
Asha terdiam di depan rumah, memandangi sang putra yang sedang bermain bola seorang diri. Wanita itu masih memikirkan apa yang dikatakan oleh pegawainya tadi. Jujur rasa itu masih ada, tapi haruskah dia kembali dengan Aji? Bagaimana dengan keluarganya nanti, terutama keluarga sang suami, yaitu Mama Tia dan Papa Harto. Mereka pasti akan sangat menentang jika mereka bersama.
Asha masih sangat ingat bagaimana kemarahan mereka saat mengetahui anak yang dia kandung bukanlah Anak Aji. Keduanya begitu sangat marah dan mengusirnya begitu saja. Mama Tia bahkan memaksa Aji untuk menceraikannya, hingga akhirnya Asha memilih jalan untuk hidup sendiri.
Di sinilah dia sekarang, berada di desa bersama orang asing yang menganggapnya seperti keluarga. Haruskah dia kembali ke kota, tempat di mana terdapat kenangan buruk tapi juga bahagia. Membayangkan saja sudah membuat wanita itu tidak nyaman.
"Kamu dari tadi melamun saja. Ada apa?" tanya Amira yang baru saja datang, dia menegur wanita yang sudah dianggap seperti adik sendiri.
"Eh, Mbak Amira. Siapa yang melamun? Aku lagi lihatin Khairi main bola," kilah Asha dengan melihat keberadaan putranya.
"Tapi mata kamu tidak ada di sana. Meskipun aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup kamu, tapi sebagai seorang wanita aku bisa merasakan ketulusan dari laki-laki itu. Kenapa kamu tidak mencobanya lagi saja? Aku lihat juga dia orang yang baik."
Pandangan mata Asha berubah sayu dan tidak bertenaga. "Aku juga bingung, Mbak. bagaimana dengan keluarga kami nanti? Aku tidak tahu mereka setuju atau tidak, masih sangat ingat bagaimana mereka marah saat mengetahui apa yang terjadi."
"Itu hanyalah emosi sesaat. Bukankah mereka orang-orang baik? Terkadang orang yang emosi suka berbuat di luar akal dan pikirannya. Mungkin saat itu mereka sedang khilaf dan tidak menyadari apa yang sudah mereka lakukan sebelumnya. Mereka hanya butuh ruang dan waktu. Cobalah untuk saling terbuka dengan suamimu. Jika memang setelah berbicara kamu tidak menemukan kedamaian atau ketenangan, itu pilihannya semua ada padamu."
"Akan aku pikirkan, Mbak. Untuk saat ini aku benar-benar tidak bisa memutuskan langkah apa yang akan aku ambil."
"Itu semua terserah padamu. Ya sudah, aku masuk dulu, ya!"
Amira menepuk punggung Asha kemudian masuk ke dalam rumah, sementara Asha masih duduk di depan, menunggu sang putra bermain bola. Anak itu terlihat asyik main seorang diri.
"Mama!" seru Khairi yang berlari ke arah mamanya.
"Sudah selesai mainnya?" tanya Asha sambil mengusap rambut sang putra yang sudah basah oleh keringat.
"Papa kenapa belum ke sini, Ma?"
__ADS_1
"Papa 'kan lagi kerja. Bukannya tadi pagi papa sudah bilang sama kamu kalau hari ini akan kerja!"
"Kapan pulangnya, Ma? Papa nggak akan ninggalin aku lagi, kan?" Bukannya menjawab Khairi malah mengajukan pertanyaan yang lain.
"Tidak, kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"
"Aku hanya takut kalau papa akan ninggalin aku lagi seperti dulu. Aku nggak mau kalau Papa ninggalin aku. Nanti teman-teman akan mengejekku lagi karena tidak punya ayah."
Asha merasa tidak nyaman dengan apa yang disampaikan oleh putranya. Itu sama saja dengan memaksa dirinya untuk menerima Aji lagi. Dia tahu jika Khairi tidak bermaksud seperti itu. Mungkinkah ini memang jalan untuk dirinya agar bisa kembali bersama dengan sang suami. Bagaimanapun wanita itu juga masih memiliki perasaan pada Aji.
"Papa pasti nanti akan ke sini. Kamu jangan khawatir."
"Benar ya, Ma? Mama tidak bohong, kan?"
"Tidak, untuk apa Mama bohong."
Khairi terlonjak kegirangan. Asha tersenyum melihatnya. Kedatangan Aji bagi sang putra memang luar biasa, bahkan tanpa membawa apa pun sudah membuat anak itu bahagia.
"Iya, Ma. Nanti setelah pulang mengaji, Papa sudah datang, kan?"
"Mudah-mudahan, Mama nggak tahu pekerjaan papa masih banyak atau tidak."
Mendapat jawaban yang tidak pasti membuat anak itu sedikit bersedih. Namun, masih berharap jika papanya akan tetap datang.
***
Hingga malam hari, Aji belum juga datang padahal sekarang sudah waktunya makan malam. Khairi sama sekali tidak bersemangat, anak itu merasa sedih karena papanya tidak datang. Dia berpikir jika Aji telah meninggalkannya, padahal sedari tadi Asha sudah mencoba memberi pengertian jika papanya saat ini sedang banyak pekerjaan jadi, tidak bisa pulang. Namun, Khairi yang memiliki rasa trauma dengan lingkungan dan keadaan jadi berpikir yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Aku sudah kenyang, Ma. Aku mau ke kamar dulu." Khairi berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari mamanya, membuat semua orang yang ada di sana menatap kepergiannya dengan penuh tanda tanya.
"Ada apa dengan Khairy, Nak? Apa dia sedang ada masalah?" tanya Bik Ika.
"Dia dari tadi nungguin Mas Aji, Bu, tapi Mas Aji belum juga datang padahal dia sudah sangat berharap sejak tadi siang."
"Mungkin Den Aji sedang banyak pekerjaan."
"Aku sudah memberi pengertian pada Khairi, tapi sepertinya dia takut jika Mas Aji akan meninggalkannya."
"Kenapa Tante tidak coba telepon Om Aji saja dan menanyakan di mana keberadaannya agar Khairi tidak sedih," sela Tiara.
"Aku tidak mungkin melakukannya," sahut Asha pelan, rasanya sangat memalukan menghubungi orang yang sudah dia tolak.
"Kenapa tidak mungkin? Benar apa yang dikatakan Tiara, Khairi juga tidak akan sedih. Kalau kamu malu menghubungi Aji, pakai video call saja, biar Khairi yang bicara langsung dengan papanya agar anak itu tenang dan tidak terlalu banyak berpikir. Kasihan Khairi menunggu papanya," timpal Amira.
Asha berpikir sejenak dan akhirnya mengangguk, dia pun pergi ke kamar sang putra dengan membawa ponselnya. Semoga saja Aji tidak salah paham dengan dirinya yang lebih dulu menghubungi. Wanita itu memasuki kamar dan duduk di tepi ranjang, sementara Khairi berbaring dengan memeluk guling.
"Khairi kenapa makanannya tidak dihabiskan? Apakah masakan Mama tidak enak?"
"Enak, Ma, tapi memang Khairi sudah kenyang."
"Bagaimana kalau Khairi hubungi papa dan tanyakan dia sekarang ada di mana," ucap Asha.
Anak itu seketika langsung terbangun dan tersenyum ke arah mamanya sambil bertanya, "Bisa hubungin papa, Ma?"
"Tentu saja bisa, kenapa tidak? Papa 'kan juga punya ponsel. Mau nggak?"
__ADS_1
"Mau, aku mau telepon papa."
Asha tersenyum melihatnya dan segera menghubungi nomor Aji yang sudah tersimpan dalam ponselnya. Mudah-mudahan saja pria itu mau mengangkat panggilannya, setelah kemarin wanita itu sempat menolaknya. Dia juga yakin Aji bukanlah orang yang suka mencampur adegan urusan. Setelah beberapa hari bertemu, Asha juga bisa melihat kasih sayang yang tulus seorang ayah pada putranya.