Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
26. Kepanikan Aji


__ADS_3

Tengah malam, seperti biasa Asha terbangun, selain karena merasa tidak nyaman dengan posisi tidur. Tadi siang saat wanita itu terbangun, dia terkejut karena sudah berada di dalam kamar. Seingatnya tadi tertidur di depan televisi. Saat Asha bertanya pada Bik Ika, ternyata Aji yang memindahkannya.


Dalam Hati wanita itu merasa bahagia karena ternyata Aji begitu perhatian padanya. Tidur siang juga terasa begitu nyenyak. Saat akan tidur malam, Asha memberanikan diri untuk meminta sang suami agar menemaninya berbincang hingga dirinya tertidur. Awalnya dia takut jika Aji marah. Namun, siapa sangka jika pria itu benar-benar menemani istrinya hingga wanita itu terlelap. Setelah itu, kembali ke kamarnya sendiri. Padahal Asha berharap suaminya mau tidur bersama satu kamar.


Asha memejamkan matanya saat merasakan sesuatu yang membuatnya serasa tercubit di bawah perut. Sedari siang tadi wanita itu sudah merasakan sakit, tapi dia abaikan karena masih bisa ditahan. Sejak hamil Asha sering membaca artikel tentang hamil dan melahirkan, jadi sedikit banyak wanita itu tahu tentang prosesnya. Namun, malam ini rasa sakit itu membuatnya tidak bisa tidur sama sekali.


“Ah, sakitnya,” ujar Asha sambil mengusap bagian bawah perutnya yang sudah membulat besar. Rasa itu datang lagi setiap sepuluh menit, tetapi kini dia merasakan semakin sering saja. Hampir lima menit sekali sakit itu datang.


Asha ingat dengan ucapan dokter kandungan yang menanganinya, rasa sakit saat melahirkan akan semakin sering dia rasakan saat bayi sudah waktunya untuk keluar. Wanita itu mengambil hp, ingin memastikan apa yang terjadi kepadanya malam ini. Jemarinya bergerak lincah mengetikkan kata per kata di kolom pencarian. Setelah selesai Asha membaca artikel kesehatan yang ada di sana.


Senyumnya mengembang, menepiskan rasa sakit yang membuatnya merintih kini menjadi hilang. Rasa sakit yang terjadi memang benar tanda-tanda jika dia akan melahirkan, padahal dokter mengatakan tanggal kelahiran masih seminggu hari lagi.


“Nak, apa kamu sudah nggak sabar pengen segera lahir?” tanya Asha sambil tersenyum dan kembali mengusap perutnya lembut.


Jam menunjukkan pukul satu malam, udara dingin dari AC tidak dia rasakan sama sekali, tetap saja hawa yang ada di dalam kamar dirasakan sedikit gerah untuknya. Asha berusaha bertahan, mengatur napasnya dengan baik. Dalam hati berdoa agar bisa menahannya hingga esok hari. Setidaknya malam ini dia bisa membiarkan Aji tidur dengan nyenyak. Dia tidak ingin mengganggu tidur sang suami.


“Kita bertahan sampai besok ya, Nak. Sabar,” ucap Asha pada anaknya yang kemudian rasa sakit itu menghilang lagi.


Asha tersenyum dan kembali merebahkan diri. Dia ingin tidur, rasa kantuk menyerangnya, tapi baru saja lima menit tertidur, rasa sakit itu datang lagi sehingga membuat Asha terbangun.


Haus menyerang Asha, air yang ada di atas mejanya sudah hampir habis, tidak cukup untuknya menghilangkan dahaga. Maka dari itu, dia pergi ke dapur untuk mengambil air.

__ADS_1


Dapur yang tidak jauh dari kamarnya, kini terasa sedikit sulit untuk dia datangi apalagi dengan keadaannya yang seperti itu. Berjalan dengan sangat pelan dan merapat berpegangan di dinding, sekali-sekali berhenti saat rasa sakit menguasai tubuhnya. Pinggang pegal, perut bak dicubit, kaki yang sedikit gemetar, Asha hanya diam dan menarik napasnya dengan pelan, kemudian mengembuskannya.


Asha ingin menyalakan kompor untuk membuat teh, tetapi terlalu malas. Akhirnya dia hanya mengambil air putih saja. Sejak hamil wanita itu memang mulai menghindari air es karena menurutnya air dingin tidak sehat untuk calon anaknya, jadi dia berusaha untuk menahan diri.


Suara air yang keluar dari dispenser merupakan satu-satunya suara yang terdengar di tempat tersebut, Asha menenggak minuman tersebut dengan rakus, tak lupa juga dia mengambilnya untuk dibawa ke dalam kamar. Namun, baru dua langkah dia pergi, rasa sakit itu datang dengan tidak tertahankan. Asha terduduk di lantai dapur, air yang ada di gelasnya dia simpan di atas meja pantry.


“Maasyaa Allah!” ucap Asha sambil merasakan nikmat yang tiada taranya, nikmat yang tidak semua bisa dirasakan kaum wanita yang mungkin belum mendapatkan izin dari Yang Maha Kuasa. Kini Asha merasakan kenikmatan itu meski dia harus menanggungnya sendiri tanpa perhatian dari pasangannya.


“Sabar, Nak. Bertahan sampai pagi nanti, ya!” mohon Asha kepada bayinya. Sejenak saja dia akan duduk di sini, setelah tidak terasa sakit dia akan kembali ke dalam kamar. Akan tetapi, saat dia akan bangkit sesuatu keluar dari bawah perutnya membasahi kaki dan lantai.


Asha terkejut, tidak tahu apa yang terjadi, tapi tiba-tiba saja dia merasa khawatir.


Tepat di saat itu, Aji juga berjalan ke arah dapur karena dia juga akan membuat kopi, banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan sehingga malam ini dia belum bisa tidur dengan nyenyak karena mengurusi berkas yang sengaja dia bawa ke pulang.


Aji mengerutkan keningnya heran, melihat gelas yang ada di sana, padahal saat dua jam yang lalu saat dia datang ke dapur, benda itu tidak ada di sana.


“Bi! Tolong!” lirih suara wanita terdengar dari balik meja. Aji segera mendekat dan terkejut saat melihat Asha yang duduk di lantai dengan genangan air yang membuat pakaian bagian bawahnya basah.


“Asha!” teriak Aji khawatir.


Asha yang mendengar namanya dipanggil menoleh dan menghela napasnya lega. Akhirnya setelah beberapa saat memanggil, ada seseorang yang mendengarnya.

__ADS_1


“Kamu kenapa?” tanya Aji sambil berlutut di hadapan Asha. Dia bisa melihat wajah istrinya yang menahan sakit, pasti telah terjadi sesuatu.


“Mas, kayaknya aku akan melahirkan deh,” ujar Asha dengan senyum di wajahnya.


"Apa?" Aji begitu terkejut, tetapi langsung menggendong Asha di bagian depan dengan tetap berhati-hati.


“Kenapa kamu nggak bilang? Pegangan!” titah Aji, Asha melingkarkan satu lengannya ke belakang leher Aji dan menatap laki-laki itu yang kini membawanya dengan langkah yang cepat menuju ke luar dari apartemen.


Wajah Aji tampak khawatir, Asha bisa melihat itu. Dia tersenyum, tapi senyum itu dia tepiskan, tak mungkin rasanya wajah khawatir itu untuk dirinya. Sang suami hanya sedang melakukan tugasnya sebagai seorang laki-laki yang menaungi dirinya.


“Bertahan Asha!” Aji terus berlari saat keluar dari lift dan segera menuju ke mobilnya. Tak lupa dengan sabuk pengaman untuk wanita itu dan segera mobil melaju ke luar dari area tempat tinggal mereka.


Jalan yang sepi membuat Aji bisa melajukan mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sesekali dua melirik Asha, wanita itu cukup tenang dengan keadaannya yang seperti ini, menarik napasnya dan mengembuskannya dengan perlahan. Sesekali dia juga merintih saat rasa sakit itu datang lagi.


Aji tak banyak bicara, berkonsentrasi dengan jalanan yang ada di depannya. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa sang istri begitu tenang saat dirinya merasa kesakitan. Padahal teman-temannya pernah bercerita jika istrinya berteriak kesakitan saat akan melahirkan. Tanpa sadar, pria itu juga mengharapkan Asha seperti itu, tetapi ternyata tidak sesuai.


Tak sampai satu jam, mereka telah sampai di rumah sakit. Pria itu segera mencari perawat yang bisa membantu Asha, beruntung saat dia keluar dan mencari perawat, ada seorang yang berjaga dan segera membantunya mengambilkan kursi roda, segera Asha dibawa untuk menuju ke ruang UGD untuk diperiksa terlebih dahulu. Aji hanya mengikuti dari belakan tanpa banyak bertanya, dia percaya jika dokter pasti akan memberikan penanganan yang terbaik.


Aji dengan pakaian yang basah dan bau amis terkena darah dan air ketuban tidak peduli dengan keadaannya itu, dia khawatir dengan istrinya. Bagaimana pun juga wanita itu sedang berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan makhluk Tuhan yang tidak bersalah.


“Tolong tunggu sebentar ya, Pak. Silakan Bapak urus administrasi terlebih dahulu,” ucap perawat tersebut kemudian masuk ke dalam sana. Tak lama dokter berlari dari ujung lorong dan masuk ke ruangan yang sama.

__ADS_1


__ADS_2