
Khairi begitu senang saat melihat rumahnya yang sangat besar. Meskipun tidak sebesar rumah milik omanya, tetapi bagi anak itu rumahnya adalah yang paling indah. Apalagi dengan taman yang begitu luas, dia bisa bermain sepuasnya di sana. Kolam renang yang berada di belakang rumah juga begitu besar, akan sangat mengasyikkan menghabiskan waktu meskipun dirinya berada di rumah seharian.
Khairi tidak sabar ingin menghubungi Tiara dan mengajaknya ke sini. Dulu mereka sering bermimpi memiliki kolam sendiri agar tidak berenang di sungai terus, yang tempatnya cukup berbahaya.
"Bagaimana? Kamu suka dengan rumah ini?" tanya Aji pada sang putra. Dia baru saja menjemput anaknya dari sekolah. Anak itu terlihat begitu antusias berlari ke sana ke mari.
"Suka, Pa. Rumahnya bagus sekali," jawab Khairi tanpa melihat ke arah sang papa, sibuk melihat ke sekeliling rumah yang terlihat lebih menarik.
Aji hanya tersenyum melihat wajah sang putra yang terlihat begitu antusias, sementara Asha berada di ruang keluarga bersama dengan Mama Tia. Keduanya merencanakan akan mengadakan acara syukuran yang diadakan hari minggu. Hanya di hari itu saja semua orang memiliki waktu senggang. Aji hanya mengiyakan saja dan menyerahkan semuanya pada sang istri.
***
Hari Minggu yang ditunggu pun akhirnya tiba. Rumah Aji dan Asha sudah dipadati oleh para tamu, yang menghadiri undangan si pemilik rumah untuk melakukan syukuran atas rumah baru mereka. Meskipun sebenarnya rumah itu sudah cukup lama ditempati, hanya saja demi kebaikan keluarga mereka melakukan syukuran ulang. Apalagi sekarang juga dengan kehadiran istri dan anaknya, sekaligus Aji ingin memperkenalkan keduanya pada para tetangga, juga orang-orang yang deket dengan mereka yang belum mengenal Asha dan Khairi.
Apalagi yang saat dulu di acara pernikahan mereka tidak datang, pasti sama sekali tidak mengenal istrinya. Selama ini Aji selalu mengarang cerita pada semua orang, bahwa istrinya tinggal di luar kota bersama dengan neneknya. Pria itu mengatakan jika nenek istrinya tidak bisa tinggal sendiri selama ini, kalau diajak ke kota juga selalu menolak dengan berbagai alasan.
Asha dan Aji menyambut tamu yang datang di pintu masuk. Para tamu datang satu persatu dengan keluarganya. Ada beberapa juga yang membawa hadiah untuk pemilik rumah, tidak lupa juga Asha mengundang Naura dan keluarganya. Wanita itu ingin memperbaiki hubungannya dengan sahabat sang suami.
Apalagi setelah mendengar cerita Aji yang mengatakan jika Naura sudah menikah, dia jadi merasa bersalah karena sudah berpikir yang tidak-tidak sebelumnya. Untungnya kemarin dirinya tidak melontarkan kata-kata kasar, hingga tidak semakin menambah rasa bersalahnya. Meskipun dari ekspresinya sudah tidak enak.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Naura yang baru datang.
"Waalaikumsalam, terima kasih sudah mau datang ke rumah kami," sahut Asha sambil tersenyum menyambut tamunya.
"Rumah kalian bagus, boleh dong nanti aku lihat-lihat ke dalam," ucap Naura.
"Tentu saja boleh. Oh ya, suamimu mana? Apa tidak ikut?" tanya Asha sambil melihat ke belakang dan ternyata tidak ada laki-laki.
"Aku minta maaf, dia tidak bisa ikut, dia lagi ada pekerjaan di luar kota. Kalau anakku dia lagi di rumah omanya, ada sepupuku datang dari luar kota."
"Tidak apa-apa. Kamu masuk saja, silakan dinikmati makanan yang ada, hanya makanan sederhana."
Acara berlangsung dengan begitu khusyuk. Seorang ustaz memberi tausiah, tidak lupa juga mendoakan si pemilik rumah agar keluarganya bisa menjadi keluarga yang selalu dilimpahi kemuliaan dan keberkahan. Setiap orang pasti menginginkan kebaikan dalam rumah tangganya, begitu pula dengan Asha dan Aji. Mereka berharap kehidupan rumah tangganya selalu baik-baik saja.
Naura mendekati Asha dan duduk di samping wanita itu. Dia perlu untuk meminta maaf mengenai kesalahannya di masa lalu karena dirinya, Aji dan Asha berpisah selama lima tahun. Selama ini Naura terus saja merasa bersalah, kini ada kesempatan untuk bertemu lagi dan dia tidak ingin melewatkan semuanya, yang nantinya akan semakin menambah masalah di kemudian hari.
"Asha, boleh kita bicara sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu," bisik Naura yang membuat Asha langsung menolehkan kepalanya.
Tadi dia sedang asyik memperhatikan sang putra yang sedang bermain dengan sepupunya. Tiba-tiba dikejutkan dengan suara Naura. Namun, wanita itu tetap mengangguk dan mengajak Naura untuk ke taman samping rumahnya. Di sana lebih enak untuk berbicara, tidak ada siapa pun juga di sana. Keduanya duduk di gazebo yang sudah tersedia di sana.
__ADS_1
"Kamu mau bicara apa? Sepertinya sangat serius sekali. Apa ada masalah? Atau kamu tidak suka dengan hidangannya?" tanya Asha membuka pembicaraan.
"Bukan masalah itu. Aku hanya ingin meminta maaf sama kamu atas apa yang sudah aku lakukan di masa lalu. Aku sudah sangat berdosa sekali sama kamu dan sudah membuat kamu berpisah dengan Aji. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Saat itu aku tidak bisa berpikir jernih dan melakukan semuanya atas apa yang ada di kepalaku saja, tanpa memakai hati. Hingga akhirnya aku sadar bahwa apa yang aku lakukan itu salah dan telah menyakiti banyak orang. Aku minta maaf, sungguh aku merasa sangat berdosa. Selama ini hidupku juga tidak tenang, selalu dihantui rasa bersalah," ucap Naura sambil menundukkan kepala.
Dia sama sekali tidak berani menatap lawan bicaranya. Wanita itu sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan Asha lakukan padanya, mengingat kesalahannya yang begitu besar.
Asha tersenyum, dia senang melihat Nadia yang benar-benar telah berubah. "Kamu tidak perlu merasa bersalah. Aku menganggap semua yang terjadi dalam hidupku adalah bagian dari perjalanan hidupku. Banyak pelajaran yang aku dapatkan selama ini. Aku juga percaya bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan jika manusia itu tidak mampu melewatinya. Aku juga bersyukur termasuk bagian dari orang-orang yang istimewa itu. Meskipun aku harus tertatih-tatih dalam melewati semuanya, tapi aku bersyukur bisa sampai di tahap ini."
Mata Naura berkaca-kaca dan bertanya, "Kenapa kamu begitu baik padaku? Kenapa kamu tidak marah saja padaku?"
"Jika mengingat masa lalu, tentu saja aku akan sangat marah padamu. Apalagi aku harus melihat putraku yang selalu menangis, menanyakan keberadaan ayahnya. Setiap di sekolah dia juga mendapat ejekan dari temannya karena tidak memiliki ayah. Aku selalu berusaha untuk tegar di depan semua orang. Padahal jauh di lubuk hatiku yang paling dalam ingin sekali aku berteriak dan memarahi mereka semua, tapi setelah dipikiran kembali rasanya sangat percuma. Aku hanya punya dua tangan yang tidak akan mampu menutup semua mulut orang. Aku juga punya satu mulut yang tidak akan mampu menjelaskan tentang apa yang terjadi padaku pada semua orang. Sekalipun mampu mereka juga tidak akan percaya. Biarlah itu menjadi bagian dari perjalanan hidupku dan aku sudah memaafkan kamu. Tidak perlu lagi merasa bersalah."
Air mata Naura menetes. Andai saja Asha marah padanya atau mungkin menghajarnya sekalipun itu tidak masalah, rasa bersalah yang tidak akan sebesar ini. Andai saja dulu dia bisa berpikir lebih dewasa, tidak akan membuat rumah tangga orang lain hancur. Andai saja dulu dirinya tidak mengenal Aji dan keluarganya tidak akan pernah menjadi orang jahat yang terobsesi akan lawan jenisnya.
Andai saja keluarga Aji juga tidak baik kepadanya, pasti dia tidak akan pernah berharap pada mereka untuk menjadi bagian dari keluarga mereka. Lagi-lagi kata seandainya sungguh sangat menyakitkan jika bayangkan.
"Kenapa kamu begitu baik kepadaku? Kenapa tidak menghukumku saja, setidaknya itu bisa mengurangi rasa bersalahku padamu. Kamu bisa memukulku atau melakukan apa pun sesuai keinginanmu. Jangan terlalu baik padaku," ucap Naura dengan air mata yang semakin mengalir deras.
Asha yang tidak tega pun segera memeluk wanita yang ada di depannya. Sungguh dia tidak lagi memiliki dendam padanya. Justru Asha ingin hubungannya dengan Naura bisa menjadi teman. Asha yakin jika sahabat suaminya itu wanita yang baik, pasti mereka bisa bertukar pikiran di kemudian hari.
__ADS_1