Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
103. Cerita Vania


__ADS_3

"Salam kenal. Saya Asha, kakaknya Vania," jawab Asha sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada dan membiarkan tangan Rendra masih menggantung di depan.


Aji yang merasa tidak enak pun segera menyambut uluran tangan pria itu dan berkata, "Saya Aji, suami Asha sekaligus kakak ipar Vania."


"Saya Rendra."


Papa Harto pun pamit undur diri untuk pergi ke bagian administrasi dan segera membayar biaya perawatan Vania agar mereka bisa segera pulang. Asha membantu Mama Nisa membereskan barang-barang milik Vania, juga membersihkan kotak bekas makanan mereka, sementara Aji dan Rendra duduk di sofa sambil berbincang. Keduanya senang karena ternyata mereka sama-sama pengusaha. Meskipun sebelumnya belum pernah bertemu.


Aji begitu kagum pada Rendra yang ternyata sanggup memimpin perusahaan di usianya yang masih muda. Keduanya juga berharap semoga suatu hari nanti bisa bekerja sama.


Tidak berapa lama Papa Harto pun kembali dan mengajak semua orang untuk pulang. Rendra sendiri juga pamit untuk pulang padahal Papa Harto sudah mengajaknya untuk hampir ke rumah dulu. Namun, pria itu menolak dengan alasan jika masih memiliki pekerjaan.


Papa Harto segera mengajak istri dan anaknya untuk pulang. Aji dan Asha juga ikut mereka pulang. Aji juga yang kebetulan memang sudah izin tidak datang ke perusahaan jadi lebih punya waktu untuk pergi ke mana pun.


"Dhek, tadi itu benar atasan kamu? Kamu tidak memiliki hubungan apa-apa dengan dia, kan?" tanya Aji begitu mereka sampai di rumah dan saat ini hanya mereka berdua yang ada di dalam kamar.


"Memang dia atasan aku, Kak, hanya itu saja. Memang apa yang kakak pikirkan?" tanya Vania dengan memicingkan matanya ke arah sang kakak.


"Kamu sudah dewasa, pasti tahu apa yang aku maksud."


Vania membuang napas pelan. Meski kesal dia pun menjelaskannya dengan perlahan. "Hubungan aku dan Pak Rendra itu hanya sekedar bahwa ada atasan tidak lebih. Lagipula kami juga baru saling kenal, mana mungkin kami memiliki hubungan. Papa dan mama juga sudah melarang berpacaran, kalau aku sampai melanggar bisa-bisa aku dapat ceramah tujuh hari tujuh malam dari mereka dan dikurung di dalam rumah."

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu. Jangan sampai kamu membuat kesalahan. Papa dan Mama membuat peraturan seperti itu pasti ada hikmahnya. Kamu bisa lihat sendiri kehidupan Kakak, Kakak tidak mau kalau kamu sampai melakukan kesalahan. Meskipun apa yang terjadi pada Kakak juga bukan tanpa sengaja, tapi sebagai manusia kita harus bisa mengantisipasinya. Kakak berharap kemalangan yang Kakak alami tidak terjadi padamu."


Vania yang bisa merasakan kesedihan Asha pun segera mendekat dan menggenggam telapak tangan kakaknya. "Kak, sudahlah tidak usah dibahas lagi. Kita semua sudah tahu masalah yang sebenarnya dan aku tidak ingin Kakak mengingat lagi luka itu. Meskipun selama ini Kakak tidak pernah mengatakan apa yang Kakak rasakan, tapi aku bisa merasakannya."


"Ya, meskipun aku menyesal dengan apa yang telah terjadi pada kehidupanku, tapi aku masih merasa bersyukur dengan kehadiran Khairi. Mas Aji juga bisa menerima Khairi sebagai putranya. Semua orang pun juga demikian dan itu semakin membuatku bahagia karena dikelilingi oleh orang-orang yang begitu baik."


Keduanya berpelukan sambil tersenyum, merasa beruntung memiliki keluarga yang saling menyayangi satu sama lain, berharap kebahagiaan selalu hadir setiap saat.


"Tapi kalau kamu memang berjodoh dengan atasan kamu, Kakak juga nggak keberatan dan merestuimu. Dia sepertinya orang baik dan ganteng juga," ucap Asha yang sengaja ingin menggoda adiknya.


Vania pun segera mengurai pelukannya dan menatap sinis ke arah kakaknya itu. "Kenapa Kakak jadi membahas Pak Rendra? Sudah kukatakan kalau aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Pak Rendra. Lagi pula Pak Rendra itu baru saja putus cinta, mana mungkin membuka hatinya dengan begitu mudah."


"Kok kamu tahu kalau dia baru putus cinta! Wah ... sudah sampai sejauh itu ternyata hubungan kalian." Asha semakin gencar menggoda adiknya.


"Papa? Klub malam? Sepertinya ada sesuatu yang tidak aku ketahui nih! Cepat cerita ada apa sebenarnya."


"Kakak! Aku ini lagi sakit, aku ingin beristirahat, tapi Kakak malah menggangguku."


"Halah! Tadi saja bilang ini cuma sakit sedikit, tapi sekarang malah beralasan. Sudah cepat cerita! Kakak penasaran, daripada nanti kamu nggak bisa istirahat karena Kakak ganggu terus jadi, sebaiknya kamu cerita sekarang. Setelah itu kakak akan pergi."


Vania pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi malam itu. Kenapa dia pergi ke klub malam bersama papanya dan membawa atasannya ke apartemen. Asha begitu antusias mendengarkannya. Dia tidak ingin terlewat cerita sedikitpun tentang kehidupan adiknya.

__ADS_1


"Begitulah ceritanya, Kak. Itu semua terjadi karena dia melihat kekasihnya berkhianat, sampai meracau tidak jelas dan menyusahkanku dan papa."


"Jadi sampai seperti itu? Pasti ceweknya cantik makanya atasanmu sampai seperti itu."


"Aku mana tahu. Aku sendiri juga tidak pernah melihatnya."


"Memangnya kekasih atasanmu tidak pernah pergi ke kantor? Biasanya yang Kakak dengar, seorang atasan sering membawa kekasihnya ke kantor dan memperkenalkannya pada semua pegawainya, tapi kenapa atasanmu tidak? Apa mereka benar-benar pasangan kekasih?"


"Aku 'kan bekerja di sana baru, Kak, jadi aku nggak tahu kalau kekasihnya itu pernah ke kantor apa tidak."


"Kalau sikapnya sendiri bagaimana sama kamu? Baik dan perhatian atau malah cuek?"


"Justru dia itu orangnya bikin kesal, selalu saja ada alasan yang bisa membuat aku marah. Kalau tidak ingat cari kerja itu sulit, pasti aku tidak mau bekerja di sana. Kakak tahu sendiri aku sudah melamar di beberapa perusahaan, tapi tidak ada satu pun yang mendapat panggilan. Sekarang baru dapat kerjaan sudah membuatku darah tinggi." Vania membuang napas pelan dan menundukkan kepala.


"Setiap pekerjaan memang pasti akan ada kesulitannya. Kamu tidak boleh menyerah, siapa tahu kalau nanti kamu bisa berjodoh dengan atasan kamu. Biasanya 'kan begitu, seorang sekretaris akhirnya jadi istri bosnya dan akhirnya bahagia."


Vania melemparkan bantal ke arah sang kakak dan memilih merebahkan tubuhnya di ranjang sambil memejamkan mata. "Sudahlah, Kakak pulang saja. Aku mau istirahat, kepalaku sudah semakin sakit."


"Iya, ini juga mau pulang. Jangan lupa minum obat secara teratur, besok Kakak akan ke sini lagi buat nengok kamu."


"Nggak usah ke sini lagi. Kalau Kakak ke sini cuma bikin masalah saja."

__ADS_1


Asha tidak menggubris ucapan sang adik dan memilih untuk pergi dari sana. Namun, sebelum benar-benar pergi, wanita itu berkata pada adiknya. "Ingat lima hari lagi pernikahan Dita, kamu harus sudah sembuh biar bisa jadi bridesmaids."


__ADS_2