Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
118. Keinginan Asha


__ADS_3

Hasbi melebarkan matanya, tidak mengira akan mendengar ucapan sang istri sedemikian rupa. Dari kemarin dia mencoba untuk menahan diri agar tidak melakukan hal yang lebih pada sang istri. Sekarang pria itu mendapatkan lampu hijau, tentu saja membuatnya merasa senang. Namun, Hasbi tidak ingin memaksa keinginannya. Dia ingin memastikan jika istrinya tidaklah merasa terpaksa dalam melakukannya.


"Apa kamu yakin, Sayang? Tidak ada paksaan dari mana pun?" tanya Hasbi yang mencoba meyakinkan ucapan sang istri.


"Aku sudah memikirkannya dari kemarin, Mas. Kita sudah menjadi suami istri yang sah, aku merasa sangat berdosa jika aku melalaikan kewajibanku. Sudah menjadi kewajibanku untuk melayanimu dalam keadaan apa pun. Aku takut malaikat mengutukku karena telah membuat suamiku menunggu. Izinkan aku mencari pahala bersamamu."


Hasbi merasa terharu, dia sendiri tidak memikirkannya sampai sejauh itu. "Jadi kamu benar-benar ikhlas dan tidak merasa terpaksa?"


Dira pun mengangguk dengan tersenyum. Dia memang sudah memikirkannya dari kemarin jadi, apa pun yang terjadi, dirinya harus siap


Senyum di wajah Hasbi begitu lebar, pandangannya terus tertuju pada sang istri. Pria itu mengikis jarak diantara keduanya. Dira yang mengerti pun hanya bisa memejamkan mata, mengikuti apa yang akan dilakukan oleh sang suami. Sentuhan di bibir mulai dirasakan wanita itu, yang tadinya hanya diam menerima pun mulai membalas perlakuan Hasbi.


Hingga membuat keduanya terbuai, bahkan lupa jika keduanya masih berada di balkon yang bisa saja ada orang yang melihatnya. Tanpa banyak berbasa-basi Hasbi pun mengangkat Dira ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar. Dia membaringkan tubuh sang istri di atas ranjang. Lampu yang tadinya terang kini berganti dengan cahaya remang-remang.


Kamar yang tadinya terasa dingin kini mulai terasa panas. Peluh membasahi tubuh kedua manusia yang sedang melakukan penyatuan. Rasa yang sebelumnya hanya ada dalam bayangan, kini bisa mereka rasakan dan memang sungguh luar biasa. Ini untuk pertama kali bagi keduanya. Namun, tidak mengurangi kenikmatan yang mereka rasakan, hingga keduanya tidak sadar entah sudah berapa kali mereka melakukannya.


***


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aji pada sang istri yang sadari tadi mondar-mandir di ruang tamu ini.


"Mas, Vania ke mana saja, ya? Kenapa ponselnya tidak aktif?" tanya Asha balik dengan wajah khawatirnya.

__ADS_1


"Mungkin baterainya habis, nanti saja kamu telepon dia lagi."


"Tapi aku khawatir sama dia, Mas. Entah kenapa aku merasa tidak tenang sebelum mendengar suaranya."


"Sebaiknya kamu telepon papa atau Mama saja. Mungkin Vania sudah sampai di rumah daripada kamu gelisah seperti ini."


Asha pun mengangguk dan mencoba untuk menghubungi papa dan mamanya. Dia merasa sedikit lega karena memang Vania sudah berada di rumah. Namun, wanita itu tetap saja merasa khawatir. Entah kenapa ingin sekali adiknya itu datang ke rumah dan menginap di sini. Asha sudah mencoba untuk menepis pikiran itu karena dia juga pernah mendengar jika ipar adalah maut. Ibu hamil itu tidak ingin hal tersebut terjadi pada rumah tangganya.


Meskipun Vania dan sang suami juga bukan tipe orang yang seperti itu, tetapi tidak ada yang tahu kapan setan itu akan bekerja. Apalagi saat dirinya sedang berbadan dua seperti ini.


"Vania 'kan sudah pulang, Sayang, kenapa kamu masih khawatir saja?" tanya Aji lagi saat melihat sang istri masih gelisah.


"Tidak ada apa-apa, Mas. Aku hanya ... sudahlah, lupakan saja. Tidak ada apa."


"Aku nggak ingin itu, Mas. Sebenarnya aku ingin sekali tidur dengan Vania, tapi aku juga nggak mau kalau apa yang orang-orang katakan tentang ipar adalah maut itu benar. Aku jadi bingung sendiri, Mas. Aku tahu kamu dan Vania juga tidak mungkin melakukan hal itu, tapi tetap saja aku merasa takut. Aku juga ingin sekali Vania tidur denganku malam ini."


Aji menatap wajah sang istri yang terlihat begitu sedih. Dia jadi tidak tega, tetapi bagaimana caranya agar keinginan Asha bisa terkabul. Selalu ada saja keinginan ibu hamil itu. Jika tidak dituruti pasti semalaman sang istri gelisah seperti itu.


Setelah berpikir sejenak akhirnya Hasbi mendapatkan solusi. "Sayang, bagaimana kalau malam ini aku tidur di rumah mama saja. Setelah itu kamu bisa mengundang Vania untuk malam ini tidur sama kamu. Besok pagi setelah Vania pulang, baru kamu hubungi aku dan aku akan pulang."


Wajah sedih Asha pun berubah menjadi ceria. Benar apa yang dikatakan Aji, kenapa tidak terpikirkan olehnya sejak tadi. "Tapi apa kamu tidak apa-apa, tidur di rumah mama, Mas?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Demi anak kita apa pun akan aku lakukan. Sekarang sebaiknya kamu hubungi Vania dan minta dia untuk datang ke sini."


Asha pun mengangguk dan menghubungi ponsel mamanya karena lagi-lagi ponsel adiknya masih belum aktif. Awalnya Vania menolak karena dirinya juga sedang lelah seharian bekerja, tapi karena ibu hamil itu merengek dengan beralasan anaknya, gadis itu pun akhirnya menyetujuinya. Setelah berhasil meminta Vania datang, Aji segera pergi ke rumah mamanya, tidak lupa membawa satu stel pakaian untuk dipakai kerja besok. Takutnya Vania pulang siang dan dia tidak keburu untuk pulang dan berganti baju.


Sebenarnya di rumah kedua orang tuanya juga masih ada baju, hanya saja pria itu lebih suka baju yang ada di rumah dan sudah di setrika oleh sang istri. Entah itu bagian dari ngidamnya seorang suami atau bukan, yang jelas dia selalu suka dengan apa yang dilakukan istrinya.


"Papa ke mana, Ma? Malam-malam begini keluar rumah?" tanya Khairi.


Tadi anak itu ada di ruang keluarga. Saat mendengar ada suara mobil keluar rumah, anak itu pun melihat dan ternyata itu mobil sang papa.


"Papa mau ke rumah om, Sayang. Memang kenapa? Apa kamu membutuhkan sesuatu? Biar mama yang bantu."


Khairi menggeleng sambil berkata, "Tidak, Ma. Aku hanya bertanya saja karena ini sudah malam, tapi papa tiba-tiba keluar rumah."


"Sebentar lagi juga ada Tante Vania datang jadi, kamu ada temennya."


"Tante Vania ke sini malam-malam! Apa mau menginap di sini, Ma?"


"Iya, malam ini Tante Vania akan menginap di sini. Kamu tidak apa-apa, kan?"


"Tidak apa-apa, hanya saja rasanya aneh tiba-tiba tante Vania datang dan menginap, sedangkan papa malah pergi."

__ADS_1


"Jangan terlalu banyak dipikirkan, besok juga papa akan pulang. Ayo kita masuk! Sebaiknya kamu main lagi biar mama yang temenin."


Khairi pun mengangguk dan masuk bersama mamanya.


__ADS_2