Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
111. Di rumah mertua 2


__ADS_3

Dira dan Hasbi saya berada di kamar, keduanya duduk di ranjang sambil bersandar, saling bercerita satu sama lain.


"Kamu dan keluarga Kak Asha terlihat begitu dekat, sampai-sampai kamu juga manggil mama ke orang tuanya Kak Asha," ucap Hasbi.


"Iya, aku memang dekat karena aku dulu sering main ke sana. Aku juga sering pergi berdua dengan Vania, bahkan terkadang dengan Mama Nisa. Mama Nisa sendiri yang minta supaya panggil mama saja, biar lebih akrab. Kadang juga ada orang yang mengira kalau aku ini anaknya Mama Nisa," jawab Dira sambil terkekeh, teringat kejadian dulu.


"Aku senang berada di tengah-tengah keluargamu. Semuanya orang-orang baik."


"Alhamdulillah, semoga saja seterusnya begitu karena aku tidak ingin sampai terjadi terpecah belah diantara keluarga kami, yang pastinya akan membuat semuanya berubah. Cukup sekali kami merasakannya."


"Maksudnya? Keluargamu pernah terpecah belah?" tanya Hasbi yang begitu penasaran.


"Ya ... begitulah, hanya sedikit kesalahpahaman, tapi Alhamdulillah semua bisa teratasi dengan baik. Buktinya sekarang kami semua bahagia. Sudah tidak usah dibahas lagi, semua sudah lewat juga," sahut Dira yang sengaja tidak ingin membahas masalah sang kakak dulu.


Bukan karena Dira ingin membohongi sang suami atau menutupinya, tapi memang keluarga sudah sepakat untuk mengubur kisah itu dan tidak akan membahasnya lagi. Hasbi juga tidak perlu tahu karena tidak ada kepentingan dengan kejadian tersebut.


Pria itu sebenarnya masih penasaran, tapi karena sang istri tidak ingin membahasnya, dia pun tidak bertanya lagi. Hasbi mengajak sang istri untuk tidur karena memang hari sudah semakin larut. Pria itu merentangkan tangannya dan meminta sang istri untuk tidur di sana. Namun, Dira menolak.


"Aku tidur di bantal saja, Mas. Tangan kamu pasti akan sakit kalau aku tiduri."

__ADS_1


"Tidak akan. Kamu juga tidak terlalu berat. Aku sudah bilang tadi siang, kamu harus mulai membiasakan diri untuk bersentuhan denganku jadi, kita mulai semuanya pelan-pelan. Kita tidak mungkin selamanya berlari ditempat, kan?" tanya Hasbi dengan menatap sang istri, menunggu jawaban dari wanita itu.


Mau tidak mau akhirnya Dira pun merebahkan tubuhnya di samping sang suami dengan berbantal kan lengan pria itu. Sebenarnya alasan dia menolak bukan karena takut lengan Hasbi sakit, lebih kepada keadaan dirinya yang pasti akan sangat gugup sekali. Wanita itu takut melakukan kesalahan, tetapi benar apa yang dikatakan suaminya, dia harus mulai terbiasa satu sama lain. Lagi pula Dira juga sering melihat kakak dan kakak iparnya bermesraan seperti ini.


"Mas, bolehkah aku bertanya sesuatu dan aku harap kamu menjawabnya jujur."


"Mau bertanya apa? Tanyakan saja. Jika aku bisa pasti aku akan jawab," sahut Hasbi sambil membawa tangan Dira agar memeluknya.


Dira semakin gugup dengan posisi seperti ini, tetapi tidak mungkin menolak keinginan sang suami. Wanita itu pun melanjutkan pertanyaannya. "Ini mengenai masa lalumu, tidak apa-apa 'kan?"


"Iya, tanya saja."


"Apa Devi yang cerita padamu saat aku mengirimi dia pesan?"


"Iya, bahkan dia menunjukkan semua pesan yang kamu kirim dan aku membacanya."


"Tapi aku benar-benar tidak memiliki perasaan apa pun pada Devi. Entah kamu percaya padaku atau tidak, aku tidak memaksa. Yang jelas apa yang akan kukatakan memang sejujurnya. Devi jarang sekali membalas pesanku, itu pertama yang membuat aku tidak suka padanya. Aku tahu jika itu tanda dia tidak menyukaiku. Sejak saat itu aku tidak pernah mengirim pesan lagi. Setiap pesan yang terkirim ke nomor Devi itu mama yang kirim. Kalau kamu lihat lagi, pasti semua pesan dikirim saat sore hari atau malam karena memang saat itu aku ada di rumah, kalau pagi aku pergi kerja."


"Kenapa harus Mama yang kirim pesan? Kenapa bukan kamu sendiri?"

__ADS_1


"Seperti yang katakan tadi, aku tidak suka cara Devi berkomunikasi dengan orang lain. Meskipun orang itu tidak disukai. Mama juga sering memarahiku karena aku bukan laki-laki yang perhatian, tapi aku tidak peduli. Sejujurnya aku bersyukur saat kamu datang menggagalkan rencana perjodohan itu karena aku memang tidak ingin memiliki hubungan dengan Devi. Aku kembali bersyukur karena akhirnya kamu yang jadi istriku. Mungkin ini memang takdir yang sudah ditentukan Tuhan, bahwa kamu wanita pilihan yang ditakdirkan hidup menjalani hidup bersamaku."


"Apa kamu tidak menyesal menikah dengan wanita yang sama sekali tidak kamu kenal sebelumnya?"


"Aku tidak akan pernah menyesal. Terlepas dari bagaimana kehidupan kita nanti, anggap saja semua ujian dan kita akan menghadapinya sama-sama. Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu menyesal sudah membatalkan perjodohanku dengan Devi dan akhirnya membuatmu menjadi istriku?" tanya Hasbi dengan menundukkan kepala hingga akhirnya bertatapan dengan sang istri. Dira pun segera memalingkan wajahnya, tidak kuat melihat tatapan pria itu yang menembus jantungnya.


"Sejujurnya di awal aku menyesal karena aku sudah membuat keluarga orang lain malu. Aku juga merasa bersalah pada kedua orang tuaku. Aku telah mencoreng nama baik mereka dengan tingkah lakuku yang kekanak-kanakan, sampai akhirnya Kak Aji yang menyadarkanku bahwa semua ini memang takdir yang harus aku jalani. Mungkin memang kamulah jodoh yang Tuhan berikan untukku dan sebagai hamba yang taat, aku harus menerimamu dengan ikhlas entah bagaimana nanti kehidupanku."


"Aku akan berusaha membuatmu bahagia dan membuatmu nyaman. Tidurlah, besok kita akankah apartemenmu untuk mengambil barang-barangmu yang lain."


"Apa kamu tidak apa-apa aku tidur seperti ini?" tanya Dira lagi.


"Sudah jangan khawatirkan tanganku. Aku baik-baik saja. Nanti kalau aku capek juga aku akan meletakkan kepalamu di bantal. Kamu tidur saja."


Hasbi melingkar tangannya di pinggang sang istri jadi, saat ini posisi keduanya saling memeluk. Dira memejamkan mata, menghirup aroma tubuh sang suami untuk pertama kalinya. Selama ini mereka memang tidur di ranjang yang sama, tetapi selalu biasa saja dan tidak pernah menyentuh satu sama lain.


Hasbi sendiri saat ini bahagia karena tadinya dia pikir Dira akan menolak, tetapi ternyata istrinya itu bukan orang yang terlalu keras kepala, yang lebih mementingkan egonya. Kehangatan yang diberikan oleh Hasbi tanpa sadar membuat Dira tertidur, sementara sang suami masih terjaga. Mendengar helaan napas teratur dari istrinya membuat pria itu yakin dan jika Dira sudah tertidur.


Dia pun merenggangkan pelukannya dan menatap wajah cantik istrinya, yang hanya bisa dia nikmati saat istrinya tertidur. Hal ini sudah menjadi kebiasaannya setelah keduanya sah menjadi suami istri. Saat wanita itu terjaga, pasti akan memalingkan wajah saat Hasbi menatapnya. Mungkin karena malu padahal keduanya sudah sah suami istri. Namun, pria itu sama sekali tidak marah, justru dia senang. Itu artinya selama ini Dira juga selalu menjaga pandangannya terhadap laki-laki lain.

__ADS_1


__ADS_2