Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
43. Papa


__ADS_3

"Mama!" teriak seorang anak kecil sambil berlari memeluk mamanya. Dia tidak lain adalah Khairi.


Asha yang melihat sang putra datang dan memeluknya pun segera membalas pelukan itu. Namun, ada yang aneh. Anak itu seperti habis menangis, terlihat dari matanya yang sembab serta isakan kecil sisa menangis tadi. Khairi tumbuh menjadi anak yang baik, tidak pernah sekali pun menyakiti orang lain, apalagi temannya.


Kini dia pulang dalam keadaan menangis merupakan hal baru. Khairi juga tidak pernah menangis selana ini. Saat bertengkar dengan temannya pun anak itu lebih memilih mengalah dan meminta maaf. Meskipun sebenarnya dia tidak merasa bersalah. Itu dilakukan demi pertemanannya.


"Anak Mama kenapa? Apa ada yang nyakitin Khairi?" tanya Asha mencoba untuk tetap tenang.


Anak itu masih diam dalam pelukan mamanya. Asha pun mengusap punggung anaknya agar lebih tenang. Setelah beberapa saat, barulah wanita itu mengurai pelukan dan ditatapnya wajah Khairi yang kemudian menunduk. Dia tahu pasti ada sesuatu yang baru saja terjadi dan menyakiti anak itu.


"Ada apa? Mau cerita sama Mama? Bukankah Mama selalu bilang kalau Khairi harus jujur sama Mama dan nggak ada yang disembunyikan? Ada apa?"


Khairi sebenarnya ragu, tetapi dia harus cerita pada mamanya. "Tadi saat main bola di taman sama teman-teman, Alvin kalah terus dia marah-marah bilang kalau aku itu nggak punya papa. Teman-temannya juga ikut nyorakin aku, Ma. Padahal aku sudah bilang kalau papa lagi kerja jauh, belum bisa pulang sekarang," jawab Khairi dengan air mata yang kembali menetes.


Asha yang mendengar pun merasa sakit hati karena sang putra tidak salah apa-apa, tetapi anak-anak itu malah menghinanya. Dia juga terkadang kesal dengan para ibu-ibu yang ada di kampung ini. Tidakkah mereka menasehati anaknya untuk bersikap lebih baik sesama temannya. Namun, wanita itu kembali mencoba meredakan emosinya.


Mereka hanyalah anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Mereka masih belum bisa berpikir dengan baik, seharusnya dirinya yang menasihati anaknya agar bisa lebih bersabar lagi.

__ADS_1


"Khairi anak baik, kan?" tanya Asha yang diangguki oleh sang putra. "Kalau ada yang jahat sama Khairi juga tidak boleh membalasnya dengan kejahatan. Justru harus membalasnya dengan kebaikan. Insya Allah Tuhan akan membalasnya sendiri. Apalagi teman-teman hari ini juga masih kecil, belum mengerti."


"Tapi mereka lebih besar dari Khairi, Ma. Seharusnya mereka bisa berpikir dengan baik." Khairi mencoba untuk membela diri.


"Iya, pasti sebentar lagi juga mereka akan bisa berpikir dengan baik jadi, Khairi tidak boleh ikut-ikutan jahat. Anak Mama 'kan anak yang sholeh dan sopan santun."


Khairi hanya mengangguk meski dalam hati dia masih belum rela dijelekkan seperti itu. Namun, anak itu tidak ingin melihat wajah sedih mamanya jadi, lebih baik mengalah.


"Mas Aji, bagaimana nanti aku harus menjelaskan padanya tentangmu? Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah kamu sudah menikah dan berbahagia dengan anakmu? Pasti mereka sangat lucu-lucu dan menggemaskan. Mereka juga pasti mendapatkan kasih sayang yang utuh, tidak seperti anakku. Maafkan Aku karena sudah pernah membuatmu menjadi bagian dari hidupku, tapi aku tidak pernah menyesal. Bahkan sampai detik ini pun rasa cinta itu masih ada, utuh untukmu. Tidak pernah akan tergantikan oleh siapa pun," ucap Asha dalam hati.


Selama ini ada beberapa laki-laki yang mendekatinya, bahkan ada yang langsung melamarnya datang ke rumah. Namun, wanita itu dengan terang-terangan menolak dan mengatakan bahwa dirinya masih memiliki seorang suami. Meskipun sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu. Padahal sudah jelas-jelas jika dirinya adalah seorang janda yang sudah diceraikan oleh suaminya.


"Apa Neng Asha tidak ada niat untuk menemui kedua orang tua yang ada di kota? Kasihan mereka pasti saat ini sedang mengkhawatir keadaan Eneng," tanya Bik Ika saat keduanya sedang berada di ruang makan.


Saat ini semua orang sudah terlelap di kamar masing-masing. Asha tidak bisa tidur jadi, memutuskan untuk duduk sebentar menikmati teh setelah memastikan Khairi terlelap. Itu memang sudah menjadi kebiasaan Asha sejak tinggal di desa. Selalu memikirkan keadaan kedua orang tua dan suaminya. Entah bagaimana keadaan mereka kini, dia sangat ingin tahu.


"Aku takut pulang ke rumah, Bik. Bagaimana jika papa tetap tidak menginginkan kehadiran Khairi? Aku tidak ingin berpisah dengannya, dia adalah anak kandungku. Meskipun dunia tidak mengharapkan kehadirannya, aku akan tetap mempertahankannya di sisiku. Di rumah juga sudah ada adik, pasti dia bisa lebih menjaga papa dan mama," jawab Asha sendu.

__ADS_1


"Tetap saja rasanya akan berbeda jika anaknya berkumpul semua. Eneng sekarang juga seorang ibu, pasti sangat mengerti bagaimana perasaan mereka. Bukannya Bibi mau membela tuan dan nyonya, tapi cobalah untuk membuka hati."


Bik Ika menatap wajah Asha, berharap wanita itu mengerti maksudnya. Namun, sepertinya akan sangat sulit.


"Kita lihat saja nanti, semoga saja aku bisa benar-benar kuat agar bisa bertemu dengan mereka."


Bik Ika mengangguk, dia juga tidak bisa memaksa Asha untuk pulang ke kotanya. Dia juga sebenarnya takut jika kedua majikannya marah dan akan berbuat hal yang lebih nekat lagi. Sebagai orang tua, wanita paruh baya itu tidak bisa mengabaikan begitu saja tentang apa yang asal lakukan ini. Sudah lebih dari lima tahun, pasti mereka juga merindukan Asha.


"Ya sudah, aku mau ke kamar dulu. Bibi juga cepat istirahat, jaga kesehatan."


"Iya, Neng, tidur duluan saja."


Asha pun kembali ke kamar, dilihatnya wajah sang putra yang begitu damai. Dia jadi teringat dengan kejadian tadi siang mengenai dirinya yang diejek oleh temannya. Apakah mungkin ini sudah saatnya bagi Khairi untuk mengetahui siapa dirinya sebenarnya atau mungkin, wanita itu bisa berkata pada Khairi bahwa ayahnya sudah meninggal. Asha sungguh-sungguh bingung, tidak sanggup melihat wajah sedih sang putra. Selama ini dia sangat berharap bisa hidup tenang bersama sang putra saja, tetapi sekarang Khairi akan mematahkan harapan itu.


"Papa ... papa ...." gumam Khairi dengan mata terpejam, terlihat jika tidurnya saat ini sedang gelisah.


Asha melihatnya pun menepuk punggung anak itu dengan pelan. Ini bukan pertama kalinya Khairi mengigau seperti itu. Sudah terlalu sering, bahkan hampir setiap hari. Asha tahu jika itu adalah bentuk rasa rindu sang putra pada papanya, tetapi saat ini wanita itu masih belum bisa mengabulkan keinginan anak itu.

__ADS_1


Mungkin suatu hari nanti atau bahkan mungkin saat Khairi sudah sangat dewasa dan bisa mencarinya sendiri. Di saat hati itu datang, dia takut jika Aji tidak akan menerima kehadiran putranya.


__ADS_2