
“Aji sudah pergi?” tanya Naura yang tiba-tiba saja ada di belakang Asha membuat wanita itu terkejut.
“Iya, baru saja,” ucap Asha.
“Yaah, sayang sekali. Padahal hari ini aku ingin dia antar aku ke suatu tempat.” Naura tiba-tiba saja menepuk keningnya dengan cukup keras. “Ah, aku lupa kalau dia sudah beristri. Aku harus meminta izin terlebih dahulu kan kalau mau bertemu dengan dia? Hehe,” ujar Naura tertawa malu.
Tiga orang wanita itu duduk bersama menghabiskan waktu bersama di hari itu.
“Oh ya, Tante. Kapan kita akan pergi lagi berlibur seperti dulu? Ajak Asha sekalian ke villa. Kita bisa bersenang-senang lagi di sana,” ujar Naura yang membuat hati Asha semakin panas. Betapa wanita ini beruntung karena bisa mengambil hati semua orang yang ada di rumah ini. Tidak seperti dirinya yang bahkan tidak bisa meluluhkan hati Aji.
“Ya, kita bisa pergi, tapi Tante juga harus bertanya kepada Om soal ini. Jadwal Aji juga sepertinya padat mengingat dia saja jarang sekali datang kemari,” ujar Tia. Naura menganggukkan kepalanya.
“Iya, aku ngerti kok. Aku Cuma kangen aja masa-masa kita bersama kayak dulu. Andai waktu nggak cepat berlalu, pasti aku sama Aji masih sama kayak dulu,” ujar Naura. Tia tertawa kecil dan setuju dengan ucapan sahabat putranya ini.
Asha merasa bosan meski dia ada di antara dua wanita itu, karena pembahasan yang mereka bahas hanyalah masa lalu Aji dan juga Naura.
“Kamu dekat banget ya sama Aji?” tanya Asha saat Tia tengah menerima telepon dari salah satu temannya.
“Iya, dekat banget. Seperti yang kamu tau, aku dan Aji kan teman dekat sejak kecil. Kami selalu bersama kemana-mana, sampai-sampai Tante dan Om sudah anggap aku seperti anak perempuan mereka. Kami tidak terpisahkan, ya setidaknya sebelum aku pergi ke luar negeri. Jika saja aku tidak pergi, mungkin kami akan lebih dekat lagi. Hehe,” ujar Naura santai.
Asha menangkap nada aneh yang diucapkan oleh wanita itu seakan Naura tengah menandai Aji untuknya.
“Tapi sayang ya, hanya sebatas sahabat,” ujar Asha sambil tersenyum tipis. Asha tak tahan, dia sudah muak berada di sana sehingga dia memutuskan untuk pergi saja dari ruangan itu. Sementara Naura menatap kesal wanita hamil tersebut.
“Asha, mau kemana?” tanya Tia yang baru saja datang ke ruangan itu lagi.
“Ah, aku mau ke kamar, Ma. Sedikit pusing,” ucap Asha beralasan.
__ADS_1
“Oh, iya. Kamu istirahat saja, Nak. Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Tia lagi. Asha menggelengkan kepala.
“Nggak, aku mau istirahat saja sudah cukup kok. Aku tinggal dulu ya, Ma.”
Tia menganggukkan kepalanya kemudian menatap menantunya yang saat ini melanjutkan langkah kakinya menuju ke lantai atas.
“Orang hamil itu berat ya? Aku kasihan sama Asha, tapi juga iri,” ucap Naura saat Tia sudah duduk lagi di sampingnya.
“Haha, nanti kamu juga akan rasakan sendiri. Hamil itu memang berat, tapi sangat menyenangkan sekali,” ujar wanita itu.
“Ah, gimana aku bisa hamil kalau calon suami aja nggak ada. Tadinya aku ngarep Aji yang akan jadi suami aku, tapi Aji sudah keduluan sama orang lain,” ujar Naura sambil terkekeh, pun dengan Tia yang menganggap ucapan dari Naura adalah sebuah guyonan saja.
Dada Asha sesak, dia menyentuhnya agar menjadi tenang, tapi semakin mengingat apa yang Naura katakan tadi semakin membuatnya sakit saja.
Segera Asha pergi untuk mengambil hp-nya, dia mencari nomor Aji untuk memintanya menjemput, atau akan pulang saja terlebih dahulu, tapi segera dia urungkan mengingat wajah laki-laki itu pasti akan masam. Ingat dengan ucapannya beberapa hari yang lalu untuk menjadi baik di mata keluarganya. Akhirnya Asha memutuskan untuk berbaring saja.
“Aku akan pulang sore ini. Kapan-kapan kita bisa bertemu lagi kan?” tanya Naura melepaskan pelukan dari pria itu, bahkan dengan beraninya mencium sang suami di hadapannya.
Wajah yang muram itu dengan sangat jelas sekali terlihat di mata Aji, terbit senyum di bibirnya yang hampir tak terlihat oleh mata Asha yang penuh amarah.
“Iya, tentu saja kita bisa bertemu. Kapan dan di mana, kamu bisa hubungi saja aku,” ucap Aji sambil tersenyum, semakin tipis senyuman Aji melihat wajah Asha yang sudah memerah.
“Kenapa kamu nggak sekalian saja antar Naura pulang, Ji? Kan rumah Naura juga tidak terlalu jauh dari sini,” celetuk Tia yang tiba-tiba saja ada di belakang Asha.
“Eh, nggak usah, Tante. Nanti Aji dan Asha bisa keganggu. Aku akan telepon sopir aja atau panggil taksi,” ujar Naura cepat sambil menggoyangkan tangannya.
“Tidak apa-apa. Lagian juga Asha tidak akan keberatan kan?” tanya Aji. Asha tersentak dan mau tak mau menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Iya, tidak apa-apa. Sekalian saja kami antarkan.”
Asha berjalan di belakang suaminya yang membawakan koper Naura dan menyimpannya di dalam bagasi.
“Masuk,” ucap Aji membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Naura.
Hal itu membuat Asha menjadi cemburu. Bahkan Aji tak pernah melakukan itu terhadapnya.
“Terima kasih, Ji.” Naura masuk ke dalam mobil dan tersenyum melihat wajah masam Asha yang masih menatapnya, seakan melontarkan tatapan penuh permusuhan terhadap dirinya.
“Kamu juga, masuk.” Aji membukakan pintu untuk sang istri.
Bukan karena kewajiban, tapi hanya sebuah kedok untuk menutupi sandiwara mereka.
“Hati-hati di jalan!” Tia melambaikan tangannya dari teras rumah. Asha menganggukkan kepalanya, sementara Naura membalas lambaian tangan wanita paruh baya itu sambil berseru.
Asha hanya diam berada di mobil itu, dia memilih untuk mengalihkan tatapannya ke samping dan menulikan telinganya. Pembahasan yang dibicarakan oleh kedua orang itu nyata membuat hati Asha merasa tercubit. Aji tak pernah tersenyum kepadanya, bahkan berbicara dengan nada yang biasa pun tak pernah, selalu saja ketus terhadapnya. Akan tetapi, untuk Naura, laki-laki itu berubah menjadi sosok yang hangat dan menyenangkan.
“Terima kasih, Aji, Asha. Kalian mau mampir dulu? Mungkin saja Mama dan Papa sudah sampai,” tanya Naura saat mereka sudah sampai di rumah kediaman keluarga Naura.
“Lain kali saja kami masuk. Aku masih ada tugas yang harus dikerjakan di rumah.”
“Oh, begitu ya.” Naura terlihat kecewa. “Ya sudah. Kalian hati-hati lah di jalan. Jangan ngebut,” ucap Naura sambil melambaikan tangannya.
Aji mengangguk dan segera melajukan mobilnya di jalanan yang padat.
Suasana di dalam mobil sangat kaku, dingin, berbeda dengan saat tadi Naura ada bersama dengan mereka. Asha melirik suaminya dengan ujung mata, berharap laki-laki itu berbicara dengannya untuk mengusir kekosongan yang ada di antara mereka. Akan tetapi, sampai mereka tiba di apartemen Aji tidak juga membuka mulutnya.
__ADS_1