Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
22. Perhatian


__ADS_3

Naura sendirian di kamar, setelah tadi berbicara dengan kedua orang tuanya. Dia sudah tidak mood lagi untuk sarapan pagi, gadis itu mengurung diri di kamar. Papa dan mamanya khawatir jika sang putri akan melakukan sesuatu yang berbahaya seperti kemarin. Namun, Naura meyakinkan mereka jika kali ini dirinya tidak akan ceroboh.


Kedua orang tuanya hanya bisa berdoa agar semua baik-baik saja. Putrinya hanya perlu waktu untuk menenangkan diri. Papa Harun dan Mama Wulan pun percaya setelah melihat kesungguhan di wajah putrinya kali ini. Naura adalah gadis yang pendidikannya tinggi, tidak mungkin melakukan kesalahan yang sama, begitulah pikir mereka.


"Aku tidak bisa melepaskan Aji begitu saja. Aku lebih dulu mengenal Aji dan dia harus menjadi milikku," gumam Naura dengan menghafalkan tangannya.


Pandangan menatap depan dengan begitu tajam. Terserah apa kata orang nanti, dia tidak peduli. Yang penting baginya bisa mendapatkan Aji itu saja sudah cukup, tetapi semua itu pasti tidak mudah. Akan banyak sekali yang harus dilalui, apalagi Asha juga sedang hamil.


Naura menyeringai, sepertinya gadis itu sudah menemukan cara yang tepat. Untuk mendapatkan laki-laki seperti Aji memang tidak bisa dengan cara keras, harus sehalus mungkin. Dia ahli dalam bermain tak-tik, tidak akan sulit untuk misi kali ini.


"Baiklah jika kalian ingin bermain-main dulu, aku akan mengikutinya," gumam Naura menyeringai.


***


Keesokan paginya, Asha sudah diperbolehkan pulang, tentu saja dengan kalimat panjang lebar dari dokter. Aji hanya diam dengan wajah datar mendengarkan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan sang istri. Setelah selesai, keduanya segera meninggalkan rumah sakit.


Kedua orang tua Asha sebelumnya menghubungi Aji, menanyakan keadaan putrinya dan ingin menjenguk. Namun, pria itu melarangnya karena mereka akan pulang. Mereka pun mengatakan akan datang ke apartemen.

__ADS_1


Sebelumnya Papa Roni dan Mama Nisa sudah menawarkan diri agar Asha dibawa pulang ke rumah mereka saja. Akan tetapi, Aji menolak dan tetap mengajak istrinya ke apartemen. Asha juga mencoba memberi pengertian pada kedua orang tuanya jika dirinya baik-baik saja. Akhirnya mereka mengalah.


"Sebelum pulang, apa ada sesuatu yang ingin kamu beli?" tanya Aji tanpa melihat ke arah istrinya.


Asha yang diajak bicara pun terbengong karena memang sang suami jarang sekali bicara dengannya. Sebisa mungkin dia bersikap biasa saja wanita itu berpikir sejenak. Hingga akhirnya Asha berkata, "Mampir di toko buah saja. Mama sama papa mau datang, di rumah tidak ada apa-apa. Buah di kulkas juga sudah habis, nanti ...."


Belum selesai Asha menyelesaikan kalimatnya, Aji sudah menjawab, "Oke"


Tentu saja Asha dibuat kesal, tetapi seperti biasa dia selalu menahan semuanya sendiri. Padahal tadi Aji yang bertanya, saat dijawab malah dipotong begitu saja. Sudah tidak ada lagi perbincangan di antara mereka. Asha pun lebih suka memainkan ponselnya untuk mengurangi rasa gugup. Tidak dipungkiri jika bersama Aji membuat dia menjadi orang lain.


Begitu sampai di toko buah Asha ingin turun. Namun, Aji lebih dulu mencegahnya. Dia sendiri yang akan membeli buah, tadinya Asha ingin tetap turun. Namun, tatapan tajam Aji membuat nyali wanita itu menciut, hingga akhirnya dirinya terpaksa kembali duduk. Pria itu sendiri yang masuk ke toko buah dan memilih apa saja yang ingin dibeli.


Begitu sampai ternyata sudah ada orang tua keduanya yang menunggu di depan pintu. Asha dan Aji jadi merasa tidak enak karena membuat para orang tua menunggu di sana. Meski sebelumnya mereka mengatakan akan datang, dia kira nanti sore atau malam, ini malah datang sekarang.


"Maaf, ya, Pa, Ma, jadi membuat kalian menunggu," ucap Aji sambil membukakan pintu dan meminta semua orang masuk.


"Tidak apa-apa, kami juga yang terlalu cepat karena khawatir sama keadaan Asha. Kamu baik-baik saja, kan, Sayang?" tanya Mama Nisa sambil menuntun putrinya menuju sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, Ma. Mama jangan terlalu khawatir, aku jadi merasa bersalah kalau Mama seperti ini," sahut Asha yang merasa tidak enak.


"Mama cuma mengkhawatirkan kamu, kamu 'kan lagi hamil. Apalagi ini kehamilan pertama kamu, Mama sudah berkali-kali bilang sama kamu, sebaiknya tinggal di rumah Mama, tapi kamunya yang tetap ingin tetap tinggal di sini."


"Aku sudah sangat nyaman di sini, aku juga tidak mungkin meninggalkan suamiku begitu saja. Jangan membuat aku semakin merasa bersalah, Ma."


"Iya, Ma. Mama ini kenapa, sih? Ibu hamil harusnya dibuat tenang, jangan dibuat terlalu banyak berpikir," sela Papa Roni yang kasihan melihat putrinya tertekan.


"Iya, Mama minta maaf, tapi untuk kali ini kamu harus ikutin perintah Mama. Mama Akan mengirim seorang asisten rumah tangga ke sini. Tadi Mama sudah minta Bik Ika untuk datang, tadinya Mama ingin orang yang lain, tapi setelah Mama pikir kamu pasti tidak nyaman jadi, lebih baik Bik Ika saja yang ikut sama kamu. Nanti biar Mama cari asisten rumah tangga yang lain."


"Aduh, Ma, kenapa begitu? Nggak usah repot!"


"Untuk kali ini kamu harus ikutin kata Mama, kamu jangan terlalu capek apalagi kram yang kamu alami kemarin itu pasti karena kamu terlalu banyak pikiran," sahut Mama Nisa yang tidak ingin dibantah.


Hal itu tentu saja membuat Mama Tia dan Papa Harto menjadi merasa bersalah. Dia tahu sang menantu seperti itu karena terlalu berpikir mengenai lamaran Naura. Namun, wanita itu bersyukur karena Asha sama sekali tidak menceritakan pada kedua orang tuanya mengenai hal itu. Jika tidak pasti saat ini hubungan keduanya menjadi renggang, bahkan lebih buruknya sang menantu akan dibawa pulang.


Asha menatap sang suami, seolah meminta persetujuan dari pria itu. Aji hanya menganggukkan kepala, mengenai nanti hubungan dirinya dan Asha akan dibicarakan nanti saja. Dia yakin jika orang yang dikirim oleh kedua mertuanya pasti orang yang sangat dipercaya.

__ADS_1


"Baiklah, Ma. Terima kasih sudah sangat perhatian padaku," sahut Asha tersenyum membuat Mama Nisa lega.


Asha bahagia diperhatikan orang tua, mertua dan juga sang suami. Tiba-tiba dalam hati dia takut, bagaimana nanti jika orang tua dan mertuanya tahu, jika anak yang ada dalam kandungan saat ini bukanlah anak Aji, tetapi anak orang lain. Membayangkannya saja sudah membuat Asha takut. Entah bagaimana jika rahasia itu benar-benar akan terbongkar.


__ADS_2