Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
33. Bersyukur bertemu orang baik


__ADS_3

"Assalamualaikum, Neng Asha, perkenalkan saya Amira. Selamat datang di gubuk kami. Oh ya, tadi yang gadis itu anak saya, namanya Tiara. Kami hanya tinggal berdua," ucap Amira begitu keluar dan menyalami Asha.


"Waalaikumsalam, iya, Bu, terima kasih. Nama saya Asha, pasti Bik Ika juga sudah cerita sama Ibu," sahut Asha dengan tersenyum.


"Kenapa panggil ibu? Kesannya saya sudah tua sekali, panggil mbak saja."


"Iya, Mbak Amira. Maaf kalau suami Mbak Amira ke mana ya? maaf kalau saya lancang," tanya Asha yang sebenarnya merasa tidak enak.


"Oh, nggak apa-apa, suami saya sudah meninggal dua tahun yang lalu karena sakit jadi, kamu nggak perlu sungkan."


Asha mengangguk karena lega, tadinya dia akan menolak jika Amira masih memiliki suami. Dia tidak mau nantinya akan ada fitnah jika tinggal di rumah ini. Bagaimana pun dirinya wanita meskipun sudah ada Mbak Amira, tetap saja berbeda. Asha hanya ingin berjaga-jaga saja.


"Kemarin ibu saya memang menghubungi saya dan memberi kabar kalau kamu akan tinggal di sini. Ya ... kamu tahu sendiri lah rumah kami ini pasti sangat berbeda dengan rumah kamu yang ada di kota. Kecil dan tidak nyaman."


"Tidak, kok, Mbak. Rumah ini sangat bagus dan nyaman, apalagi ini daerah pedesaan. Tidak ada polusi seperti di kota. Kalau mengenai pekerjaan, apa di sini ada pekerjaan yang bisa membawa anak?"


Amira mengerutkan keningnya. "Kamu mau cari kerja? Sebaiknya tidak usah, nanti malah yang ada ibu marah sama aku karena ngebiarin kamu kerja."

__ADS_1


"Jangan begitu, Mbak. Bagaimanapun juga aku harus membesarkan anakku. Aku tidak mungkin selamanya bergantung sama Mbak Amira dan Bik Ika. Pekerjaan Apa pun akan saya lakukan asalkan halal."


"Tapi nanti ibu akan marah sama aku karena membiarkan kamu kerja."


"Tidak akan, biar nanti aku yang bicara sama Bik Ika, pasti dia juga akan mengerti jadi, apakah ada pekerjaan yang bisa membawa anak, Mbak?"


Amira tampak berpikir, sepertinya akan sulit untuk mencari pekerjaan yang bisa membawa anak, kecuali pekerjaan itu dibawa pulang ke rumah. Namun, untuk saat ini belum ada. Untuk membuka toko juga perlu modal, sementara dirinya tidak memiliki uang sebesar itu.


"Sepertinya tidak ada, tapi kamu coba saja pergi ke toko besar yang ada depan sana. Kemarin ada pekerja yang berhenti, kamu bisa melamar di sana. Nanti biar anak kamu saya yang jaga sama Tiara kalau pulang sekolah. Dia juga nggak akan keberatan, anakku itu sudah terbiasa di rumah nggak pernah ke mana-mana. Pasti dia juga senang kalau ada temannya."


Dia juga tidak ingin berpisah dengan anaknya. Meskipun hanya untuk sebentar saja. Sejak lahir, Asha merawat anaknya sendiri tanpa meminta bantuan jasa baby sitter. Semua dilakukan seorang diri, hanya sesekali dibantu Bik Ika. Sekarang jika harus membiarkan putranya bersama orang lain rasanya wanita itu tidak rela.


"Tidak apa-apa kamu jangan khawatir. Eh, tapi bukannya kamu baru saja melahirkan? Sebaiknya tunggu anak kamu umur dua atau tiga bulan dulu, baru kamu tinggal. Bayi seusia anak kamu itu sebaiknya dijaga, lagi pula aku sama ibu kan juga nggak nuntut kamu harus langsung bekerja. Selama ini keluarga kamu sudah sangat baik sama kita, anggap saja ini sebagai balas budi kami sama keluarga kamu. Apa kamu nggak kasihan sama anak kamu kalau ditinggal?"


Asha terdiam sambil memandangi wajah putranya. Benar apa yang dikatakan Amira, dia sebenarnya juga tidak tega meninggalkan anaknya saat ini. Dirinya saat ini juga masih memiliki uang pegangan dari Bik Ika, juga ada kalung miliknya yang tadinya ingin dibuat aqiqah untuk sang putra, tetapi sekarang sudah tidak jadi karena sudah pergi dari rumah. Sebaiknya uang itu Asha gunakan untuk bertahan sebelum bekerja saja.


Aqiqah juga tidak diwajibkan untuk semua orang, hanya bagi yang mampu saja. Suatu saat jika dia memiliki rezeki yang lebih, barulah dia akan membelikan kambing untuk anaknya. Untuk saat ini lebih baik digunakan untuk kebutuhan lebih dulu. Perkembangan Khairi lebih penting baginya.

__ADS_1


"Baiklah, Mbak Amira, aku akan bekerja nanti saat anakku sudah dua atau tiga bulan lagi."


Amira mengangguk saja, dia juga tidak terlalu memaksa Asha untuk bekerja, selama dia masih bisa memenuhi kebutuhan rumah. Sebelumnya sang ibu sudah mewanti-wanti agar tidak membiarkan Asha untuk bekerja. Akan tetapi, karena memang wanita itu yang memaksa untuk mencari pekerjaan demi masa depan putranya, dia juga tidak bisa berkata apa-apa. Mereka pun berbincang sejenak, hingga akhirnya Amira mengajak Asha ke kamar yang sudah disediakan.


Kamar yang sudah pasti tidak seperti yang pernah Asha tempati. Namun, tidak masalah bagi wanita, yang penting baginya saat ini tempatnya nyaman. Khairi sedari tadi juga diam dalam gendongannya, tidak sekalipun anak itu menangis. Seperti mengerti keadaan yang terjadi sekarang ini.


"Asha, ini ada baju bayi buat Khairi. Meskipun ini bekas, tapi masih bagus, masih layak pakai juga. Aku lihat tadi kamu nggak bawa apa-apa. Ini juga ada daster saya, kamu bisa pakai meskipun nggak baru juga," ucap Amira sambil menyerahkan sekantong kresek. Sebenarnya dia merasa tidak enak, tetapi tidak bisa membiarkan Asha memakai baju iyu terus.


"Terima kasih, Mbak Amira, Mbak sudah sangat baik sama saya. Ini saja sudah cukup," sahut Asha dengan mata berkaca-kaca.


Sungguh dia sangat beruntung mengenal orang-orang baik seperti mereka. Semoga suatu hari nanti wanita itu bisa membalas kebaikan keluarga ini. Meskipun entah itu kapan datangnya. Jika tidak ada mereka, entah bagaimana nasib Asha mungkin dia akan luntang-lantung di jalanan tanpa tahu arah.


Asha pun memandikan anaknya dan mengganti pakaian yang dengan yang diberikan oleh Amira, tidak lupa juga mengganti popoknya yang sudah penuh. Saat sedang memakaikan baju, terlihat Tiara masuk ke dalam kamar Asha karena memang tadi pintu tidak tertutup setelah memandikan putranya. Di kamar tidak ada kamar mandi jadi, harus ke belakang.


"Tante, kalau mau mandi, mandi saja. Biar adik bayinya aku yang jaga," ucap Tiara sambil tersenyum memandangi bayi yang terlihat menggemaskan.


Dari dulu dia sangat menginginkan memiliki adik, sayangnya sampai sang ayah meninggal, mamanya tidak kunjung hamil juga. Sekarang saat ada seseorang yang datang dengan membawa bayi, tentu saja gadis itu merasa senang. Tiara jadi bisa meluapkan kasih sayangnya pada bayi itu. Dia yakin Asha juga tidak akan keberatan.

__ADS_1


__ADS_2