
Aji terkejut mendengar pertanyaan dari mamanya itu. “Maksud Mama apa? Tentu saja Khairi anak aku," ujar Aji.
“Yakin dia anak kamu, Aji? Bilang yang jujur sama Mama. Yakin itu anak kamu?” tanya Tia sekali lagi dengan tatapan yang marah.
Aji terpaku, nada suara sang ibu sangat tegas dan terdengar marah. Seketika Aji memikirkan jika ibunya datang ke sini pasti karena Naura. Hanya gadis itu yang memiliki kemungkinan bisa mengetahui rahasia itu. Bisa saja Naura mendengarnya saat dia dan Asha membicarakan soal aqiqah untuk Khairi tadi.
“Iya, Tia. Mana mungkin kalau Khairi itu bukan anak Asha dengan Aji. Sudah jelas 'kan? Aji saja mengakuinya?” tanya Nisa menatap kecewa kepada orang tua Aji. Atas dasar apa wanita itu mencurigai dan menuduh jika Khairi bukan anak Aji.
“Asha, bilang yang sejujurnya. Kamu jangan menutupi apa pun dari kami. Jangan kamu jadi wanita yang tidak tahu diri dan menjebak anak kami satu-satunya ini. Apa kamu tega kepada kami, hah?”
Asha menundukkan kepalanya, tiba-tiba saja matanya terasa panas dan seketika mengalir satu bulir air mata dari mata cantiknya itu.
“Tia, mohon jaga ucapanmu pada Asha. Kalau maksudmu, Asha berselingkuh, aku kira tidak. Anak kami bukan orang yang seperti itu!” protes Nisa dengan keras. Dia sudah mendidik putrinya dengan baik, tidak mungkin melakukan sesuatu yang tidak bermoral.
“Saya nggak nuduh Asha berselingkuh. Saya hanya bertanya sama Asha, dengan segala kejujuran dan saya sebagai seorang wanita yang telah melahirkan Aji, saya nggak rela dan nggak ridho jika anak saya didholimi seperti ini!” seru Tia dengan menunjuk tepat ke wajah Asha.
Perdebatan terjadi di antara kedua orang tua itu, sementara Aji menatap bingung dengan perdebatan yang terjadi. Asha mencoba untuk menahan tangis, tapi jelas semua yang diucapkan oleh Tia menusuk relung hatinya. Benar kata mertuanya, dia sudah dzolim pada sang suami, tidak seharusnya dirinya melakukan hal itu.
“Ma, Khairi anak Aji. Atas dasar apa Mama nggak percaya dengan Aji dan Asha?” Aji berbicara dengan lantang.
“Kalau gitu, lakukan tes DNA, baru Mama akan percaya setelah hasil tes itu keluar!” Tia bersikeras.
Aji menatap sang mama dengan tidak percaya. Juga dengan semua yang ada di sana kecuali Asha yang tidak berani untuk mengangkat kepalanya barang satu senti pun.
Asha mengeratkan pejaman matanya dengan kuat, juga dengan genggaman tangannya sehingga buku-buku di tangannya memutih. Perang batin terjadi dalam hatinya, satu sisi menginginkan dirinya untuk mengaku, sisi lainnya agar dirinya tetap diam.
“Khairi memang bukan anak Mas Aji!” ucap Asha akhirnya membuat debat yang terjadi di sana mereda seketika dan mendapatkan tatapan tajam keterkejutan dari mereka semua. Pun dengan Aji yang tidak mengharapkan ucapan itu keluar dari mulut Asha. “Maaf, karena sudah membohongi kalian semua.”
Asha merasa terpojokkan dengan kata-kata Tia, sehingga dia tidak tahan dan pasrah dengan apa yang akan terjadi. Wanita itu akan menerima apa pun yang akan semua orang lakukan padanya. Asha yang berada di samping Aji pun meraih sang putra dan memeluknya. Apa pun yang terjadi, dia akan selalu bersama Khairi.
“Asha ....” Nisa berbicara, tapi tidak ada yang bisa dia ucapkan selain menyebut nama anaknya itu. Tatapan mata tak percaya dan seketika lelehan panas air mata keluar dari mata sayu sang ibu.
“Maaf, sudah membohongi kalian semua. Aku—“ Asha terdiam. Luka di hatinya sangat banyak sedari dulu dan kini dia harus berusaha lagi untuk menghadapi konsekwensi atas kebohongan yang telah dia lakukan.
Aji menatap Asha sekilas dan menutup matanya erat. Sedih karena Asha mengakuinya. Apa yang akan terjadi selanjutnya bisa pria itu bayangkan dan nyatanya kini dia tidak ingin berpisah dengan Khairi. Yang ternyata diam-diam dirinya sudah menyayangi anak itu meski bukanlah darah dagingnya sendiri.
Aji memang tidak berniat untuk menyayangi anak itu dulunya, tetapi saat pertama kali menggendongnya atas paksaan Tia waktu di rumah sakit itu, entah mengapa ada rasa tersendiri untuk bayi tersebut. Rasa yang bahkan Aji pun tidak mengerti rasa apakah itu. Setelah ini mungkin dia akan kehilangan itu semua
__ADS_1
Desah kecewa terdengar dari mulut Harto, juga dengan tatapan marah Roni terhadap Asha. Entah bagaimana bisa tega Asha melakukan hal buruk ini kepada mereka. Membohongi dirinya dan Nisa. Bukan hanya mereka semua, tapi juga dengan kedua besan mereka. Roni dan Nisa sampai menunduk malu karena kejadian ini.
Tiba-tiba saja Tia tertawa kecil saat mengingat sesuatu, Harto menatap sang istri dengan bingung. Begitu pun dengan semua orang yang ada di sana, termasuk Bik Ika yang diam-diam menguping di pintu antara ruang tamu dan ruang tengah. Kini barulah dia mengerti alasan majikannya selama ini tidur terpisah. Sungguh kasihan sekali Asha, entah siapa yang begitu tega melakukan hal itu.
“Oh, aku tahu sekarang. Jangan-jangan, sebelum kalian menikah, kamu sudah melakukannya bersama dengan orang lain, kan? Tanggal kelahiran anak kamu masih kurang jika dihitung dari tanggal pernikahan kalian. Jujur saja Asha! Apa kamu dengan orang lain sebelum menikah dengan anak saya?” tanya Tia kini berdiri dengan marah sambil menunjuk lantang kepada menantunya.
Sementara itu Asha menundukkan kepalanya semakin dalam dan juga mulai dengan isakan tangisnya yang pelan. Pelukannya pada sang putra pun semakin erat.
Dari situ, Tia yakin jika memang seperti itulah yang terjadi.
“Ma, tolong. Jangan bicara sembarangan.” Aji berkata sambil mencoba untuk menenangkan sang ibu. Akan tetapi, tangan Aji ditepis dengan kasar oleh Tia.
“Apa kalian pernah tidur bersama?" tanya Tia menatap sang putra. Aji akan berbicara, tapi Tia sudah memotong ucapan Aji yang baru membuka mulutnya. “Aji, demi Mama. Jujur kepada Mama yang sudah melahirkan kamu. Apa kalian pernah tidur bersama?” tanya Tia mendesak anaknya.
Aji menghela napasnya dengan berat. Jika sang ibu sudah berbicara seperti itu, maka Tia sudah sangat marah kepadanya. “Belum.”
Asha menitikkan air mata. Sudah habis dirinya saat ini. Sudah tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk membela dirinya sendiri.
“Kami tidak pernah tidur bersama,” ucap Aji pada akhirnya.
“Iya.”
Asha semakin merasa bersalah. Bukan hanya Tia saja yang kecewa, tapi Nisa dan Roni lebih kecewa lagi. Sementara Harto menatap iba pada semua orang yang ada di sana. Selama ini hubungan mereka sangat baik, bahkan sangat harmonis. Setelah ini dia yakin semuanya akan hancur berkeping-keping.
Nisa dan Toni merasa malu atas aib yang telah diberikan oleh putrinya, dia tidak punya muka lagi untuk berhadapan dengan kedua orang tua Aji. Malu atas apa yang Asha lakukan, padahal kedua orang itu sangat menyayangi dan mencintai Asha dengan sepenuh hati. Selama ini juga berusaha untuk menjaganya, tetapi kenapa masih tetap seperti ini.
“Kenapa kalian tidak bisa menjaga putri kalian sendiri, ha! Kalian ingin bermain-main dengan kami? Kalian melempar aib putri kalian dan melimpahkannya pada kami! Harusnya kalian malu. Dimana tanggung jawab kalian sehingga melemparkan kotoran ke muka kami!” seru Tia membuat Toni dan Nisa semakin menunduk malu.
Mendengar cercaan yang keluar dari mulut Tia, membuat Asha memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap sang ibu mertua dengan marah.
“Ma, tolong jangan bicara kasar dengan orang tuaku. Mereka tidak tau apa-apa. Semua ini salahku. Bukan salah mereka!” pinta Asha kepada Tia.
Roni mengeratkan genggaman tangannya di atas pangkuan sehingga buku-buku tangannya memutih. “Asha, siapa ayah dari bayi itu?” tanya Toni dengan suara yang berat.
Asha kembali menunduk, air mata kini semakin deras dan tidak bisa lagi dia tahan-tahan untuk keluar.
“Asha!” Semakin keras suara itu, tapi Asha memutuskan untuk diam saja. Apa yang harus dia katakan?
__ADS_1
Isak tangis terdengar dengan sangat jelas di ruangan itu. Bik Ika yang melihat Asha disidang merasa kasihan, tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu Asha. Dia hanya bisa berdoa agar masalah ini cepat selesai. Bik Ika kembali ke dalam kamar Asha untuk menemani Khairi yang tengah tertidur lelap, tanpa dia tahu apa yang terjadi dengan ibunya sekarang ini.
“Asha. Kamu nggak mau jawab?” tanya Toni saat Asha masih saja bungkam. Dia menatap sang putri yang tampaknya tidak mau menjawabnya sama sekali.
Toni bangkit dari duduknya dan menarik lengan Asha dengan kasar, hampir saja Khairi terjatuh. Untung saja Asha memeluknya dengan erat. Aji ingin membantu, tetapi Mama Tia melarangnya. Bik Ika pun segera mendekat dan mengambil alih bayi yang tidak bersalah itu. Wanita itu sangat tahu bagaimana kerasnya sang majikan yang tidak akan segan menyakiti orang.
Roni menatap sang putri yang meringis kesakitan karena cekalannya di lengan Asha. Namun, pria itu tidak peduli. Rasa malunya saat ini sungguh sangat besar, hingga amarah menguasai dirinya. Dia pun sudah tidak bisa lagi mengendalikan emosi dan benar-benar tidak bisa lagi mentolerir apa yang dilakikan oleh putrinya.
“Papa!” Nisa bangkit dari duduknya, tapi dia tidak bisa melepaskan pegangan tangan Toni dari sana. Marah sudah menguasai diri Toni sehingga panggilan Nisa bahkan tidak dia gubris sama sekali.
“Anak tidak tahu diuntung! Kamu sudah mencoreng nama orang tua kamu sendiri! Kamu sudah bikin malu kami. Puas kamu, ha! Bilang sama kami, siapa ayah dari anak itu!” teriak Roni dengan keras sehingga memenuhi telinga Asha.
Asha menangis dengan keras, tetap tidak berkata apa-apa sehingga Roni semakin emosi. Akhirnya tanpa sadar melayangkan telapak tangannya ke pipi Asha dan meninggalkan warna merah cap lima jari di sana.
“Papa!” teriak Nisa dengan tak percaya, melihat perlakuan suaminya pada Asha dan membuat sang putri terjatuh ke lantai. Pun dengan Roni yang tidak sadar telah melakukan hal yang buruk kepada putrinya. Pria itu benar-benar tidak menyangka emosi telah menguasai dirinya sehingga melakukan kekerasan kepada putrinya sendiri.
Aji tersentak melihat perlakuan kasar ayah mertuanya kepada Asha. Baru kali ini dia melihat Papa Roni begitu kasar. Selama ini pria itu hanya melihat kedua mertuanya yang begitu memanjakan sang istri, siapa sangka jika kali ini Aji melihat kekerasan, tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa karena Tia menahan tangannya. Tangis Asha yang semakin menjadi membuatnya tak tega.
Bak melihat drama yang nyata di depannya, Aji hanya bisa terdiam dan melihat semua itu terjadi. Ingin menolong, tetapi Ancaman Mama Tia membuat dia membeku.
“Satu langkah, dan kamu akan mendapatkan murka dari Mama,” ucap Tia dengan tegas. Aji menatap iba pada Asha. Hatinya sangat sakit saat melihat semua itu. Terutama karena dia tidak bisa menjadi suami yang bisa memperjuangkan istrinya. “Dia pantas mendapatkannya, Aji!”
Khairi menangis, Bik Ika menggendong dan mencoba untuk menenangkannya. Namun, anak itu tetap menangis dan semakin keras, sehingga membuat Bik Ika kewalahan. Wanita paruh baya itu hendak mendekati Asha. Akan tetapi, Asha menggelengkan kepalanya agar Bik Ika menjauh saja, itu juga demi keselamatan putranya. Asha takut jika melihat Khairi, Tia akan berbuat kasar kepadanya. Apalagi sang papa yang saat ini benar-benar murka.
Bi Ika mengerti, dia pun memilih pergi ke kamar agar bayi itu tidak mendengar teriakan kakeknya. Sebisa mungkin Bik Ika menenangkan anak itu meski kesulitan. Kali ini, pintu kamar Asha ditutup sehingga tak ada suara keras yang bisa mengganggu anak itu.
“Maafkan saya, Tia, Harto. Saya meminta maaf atas segala sesuatu yang telah terjadi, khususnya saya meminta maaf atas nama Asha. Untuk Nak Aji, Papa minta maaf sedalam-dalamnya dan berterima kasih atas kebaikan Nak Aji selama ini untuk Asha. Nak Aji sudah rela menutupi semua ini. Kami tidak mengetahui hal ini dan kami sangat menyesal atas apa yang telah terjadi. Mohon maafkan kami,” ucap Roni yang merasa malu. Nisa sampai menangis di hadapan kedua besannya itu. Malu dan perasaan lainnya yang bercampur baur di dalam hati mereka.
“Nak Aji. Sekarang terserah Nak Aji. Jika memang Nak Aji tidak berkenan dengan kehadiran Asha dan Khairi, kami akan membawa Asha pulang ke rumah,” ucap Toni malu.
“Tentu saja kalian harus membawanya pulang ke rumah! Kami tidak sudi bermenantukan wanita yang hina ini!” tunjuk Tia kepada Asha.
Aji ingin memprotes ucapan ibunya, tapi cekalan tangan Harto membuat Aji kembali duduk di sampingnya. Kali ini dia benar-benar suami yang tidak berguna karena tidak bisa melindungi sang istri. Padahal saat akad nikah pria itu berjanji akan menjaga dan membahagiakannya.
Roni menatap Aji dan Harto, hanya dua orang itu yang menjadi harapan dirinya untuk masa depan sang putri. Namun, sepertinya tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.
“Kalian harus mempertanggung jawabkan apa yang menjadi tugas kalian. Mulai saat ini, Aji tidak lagi memiliki kewajiban apa pun terhadap Asha!” Harto berbicara, membuat keputusan akhir dari pertemuan ini.
__ADS_1