Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
37. Restu


__ADS_3

Tia merasakan sesak di dadanya mendengar apa yang dikatakan oleh sang putra. Wanita itu tahu jika Aji bukan laki-laki yang suka berbohong atau berbual, dia tahu jika tidak ada nada kebohongan atau tatapan aneh dari anaknya itu.


“Nggak mungkin," gumam Tia yang masih bisa didengar Aji dan Harto seraya menggelengkan kepala.


“Bukankah kita sudah dzolim tidak mempercayai wanita yang nyatanya telah teraniaya? Bukankah kita juga sama dzolimnya dengan orang laknat itu?” tanya Aji dengan menatap wajah kedua orang tuanya.


“Tapi kenapa ... kenapa Asha tidak mau berbicara waktu itu?” tanya Tia dengan tidak mengerti.


Aji menceritakan bagaimana kondisi kedua orang tua Asha waktu kejadian itu, apa yang istrinta lakukan hanyalah untuk kesehatan kedua orang tuanya sehingga tidak berani berbicara lagi. Asha juga ditinggalkan oleh kekasihnya yang sampai saat ini tidak ada kata pisah darinya.


“Aku mohon, aku ingin kembali dengan istri dan anakku. Jika pun Mama dan Papa tidak memberikan restu, aku tidak masalah jika harus keluar dari rumah ini dan meninggalkan semuanya. Aku hanya ingin bahagia dengan Asha. Aku terlambat menyadari kalau sesungguhnya, aku sudah sangat mencintai dia dan Khairi.”


Tia begitu terkejut mendengar apa yang dikatakan sang putra. Sebegitu cintanya kah Aji pada Asha, hingga mampu mengorbankan segalanya, bahkan kemewahan yang dimilikinya selama ini. Dari kecil pria itu selalu menerima apa pun secara instan, tetapi tiba-tiba hanya karena seorang wanita yang hidup bersamanya sebentar, dia rela melepaskan semuanya. Itu rasanya sangat mustahil sekali, tetapi Aji bukanlah orang yang mudah di gertak. Apa pun yang sudah menjadi keputusannya itulah yang mutlak dan akan dia pilih.


Harto dan Tia merasa bersalah karena sudah egois, apalagi mereka tidak tahu menahu dengan asal muasal cerita tentang Asha yang sesungguhnya. Kini Tia berpikir, jika mungkin saja Asha tidak berani berbicara tentang malam itu di depan orang tuanya karena dia ingin menjaga perasaan Nisa dan juga Roni.


"Apa kamu siap menerima segala konsekuensinya nanti di masa depan? Kita tidak tahu bagaimana nasib kalian ke depannya. Bersyukur anak Asha seorang laki-laki, bukan perempuan yang nasabnya akan bersama mamanya. Jika suatu hari nanti masyarakat tahu tentang rahasia ini, apa kamu siap menghadapinya?" tanya Papa Harto dengan menatap serius ke arah sang putra.

__ADS_1


"Aku adalah seorang suami, kepala rumah tangga dan aku siap menghadapi apa pun yang akan terjadi. Aku juga akan melindungi istri dan anakku, Pa."


Harto menatap sang istri seolah bertanya, apakah istrinya setuju untuk melepaskan Aji atau tidak dan membiarkan anaknya untuk memilih jalannya sendiri. Awalnya Mama Tia ragu, tetapi saat mengingat kesedihan sang putra akhir-akhir ini, wanita itu pun akhirnya mengangguk. Dia hanya ingin keluarganya bahagia.


"Jika memang keputusanmu sudah bulat, Papa dan Mama tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua keputusan aja di tanganmu," ujar Papa Harto membuat Aji menatap sang Papa, seolah bertanya apakah yang diucapkannya tadi benar atau hanya pendengarannya yang salah.


"Benar, Pa? Papa sudah merestui aku bersama dengan Asha? Papa tidak akan memisahkan kami lagi, kan?"


Papa Harto mengangguk, begitu juga dengan Mama Tia. Aji yang merasa bahagia pun segera memeluk kedua orang tuanya. Dari kemarin dia ingin membicarakan hal ini dengan kedua orang tuanya dan saat ini pria itu benar-benar bahagia. Sebelumnya Aji takut jika Papa Harto dan Mama Tia tidak setuju, justru kini malah mendukungnya. Dalam hati dia bersyukur karena orang tuanya mau mengerti bagaimana perasaannya kini.


"Aji, kamu lihat ini sudah malam. Apa kamu mau pergi rumah orang di malam-malam seperti ini? Mereka juga pasti sudah tidur. Lagi pula, apa kamu lihat bagaimana penampilan kamu saat ini? Lihatlah dirimu di cermin, pasti nanti yang ada malah Asha menolak diajak pulang karena suaminya tidak lagi menawan."


Papa Harto menggelengkan kepala sambil tersenyum, begitu bahagianya sang putra hingga lupa keadaan dirinya. Sekarang sudah jam sepuluh malam, sudah pasti semua orang akan tidur. Akan sangat tidak sopan jika bertamu di jam seperti ini.


Aji pun meraba wajahnya dan dia baru sadar jika kumis dan jenggotnya tumbuh begitu lebat. Pria itu meringis, membayangkan ekspresi sang istri dan mertua. Mereka pasti melihatnya aneh.


"Mama benar! Malam ini aku harus membersihkan diri, besok pagi aku akan pergi ke rumah Asha. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya dan membawa pulang."

__ADS_1


"Kamu jangan lupa istirahat juga, lihatlah kantong matamu sudah menghitam! Jangan sampai Asha jadi ilfil melihatmu yang sudah seperti panda itu," tambah Mama Tia.


"Iya, Ma. Mama tenang saja, anakmu ini akan kembali tampan seperti semula." Aji menuju kamar, dia mencukur habis kumis dan janggutnya.


Pria itu sendiri heran, bagaimana bisa kumisnya tumbuh begitu saja. Padahal selama ini Aji tidak suka berkumis, tumbuh sedikit saja dia sudah risih, ini malah sudah begitu panjang. Setelah selesai dengan kegiatannya, pria itu pun merebahkan diri di atas ranjang, menatap langit-langit kamar membayangkan wajah bahagia Asha karena melihat kedatangannya. Aji juga tidak sabar ingin menggendong putranya. Meskipun bayi itu tidak mengerti apa-apa, tetapi mereka punya ikatan sendiri dalam hati.


"Asha, semoga besok menjadi hari bahagia kita. Aku akan datang merujukmu dan membawamu dan anak kita kembali bersamaku. Kita akan menjadi keluarga bahagia. Maafkan sikapku selama ini yang selalu mengacuhkanmu. Aku sadar jika selama ini aku telah membuat kesalahan dan sangat menyakiti hatimu," gumam Aji tanpa sadar air matanya menetes.


Sementara itu, di ruang keluarga Papa Harto dan Mama Tia masih duduk di sana. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, memikirkan masa depan putranya.


"Pa, apa ini yang terbaik untuk Aji?" tanya Tia pelan tanpa melihat ke arah sang suami. Pandangannya kosong lurus ke depan.


"Papa juga tidak tahu, tapi saat melihat senyum Aji lagi, rasanya dunia Papa kembali setelah hilang kemarin. Mama juga pasti merasakan hal yang sama seperti yang Mama rasakan, kan? Kita orang tuanya, apa pun yang bisa membuatnya bahagia, kita harus mendukungnya."


Tia mengangguk, dia juga merasakan itu, hanya saja sudut hatinya masih belum rela menerima Asha, apalagi bayi itu meskipun dirinya sempat begitu menyayanginya.


Papa Harto menggenggam telapak tangan sang istri, berusaha meyakinkan wanita itu bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Beri Aji kepercayaan. Jika nanti dia tidak bahagia, Mama bisa melakukan apa saja, Papa pasti akan mendukung."

__ADS_1


__ADS_2