Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
34. Aji yang berubah dingin


__ADS_3

Di apartemen, Aji hanya berdiam diri dengan tatapannya yang kosong. Sedari tadi, dia hanya berbaring melihat langit-langit kamar. Bayangan Asha terus saja terbayang di depan mata. Hidupnya kini serasa hampa setelah kepergian wanita itu. Entah kenapa sejak tidak ada Asha, tidak ada juga semangat di dalam hidupnya.


Padahal sebelum ini juga mereka jarang bersama, selain duduk berdua untuk sarapan dan makan malam saja. Asha terkadang memasak untuknya. Meskipun sebelumnya dia anak yang manja, tetapi sejak menjadi istri wanita itu selalu cekatan dalam melakukan segala hal. Hasil masakannya juga sangat lezat saat dia rasakan di dalam mulutnya.


Suara tawa Asha dengan Bi Ika serta tangis Khairi yang beberapa hari ini ada di rumahnya, kini tidak ada lagi dan membuatnya merasakan perasaan aneh. Seharusnya pria itu senang, tetapi justru hatinya merasa sepi, ada sesuatu yang hilang darinya.


“Apa aku rindu sama dia?” gumam Aji dengan heran.


Entah apakah perasaan ini adalah cinta atau hanya rasa kasihan, dia tidak tahu persisnya, tetapi jujur saja pria itu merasa sangat kesepian tanpa ada Asha di dekatnya. Sebagai seorang suami dan ayah, Aji merasa tidak berguna. Seharusnya dia lebih berusaha mempertahankan rumah tangganya, bukan menyerah begitu saja.


Aji bangkit dari ranjangnya, pergi ke dapur karena dia merasa sangat haus sekali. Saat berada di dapur, tiba-tiba saja dia melihat bayangan Asha yang sedang berada di depan kompor dan memasak untuk sarapan di pagi hari. Senyumnya akan merekah saat melihat dirinya yang datang, mengajaknya untuk makan bersama. Setelah itu Asha pasti akan menyiapkan piring dan nasi untuknya.


Namun, semuanya menghilang begitu saja seperti asap. Ternyata itu hanya khayalannya saja. Mungkin rasa rindunya terhadap Asha begitu besar hingga membuatnya terbayang-bayang. Entah bagaimana keadaan wanita itu dan anaknya kini, semoga sekarang lebih bahagia.


Helaan napas terdengar dengan cukup keras, tapi hal itu tidak akan membuat wanita itu kembali kepadanya. Bahkan, dia tidak bisa menghubungi Asha saat ini, nomornya sudah tidak bisa lagi dihubungi sama sekali. Pasti kedua mertuanya yang melakukan semua itu pada mantan istrinya.


Menepiskan bayangan yang ada di kepalanya, Aji pergi setelah berhasil membawa minuman itu ke dalam kamar. Namun, sebelum dia naik ke lantai dua, tiba-tiba saja pria itu melangkahkan kakinya dan membuka pintu kamar Asha. Tanpa sadar senyum kecil terdapat pada bibir laki-laki itu dan terasa semakin pedih saja. Beberapa kali Aji juga memasuki kamar ini saat Khairi menangis ketika ibunya mandi, kini sudah tidak ada lagi yang mengganggunya.

__ADS_1


Aji masuk ke dalam kamar Asha dan duduk di tepi tempat tidurnya, membelai bantal yang selama ini dipakai oleh sang istri. Rasa hampa menyeruak di dalam hati. Aneh, sungguh perasaan yang tidak bisa dia gambarkan.


Sesekali Aji melihat Asha yang tengah berbaring untuk menidurkan anaknya, dia bisa melihat itu dari celah pintu yang terbuka sedikit.


“Khairi,” gumam Aji mengambil bantal kecil milik Khairi yang ada di sana.


Dia merasa rindu dengan anak itu, ingin rasanya bertemu dan menggendongnya lagi. Pria itu merindukan segala hal tentang Asha dan Khairi. Rindu ingin menggendong bayi itu dan bercanda meski belum mengerti apa pun. Semua itu karena egonya yang sangat besar, sehingga kurang peduli pada anak itu. Seandainya Aji lebih perhatian dan membuka hati, pasti ini semua tidak akan terjadi. Penyesalan memang selalu datang terlambat, dia pun merasakannya sekarang ini.


Aji telah menyayangi Khairi, meski dia terkesan cuek dengan anak itu, tetapi pria selalu memperhatikan saat Asha menggendongnya, saat Bik Ika membawanya ke luar dari kamar, saat tangisnya pecah, ternyata hal itu yang membuat Aji menjadi rindu kepada anak itu.


Pagi hari, Aji bangun dengan sangat malas sekali. Biasanya jika dia bangun sedikit siang Asha akan mengetuk pintu kamarnya dan membuat dia terbangun, wanita itu juga akan bertanya ingin sarapan apa dan berakhir dengan jawaban 'terserah' yang dia berikan. Akan tetapi, Asha tidak pernah menyerah dengannya, dia bahkan selalu menyunggingkan senyuman yang sangat manis di setiap paginya meski banyak penolakan dan kata ketus yang keluar dari mulut sang suami.


Langkah kaki Aji gontai masuk ke dalam kamar mandi, singkat saja dia mandi kemudian bersiap dengan pakaian yang lusuh di lemarinya. Aji terpaksa mengambil setrika dan menggosok pakaiannya sendiri dengan cukup rapi.


Berjalan ke arah dapur, tak ada suara yang terdengar dari sana, tak ada senyuman, tak ada seseorang yang menyuruhnya untuk duduk makan. Bahkan, sekarang tak ada apa pun yang bisa dia makan. Biasanya semua sudah terhidang di meja meski terkadang Aji enggan untuk menikmatinya.


Aji duduk di meja makan sendirian, meminum susu yang baru saja dia buat sendiri.

__ADS_1


Aji akui, Asha adalah sosok istri yang begitu baik dan berbakti. Dia menyesal sudah menyia-nyiakan wanita baik sepertinya. Tinggal di apartemen ini membuat Aji selalu terpikir dengan wanita itu, bayangannya pun selalu menghantuinya. Sehingga setelah ini Aji memutuskan untuk kembali tinggal bersama dengan kedua orang tuanya saja. Semoga dengan begitu dia bisa melupakan Asha.


“Ya, sepertinya aku harus tinggal dengan mama dan papa lagi,” gumam Aji sambil menghabiskan minumannya dan mencuci gelas itu sendirian.


Jika saat ada Asha di sini, dia yang akan mencuci piring dan gelas bekasnya, tapi kali ini tidak ada lagi yang melarangnya melakukan itu.


“Aji?” Tia menatap tak percaya dengan putranya yang ada di rumah.


“Ma, aku ke kamar dulu,” ucap Aji sambil berlalu menaiki anak tangga satu persatu.


Tia tersenyum dengan senang akhirnya sang putra mau kembali lagi ke rumah ini, setelah dengan susah payah dia bujuk rayu. Semenjak kepergian Asha empat hari yang lalu, Aji masih bertahan di apartemennya dan hari ini dia kembali ke rumah itu.


Aji menghabiskan waktunya dengan bekerja, sering lembur atau sekedar membaca ulang pekerjaan yang sebenarnya sudah dia selesaikan. Sikap pria itu semakin dingin saja dan hal itu juga Tia dan Harto rasakan. Jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, Aji tidak segan memarahi anak buahnya atau asisten rumah tangga yang melakukan pekerjaan.


Bahkan dalam satu minggu ini Aji sudah memecat beberapa orang di kantor yang sudah melakukan kesalahan tanpa sengaja. Bahkan ada juga yang dipecat gara-gara membantah apa yang dikatakan Aji. Untung saja Papa Harto saat itu ada di kantor jadi, bisa mencegah hal yang tidak diinginkan itu.


Beberapa karyawan yang ketakutan pun semakin memperbaiki kinerjanya. Mereka tidak ingin kehilangan pekerjaan yang sudah diperjuangkan selama ini. Apalagi mencari pekerjaan di zaman sekarang sangat sulit sekali.

__ADS_1


__ADS_2