Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
94. Sahabat


__ADS_3

"Saya mau, Pak," jawab Vania pada akhirnya.


Meskipun dia terpaksa menerima. Namun, dirinya harus tetap melakukan pekerjaan apa pun yang didapatkan. Mencari pekerjaan di zaman sekarang sangatlah sulit. Jika Vania menolak tawaran kali ini, takut kesempatan tidak akan terulang lagi di kemudian hari.


Entah bagaimana nanti hasil pekerjaannya. Jika memang atasannya itu tidak menyukai, pasti nanti juga akan memecatnya atau mungkin memindahkannya di bagian yang lain. Lebih baik seperti itu, setidaknya dia nanti akan berusaha sekuat tenaga.


"Baguslah! Kalau begitu besok datanglah sebelum saya datang. Nanti biar kepala HRD yang menjelaskan apa saja yang harus kamu lakukan saat bekerja denganku," sahut Rendra dengan tersenyum puas.


"Baik, Pak."


"Kamu boleh pulang sekarang!"


Vania pun mengangguk dan pamit undur diri. Saat ini dirinya sedang tidak baik-baik saja, terlalu banyak ketakutan yang di pikirannya. Sepanjang perjalanan gadis itu masih berpikir antara kebenaran atau mimpi, dirinya diterima bekerja sebagai sekretaris. Berkali-kali dia berusaha menepis, nyatanya memang begitulah kenyataannya.


Keesokan paginya, Vania pergi ke perusahaan dengan penampilan barunya sebagai seorang pekerja, yang tentu saja lebih formal. Tidak seperti biasanya yang hanya memakai kaos dan juga celana jeans begitu.


Sampai di perusahaan beberapa pasang mata menatap kagum ke arah Vania. Mereka takjub dengan penampilannya yang terlihat begitu cantik dengan setelan pakaiannya dan juga make up yang terlihat sangat natural. Gadis itu menemui kepala HRD untuk mengetahui apa saja pekerjaannya. Dia juga ingin tahu apa saja peraturan diterapkan di perusahaan ini.


Sebagai seorang yang sudah terbiasa disiplin, dia tidak ingin membuat atasan yang sudah percaya padanya jadi kecewa.


"Bagaimana, Nona Vania, apa Anda sudah mengerti pekerjaan Anda dan juga peraturan di perusahaan ini? Anda di sini akan menjalani masalah training selama satu bulan. Selama itu harus benar-benar Anda perhatikan pekerjaan yang ada, jangan sampai melakukan kesalahan. Jika bos suka dengan pekerjaan Anda, maka Anda bisa dipekerjakan sebagai asistennya, tapi jika nanti bos tidak suka dengan pekerjaan Anda, maka maaf kami tidak bisa memperkerjakan Anda," ucap kepala HRD.


"Saya mengerti, terima kasih sudah menjelaskan semuanya pada saya. Itu sudah menjadi tugas saya."


"Kalau begitu mari saya antarkan ke tempat kerja anda."

__ADS_1


Vania pun mengikuti pria itu menuju lantai lima belas, di mana ruangan atasannya berada. Menurut kepala HRD, saat ini atasannya belum datang jadi dia masih ada waktu untuk menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Entah bagaimana pekerjaannya nanti, semoga dia bisa menjalankan dengan baik.


"Ini meja Anda."


"Terima kasih, Pak."


Meja kerja Vania terletak di depan ruangan atasannya. Kepala HRD juga kembali menjelaskan poin-poin penting apa yang harus dilakukan. Dia tidak ingin pegawai barunya membuat kesalahan yang nantinya pasti akan berimbas padanya. Lebih baik mengantisipasi semuanya.


Vania juga mencoba mengingat apa saja yang harus dikerjakan. Sedikit banyak gadis itu tahu tentang tugas seorang sekretaris, papa dan mamanya juga sering membahas pekerjaan di rumah jadi, secara tidak langsung dia sedikit banyak tahu pekerjaan seorang atasan.


Tidak berapa lama Rendra datang juga, Vania pun mengikutinya masuk ke dalam ruangan. Gadis itu menjelaskan apa saja jadwal atasannya selama seharian ini. Rendra hanya mengangguk dengan pelan, dia cukup kagum dengan cara kerja asistennya. Meskipun baru hari ini bekerja, tetapi hasilnya cukup bagus untuk hari ini.


"Untuk meeting setelah makan siang undur saja besok. Setelah makan siang aku ada janji dengan seseorang di luar. Kamu atur saja semuanya," ujar Rendra setelah Vania membacakan jadwal atasannya.


"Kamu belum menghubunginya, bagaimana bisa kamu mengatakan kalau dia tidak bisa. Coba saja dulu, aku ada pekerjaan penting!"


Vania menarik napas dalam-dalam. Lama-lama kesal juga bekerja dengan atasan yang suka seenaknya mengganti jadwal. "Baiklah, akan saya usahakan."


"Ya sudah, keluar sana! Atur jadwal saya ulang untuk besok."


Vania mengangguk dan pamit undur diri. gadis itu pun mencoba menghubungi klien untuk mengganti jadwal pertemuan. Awalnya mereka menolak karena atasannya juga sibuk, tetapi Vania mencoba untuk memberi alasan yang tepat, hingga akhirnya mereka pun mengerti.


***


Sementara itu di luar negeri sana, hubungan Dira dan Hasbi semakin intens. Mereka juga sering pergi berdua, tetapi sampai detik ini keduanya masih terlihat dingin satu sama lain. Tidak ada ucapan romantis atau sejenisnya layaknya sepasang seorang kekasih.

__ADS_1


Hal tersebut tentu saja membuat Devi jadi merasa bersalah pada temannya. Secara tidak langsung dialah yang menjadi penyebab Dira dan Hasbi pertunangan, bahkan akan segera melangsungkan pernikahan.


"Maafin aku ya, Dir. Gara-gara aku kamu jadi menikah dengan Hasbi, pria yang dingin itu," ucap Devi dengan rasa bersalahnya.


"Tidak usah minta maaf, bukankah sebelumnya kamu sudah minta maaf. Lagi pula aku sudah menerima semuanya dengan ikhlas. Mungkin memang dia adalah jodohku, ya ... meskipun jalannya tidak sebaik yang aku inginkan, tapi aku percaya dengan jodoh yang diberikan oleh Tuhan."


"Tapi tetap saja aku merasa bersalah. Apalagi saat melihat sikap Hasbi yang begitu dingin padamu. Aku yang melihat saja sudah kesal, apalagi kamu yang nantinya akan bertemu setiap hari, pasti akan makan hati."


"Hasbi tidak seburuk itu, dia baik. Hanya saja memang terlalu kaku. Mungkin karena kami memang belum saling mengenal. Semoga nanti seiring berjalannya waktu semuanya membaik," sahut Dira yang sebenarnya juga tidak yakin.


"Amin, semoga saja."


"Oh ya, mengenai hubungan kamu dengan kekasihmu bagaimana? Sudah mendapat restu dari kedua orang tuamu?" tanya Dira yang sengaja ingin mengalihkan pembicaraan.


Senyum Devi mengembang saat mengingat sang kekasih. Dia pun menjawabnya dengan malu-malu. "Alhamdulillah, kedua orang tuaku sekarang sudah merestui kami. Keluarga Mario juga akan segera datang melamarku."


"Selamat kalau begitu. Semoga semuanya lancar sampai hari H."


"Amin, semoga saja. Kamu adalah orang pertama yang akan aku beri kabar bahagia. Begitu juga sebaliknya. Apa pun yang terjadi dalam kehidupanmu nanti bersama dengan Hasbi, kamu harus ceritakan padaku. Kita sama-sama saling bertukar cerita."


"Tentu saja karena kita adalah sahabat. Apa pun yang terjadi, aku ingin selamanya kita seperti saudara."


Devi mengangguk dan tersenyum. Keduanya pun berpelukan, meluapkan perasaan bahagia satu sama lain. Sampai akhirnya ponsel Dira berdering, tertera nama Hasbi di sana. Ternyata pria itu sudah menjemput tunangannya. Mau tidak mau Dira pun berpamitan pada Devi untuk pulang lebih dulu karena dia tidak ingin membuat Hasbi menunggu.


Sejak keduanya pertunangan, Hasbi memang selalu mengantar Dira ke kampus. Saat pulang juga akan menjemputnya. Awalnya Dira merasa tidak enak, takut jika mengganggu pekerjaan pria itu. Namun, tunangannya menegaskan jika dirinya bisa meluangkan waktu meski sesibuk apa pun. Yang tentu membuat hati Dira menghangat.

__ADS_1


__ADS_2