Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
108. Asha sakit


__ADS_3

Pagi-pagi sekali saat bangun tidur Asha merasakan kepalanya pusing kembali seperti kemarin, padahal semalam sudah baik-baik saja, tetapi sekarang pusing kembali. Dia juga merasa kesusahan untuk bangun. Namun, wanita itu tetap memaksakan diri karena dia harus segera salat subuh sebelum matahari terbit.


"Kamu kenapa lagi, Sayang? Apa pusing lagi kepalanya?" tanya Aji yang melihat Asha seperti tidak nyaman dengan tubuhnya.


"Iya, Mas. Ini sedikit pusing, tapi nggak apa-apa. Aku masih bisa jalan, aku mau ambil wudhu dulu," sahut Asha yang memaksakan diri berjalan menuju kamar mandi.


"Nanti kalau masih pusing sebaiknya salat sambil duduk saja, Sayang."


Asha mengangguk, tapi tetap salat dengan berdiri. Aji yang menjadi imam pun tidak memperdebatkannya. Setelah selesai salat, wanita itu memilih merebahkan tubuhnya lagi, padahal biasanya Asha akan pergi ke dapur menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya. Entah kenapa pagi ini dia merasa begitu malas.


Tidak berapa lama Khairi masuk ke dalam kamar orang tuanya. Dia yang melihat mamanya tertidur pun bertanya pada sang papa. "Mama kenapa, Pa?"


"Mama lagi pusing, Sayang, jadi mau istirahat dulu."


"Apa Mama sakit?"


"Tidak, hanya sedikit pusing. Nanti kalau sudah minum obat juga baik-baik saja," sahut Aji menenangkan putranya, padahal dalam hati pria itu sebenarnya juga khawatir pada sang istri.


Sejak kemarin istrinya itu selalu mengeluh pusing. Dia takut jika Asha sakit,capalagi jika sakitnya itu parah. Pria itu menggelengkan kepala, tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.


Khairi pun mengangguk dan kembali ke kamarnya. Tadi dia mencari mamanya karena ingin dipersiapkan bajunya untuk sekolah, tapi melihat keadaan mamanya seperti itu, membuat Khairi berinisiatif untuk menyiapkan keperluannya sendiri dan tidak ingin merepotkan mamanya.


"Sayang, apa tidak sebaiknya kita pergi ke rumah sakit saja? Kamu sakit kepala dari kemarin. Aku khawatir kalau kamu seperti ini," ujar Aji sambil mengusap kepala istrinya.


"Aku malas pergi ke mana-mana, Mas. Nanti tiduran juga sembuh kok!" sahut Asha yang masih dengan mata terpejam.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kamu minum obat saja, tapi kamu harus makan dulu."


"Aku nggak mau makan, makanannya tuh rasanya nggak enak, pahit."


"Terus kamu maunya makan apa? Biar aku beliin. Setelah itu kamu bisa minum obat."


Asha membayangkan kira-kira makanan apa yang rasanya enak, hingga matanya berbinar saat terpikirkan sesuatu. Dia pun menatap sang suami dan berkata, "Mas, aku ingin makan nasi goreng yang ada di dekat taman itu, yang pernah kita datangi."


"Nasi goreng? Tapi 'kan itu bukanya sore sampai malam, Sayang. Mana ada pagi-pagi begini orang jualan nasi goreng, kecuali kalau di restoran."


"Tapi aku maunya nasi goreng yang ada di taman, Mas, pasti rasanya enak sekali."


"Nanti sore saja makan nasi gorengnya. Sekarang makan bubur saja, di depan 'kan ada tukang bubur ayam, rasanya juga enak. Aku beliin di sana ya?"


"Jangan begitu dong, Sayang. Kalau kamu nggak makan bagaimana mau minum obat? Nanti yang ada kamu nggak sembuh-sembuh atau kamu mau nasi pecel saja? Biasanya 'kan kamu suka, biar aku beliin."


"Iya, boleh," sahut Asha lemah, padahal dirinya tidak ingin makan apa pun.


Asha hanya tidak ingin membuat suaminya kecewa dan tidak ingin membuat pria itu khawatir. Mudah-mudahan saja nanti dia bisa memakannya karena memang saat ini dia benar-benar tidak ingin makan apa pun, kecuali nasi goreng, tetapi benar kata sang suami, tidak mungkin jam segini ada.


Aji meninggalkan sang istri dan segera pergi ke warung makan yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Memang Asha juga terkadang membeli makanan di sana jika mau. Begitu mendapatkan apa yang diinginkan, pria itu segera pulang. Saat sampai di rumah dia dibuat terkejut saat melihat istrinya muntah-muntah di kamar mandi. Wajahnya pun terlihat begitu sangat pucat dan tubuhnya terasa lemas.


"Kamu kenapa, Sayang? Apa yang terjadi?" tanya Aji dengan wajah yang begitu khawatir.


Pria itu membantu sang istri berjalan menuju ranjang dan berbaring di sana. "Kamu nggak bisa seperti ini terus, sebaiknya kita pergi ke rumah sakit saja. Aku tidak bisa tenang kalau seperti ini."

__ADS_1


"Tapi aku tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa bagaimana? Kamu sampai pucat seperti ini. Sudah, aku nggak mau berdebat sama kamu! Sebaiknya kamu ikut aku ke rumah sakit!" pungkas Aji yang tidak ingin dibantah.


Pria itu segera bersiap untuk mengantarkan sang istri ke rumah sakit. Khairi sendiri sudah diantar sopir pergi ke sekolah. Aji tidak menghiraukan penolakan sang istri dan tetap membawa wanita itu ke rumah sakit. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya. Melihat wajah Asha yang lemah dan pucat membuat dia benar-benar tidak tega.


Hingga akhirnya keduanya sampai juga di rumah sakit. Aji menggendong istrinya dan membawa ke ruang UGD, dia tidak mau berlama-lama antre di dokter umum. Pria itu ingin segera tahu apa yang terjadi pada sang istri.


Saat dokter memeriksa Asha, dia merasa ada yang aneh, hingga dokter bertanya beberapa hal pada wanita itu. Akhirnya Asha pun dirujuk untuk pergi ke poli kandungan. Tentu saja hal itu membuat Aji dan Asha bingung, kenapa harus ke dokter kandungan, padahal di rumah sakit ini ada dokter umum.


"Dok, ini kenapa istri saya di rujuk ke dokter kandungan? Istri saya ini sedang sakit, bukan hamil," tanya Aji.


Asha sendiri hanya diam, dia juga menunggu jawaban dokter karena dalam hati juga mengganjal pertanyaan yang sama.


"Justru itu, Pak. Saya curiga jika istri bapak ini sedang hamil jadi, untuk memastikannya lebih baik Bapak ajak istri Bapak ke sana. Dokter kandungan nanti yang akan menjelaskannya lebih lanjut. Kalau nanti diagnosa saya salah, saya mohon maaf karena sudah memberi harapan pada Anda."


Penjelasan dokter seketika membuat Aji merasa senang karena dia sudah menunggu hal ini sejak lama. Namun, seperti yang dikatakan dokter, ini masih perkiraan jadi belum tentu kebenarannya. Pria itu pun meyakinkan hatinya apa pun nanti jawaban dokter kandungan, dia akan menerima asalkan istrinya kembali sehat seperti sebelumnya.


Aji pun membawa sang istri untuk ke poli kandungan. Di sana mereka harus mendaftar dan mengantre. Ada beberapa ibu hamil juga di sana. Ada yang datang bersama suami, ada pula yang bersama keluarganya.


"Mas, bagaimana nanti kalau aku tidak hamil? Aku takut," ucap Asha sambil menggenggam telapak tangan sang istri.


"Apa pun yang akan dikatakan oleh dokter, kita harus siap dengan segala kemungkinannya. Aku mengajakmu datang ke sini hanya ingin memeriksakan keadaanmu agar bisa sehat kembali jadi, apa pun yang akan dikatakan dokter kita harus siap. Ini juga demi kesehatan kamu."


Asha pun mengangguk meski dalam hati dia sangat khawatir. Wanita itu diam-diam menatap sang suami, dalam wajahnya terlihat sekali ada harapan yang begitu besar. Pasti Aji akan sangat sedih jika harapan itu hanyalah semu.

__ADS_1


__ADS_2