia tidak datang ke klab malam itu, tetapi demi rasa kemanusiaan Vania harus menolongnya.
"Pak Rendra itu kenapa sih, selalu saja membuatku kesal. Aku sudah baik padanya, tapi masih saja berpikir buruk tentangku. Ingin sekali aku memukul kepalanya agar dia itu sadar, tapi nanti bisa-bisa aku yang akan dilaporkan ke kantor polisi. Mungkin ini adalah cara Tuhan untuk menguji kesabaranku. Ingin berhenti kerja pun juga nggak bisa, mau kerja di mana lagi? Cari kerjaan sekarang sulit, nanti bisa-bisa papa akan memintaku untuk bekerja di perusahaannya. Sudahlah lupakan saja! Lebih baik aku fokus pada pekerjaanku," gumam Vania yang tanpa diketahuinya jika Rendra mendengar hal tersebut karena di sana aja ada CCTV yang terhubung dengan laptop pria itu.
Hari sudah beranjak sore, para karyawan pun mulai meninggalkan perusahaan satu persatu. Vania sendiri juga berniat untuk pulang, tubuh dan hatinya sudah sangat lelah, tetapi atasannya belum juga keluar dari ruangan. Ingin masuk pun dia malas untuk bertemu dengan pria itu, tetapi jika tidak masuk dirinya tidak bisa pulang.
Takutnya nanti akan ada pekerjaan mendadak dari Rendra. Lebih baik Vania dan mengetuk pintu ruangan atasannya, mudah-mudahan saja dia bisa pulang dan tidak dipersulit.
"Permisi, Pak," ucap Vania sambil berjalan masuk mendekati meja Rendra.
"Ya, ada apa?"
"Apa sudah tidak ada pekerjaan lagi? Ini sudah jam pulang kantor, saya mau undur diri."
Rendra melihat jam di pergelangan tangannya, ini memang sudah waktunya pulang. Terlalu larut dalam pekerjaan hingga membuatnya tidak menyadari waktu sudah beranjak sore. Jika Vania tidak masuk mungkin dia juga tidak tahu sudah malam.
"Ya sudah, kamu pulang saja. Aku bisa menyelesaikan pekerjaan ini sendiri."
Vania mengangguk dan pamit undur diri. Dia lega karena atasannya tidak mempersulit dirinya. Padahal sedari tadi gadis itu sudah takut sendiri.
Ponsel Rendra yang ada di atas meja berdering, tertera nama Angel di sana, membuat pria itu mengepalkan tangannya. Teringat sangat jelas bagaimana penghianatan yang dilakukan oleh kekasihnya itu, hingga membuatnya berakhir di klab malam. Sekarang dengan tidak tahu dirinya Angel masih menghubunginya.
__ADS_1
Entah apa yang akan dilakukan oleh wanita itu. Padahal selama ini Rendra sangat mencintainya. Apa pun yang diinginkan pasti sebisa mungkin pria itu mengiyakannya. Apalagi Rendra juga seorang pemilik perusahaan, tidak sulit untuk menyetujui keinginan wanita itu, tapi dasar Angel yang tidak tahu diri hingga mengkhianatinya.
Yang lebih parahnya lagi pria itu adalah orang yang selama ini dikenalnya sebagai sepupu Angel. Entah sudah berapa lama mereka berselingkuh. Rendra juga Engan bod*hnya percaya dengan perkataan mereka. Namun, kali ini tidak lagi, rasa sakit pengkhianatan sudah mengajarkannya banyak hal.