
Aji sedang berkutat dengan berkas yang ada di mejanya. Hari ini banyak sekali pekerjaan, padahal tadinya dia ingin cepat pulang agar bisa bertemu dengan putranya. Aji sudah janji akan menemani Khairi bermain, tetapi entah kenapa tiba-tiba saja banyak sekali berkas di mejanya. Mau tidak mau dia pun harus segera menyelesaikannya.
Di tengah rasa pusingnya, ponsel yang dia letakkan di atas meja pun berdering. Tertera nama sang istri di sana. Aji seketika melebarkan matanya dengan tersenyum, tidak menyangka jika wanita itu akan menghubunginya. Apalagi lewat sambungan video call, sungguh rasanya sangat sulit dipercaya. Segera dia menggeser tombol hijau.
"Halo, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Papa!" sahut Khairi begitu melihat wajah papanya terlihat di layar ponsel mamanya.
"Anak Papa lagi apa? Mau tidur, ya?" tanya Aji saat melihat keberadaan Khairi yang seperti ada di kamar.
"Tidak, Pa. Aku tadi habis makan langsung ke kamar. Tadi nungguin Papa katanya mau main, tapi Papa nggak pulang-pulang," jawab Khairi dengan lesu membuat Aji merasa bersalah.
"Maafkan Papa, ya, Sayang. Ini lagi banyak sekali pekerjaan, Papa nggak bisa langsung pulang begitu saja. Besok pagi Papa pasti akan ke sana. Sekarang masih harus mengerjakan pekerjaan yang belum selesai."
"Papa 'kan sudah ada di sini, kenapa masih sibuk kerja terus? Kenapa Papa tidak berhenti saja, terus nanti Papa kerja di sini, di kebun. Biar nanti aku bisa susul Papa kalau sudah pulang sekolah."
Aji merasa terharu, Khairi yang masih terlalu kecil bisa memikirkan hal sejauh itu, sementara dirinya saat ini justru menyakiti hati bocah itu karena sudah mengingkari janji. Andai saja dirinya bisa hidup seperti keinginan Khairi, akan dia lakukan asalkan putranya bahagia.
"Nggak boleh begitu, Sayang. Papa 'kan punya tanggung jawab sendiri. Papa nggak bisa ninggalin pekerjaannya begitu saja, ada banyak orang yang tergantung pada pekerjaan Papa. Mereka juga punya keluarga, kasihan nanti kalau mereka tidak punya pekerjaan. Kalau Papa berhenti, mereka juga pasti akan ikut berhenti dan keluarganya akan sedih karena tidak punya pekerjaan lagi," sela Asha saat melihat Aji kesusahan untuk menjelaskannya.
Aji tersenyum lega, dia senang mendengar Asha membantunya menjelaskan pada sang putra. Pria itu yakin jika sang istri lebih tahu cara berbicara dengan Khairi, mengingat mereka sangat dekat satu sama lain.
"Apakah Papa itu seorang bos, Ma?" tanya Khairi membuat Aji dan Asha sama-sama tersenyum. Ternyata di usia anak itu yang masih sangat muda bisa mengerti juga soal bos.
"Bisa dibilang seperti itu."
"Wah! Berarti Papa hebat!"
__ADS_1
"Anak Papa lebih hebat," sahut Aji.
Khairi pun berbincang dengan Aji sebentar. Setiap apa pun pertanyaan yang anak itu sampaikan, pasti langsung dijawab oleh ayahnya yang tidak ingin melihat wajah sedih sang putra. Meskipun sebenarnya saat ini pria itu masih banyak pekerjaan, tetapi waktu bersama dengan putranya lebih berharga jadi, dia hanya meluangkan waktu sejenak saja. Hingga akhirnya Khairi yang sudah mengantuk pun memutuskan sambungan telepon.
Tadinya Aji berharap Asha mau berbicara dengannya meski hanya sebentar saja. Namun, itu hanyalah angan semata. Ternyata wanita itu masih saja menutup hatinya. Entah dia harus menyerah atau tetap terus berjuang.
Dalam hatinya terus saja meminta agar tidak putus asa, tetapi di sisi lain pria itu juga takut jika Asha merasa tidak nyaman dan malah akan semakin menjauhinya. Sudah cukup lima tahun sang istri dan anaknya pergi menjauh dari kehidupannya. Aji tidak ingin bertambah lama lagi. Lebih baik bisa mengagumi wanita itu dari jarak jauh daripada tidak bisa melihatnya sama sekali.
"Sekarang sudah percaya dengan apa yang Mama katakan, kan? Papa memang sedang bekerja, banyak pekerjaan. Khairi jangan mengganggu papa dulu sekarang, nanti kalau Papa selesai bekerja juga pasti akan datang dan mengajak Khairi bermain lagi."
"Iya, Ma. Khairi minta maaf."
"Tidak perlu minta maaf Khairi 'kan memang tidak tahu. Ya sudah, sekarang sudah malam, sebaiknya sekarang tidur, besok masih harus sekolah takutnya kesiangan."
Khairi menuruti perintah mamanya untuk segera tidur. Anak itu tidak sabar untuk besok agar bisa bertemu dengan papanya. Asha menatap sang putra, sebegitu besarkah pengaruh Aji dalam kehidupan anaknya? bagaimana nanti jika pria itu akan pergi dari kehidupan mereka. Bisakah Khairi bersikap seperti sebelum mengenal Aji dulu.
Pagi-pagi sekali Aji sudah datang ke rumah Asha, membuat wanita itu terkejut karena suasana juga masih tampak remang-remang. Meskipun di desa para warga sudah mulai beraktivitas, tetap saja merasa aneh melihat pria itu ada di depan rumahnya. Bahkan penampilannya juga sudah acak-acakan, seperti memang belum beristirahat sejak semalam.
"Apa kamu dari semalam tidak pulang, Mas? Kenapa penampilanmu acak-acakan begini?" tanya Asha sambil memperhatikan penampilan Aji dari atas sampai bawah.
"Aku semalam memang sengaja lembur untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan agar hari ini bisa menemani Khairi bermain. Kemarin aku sudah membuatnya kecewa karena ingkar janji jadi, aku ingin menebusnya hari ini."
"Kenapa harus seperti itu? Mas harusnya menjaga kesehatan, jangan terlalu banyak bekerja dan melupakan istirahat."
"Tidak apa-apa, asalkan bisa membuat Khairi bahagia apa pun akan aku lakukan."
Asha terharu dengan apa yang dilakukan Aji selama ini. Padahal mereka tidak memiliki hubungan apa pun, tetapi kasih sayang yang pria itu berikan sungguh luar biasa besarnya. Arah kandung saja belum tentu bisa seperti itu.
__ADS_1
"Terima kasih sudah menyayangi dengan begitu besar," ucap Asha dengan mata berkaca-kaca.
"Dia juga anakku, Sha. Jangan lupakan itu."
Asha hanya tersenyum, tidak mau berdebat dengan pria itu, rasanya percuma saja. Wanita itu pun meminta Aji untuk masuk ke dalam rumah, tidak lupa juga segelas teh hangat yang dia siapkan untuk sang suami. Asha meninggalkan pria itu di ruang tamu karena dia harus menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Aji pun tidak keberatan karena tahu tugas istrinya.
Saat sedang menunggu, tanpa sadar Aji tertidur di sofa ruang tamu. Mungkin karena tubuhnya terlalu lelah hingga pria itu tidak menyadarinya. Apalagi pekerjaan untuk hari ini juga dia kerjakan semalam juga.
"Ma, kenapa papa tidur di ruang tamu? Kapan papa datang?" tanya Khairi pada mamanya yang berada di dapur.
"Papa tidur?" tanya Asha yang diangguki Khairi. "Papa datang tadi pagi. Mungkin papa lelah jadi biarkan saja tidur di sana. Kasihan kalau dibangunkan."
"Iya, Ma. Wajah papa juga terlihat sangat lelah sekali."
Meskipun Khairi sudah sangat ingin bermain dengan Aji, tetapi melihat papanya yang tertidur begitu pulas tidak tega juga membangunkannya. Dalam pikiran anak itu pekerjaan papanya pasti sangat banyak, dia jadi kasihan melihatnya.
"Kenapa kamu belum pakai seragam, Sayang? Jangan bilang kalau kamu nggak mau pergi ke sekolah lagi?"
"Nggak, Ma. Apa Mama lupa? Kemarin aku sudah bilang kalau hari ini libur, semua guru ada kegiatan di kecamatan jadi, sekolah diliburkan."
"Benar, kamu tidak berbohong?"
"Tentu saja, Ma. Untuk apa aku berbohong."
"Ya sudah, kamu sarapan saja lebih dulu. Tidak usah menunggu papa. Pasti nanti papa bangunnya juga agak siang."
Khairi mengangguk dan segera menikmati sarapan paginya. Setelah selesai sarapan, anak itu bermain seorang diri di depan rumah, sambil menunggu papanya bangun. Namun, hingga matahari sedikit meninggi Aji tidak bangun juga. Hal itu tentu saja membuat Khairi kesal. Jika papanya datang untuk tidur, kenapa harus datang ke rumah? Kenapa tidak di tempat kerja saja dan tidak membuatnya kesal seperti ini.
__ADS_1