Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
38. Asha sudah pergi


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Aji sudah siap dengan pakaiannya yang begitu rapi. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang istri. Tampilannya kini juga sudah seperti dulu meskipun saat ini tubuhnya lebih kurus daripada sebelumnya. Namun, tidak mengurangi ketampanan yang dimiliki oleh pria itu. Senyum terus mengembang di bibirnya.


Belum bertemu dengan istrinya saja sudah membuatnya begitu bahagia, bagaimana nanti saat mereka bisa hidup bersama. Aji ingin segera mengungkapkan perasaannya pada sang istri. Selama ini dia selalu memendam perasaannya karena merasa itu hanya perasaan sementara saja. Sekarang saat sudah perpisahan, dia yakin bahwa dirinya memang benar-benar mencintai sang istri.


"Selamat pagi, Pa, Ma. Aku pergi dulu," pamit Aji saat kedua orang tuanya ajan menikmati sarapan.


"Hei! Ini masih pagi, kamu nggak sarapan dulu?" panggil Mama Tia sebelum putranya benar-benar pergi.


"Nanti saja, Ma, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Asha dan anakku."


"Iya, tapi ini masih pagi. Kamu sarapan dulu, kalau kamu nggak sarapan Mama nggak akan izinin kamu pergi."


"Tapi, Ma ...."


"Sudah, ayo duduk!"


Mau tidak mau akhirnya Aji pun menuruti keinginan sang Mama untuk sarapan dulu, daripada nanti dirinya tidak diperbolehkan untuk pergi.


Setelah selesai sarapan barulah Aji berpamitan untuk pergi ke rumah Asha. Sepanjang perjalanan dia terus saja tersenyum, tidak sabar ingin segera sampai di rumah kedua mertuanya. Pria itu hanya bisa membayangkan ekspresi wajah sang istri saat melihat kedatangannya. Terbayang wajah lucu sang putra yang terus ada dalam mimpinya.


Hingga tidak terasa mobil pun memasuki halaman rumah kedua orang tua Asha. Rumah yang begitu besar. Namun, tampak begitu sepi meski di depan sudah tampak mobil papa Roni yang siap. Mungkin beliau akan pergi ke kantor. Aji harus cepat masuk sebelum semua orang pergi dengan kegiatan masing-masing.


"Assalamualaikum," ucap Aji sambil mengetuk pintu, hingga terbukalah pintu rumah dan tampak seorang wanita yang tidak Aji kenali sama sekali. Namun, jika dilihat dari penampilannya sepertinya dia pembantu di rumah ini.

__ADS_1


"Maaf, Anda siapa? Mau bertemu siapa?" tanya wanita itu.


"Saya ingin bertemu dengan Papa Roni dan Mama Nisa. Apa mereka ada?"


Mendengar nama kedua mertuanya disebut membuat wanita itu otomatis menganggukkan kepalanya. Dia yakin tamu yang datang mengenal baik pemilik rumah, terbukti dengan panggilan papa dan mama yang disematkan.


"Mereka sedang sarapan, silakan masuk! Akan saya panggilkan."


Aji hanya mengganggu meski dia penasaran sebenarnya siapa wanita itu. Saat menikah dengan Asha, dia tidak melihat wanita itu. Bahkan sebelumnya juga tidak pernah melihatnya. Namun, Aji tidak peduli. Yang penting sekarang adalah bertemu dengan sang istri. Dia duduk di ruang tamu, menunggu kedua mertuanya keluar. Mungkin sekarang mereka sedang menyelesaikan sarapannya.


"Nak Aji, ada apa datang ke sini? mau memberi surat perceraian untuk Asha? Jika benar demikian, sebaiknya kamu pulang saja. Tidak ada gunanya juga kamu datang ke sini," tanya Roni datar.


Dia tahu jika putrinya melakukan kesalahan, tetapi bukankah Aji juga melakukan kesalahan karena tidak bisa menjaga istrinya. Terlepas dari Asha hamil anak orang lain atau tidak.


Nasi sudah menjadi bubur, penyesalan yang dia rasakan sungguh sangat menyiksa. Andai dia membela Asha saat itu, semua tidak akan seperti ini. Semua orang sudah mengucilkannya, tidak ada satu pun yang membela, hingga membuatnya terluka dan memilih pergi meski tanpa membawa apa pun.


"Bukan, Pa. justru aku datang ke sini untuk menjemput istriku," jawabnya membuat Mama Nisa dan Papa Roni saling berpandangan, seolah tidak mengerti apa yang diinginkan oleh Aji.


Mungkinkah pria itu ingin membawa Asha dan menyiksanya di rumah? Bukankah itu sangat kejam? Tidakkah dia memikirkan perasaan istrinya yang sudah disakiti begitu besar?


"Untuk apa kamu menjemput Asha? Apakah kamu ingin menyiksanya agar dia merasakan apa yang kamu rasakan selama ini?"


Aji menggelengkan kepala dengan cepat. Dia tidak mungkin melakukan hal itu karena saat ini dalam hatinya ada cinta untuk Asha dan anak mereka. Pria itu juga bukan orang yang kejam hingga berbuat demikian.

__ADS_1


"Tidak, Pa. Justru aku ingin meminta maaf pada Papa, Mama juga Aisyah dan Khairi. Aku tahu kalau sudah melakukan kesalahan yang begitu besar, yang tidak akan bisa kalian maafkan, tapi aku sungguh-sungguh datang untuk menjemput Asha dan membawanya pulang. Aku sadar sudah melakukan kesalahan. Tolong maafkan aku, Pa, Ma." Aji beralih berlutut di depan Papa Roni, memohon maaf pada sang mertua akan semua kesalahannya.


Papa Roni terkejut, dia meminta Aji untuk bangun dan kembali ke tempat duduknya. Ditariknya napas dalam-dalam dan membuangnya dengan pelan. Rasa sesak kembali dirasakan mengingat apa yang terjadi di rumah ini.


"Percuma juga kamu minta maaf, semuanya sudah terlambat," jawab Papa Roni dengan suara lirih.


"Percuma? Percuma maksudnya apa? Apa Papa tidak ingin memberi maaf padaku?" tanya Aji dengan perasaan sedih.


Papa Roni menggeleng. "Bukan itu maksudku, tapi setelah pergi meninggalkan rumah ini dia sudah tidak tinggal di sini lagi."


"Lalu di mana dia sekarang, Pa? Aku akan menjemputnya ke mana pun dia pergi. Aku akan membawanya pulang."


"Justru itu yang menjadi masalah, Papa sama sekali tidak tahu ke mana dia pergi. Dia kabur saat dalam perjalanan pulang dari rumahmu waktu itu."


Aji terkejut mendengar hal tersebut, rasanya dia tidak ingin percaya dengan berita yang disampaikan oleh sang mertua. Itu sangat sulit diterima di kepala.


Sementara itu, Mama Nisa hanya menangis. Setiap dia teringat dengan sang putri yang bisa dilakukan hanya itu, meratapi kebodohannya yang tidak bisa mengerti perasaan Asha. Padahal dirinya seorang ibu dan wanita.


"Jika memang Asha kabur saat itu, kenapa Papa dan Mama tidak memberitahukan kepadaku?"


"Memangnya kalau kami mengatakannya padamu, apa yang bisa kamu lakukan? Bukankah kamu sendiri yang menyuruhnya untuk pulang? Kamu juga sudah menceraikannya. Kami tidak memiliki alasan apa pun untuk menceritakan kejadian yang sesungguhnya pada kalian. Kamu dan Asha juga tidak lagi memiliki hubungan. Mengingat kata talak sudah kamu ucapkan. Bayi itu juga bukan anakmu."


Aji merasa terpojok dengan kalimat yang disampaikan oleh sang mertua. Saat itu memang dia tidak menginginkan keberadaan Asha dan anaknya, tetapi semua juga karena terpaksa atas keinginan kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2