
"Ada apa? Katakan saja apa yang mengganjal dalam hatimu? Bukankah aku tadi sudah mengatakan, apa pun yang membuatmu gelisah dan menjadi beban untukmu, katakan padaku. Kita pikirkan semuanya sama-sama," ucap Aji saat melihat wajah tidak tenang Asha yang sedari tadi melirik ke kanan dan ke kiri.
Asha tersentak dan menjawab, "Sebenarnya aku ingin ikut kamu ke kembali ke kota, Mas, tapi ...."
Asha tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, takut jika Aji akan tersinggung atau marah dan menganggap dirinya terlalu berlebihan dalam memikirkan sesuatu. Ditatapnya wajah pria itu yang masih menunggu jawabannya.
"Tapi apa? Jangan membuatku penasaran."
"Aku mau ikut sama kamu ke kota, tapi aku tidak mau tinggal di apartemen itu lagi."
"Kalau masalah itu kamu jangan khawatir, kamu bisa memilih mau tinggal di mana. Mau tinggal di rumah Mama Tia atau Mama Nisa terserah kamu. Sebenarnya aku juga sudah membelikan rumah untukmu, tapi kalau kamu masih ingin tinggal dengan orang tuamu, tidak apa-apa. Aku bisa tinggal di mana pun bersamamu."
Asha terkejut dengan kata-kata Aji. Kapan pria itu membeli rumah? Beberapa hari bertemu pria itu masih tetap di sini. "Kamu sudah beli rumah? Kapan?"
"Iya, lima tahun yang lalu. Saat dulu aku sudah berencana mengajak kamu dan Khairi tinggal di sana, tapi keburu insiden itu terjadi dan sekarang saat ada kesempatan, aku juga ingin mengajakmu sana, tapi kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa, kita bisa tinggal di mana pun kamu mau."
Asha terharu, dia tidak menyangka jika Aji sudah menyiapkan rumah untuknya, tetapi bagaimana bisa? Bukankah dulu sang suami tidak mencintainya, kenapa malah menyiapkan rumah. Apa pun alasannya yang penting sekarang mereka bisa memulai hidup bersama.
"Aku mau, Mas. Aku mau tinggal di rumah itu saja. Kita mulai semuanya dari awal."
Aji pun mengangguk. "Oh ya, aku tadi sudah bicara sama pak lurah dan beliau mengatakan kalau acara bisa dilaksanakan dua hari lagi."
"Apa? Dua hari lagi? Cepat sekali!"
__ADS_1
"Lebih cepat lebih baik. Buat apa ditunda lagi. Lagi pula kita juga tidak perlu mengurus surat-menyurat karena kita juga masih tercatat sebagai suami istri. Kita hanya tinggal menikah secara agama saja. Apa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatimu? Katakan saja."
Asha bingung harus menjelaskan bagaimana. Bukan tidak siap, hanya saja dia merasa dua hari itu terlalu cepat, tetapi benar apa yang dikatakan Aji. Jika semuanya bisa dilaksanakan dengan cepat dan baik untuk apa menunda lagi. Mereka juga bukan anak muda yang perlu banyak persiapan.
"Tidak ada, Mas. Aku ikut saja bagaimana baiknya."
Aji lega mendengarnya, tadinya dia takut jika Asha belum siap, maka pria itu harus menunggu lagi. Kalau sudah seperti ini Aji bersyukur, hanya tinggal menunggu waktu saja.
"Mengenai baju kebaya untuk kamu bagaimana? Kamu mau membelinya sendiri atau pergi sama aku?"
"Mas, pernikahan kita dilaksanakan dua hari lagi, tidak baik berpergian. Lebih baik minta seseorang buat membelinya saja atau ambil saja gaun pernikahanku dulu. Itu pun kalau masih ada," ucap Asha dengan lesu di akhir kalimatnya.
"Masih ada, papa dan mama tidak mungkin membuangnya. Nanti biar aku minta seseorang untuk mengambilnya di sana."
Hari yang ditunggu akhirnya tiba juga. Semua persiapan sudah selesai dan sempurna. Para warga begitu antusias membantu berlangsungnya acara pernikahan Aji dan Asha. Ada beberapa orang juga yang tidak suka karena selama ini menganggap kalau Asha orang miskin.
Sekarang ternyata suaminya kaya, bahkan kedua orang tuanya pun juga sama-sama kaya. Semakin bertambah pula rasa iri dalam hati mereka. Hidangan yang disediakan pun banyak macamnya, membuat semua orang meneteskan air liurnya. Biasanya para warga jika ada acara hanya dua atau tiga menu saja.
Minumannya pun hanya satu jadi, tidak bisa memilih, sedangkan sekarang banyak sekali pilihan dan jumlahnya pun banyak. Padahal tamu yang datang hanya warga sekitar saja. Aji memang sengaja melakukannya untuk menjamu para tetangga. Kalau ada warga yang minta dibungkus pun silahkan. Ini juga bentuk rasa syukur pria itu bisa bertemu dan kembali bersama istri dan anaknya.
Aji juga melarang warga untuk memberikan amplop, yang merupakan tradisi di kampung ini. Semakin membuat semua orang dengan senang hati untuk datang, bahkan mengajak seluruh keluarganya untuk ikut.
Kata sah menggema di ruang tamu rumah Bik Ika. Semua orang mengucapkan syukur, akhirnya acara berjalan dengan lancar. Khairi sejak tadi duduk di samping omanya pun ikut bahagia melihat papa dan Mamanya menikah lagi. Tadi anak itu juga sempat bertanya pada oma dan opanya kenapa papa dan mama harus menikah lagi. Akhirnya Mama Nisa pun menjelaskan, tentu saja dengan cara anak-anak agar bisa diterima anak itu dengan baik tanpa harus membohonginya. Untung saja Khairi anak yang pintar jadi, cepat mengerti.
__ADS_1
Para tamu satu persatu memberikan selamat pada pasangan pengantin yang tengah berbahagia. Senyum terus terukir dari bibir keduanya. Khairi ikut berdiri bersama dengan papa dan mamanya menyambut para tamu, karena Aji memang tidak membuat acara yang begitu besar akhirnya acara hanya sebentar saja. Untuk malam ini Asha tetap akan tidur di rumah, padahal tadinya kedua orang tuanya sudah menyiapkan kamar pengantin untuk mereka di hotel, tetapi Asha menolak.
Wanita itu berkata ingin menghabiskan waktu di rumah ini terlebih dahulu, sebelum benar-benar pergi meninggalkannya. Mengenai tempat usahanya selama ini dia serahkan pada Tiara. Awalnya pada Amira, tetapi wanita itu menolak karena memang tidak mengerti apa pun. Selama ini Amira juga hanya di rumah dengan tugasnya memasak dan membersihkan rumah, berbeda dengan Tiara yang ikut turun andil dalam mengelola usaha tersebut dan akhirnya bisa mengerti.
Para orang tua juga kembali ke hotel, memang sejak awal mereka datang semua menginap di sana karena rumah ini kecil dan tidak ada kamar yang lain. Hotelnya juga tidak terlalu jauh dari tempat Asha tinggal. Meskipun bukan hotel mewah, cukup nyaman untuk ditinggali sementara.
"Tante kalau nanti Tante pergi, Tante gak akan lupain aku, kan?" tanya Tiara saat sedang bersantai di ruang keluarga bersama dengan yang lainnya.
Meskipun tubuh mereka lelah, tetapi masih ingin ngobrol bersama. Kapan lagi ada waktu santai begini. Dua hari lagi juga Asha harus kembali ke kota tempat tinggalnya dulu.
"Tentu saja aku akan selalu mengingatmu. Aku tidak pernah melupakanmu sedikit pun, tentang kalian semua yang ada di sini. Lima tahun bukan waktu yang sebentar, mana mungkin aku bisa melupakan semua. Apalagi kamu juga yang selama ini paling dekat denganku, ke mana-mana selalu saja bersama," sahut Asha yang sudah memeluk keponakannya itu dari samping.
"Karena itu, Tante harus selalu ingat denganku."
"Iya, nanti Tante akan selalu menghubungimu setiap waktu. Kamu juga jangan terlalu bandel, ingat waktu pulang harus cepat pulang, jangan mampir-mampir seperti biasanya."
"Iya, Tante. Aku tahu, Mama saja yang terlalu berlebihan. Aku cuma main sama teman," sahut Tiara membela diri karena selana ini dia sering pulang telat dan mendapat Omelan dari namanya. Selalu saja alasan yang dibuat yang terkadang membuat Amira kesal.
"Apa pun itu harus izin dulu sama mama."
"Sayang, mengenai usaha kamu yang ada di sini, apa kamu tidak berniat untuk mengembangkannya menjadi yang lebih besar lagi?" tanya Aji pada sang istri, membuat wajah Asha memerah karena malu mendengar panggilan dari suaminya. Meskipun saat ini dia sudah sah menjadi seorang istri, tetap saja malu dipanggil seperti itu saat berada di depan semua orang.
"Maksud kamu apa, Mas?" tanya Asha setelah menetralkan detak jantung.
__ADS_1
"Sebelumnya aku punya rencana, bagaimana kalau usaha kamu di sini semakin diperbesar. Nanti hasil karya kalian di sini bisa dijual di kota juga lewat sosial media. Kamu masih ingat 'kan waktu aku posting gambar, istri teman-temanku semuanya suka dan ada beberapa yang membeli. Aku yakin nanti hasil karya kamu pasti akan terkenal dan lebih besar lagi. Tidak ada salahnya berusaha membesarkan usaha yang selama ini kamu geluti."