Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
82. Syukuran rumah baru


__ADS_3

Asha masih menemani Naura yang saat ini masih menangis. Bukan air mata kesedihan, tapi bahagia bisa mengenal istri dari sahabatnya dulu, yang sekarang sudah menjadi orang lain. Sejak kepergian Asha, persahabatan Naura dan Aji memang sudah berakhir. Keduanya seperti orang asing, hanya di kantor saja mereka saling bicara, itu pun soal pekerjaan. Asha memiliki harapan yang sama seperti Naura, ingin mereka bisa berteman dan saling bertukar pikiran untuk kedepannya.


"Sudah lebih baik?" tanya Asha sambil menatap Naura yang hanya dijawab dengan sebuah anggukan. "Aku harap kita bisa menjadi teman yang bisa saling berbagi cerita, baik dalam suka maupun duka."


Naura mengangguk, aku juga ingin memiliki teman sepertimu. "Kamu wanita baik, pasti banyak nilai positif yang bisa aku dapatkan dari kamu."


"Aku tidak sebaik yang kamu pikirkan. Apa pun itu kita akan sama-sama saling mendukung satu sama lain."


"Ternyata kalian ada di sini. Aku sudah dari tadi mencari kalian ke mana-mana," ucap Aji membuat kedua wanita itu menoleh secara bersamaan.


"Memang ada apa, Mas?" tanya Asha sambil tersenyum dan mengusap sisa air matanya.

__ADS_1


Aji sebenarnya penasaran apa yang terjadi, tetapi pria itu memilih diam saja dulu. Nanti saat waktunya tepat dia akan membicarakan hal ini dengan sang istri.


"Itu, ada tamu yang mau pulang. Mereka ingin pamitan sama kamu."


Asha mengangguk kemudian pergi bersama dengan sang istri. Dia meminta Naura untuk duduk di sana saja lebih dulu agar bisa lebih tenang. Namun, Naura menolak karena harus segera pulang, takutnya nanti anaknya mencari. Akhirnya Asha pun tidak melarang.


Satu persatu tamu berpamitan pada Asha dan Aji. Mereka berterima kasih karena sudah dijamu dengan makanan yang begitu lezat. Beberapa kolega Aji juga memberikan selamat pada pria itu karena sudah memiliki istri yang begitu cantik seperti Asha. Hal tersebut tentu membuat mereka iri melihatnya.


***


Saat ini mereka hanya berdua di dalam kamar. Rumah juga sudah rapi karena semua orang tadi bekerja bersama untuk membereskan semuanya. Kedua orang tua mereka juga masih di sini dan memutuskan untuk menginap di kamar yang sudah Aji sediakan. Tadi orang tua dan mertuanya sempat berdebat karena ingin agar Khairi tidur bersama mereka. Namun, ternyata anak itu menolak dan memilih untuk tidur di kamarnya sendiri.

__ADS_1


Aji cukup senang dengan pemikiran sang putra. Anak itu pasti tidak ingin membuat mereka sakit hati dengan memilih salah satu jadi, lebih baik tidak memilih sama sekali. Sekarang semuanya sudah beristirahat di kamar masing-masing.


"Naura hanya ingin meminta maaf, tidak ada sesuatu yang penting. Memang Ada apa, Mas?"


"Tidak apa-apa, hanya saja tadi kalian bicara dengan serius sekali jadi, aku hanya khawatir Naura menyakitimu kamu."


"Jangan berpikir seperti itu, Mas. Naura juga sudah menyesali perbuatannya, tidak baik terus-menerus menyalahkannya seperti itu. Dia sekarang juga sudah menikah dan sudah membangun rumah tangganya sendiri. Tidak usah berdebat lagi dengan Naura, lebih baik semua baikan seperti dulu lagi."


"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan lagi berteman dengan wanita mana pun. Sekalipun itu Naura yang sudah memiliki suami, tapi aku tidak akan pernah melarang kamu jika kamu mau berteman dengannya. Jangan memintaku untuk dekat dengan Naura lagi. Aku sudah berjanji pada diri sendiri dan aku tidak mau mengingkarinya."


Asha mengangguk dan berkata, "Aku juga tidak akan memaksamu untuk berteman dengan siapa pun, apalagi wanita. Bagiku itu tidak masalah, tapi jika memang kamu sudah membuat pernyataan seperti itu aku bisa apa. Justru aku malah senang kalau kamu bisa menjaga diri dari segala fitnah."

__ADS_1


"Tentu, apa pun akan aku lakukan untukmu. Sekarang sudah malam, sebaiknya kita tidur. Aku tahu kamu lelah."


Aji dan Asha pun membaringkan tubuhnya dan menuju alam mimpi. Tidak ada acara berolahraga lebih dulu karena pria itu tahu sang istri sudah kelelahan. Asha ikut menyiapkan acara hari ini secara langsung. Aji sebenarnya sudah menyerahkan semua tanggung jawab pada bibi, tetapi sang istri terap ikut terjun aku untuk menyiapkan semuanya.


__ADS_2