Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
126. Alex meminta maaf


__ADS_3

Alex berusaha untuk fokus pada pekerjaannya. Namun, dia selalu terbayang kata-kata Dira jika dirinya harus minta maaf padanya. Padahal wanita itu hanyalah karyawannya saja, tapi kenapa bisa mengusik ketenangannya seperti ini. Alex mengakui jika Dira memang sedikit mencuri perhatiannya.


Sikapnya yang tegas dan tenang membuat pria itu tertarik. Apalagi dia wanita yang sopan, jarang sekali melihat orang seperti itu di zaman sekarang. Alex juga merasa Adisti memiliki sesuatu yang menarik, yang tidak dimiliki wanita lain di luaran sana.


"Lebih baik nanti saja aku minta maaf padanya. Sekarang aku harus fokus pada pekerjaanku. Jika tidak maka semua ini tidak akan selesai-selesai," gumam Alex yang kembali fokus pada layar laptopnya.


Sementara itu, Dira kembali ke ruangannya dengan perasaan kesalnya karena dituduh yang tidak tidak. Melihat kedatangan Dira, membuat Reni segera mendekat.


"Bagaimana, Dir? Kenapa kamu dipanggil Pak Alex?" tanya Reni yang sudah penasaran dari tadi.


"Tidak ada yang penting mengenai pekerjaan. Justru Pak Alex menuduhku yang tidak-tidak"


"Menuduh kamu? Menuduh apa?"


Dira pun menjelaskan pada Reni apa yang terjadi tadi dan apa yang membuatnya begitu kesal. Reni hanya diam mendengarkan. Dia juga tidak menyangka jika atasannya akan menuduh temannya hanya karena gosip yang beredar. Dira memang tidak tahu mengenai gosip itu, tetapi Reni jelas tahu karena hampir seluruh perusahaan membicarakan hal tersebut, berbeda dengan Dira yang tidak suka bergosip dan memang tidak tahu apa-apa.


"Sudah, kamu tenang saja. Mungkin Pak Alex hanya salah paham padamu," ucap Reni mencoba menghibur temannya.


"Salah paham bagaimana? Kalau dia salah paham seharusnya tidak menuduhku begitu saja. Dia orang pintar, lulusan luar negeri, tapi tidak dipakai otaknya buat berpikir."


"Sudah, jangan terlalu kesal, nanti kamu malah jatuh cinta."


Seketika Dira melotot ke arah Reni. Bagaimana dia bisa jatuh cinta pada atasannya, sementara dirinya saja sudah memiliki suami yang sangat dia cintai. Sudah tidak ada yang bisa menggantikan posisi Hasbi di hatinya.


"Kamu jangan ngaco! Aku sudah punya suami."


Reni tersenyum kaku sambil menunjukkan deretan giginya "Maaf aku hanya bercanda. Aku juga tahu kalau kamu punya suami yang baik hati dan tidak sombong."

__ADS_1


"Sudahlah! Kamu kembali saja ke mejamu, aku mau kembali kerja."


Dira pun mencoba untuk fokus pada pekerjaannya, hingga tidak terasa waktu pun berjalan hingga sore dan waktunya para karyawan pulang. Alex sengaja turun lebih dulu dan berhenti di lobi, berpura-pura sibuk dengan ponselnya padahal pria itu sedang menunggu kepulangan Dira. Dia ingin meminta maaf agar bisa tenang karena sedari tadi pikirannya selalu tertuju pada wanita itu.


Tidak berapa lama Dira turun bersama dengan Reni dan juga karyawan yang lainnya. Alex segera mendekat dan berkata, "Boleh saya bicara sebentar dengan kamu."


Dira yang tidak tahu jika di jika dirinya yang diajak bicara pun menoleh ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari seseorang yang sekiranya diajak bicara oleh atasannya itu. Merasa tidak ada orang di sekitarnya kecuali Reni, wanita itu pun bertanya, "Bapak bicara dengan saya?"


"Siapa lagi kalau bukan kamu? Saya kan berdiri di depan kamu," sahut Alex dengan kesal."


"Oh, maaf, Pak, karena Bapak tidak menyebutkan nama saya jadi saya tidak tahu."


"Sudahlah! Saya ingin bicara berdua sama kamu, kamu ikuti saya." Alex pun berjalan menjauh.


Dira pun terpaksa mengikuti atasannya meninggalkan Reni dan asistennya Alex. Dia memberi kode pada temannya agar menunggu di sana.


"Saya ingin minta maaf sama kamu atas kejadian yang tidak mengenakkan di ruangan saya tadi pagi. Saya hanya ingin tahu dan mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi."


Dira menundukkan kepala, dia tadi sudah mencoba untuk melupakan kejadian itu, tetapi atasannya kini ada di depannya dan membicarakan hal itu kembali, membuat wanita itu mengingatnya saja.


"Saya sudah memaafkan Anda, saya juga sudah melupakan kejadian tadi jadi, tidak usah membahasnya lagi, Pak."


"Terima kasih, hanya saja dari tadi saya merasa tidak enak. Saya merasa bersalah karena sudah menuduhmu yang tidak-tidak. Kalau begitu sebagai rasa permintaan maaf, apa kamu mau saya antar pulang."


"Tidak perlu, Pak, saya bawa mobil sendiri. Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, lebih baik saya permisi."


Alex mengangguk karena tidak mau memaksa. Dira pun segera pergi dari sana. Dia mengajak Reni untuk pulang bersama karena memang temannya itu tadi tidak membawa motor.

__ADS_1


"Tadi Pak Alex bicara apa saja sama kamu?" tanya Reni saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Tidak apa-apa. Dia hanya ingin meminta maaf saja soal kejadian tadi pagi, yang dia menuduhku yang tidak-tidak," jawab Dira yang tetap fokus pada kemudinya.


"Benarkah Pak Alex minta maaf sama kamu? Ternyata Pak Alex bisa juga meminta maaf."


Dira menatap Reni sekilas dan kembali melihat ke depan. "Kenapa kamu merasa aneh mendengarnya? Bukankah wajar seseorang meminta maaf setelah melakukan kesalahan?"


"Ya ... aneh saja jika orangnya Pak Alex. Dia 'kan beda sekali sama Pak William. Kalau yang meminta maaf adalah Pak William, itu hal yang sudah biasa karena memang beliau orangnya baik pada semua karyawannya, sementara Pak Alex, kamu tahu sendiri kalau orangnya suka semena-mena."


"Semena-mena bagaimana? Orang beliau saja baru beberapa hari bekerja di sini."


"Justru itu, dia baru memimpin perusahaan beberapa hari, tapi sudah membuat peraturan ini dan itu. Tahu nggak setiap pagi itu aku capek banget harus setrika baju dulu sebelum ke kantor. Aku takut kalau pakaianku merusak penglihatan Pak Alex.


Dira terkekeh dibuatnya, sambil menggelengkan kepala dia bertanya, "Memangnya selama ini kamu nggak pernah setrika baju kamu?"


"Ya aku setrika, tapi aku melakukannya saat hari libur saja, terus aku lipat dan taruh di lemari jadi, waktu kerja tinggal pakai doang."


"Lah, itu sama saja. Kenapa sekarang nggak dilakukan seperti itu?"


"Takut saja masih ada yang lecek jadi, aku setrikanya pagi terus."


"Kamu itu ada-ada saja, yang penting 'kan sudah disetrika. Mengenai lecek atau tidak, ya udah biarkan saja kenapa harus dipermasalahkan. Pak Alex memang membuat peraturan seperti itu karena kamu 'kan tahu ada beberapa karyawan juga yang tampil apa adanya, bahkan tidak memperhatikan baju yang dipakai itu senada atau tidak dan cocok atau tidak untuk digunakan di kantor jadi, bukan yang harus benar-benar licin, yang penting rapi dan tidak lecet."


"Benarkah? Kenapa kemarin nggak bilang-bilang."


"Makanya kalau ada orang yang sedang memberikan pengarahan itu jangan dilihat wajahnya saja, tapi inti dari percakapan itu juga."

__ADS_1


"Iya, iya, yang selalu fokus." Reni mencebikkan bibirnya yang ditanggapi dengan senyuman oleh Dira.


__ADS_2