
“Asha, kamu nggak setuju ‘kan dengan apa yang dikatakan Aji? Katakan kalau kamu tidak suka, jangan menuruti saja apa yang dikatakan suamimu. Kalau hatimu menolak katakan saja tidak!” seru Mama Tia.
Wanita itu berharap sang menantu tidak setuju dengan apa yang dikatakan putranya, memilih tinggal bersama dengan salah satu dari keluarga mereka. Asha tersenyum sambil menatap kedua orang tua dan mertuanya. Rasanya tidak tega jika harus mengecewakan mereka, tetapi dia tidak punya pilihan lain karena memang hanya ini jalan satu-satunya.
“Pa, Ma, apa yang dikatakan Mas Aji itu benar. Kami juga ingin mandiri, tidak selalu tergantung pada kalian. Sudah cukup kami merepotkan kalian semua. Jika suatu hari nanti kami membutuhkan bantuan, pasti akan menghubungi kalian segera. Kami mohon untuk kali ini Papa dan Mama sekalian mau mengerti bagaimana perasaan kami. Kami hanya ingin mandiri dan tidak ingin merepotkan lagi.”
Pupus sudah harapan Mama Tia, dia tertunduk karena keinginannya tidak terpenuhi. Para orang tua saling pandang, sepertinya keputusan pasangan pengantin sudah tidak bisa diganggu lagi. Meski dalam hati sangat ingin berkumpul dengan anak dan menantu di hari tua. Dipaksa pun pasti tidak akan mau, apalagi melihat keinginan Aji sudah benar-benar bulat.
Mungkin memang ini yang terbaik untuk mereka agar lebih saling mengenal lagi. Perkenalan Aji dan Asha juga cukup singkat, pasti perlu banyak waktu untuk menyelami hati dan perasaan masing-masing. Akhirnya para orang tua pun setuju dan tidak ingin memaksakan kehendak. Biarlah anak dan menantunya mandiri.
Mama Tia memandang Mama Nisa dan akhirnya keduanya pun saling mengangguk.
“Baiklah jika memang itu keputusan kalian. Mama dan Papa tidak bisa memaksa, tapi kalian harus berjanji apa pun yang terjadi pada kalian nanti, kalian harus katakan pada Mama dan Papa, jangan memendamnya sendiri. Jika ada masalah juga sebaiknya dibicarakan baik-baik, jangan mudah emosi karena itu hanya godaan setan.”
Aji dan Asha memandang para orang tua dan mengangguk. Keduanya tersenyum karena akhirnya mereka setuju juga. Meskipun dalam hati wanita itu menyesal karena harus membohongi orang tuanya.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya menikmati sarapan pagi dengan tenang. Setelah semua selesai para orang tua ikut mengantar anak dan menantunya ke apartemen, tempat yang menjadi pilihan anak-anaknya. Mereka juga ingin tahu tempat tinggal pasangan pengantin baru itu seperti apa. Aji pun tidak keberatan, para orang tua juga memang harus tahu tempat tinggalnya agar mereka tidak khawatir lagi.
Begitu sampai di apartemen, semua orang begitu kagum dengan tempat itu. Pilihan Aji memang tidak salah, ternyata ruangannya begitu besar, bahkan ini terlihat seperti rumah minimalis yang berada di gedung bertingkat. Mama Tia dan Mama Nisa menelusuri setiap sudut apartemen itu, sementara Papa Harto dan Papa Roni hanya duduk di ruang tamu. Tidak lupa Asha menyiapkan minuman untuk mereka.
Sebelum sampai tadi Aji memang mampir ke mini market untuk membeli beberapa makanan dan minuman. Dia tahu jika di apartemen tidak ada apa pun. Tidak mungkin pria itu membiarkan orang tuanya kehausan.
Setelah memastikan tempat tinggal anak dan menantunya sudah nyaman, para orang tua pun pamit pulang. Mereka memberi nasihat pada pasangan pengantin baru itu. Aji dan Asha hanya bisa menundukkan kepala sambil sesekali mengangguk. Mereka pun akhirnya benar pergi menyisakan anak dan menantunya.
Aji dan Asha masih duduk di ruang tengah, keduanya perlu membicarakan mengenai kelanjutan hubungan mereka. Keduanya masih berpikir kira-kira harus bagaimana baiknya untuk hubungan mereka ke depannya. Asha masih terdiam dengan menundukkan kepala, menunggu sang suami berbicara dan mengatakan pendapatnya. Saat ini posisinya hanya bisa menerima apa pun yang menjadi keinginan sang suami karena Asha yang bersalah di sini, hingga membuatnya tidak mampu bersuara, sementara Aji korbannya.
“Mulai hari ini kita akan tinggal di sini. Di lantai atas adalah tempat tinggalku, kamu tidak diperbolehkan untuk naik ke lantai atas satu langkah pun. Jika kamu melanggarnya kamu pasti tahu apa konsekuensinya. Kamarmu ada di sana,” tunjuk Aji pada sebuah kamar yang berada di samping ruang keluarga.
“Mengenai surat perjanjian akan aku buat secepatnya, kamu hanya tinggal menandatanganinya. Dapur ada di belakang, kamu boleh menggunakan sesukamu asal jangan merusaknya,” lanjutnya.
Asha menatap sang suami dengan takut, dia pun memberanikan diri untuk bertanya, “Mas, mengenai persyaratanku kemarin bagaimana? Mas tidak lupa, kan?”
__ADS_1
Aji memutar bola matanya malas, dia berpikir jika sampai kapan pun Asha tidak akan mudah menyerah. Entah apa yang dipikirkan wanita itu. Di sini yang banyak dirugikan adalah Aji, tetapi seolah tidak tahu malu masih saja mengajukan syarat.
“Aku akan memasukkannya dalam surat perjanjian kita, kamu jangan khawatir.”
“Kalau itu aku tahu, aku hanya ingin bertanya bagaimana nanti aku bisa membersihkan lantai dua jika kamu melarangku ke sana. Bukankah kamu mengizinkanku untuk melakukan tugas seorang istri?”
“Jangan khawatirkan hal itu, setiap hari akan ada orang yang membersihkan apartemen ini, jadi kamu tidak perlu repot-repot.”
“Mas, bukankah sebelumnya kamu sudah setuju kalau aku akan membersihkan rumah ini sendiri? Kenapa sekarang berbeda? Aku tidak ingin ada orang lain yang melakukan tugasku jadi, aku mohon kamu membiarkan aku melakukan tugasku.”
Asha diam saat sang suami mengatakan keinginannya, tetapi saat Aji melanggar apa yang sudah menjadi kesepakatan mereka, dia akan membantahnya. Wanita itu diam bukan berarti seenaknya ditindas dan diperlakukan seenaknya. Aji membuang napas kasar, ternyata susah juga bernegosiasi dengan Asha.
“Baiklah, kamu hanya diperbolehkan naik ke lantai atas satu kali dalam sehari, itu pun untuk membersihkan ruangan saja. Setelah selesai kamu harus cepat-cepat kembali.”
Asha mengangguk sambil tersenyum. “Em ... mengenai makanan kamu harus ingat, kalau kamu juga harus selalu makan makanan buatanku.”
__ADS_1
Aji mengangguk tanpa mengucapkan satu kata pun, terlalu malas untuk menanggapi apa yang istrinya katakan. Senyum Asha kembali merekah. Meskipun Aji begitu cuek, tapi itu cukup untuk dirinya agar bisa menjadi istri yang berbakti. Walaupun hanya untuk dua tahun saja.
Setelah memastikan bahwa sudah tidak ada yang ingin dibahas lagi, Aji membawa kopernya ke lantai atas. Begitu juga dengan Asha yang segera memasuki kamar yang berada di dekat ruang keluarga. Sebenarnya itu kamar tamu karena kamar utama ruangannya lebih besar sudah ditempati oleh Aji. Wanita itu pun tidak keberatan karena memang ini apartemen sang suami. Dirinya hanya menumpang saja.