
Sore hari Hasbi menjemput sang istri. Sebelumnya tadi Dira sudah mengirim pesan jika sebentar lagi wanita itu akan pulang. Hasbi yang tahu pun meminta sang istri untuk menunggu lebih dulu karena dirinya akan menjemput ke sana. Dira pun mengiyakannya, tidak ingin membuat suaminya kecewa. Dia juga tidak terlalu suka naik bis.
Begitu Hasbi sampai, ternyata Dira sudah menunggu di depan perusahaan. Di sana juga masih ada beberapa rekan kerjanya. Wanita itu menyambut kedatangan sang suami dengan senyum mengembang. Meskipun hanya ditanggapi Hasbi senyum sekilas. Namun, Dira tidak ambil pusing karena memang begitulah sifat suaminya, yang penting baginya bagaimana Hasmi memperlakukannya selama ini dengan hangat.
"Mas, tadi Mama kirim pesan katanya suruh ambil baju dulu di butik temannya. Aku bilang pada mama kalau aku tidak tahu, tapi kata mama kamu tahu di mana butiknya."
Hasbi berdecak sejenak dan menggerutu, "Mama ini ada-ada saja, kenapa tidak diambil sendiri tadi?"
"Mungkin mama lagi malas keluar, Mas. Sudah, tidak apa-apa. Lagian kita juga sekalian di jalan, kan?"
Hasbi mengangguk dan bertanya pada sang istri. "Apa kamu mau jalan-jalan sebentar? Sekalian kita cari makanan."
"Di rumah juga bibi pasti sudah masak, Mas, kasihan kalau nggak ada yang makan," tolak Dira tang sebenarnya juga ingin berkeliling sebentar, tetapi dia merasa tidak enak pada mertuanya jika harus makan di luar.
"Lita cari cemilan dan makanan ringan saja, nanti makan beratnya di rumah."
Dira pun akhirnya mengangguk saja. Mereka pun berkeliling untuk mencari makanan ringan. Wanita itu merasa senang karena banyak sekali makanan kesukaannya dan bisa membelinya sesuka hati. Hasbi menuruti apa pun keinginan sang istri, bisa melihat wajah Dira yang terus saja tersenyum, membuatnya ikut bahagia.
Setelah puas berkeliling Hasbi pun mampir lebih dulu ke butik teman mamanya, barulah keduanya pulang dan ternyata hari sudah mulai gelap. Saat sampai di rumah terlihat Mama Liana menunggu di teras. Dira merasa tidak enak karena membuat mertuanya menunggu, tetapi Hasbi meyakinkan jika mamanya memang selalu seperti itu jadi, tidak perlu merasa sungkan.
"Kalian ini dari mana saja? Bikin Mama khawatir saja. Ini sudah gelap kenapa baru pulang!" seru Mama Liana dengan wajah khawatirnya.
__ADS_1
"Mama, kita 'kan sudah besar. Lagian aku tadi ngajakin Dira keliling sebentar mau cari cemilan. Mama di rumah juga nggak sendiri, ada papa," sahut Hasbi yang kemudian mencium punggung tangan wanita itu diikuti sang istri.
"Lain kali kalau mau jalan-jalan keluar bilang dulu, biar Mama tidak khawatir. Mama takut putri Mama ini kenapa-napa."
Hasbi mendengus mendengarnya. Pria itu memalingkan wajahnya dan menggerutu, "Ternyata Mama lebih mengkhawatirkan keadaan menantu Mama daripada aku. Ternyata begini rasanya di anak tirikan."
Hasbi tertunduk lesu dan berjalan ke gontai memasuki rumah. Mama Liana terkekeh melihat tingkah putranya, selalu ada saja yang dilakukan Hasbi, sementara Dira hanya tersenyum canggung, merasa tidak enak pada sang suami dan mertuanya.
"Sudah, kamu tidak usah memikirkan apa yang dikatakan Hasbi. Dia memang terkadang suka lebay," ucap Mama Liana sambil membawa sang menantu memasuki rumah. "Kalian mandilah dulu, setelah itu kita makan malam bersama."
Dira pun mengangguk dan masuk ke dalam kamar bersama dengan sang suami, sementara Mama Liana duduk di ruang keluarga bersama dengan Papa Edo. Cukup lama menunggu akhirnya Dira dan Hasbi pun turun. Mereka akhirnya makan malam bersama. Dira melayani sang suami dengan telaten membuat Mama Liana dan Papa Edo merasa senang.
"Oh ya! Mama dan papa sekalian mau pamit, besok Papa dan Mama akan keluar kota selama empat atau tiga hari. Entahlah tergantung nanti acaranya," ucap Mama Liana yang teringat rencananya.
"Anaknya tante kamu katanya akan menikah dan acaranya memang dadakan. Yah ... kamu tahulah bagaimana anak tantemu itu dengan pergaulannya bebas dia sudah menghamili anak gadis orang jadi, terpaksa dinikahkan sekarang juga."
"Astaghfirullahaladzim. Dia dari dulu selalu saja seperti itu, semakin bertambah usia bukannya semakin tobat ini malah semakin menambah masalah untuk orang tuanya. Kasihan om dan tante yang sudah berumur, tapi masih saja dibuat pusing oleh anaknya yang sudah dewasa itu." Hasbi menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan jalan pikiran sepupunya.
"Ini juga salah tantemu sendiri karena selalu memanjakan anaknya. Padahal Mama dulu juga pernah mengingatkannya agar tidak terlalu memanjakan anak, malah Mama yang dimarahin."
"Sudah, Ma, kenapa harus membahas masa lalu, semuanya juga sudah terjadi. Biarkan saja mereka, yang penting kita sudah pernah memberi nasehat. Mengenai dia mau menerima atau tidak biarlah itu menjadi urusannya," tegur Papa Edo, membuat Mama Liana mengembuskan napas kesal.
__ADS_1
Mereka semua pun kembali melanjutkan makan malam dan tidak membahas mengenai hal itu lagi. Dira sedari tadi hanya diam saja tidak menanggapi, dia juga tidak tahu dan tidak mengenal siapa yang sedang dibicarakan.
Setelah selesai makan malam, Dira membantu sang mertua membereskan meja makan dan mencuci piring kotor yang tadi digunakan. Padahal bibi juga sudah melarangnya, tapi wanita itu tetap saja memaksa untuk membantu. Setelah selesai barulah Dira kembali ke kamar. Dia melihat sang suami sedang berdiri di balkon dengan menatap langit yang gelap dan hanya ada bulan di sana.
"Lagi mikirin apa, Mas?" tanya Dira membuat Hasbi menoleh ke arah wanita itu dan tersenyum.
"Tidak memikirkan apa pun, hanya saja aku merasa senang bisa bertemu dengan wanita seperti kamu."
"Kamu ada-ada saja, pasti kamu sedang berbohong 'kan? Mana mungkin melamunkan aku sampai sebegitunya." Dira pun berdiri di samping sang suami dengan berpegangan pada pagar.
"Aku tidak berbohong, aku mengatakan yang sejujurnya." Hasbi pun berjalan mendekati sang istri dan memeluknya dari belakang.
Dira hanya diam meresapi apa yang dilakukan sang suami. Wanita itu merasa nyaman dengan perhatian Hasbi, dia juga sudah mulai terbiasa dengan apa pun yang dilakukan pria itu padanya. Meskipun sampai saat ini jantungnya juga selalu berdetak tidak beraturan. Namun, baginya itu lebih baik daripada harus berjauhan dengan sang suami.
"Sayang, apa kamu tidak ingin pergi bulan madu?" bisik Hasbi tepat di telinga sang istri.
"Memang kamu punya keinginan seperti itu, Mas?"
"Aku 'kan tanya sama kamu, kenapa sekarang malah jadi kamu yang bertanya padaku?"
"Sejujurnya aku masih belum memikirkan ke arah sana karena memang sekarang pekerjaanku juga banyak. Atasanku juga saat ini ada di rumah sakit, entah kapan bisa keluar. Sekarang perusahaan dipimpin oleh anaknya. Aku juga tidak yakin akan mendapatkan izin cuti."
__ADS_1
"Ya sudah, biar nanti saja kita pikirkan lagi. Tidak usah terlalu terburu-buru. Kita 'kan sudah sepakat untuk menjalaninya pelan-pelan."
Dira membalikkan tubuhnya, memberanikan diri mengalungkan tangannya di leher sang suami. "Mas, apa kamu tidak ingin minta hakmu? Aku sudah siap melakukan kewajibanku."