Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
51. Isi hati Khairi


__ADS_3

Aji terpaksa harus mengarang cerita mengenai perpisahannya dengan Asha. Tidak mungkin juga dia menceritakan yang sebenarnya pada Khairi. Anak itu masih terlalu kecil untuk mengerti urusan orang dewasa. Lagi pula Asha sudah berbohong mengenai dirinya yang bekerja di luar kota jadi, tidak masalah jika dirinya menambahkan bumbu kebohongan di sana.


Pria itu bercerita jika dirinya dulu dipaksa oleh kedua orang tuanya untuk bekerja di luar kota. Padahal saat itu Asha tidak mau berpisah dan menolak kepergian sang suami, tetapi karena kedua orang tuanya yang tetap ingin mengirim Aji, akhirnya terpaksa pria itu menurutinya dan pergi keluar kota. Saat itu Asha marah besar, hingga akhirnya pergi meninggalkan rumah dan sekarang tinggal jauh darinya. Bahkan kedua orang tuanya juga tidak mengetahui di mana tempat tinggal Asha.


Padahal seluruh keluarga sudah mencari ke mana pun, tetapi tidak ketemu. Aji juga sudah meminta orang untuk mencari keberadaan Asha. Namun, tidak pernah bertemu. Keluarga merasa sedih, bahkan omanya sempat jatuh sakit. Hal itu bukan kebohongan karena memang Mama Nisa sempat dilarikan ke rumah sakit.


"Jadi dulu Papa dan mama tidak tinggal di sini?" tanya Khairi.


"Tidak, Sayang. Kita tinggal di kota bersama dengan oma dan opa. Mereka sangat ingin bertemu dengan kamu, pasti mereka sangat senang jika melihat kamu tumbuh dewasa dan hebat seperti sekarang ini."


"Benarkah?" tanya Khairi dengan wajah berbinar. Selama ini dia tidak pernah merasa diharapkan, tetapi saat mendengar cerita Aji anak itu merasa senang karena dirindukan oleh seseorang selain orang yang ada di rumah.


"Tentu."


Aji pun mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto kedua orang tuanya. Tidak lupa juga kedua orang tua Asha, dia memperkenalkan mereka pada sang putra agar suatu hari nanti saat bertemu, Khairi bisa mengenalinya. Asha pasti tidak pernah memperkenalkan mereka, terbukti saat anaknya melihat foto oma dan opanya anak itu terlihat begitu senang.

__ADS_1


"Om, tidak berbohong 'kan dengan cerita yang Om katakan tadi, kan?"


Aji sebenarnya kurang nyaman dengan panggilan 'om' yang disematkan putranya, tetapi dia juga tidak mungkin memaksa anak itu segera menerima begitu saja. Pasti butuh waktu juga saling menerima satu sama lain.


"Tentu saja tidak, Sayang. Untuk apa Papa berbohong sama kamu. Apa yang Papa katakan memang kenyataannya, tapi sepertinya mama kamu masih marah sama Papa. Apa kamu mau membantu papa untuk membujuk mamamu? Kita bisa hidup bersama lagi, kamu mau 'kan tinggal sama papa? Kita bisa melakukan apa pun bersama?"


Khairi sedikit takut, entah kenapa dia takut jika apa yang dikatakan oleh Aji hanyalah bualan semata. Anak itu takut jika ini hanya mimpi yang hadir dalam tidurnya. Tanpa semua orang ketahui, Khairi memang terlalu sering bermimpi bertemu dengan papanya meskipun dengan wajah yang tidak jelas. Namun, hari ini wajah itu sangat jelas. Bahkan apa yang dilakukan pun terasa begitu nyata. Makanya Khairi tidak bisa membedakan mana mimpi dan kenyataan.


"Kenapa kamu diam? Apa kamu tidak mau tinggal sama Papa?" tanya Aji dengan perasaan sedih.


Melihat keterdiaman sang putra, menandakan penolakan dari anak itu, Aji pun merasa sedih. Khairi yang melihat kesedihan di wajah san papa segera menggeleng dengan cepat.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Ini nyata, Sayang. Ini benar-benar Papa, kamu jangan berpikir yang tidak-tidak."


"Bukan begitu, selama ini aku selalu bermimpi bertemu dengan papa, tapi saat aku bangun semuanya hilang begitu saja. Aku takut jika ini juga mimpi. Setiap hari aku selalu mimpi jika papa datang dan memelukku, tapi itu hanya jadi keinginan saja tidak pernah terwujud. Aku selalu iri melihat teman-temanku yang bisa bermain dengan papanya. Mereka bisa tertawa bersama, main sepeda mengelilingi desa. Aku juga ingin, tapi aku tidak bisa pergi. Di rumah hanya ada mama, nenek, kakak. Mereka semuanya wanita," ucap Khairi dengan meneteskan air mata.

__ADS_1


Hal itu tentu saja membuat Aji sedih, merasa menjadi ayah yang tidak berguna. Dia tidak menyangka jika sang putra mengalami hal sedemikian rupa. Padahal itu hanya keinginan sederhana, tetapi dirinya tidak mampu mewujudkannya. Andai saja pria itu tahu lebih awal, pasti bisa melakukan sesuatu agar putranya yang tidak mengalami hal demikian.


Aji segera memeluk Khairi. Keduanya sama-sama menangis, meratapi nasib mereka yang terpisah sekian tahun. Mereka sama-sama tahu jika ini memanglah takdir yang harus dijalani. Namun, tidak menyangka jika terlalu banyak kesakitan yang dirasakan oleh anak sekecil Khairi.


"Maafkan Papa karena Papa tidak bisa menjaga kamu dan mama. Seandainya Papa tidak pergi, kita akan selalu bersama," ucap Aji pelan.


Dalam pelukan Aji, Khairi menangis sekeras-kerasnya. Akhirnya dia bisa bertemu dengan papanya. Ini nyata, bukan lagi mimpi seperti apa yang dialaminya selama ini. Anak itu bisa memperlihatkan pada semua orang, bahwa dirinya sudah masih memiliki seorang papa yang sangat menyayanginya dan bisa melakukan apa pun untuknya. Khairi akan mengatakan hal ini pada semua orang dan juga pada teman-temannya.


Setelah dirasa Khairi mulai tenang, Aji pun mengurai pelukan dan menatap wajah sang putra. Wajah yang sudah berbeda dari lima tahun yang lalu, yang hanya beberapa hari dia lihat.


"Jadi kamu mau 'kan bantu papa buat bujuk mamamu agar mau kembali sama papa lagi dan kita bisa bersama, tidak akan pernah terpisahkan." Aji berharap sang putra mau membantunya karena itu harapan satu-satunya.


Dia yakin jika Asha tidak akan tega melihat wajah sedih Khairi jadi, pria itu harus memanfaatkan waktu dan keadaan sebaik-baiknya. Aji tidak ingin kehilangan semuanya seperti lima tahun yang lalu. Cukup hari itu saja dia kehilangan segalanya. Setelah ini dirinya tidak akan membiarkan apa pun menghancurkan keluarganya. Semua akan pria itu lakukan, termasuk memaksa Asha untuk pulang kembali.


"Bagaimana caranya, Pa?"

__ADS_1


Aji pun membisikkan sesuatu di telinga Khairi. Anak itu hanya menganggukkan kepala karena apa yang diminta sang papa cukuplah mudah untuk dia lakukan. Meskipun terdengar aneh, tetapi karena keinginannya untuk kembali bersama dengan keluarga sangat besar jadi, Khairi pun hanya bisa mengiyakan saja. Dia berharap mamanya bisa memaafkan sang papa dan mereka bisa hidup bersama selamanya, seperti teman-temannya yang lain.


Bayangan hidup bersama sudah menari di pelupuk mata, semakin membuat Khairi bersemangat untuk membuat papa dan mamanya saling memaafkan. Dalam pikiran anak itu, kedua orang tuanya sedang bertengkar dan dia harus mendamaikannya.


__ADS_2