
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri, Dira?" tanya Devi yang tanpa sengaja melihat sahabatnya tersenyum.
"Ti–tidak apa-apa, hanya sedang mengingat sesuatu yang lucu saja," jawab Dira seadanya.
Devi mengangguk, menatap sahabatnya yang terlihat wajahnya begitu bersinar, sama seperti dulu saat masih sendiri. Tidak seperti dirinya yang semakin hari semakin layu. Ada sedikit perasaan iri yang hadir dalam hatinya.
"Dir, apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Devi yang tiba-tiba membuat Dira menatap sahabatnya.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Aku hanya penasaran karena kamu tahu sendiri kalau kalian menikah karena terpaksa."
Dira berpikir sejenak dan berkata, "Ya, aku akui kami menikah memang terpaksa, tapi aku dan Mas Hasbi saat ini sudah sepakat untuk memulai semuanya dari awal. Tidak ada salahnya memulai sebuah hubungan dari suatu kesalahan. Asalkan kita mau memperbaiki diri dan mencoba untuk menjadi orang yang baik."
"Apakah kalian sudah saling mencintai?"
"Gimana ya ... aku dan Mas Hasbi sudah sepakat untuk menjalaninya jadi, cinta atau tidak biarlah waktu yang menjawabnya. Yang pasti kami berdua sepakat untuk berkomitmen dan tidak saling menyakiti satu sama lain."
"Kamu selalu beruntung dari sejak masih sendiri bahkan sekarang sudah memiliki suami, berbeda sekali denganku," sahut Devi dengan lesu.
Dira mengerutkan keningnya tidak mengerti maksud dari ucapan sahabatnya itu. Seperti ada makna dibalik kalimat tersebut.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan apa yang aku katakan tadi?" tanya Devi.
"Kalimatmu tadi memang terdengar aneh. Setiap orang pasti punya cobaan masing-masing, tergantung bagaimana kita menjalaninya jadi, beruntung atau tidak itu tergantung bagaimana kita menanggapinya. Kenapa aku merasa ada sesuatu yang sudah kamu sembunyikan?"
"Ti–tidak, aku tidak apa-apa. Memang apa yang harus aku sembunyikan darimu? Aku bahagia dengan pernikahanku karena aku menikah dengan laki-laki yang aku cintai. Apa yang perlu aku sembunyikan, tidak ada, kan?" Devi tertawa sumbang setelah berbicara dan itu terdengar aneh.
Dira terdiam, memang benar apa yang dikatakan Devi, tetapi entah kenapa hatinya mengatakan jika memang ada yang disembunyikan oleh sahabatnya. Entah itu apa Dira pun tidak tahu.
__ADS_1
Makanan pesanan mereka pun datang, keduanya menikmati dengan tenang. Sedari tadi Devi sesekali melirik ke arah Dira yang terlihat begitu menikmati makanan dan begitu santai. Sesekali wanita itu tersenyum, melihat temannya yang seperti itu semakin membuat Devi merasa iri, sangat jauh dengan kehidupannya.
Tiba-tiba saja ponsel Devi yang berada di dalam tas berdering, wanita itu pun segera mengambilnya dan ternyata sang mertua yang menelepon. Seketika ia merasa gugup untuk mengangkatnya. Namun, membiarkannya saja juga tidak mungkin. Mau tidak mau akhirnya Devi menggeser tombol hijau.
"Halo, assalamualaikum, Ma."
"Kamu di mana saja? Kenapa belum pulang? Bukankah kamu tadi pamit untuk berbelanja, kenapa sampai jam segini belum pulang juga? Sebentar lagi suamimu pulang, jangan sampai saat dia baru sampai rumah dia tidak menemukan dirimu. Kamu tahu 'kan dia pasti akan sangat marah," hardik sang mertua di seberang telepon.
"Iya, Ma. Sebentar lagi aku pulang, ini juga hampir selesai kok!"
"Cepat pulang! Awas saja kalau sampai kamu tidak pulang." Telepon pun diputuskan secara sepihak. Devi mencoba untuk tetap di depan Dira, tidak ingin sang sahabat tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Siapa, Dev?"
"Ibu mertuaku, dia khawatir karena aku belum pulang juga padahal tadi aku bilangnya cuma sebentar."
"Jangan buru-buru, kamu selesaikan saja makan, nikmati jangan sampai tersedak. Aku harus pulang secepatnya, aku nggak enak kalau mertuaku kelamaan menunggu dan khawatir. Beliau 'kan orangnya suka cemas yang berlebihan jadi lebih baik aku pulang saja."
"Yah ... kok pulang! Padahal makanan kamu baru setengah dimakan."
"Tidak apa-apa, daripada aku membuat mertuaku khawatir. Sebentar biar aku panggil pelayan dulu untuk meminta bill-nya." Devi mengambil tas dan memasukkan ponsel bersiap akan pergi.
"Tidak usah, biar aku saja yang bayar, kamu pulang saja tidak apa-apa. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena tadi aku telat."
"Apa nggak apa-apa? Aku jadi nggak enak padahal aku yang ngajakin kamu."
"Iya, nggak apa-apa."
Devi pun segera beranjak dari sana. Dira hanta menatap punggung sahabatnya sampai tidak terlihat. Dalam hati wanita itu berdoa semoga saja sahabatnya itu baik-baik saja karena sedari tadi dia merasa ada yang aneh dengan Devi, tetapi percuma juga khawatir karena sahabatnya itu sendiri tidak ingin dikhawatirkan.
__ADS_1
***
"Assalamualaikum," ucap Dira saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam," sahut sang mertua yang berada di ruang keluarga. "Kamu baru pulang, Nak?"
"Iya, Ma, tadi ada janji sama teman," jawab Dira sambil mencium punggung tangan Mama Liana.
"Sama si Devi itu?"
Dira pun mengangguk, masih dengan perasaan tidak enak karena memang sampai detik ini sang mertua tidak menyukai keberadaan Devi. Bukan hanya wanita paruh baya itu, Papa Edo pun sama tidak sukanya, tetapi mereka tidak bisa memaksa Dira. Asalkan sang menantu baik-baik saja biarkan saja. Namun, dibalik itu Mama Liana dan Papa Edo beruntung mendapat menantu seperti Dira.
Akan tetapi, tetap saja apa yang dilakukan Devi itu sudah mencemarkan nama baiknya dan sama sekali tidak menghormati dirinya. Sampai detik ini pun Devi juga tidak meminta maaf pada mereka, berbeda dengan Dira yang sudah berkali-kali meminta maaf dan mengakui apa saja yang sudah dilakukannya. Bahkan kedua orang tuanya yang tidak melakukan apa pun juga meminta maaf.
"Ya sudah, kamu mandi sana! Hasbi juga baru pulang. Mungkin tadi dia lembur."
Dira menganggu dan berlalu dari sana. Begitu sampai di kamar dia tidak menemukan keberadaan sang suami. Namun, masih bisa mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, pasti sedang membersihkan diri. Dira pun mengambilkan baju untuk sang suami dan kembali duduk di sofa sambil menyandarkan tubuhnya menunggu sang suami selesai.
"Kamu sudah pulang, Dir?" tegur Hasbi yang baru saja selesai mandi.
"Iya, Mas."
Pria itu menatap wajah istrinya. Sepertinya Dira sedang ada yang dipikirkan. "Tadi kamu mengatakan akan bertemu dengan teman, bukankah seharusnya bahagia? Ini kenapa jadi lesu begini?"
"Entahlah, Mas. Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Devi. Aku tadi sudah mencoba untuk memancingnya agar menceritakan apa yang terjadi, tapi Devi malah berkelit dan mengatakan tidak apa-apa."
"Mungkin dia memang tidak ingin menceritakannya karena tidak ingin merepotkan. Terkadang memang ada sesuatu yang seharusnya disimpan pribadi. Jangan terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga orang lain, biarlah itu menjadi urusan dia sendiri. Wanita itu sendiri yang memilih masa depannya jadi, biar dia rasakan sendiri."
Dira menatap sang suami dan bertanya, "Maksudnya apa, Mas? Apa ada sesuatu yang buruk tentang suami Devi? Kenapa Mas bicara seperti itu?"
__ADS_1