Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
98. Pendekatan


__ADS_3

"Kita mampir ke toko buah sebentar, ya!" pinta Dira saat sedang dalam perjalanan.


"Buah? Buat apa?" tanya Hasbi balik.


"Aku tidak membawa apa pun. Mau beli buah sedikit biar tanganku nggak kosong."


"Mama juga nggak akan mempermasalah tentang itu."


"Iya, aku tahu, tapi tetap saja aku merasa nggak enak kalau datang ke rumah orang tanpa membawa apa pun. Cuma sebentar saja, aku nggak akan lama."


Mau tidak mau Hasbi pun akhirnya mengangguk. Dia juga tidak mungkin membuat Dira merasa tidak nyaman nantinya saat berada di rumah. Setelah membeli buah yang diinginkan, keduanya menuju rumah Hasbi. Di sana Mama Liana sudah menunggu di teras.


"Assalamualaikum, Tante," sapa Dira sambil mencium punggung tangan wanita itu.


Hal tersebut tentu saja membuat Mama Liana tersenyum karena calon menantu begitu menghormatinya. Hasbi yang ada di belakang Dira pun ikut tersenyum.


"Waalaikumsalam, ayo masuk!"


Mama Liana membawa calon menantunya ke ruang tamu dan duduk di sofa. Seorang asisten rumah tangga datang dengan membawa minuman. Dira hanya tersenyum canggung, dia merasa tidak enak karena hanya bisa menyusahkan. Tidak lupa juga buah yang dibawa tadi diberikan pada ART untuk dibersihkan lebih dulu.


"Minumlah dulu! Kita tunggu papanya Hasbi yang masih mandi. Dia baru saja pulang."


"Iya, Tante, tidak apa-apa."


"Kenapa panggil Tante? Sebentar lagi 'kan kamu akan jadi menantu Mama, sama saja jadi anak jadi, harus panggil mama, sama seperti Hasbi."


"Saya merasa nggak enak, Tante."


"Kenapa harus nggak enak? Bagi Mama baik anak atau menantu sama saja jadi, kamu harus panggil Mama ya!"


"Iya, Ma," sahut Dira sambil tersenyum canggung, dia tidak menyangka akan mendapat perlakuan manis seperti ini.


Mama Liana pun berbincang sedikit dengan calon menantunya itu, sambil menunggu sang suami selesai mandi. Dira yang awalnya terasa kaku pun mulai membiasakan diri dan bersikap santai. Lagi pula Mama Liana juga orangnya enak diajak ngobrol jadi, tidak terlalu susah menyesuaikan diri.

__ADS_1


"Hasbi ini anak tunggal Mama, dia sudah terbiasa dari kecil hidup bersama kami. Kadang juga dia suka manja jadi, kamu harus terbiasa dengan sikapnya itu, tapi kamu tenang saja kalau nanti dia semena-mena sama kamu, Mama yang akan membuat perhitungan dengan dia. Kamu juga jangan sungkan mengadukan sikap suamimu ini pada Mama. Bagi Mama, menantu dan anak itu sama saja."


"Iya, Ma, terima kasih."


"Mama ini sebenarnya mamaku atau mamanya Dira? Kenapa malah menjelek-jelekkan aku? Seharusnya Mama itu memujiku di depan dia, biar dia nggak berubah pikiran," sahut Hasbi yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. Dia kesal juga saat mendengar sang mama malah menjelekkannya.


Dira yang mendengar gerutuan calon suaminya hanya mengulum senyum. Dia tidak menyangka jika Hasbi bisa merajuk juga dengan mamanya. Itu berarti hubungan keduanya sangat dekat. Sebagai wanita, Dira tentu senang memiliki calon suami seperti itu, dia berharap kelak Hasbi bisa menjaga hati dan perasaannya.


Dira pernah mendengar jika seorang laki-laki dekat dan menyayangi mamanya, kelak juga akan menyayangi istrinya. Semoga saja Hasbi bisa memberikan kasih sayang sesuai porsinya, tidak berat sebelah. Banyak juga pria yang lebih membela mamanya dengan alasan bakti. Dalam hati Dira juga takut jika nantinya seang suami lebih membela mamanya daripada dirinya.


Setiap menantu dan mertua pasti nanti akan ada perbedaan pendapat, entah itu karena masalah kecil atau besar. Semoga saja nanti dia dan mertua bisa saling pengertian dan tidak menang sendiri.


"Lagi ngobrolin apa? Sepertinya seru sekali," ucap Papa Edo yang baru saja keluar dari kamar.


"Ini lho, Pa. Mama 'kan cuma mengatakan apa yang Mama rasakan, eh anak Papa ini malah ngambek, bilang kalau Mama di pilih kasih," jawab Mama Liana sambil melirik sinis ke arah sang putra.


Papa Edo menggelengkan kepala melihat tingkah istri dan putranya. Pria itu pun melihat ke arah calon menantunya dan berkata, "Dira, kamu sekarang harus terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Nanti kamu bakalan setiap hari melihat mereka berdua berdebat. Papa saja sampai pusing melihatnya."


"Kenapa Papa malah jadi nyalahin Mama juga? Mama 'kan mengatakan apa yang terjadi."


"Iya, iya, ya sudah jangan dibahas lagi. Bukannya Mama mengundang Dira ke sini untuk diajak makan? Sudah siap semua 'kan?" pungkas Papa Edo yang sengaja ingin mengalihkan pembicaraan.


"Mama sampai lupa," sahut Mama Liana sambil menepuk keningnya. "Ayo, Sayang, kita ke ruang makan! Mama sudah siapin makanan buat kamu, semoga kamu suka. Kamu nggak punya alergi, kan?"


"Tidak, Ma. Aku makanan apa saja bisa."


"Syukurlah kalau begitu, ayo!"


Mama Liana menggandeng tangan calon menantunya dan membawa ke ruang makan, diikuti oleh Papa Edo dan juga Hasbi di belakang. Berbagai macam hidangan sudah tersedia di meja. Dira yang melihatnya pun begitu tergiur. Makanan di meja adalah hidangan rumahan, tentu saja membuat gadis itu teringat dengan mamanya.


Dira jadi melamun, membayangkan kebersamaannya dengan keluarga. Mama Liana pun jadi heran saat melihat wajah sedih calon menantunya. Dia jadi merasa tengah melakukan kesalahan dengan makanan yang dibuatnya. Mungkinkah Dira tidak menyukainya.


"Kenapa dilihat saja, Dira? Ayo, makan! Apa kamu tidak suka dengan menunya?"

__ADS_1


"Tidak, Ma. Aku sangat suka, aku cuma ingat saja sama Mama Tia. Mama juga suka masak hidangan rumahan seperti ini."


"Maafin Mama sudah buat kamu sedih. Pasti kamu kangen banget sama mamamu."


"Tidak apa-apa, Ma. Nanti aku bisa menghubunginya lewat telepon."


"Ya sudah, sekarang kamu nikmati makanannya. Kamu mau apa? Biar Mama yang ambilin."


"Tidak perlu, Ma. Aku bisa ambil sendiri," tolak Dira yang segera mengambil makanan sendiri. Dia tidak mungkin membiarkan calon mertuanya mengambilkan.


Mereka semua pun mulai menikmati makanan yang terhidang sambil berbincang hangat. Dira begitu senang karena keluarga calon mertuanya begitu menerimanya dengan tangan terbuka. Padahal sebelumnya dia sangat takut jika akan mendapatkan mertua yang kejam, seperti cerita teman-temannya. Syukurlah semua itu tidak terjadi.


"Nanti kamu nginap di sini, ya, Dir?" pinta Mama Liana yang membuat Dira terkejut.


Memang bukan hal yang aneh di negara ini kalau lagi wanita yang menginap di rumah laki-laki, tetapi tidak dengan di negaranya. Itu hal yang tabu dan bisa menimbulkan fitnah, dia sangat setuju dengan pemikiran itu. Dia tidak mau menciderai keyakinannya.


"Maaf, Ma. Aku tidak bisa. Lagipula kami belum sah, tidak baik jika tinggal satu rumah. Meskipun di sini hal tersebut sudah terbiasa, tapi tetap saja saya tidak bisa."


"Ya sudah, tidak apa-apa. Mama juga tidak memaksa kamu."


Papa Edo yang melihat Dira tidak nyaman pun angkat bicara, "Mama, hanya tinggal dua bulan saja, nanti juga Dira akan sering menginap di sini."


Pria itu mengerti bagaimana perasaan sang istri, yang ingin memiliki teman saat di rumah. Beberapa kali wanita itu sudah meminta Hasbi untuk mengajak Dira datang ke rumah saat hari libur agar bisa diajak belanja, tetapi putranya merasa tidak enak jika merepotkan calon istrinya. Sekarang ada kesempatan bersama jadi, Mama Liana memanfaatkan, tetapi sayang waktunya kurang tepat.


"Nanti kalian tidak tinggal di sini 'kan kalau sudah menikah? Kalau kalian pergi dari rumah ini, Papa dan Mama pasti akan sendirian dan kesepian. Mama maunya kalian tinggal di sini saja," ucap Mama Liana dengan nada sedih.


Hasbi menatap Dira, menunggu gadis itu berbicara. Namun, calon istrinya itu diam karena tidak tahu juga harus menjawab apa. Keduanya memang belum ada pembicaraan mengenai hal tersebut.


"Ma, itu kita bahas nanti saja. Lebih baik kita membicarakan hal untuk saat ini saja," sahut Hasbi.


Mama Liana yang mengerti ketidaknyamanan Dira pun akhirnya tidak membahas hal itu lagi. Biarlah itu menjadi urusan sang putra dan calon istrinya. Apa pun yang menjadi keputusan mereka dia pun harus menerima meskipun tidak disukainya.


Setelah cukup berbicara, Hasbi pun akhirnya mengantarkan Dira untuk pulang. Hari juga sudah semakin larut, dia tadi sudah berjanji tidak akan lama.

__ADS_1


__ADS_2