
"Kamu bilang ingin bertemu denganku karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan, tapi dari tadi kamu hanya diam saja. Bahkan kita sudah selesai menghabiskan makan malam. Aku tidak bisa berlama-lama, istriku menunggu di rumah," ucap Aji setelah menyelesaikan makan malamnya.
Saat ini dirinya telah memenuhi janjinya pada Naura untuk bertemu. Namun, sejak datang hingga selesai makan pun tidak ada satu kata yang terucap dari bibir gadis itu. Hingga membuat pria itu jengah dan kesal dan ingin segera pergi dari sana. Takutnya Naura akan membuat ulah yang lebih.
Dia tahu temannya itu bersikap seperti ini pasti karena ulahnya, yang kemarin sempat memanfaatkan kedekatan dirinya dengan gadis itu, hingga membuat Naura salah paham. Ternyata temannya salah mengartikan jika dirinya menyukai Naura. Kali ini tidak lagi, pria itu akan berusaha untuk membentengi diri agar tidak terlalu dekat dengan temannya itu. Aji sama sekali tidak tertarik dengan Naura.
Meskipun di kemudian hari dirinya tidak bersama dengan Asha, dia tidak akan mungkin bersama dengan Naura. Memikirkan perpisahannya dengan sang istri, tiba-tiba hatinya terasa sakit. Entahlah ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Ada perasaan tidak rela mendengar kata perpisahan, kebersamaan bersama dengan sang istri sehari-hari, sedikit banyak telah mempengaruhi hatinya.
Apalagi melihat Asha yang begitu baik dan lembut dalam mengambil hatinya. Wanita itu juga melakukan tugas seorang istri dengan baik. Aji menyukai masakan Asha, bahkan berat badannya akhir-akhir ini juga semakin naik. Meskipun di awal pernikahan dia sering uring-uringan karena masih belum ikhlas, kini justru pria itu merasakan kedamaian dalam hatinya.
Kembali ke restoran di mana Aji dan Naura membuat janji. Gadis itu masih saja menunduk, bingung mau memulai pembicaraan dari mana. Hingga Aji pun kembali bertanya, "Naura, jika tidak ada yang ingin kamu katakan lebih baik aku pulang saja. Aku tidak bisa menunggu lagi."
Aji akan berdiri. Namun, Naura mencegahnya. "Tunggu dulu, Aji."
Pria itu pun kembali duduk. "Aku tidak punya banyak waktu, cepat katakan saja."
Di bawah meja Naura mengepalkan tangannya, Aji telah kembali menjadi pria yang dingin seperti dulu. Tidak seperti akhir-akhir ini, selalu hangat dan romantis. Gadis itu berpikir pasti ini semua gara-gara Asha. Padahal dia sudah sangat merasa bahagia dengan perubahan itu, tetapi sekarang seolah apa yang dilakukan selama ini sia-sia.
__ADS_1
Naura akan membuat Aji kembali seperti kemarin dengan cara pelan-pelan. Kali ini gadis itu akan bermain cantik, tidak perlu terburu-buru yang penting adalah hasilnya. ke depannya saat bersamaan dengan Aji dia juga tidak bisa mengambil keputusan seenaknya begitu saja semuanya perlu pertimbangan yang matang karena memang aja sangat menyukai wanita yang matang.
"Aku minta maaf. Aku akui aku salah, aku sudah memaksamu untuk menerima lamaranku, tapi percayalah itu semua di luar kendaliku. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Semuanya terlihat seperti bayangan yang berterbangan. Aku benar-benar tidak sadar dengan apa yang sudah aku lakukan. Aku mohon maafkan aku, aku harap kamu masih mau berteman denganku. Aku masih ingin berteman dengan kamu dan Asha. Tante Tia dan Om Harto juga sudah aku anggap seperti orang tua sendiri."
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Naura, selanjutnya air itu semakin mengalir deras. Tentu saja hal tersebut membuat Aji merasa bersalah. Seperti biasa pria itu tidak akan tega melihat seorang gadis menangis. Apalagi Naura adalah temannya dari kecil. Sudah pasti membuat dirinya merasa kasihan melihatnya.
Niatnya yang tadi ingin menjauhi temannya pun dia urungkan. Lagi pula apa salahnya jika mereka hanya berteman, asalkan Aji bisa membentengi diri itu sudah cukup. Naura juga sepertinya sudah sangat menyesal. ke depannya pasti tidak akan mengulangi kesalahannya untuk kedua kali.
Aji menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Aku sudah memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf, jadi tidak perlu terlalu dipikirkan. lupakan saja semuanya, anggap saja kita tidak memiliki masalah apa pun."
"Lalu bagaimana dengan Asha? Pasti dia sangat kecewa padaku. Seharusnya aku menjaga perasaannya, tapi ini malah menyakiti."
Namun, dalam hati gadis itu benar-benar kesal karena pria di depannya terus saja memuji Asha. Untuk kali ini dia akan membiarkannya, tetapi tidak untuk kedepannya. Perlahan Naura akan membuat wanita itu pergi dari kehidupan Aji. Setelah itu barulah dirinya yang akan menggantikan posisi itu.
Keduanya berbincang hingga akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Naura sengaja bilang akan memesan taksi online karena tadi dirinya pergi dengan naik taksi online. Aji pun berniat untuk mengantar. Namun, gadis itu menolak, takut jika Asha menunggu terlalu lama. Tadi saja saat makan malam sudah memakan waktu yang lama, malah ditambah mengantarkannya pulang, pasti akan lebih lama lagi.
Namun Aji bilang tidak apa-apa, tapi tetap saja Naura menolak, dia ingin memberikan kesan yang baik di depan Aji saat ini. Itu memang sengaja dilakukannya agar dimata pria itu Naura benar-benar berubah dan benar saja, dalam hati Aji mengagumi Naura yang berubah banyak.
__ADS_1
Aji dan Naura akhirnya berpisah, mereka menuju rumah masing-masing.
***
Hari-hari terlewati dengan baik, sikap Aji pada Asha masih tetap sama. Hanya saja kali ini pria itu sedikit perhatian setelah kram yang dialami oleh sang istri waktu itu. Asha pun senang, setidaknya dia merasa dimanja saat sedang hamil. Seperti yang dilakukan oleh para pria pada istrinya saat dirinya melakukan check up.
Sampai detik ini pun Aji tidak pernah menemani wanita itu saat periksa. Asha hanya pergi sendiri terkadang ditemani oleh Bik Ika. Dia selalu iri pada ibu-ibu hamil lainnya yang selalu ditemani sama suami. Terkadang ada yang terlalu posesif bahkan sampai membawa kursi roda, padahal wanita itu masih sangat bisa berjalan, hanya saja perutnya yang terlalu besar karena hamil kembar. Ada pula yang bersikap dingin, tetapi tetap di samping sang istri.
Andai saja dia bisa merasakan hal itu. Meskipun hanya sekali saja, tetapi semua itu hanya ada dalam mimpinya. Di rumah saja Aji tidak akan mau bersikap romantis pada dirinya, apalagi di luar rumah dilihat orang banyak. Saat mendatangi pesta saja, Asha bisa melihat keterpaksaan di wajah sang suami, dia yakin jika itu semua atas paksaan dari sang mertua.
"Mas, tadi mama Nisa telepon, katanya kalau besok nggak ada kerjaan kita diminta ke sana," ucap Asha saat mereka sedang menikmati makan malam.
"Kenapa baru bilang sekarang? Tadi aku sudah bilang sama Naura kalau besok aku tidak akan ke mana-mana, jadi dia mau datang ke sini."
Asha menghela napas, selalu saja tentang Naura. Sejak makan malam hari itu, Aji dan gadis itu memang kembali dekat. Bahkan Naura juga terkadang datang ke apartemen. Meskipun sikapnya saat ini baik. Namun, dirinya bisa melihat jika tidak ada ketulusan di mata Gadis itu. Entah dia memiliki rencana apa kali ini, pastinya tujuannya masih sama, yaitu Aji.
"Ya sudah, nanti aku bilang sama mama kalau nggak bisa."
__ADS_1
Asha segera pergi dari sana. Aji bisa melihat wajah kecewa sang istri. Namun, dia bisa apa karena memang apa yang dikatakannya memang benar. Lagi pula pria itu juga malas pergi ke rumah mertuanya, nanti pastinya di sana mereka akan banyak berbasa-basi dan berbohong. Aji tidak suka itu, ke rumah orang tuanya saja dia mulai jarang karena pastinya akan dicerca berbagai pertanyaan tentang keluarga mereka.