
Hingga siang hari Khairi belum juga ada tanda-tanda akan keluar dari kamarnya. Asha yang merasa khawatir pun segera membangunkan putranya karena anak itu harus segera pergi ke sekolah. Dia tidak ingin Khairi membolos hanya karena menunggu kedatangan Aji.
"Sayang, ayo bangun! Sebentar lagi sekolah," panggil Asha dengan menggoyangkan tubuh Khairi. Namun, anak itu masih bertahan dalam selimutnya, tidak menggeser tubuhnya sama sekali.
"Sayang, ayo bangun!" panggil Asha lagi. "Sayang, ayo dong! bangun dan pergi sekolah. Bukankah selama ini Khairi anak yang rajin, kenapa sekarang jadi tidak mau pergi ke sekolah? Apa ada yang jahat sama kamu?"
Khairi yang kesal pun segera bangun dan menatap mamanya. "Bukankah aku juga sudah cerita pada Mama apa alasan yang membuat aku tidak mau sekolah?"
"Tapi 'kan mereka juga teman kamu, sudah sepantasnya kamu memaafkan mereka. Bukankah anak Mama ini anak yang baik? seharusnya sesama saling memaafkan."
Asha mencoba untuk memberi pengertian pada putranya, tetapi Khairi yang terlanjur sakit hati pun semakin kesal pada mamanya. Anak itu menatap sedih ke arah Asha.
"Ma, jika mereka hanya melakukan kesalahan sekali atau dua, kali tidak masalah bagiku untuk memaafkan mereka, tapi mereka melakukannya sudah terlalu sering. Aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku juga lelah, ingin seperti anak-anak yang lain, memiliki teman bermain bola bersama, tapi mereka selalu menganggapku sebagai musuhnya."
Asha bisa melihat kesedihan di wajah anaknya. Dia jadi merasa bersalah dan tidak tega, apakah selama ini dirinya memang telah kurang perhatian pada anaknya, hingga wanita itu tidak tahu apa-apa mengenai sang putra. Ini juga salahnya karena kurang perhatian pada putranya. Pasti Khairi selama ini sudah berusaha menahannya dan puncaknya kemarin saat ada Aji yang membela jadi, anak itu merasa ada yang perhatian.
Hingga akhirnya terdengar suara mobil berhenti di depan rumah mereka. Khairi yang tahu jika itu adalah mobil sang papa segera turun dari ranjang dan berlari keluar. Ternyata memang benar itu adalah Aji.
"Papa!" pekik Khairi yang segera berlari ke pelukan papanya.
"Hati-hati, Sayang, jangan lari-lari. Nanti kalau jatuh bagaimana?" tegur Aji membuat anak itu nyengir menunjukkan deretan giginya.
"Eh! Kenapa belum mandi? Apa kamu nggak pergi ke sekolah?" tanya Aji yang baru sadar saat melihat penampilan anaknya. Padahal tadi niatnya juga ingin mengantar sang putra ke sekolah.
Khairi hanya diam menunduk, tidak berani menjawab pertanyaan papanya. Aji yang melihat ketakutan di wajah sang putra pun mencoba untuk berbicara pelan. "Kenapa Khairi nggak mau sekolah? Bukankah Khairi ini anak yang pintar? Kenapa sekarang jadi malas pergi sekolah?"
"Aku nggak mau sekolah di sana, Pa. Aku mau sekolah di tempat yang lain saja. Aku ingin yang ada temannya."
Aji terdiam, sebenarnya dia juga memiliki pemikiran yang sama dengan sang putra. Pria itu tidak rela anaknya menjadi korban bullyan di tempat sekolahnya yang sekarang. Pasti sudah terlalu banyak kesedihan yang dialami oleh anak itu. Namun, Aji juga tidak bisa mengambil keputusan sendiri, semuanya bergantung pada Asha karena memang wanita itu yang sudah membesarkan Khairi.
Meski saat ini dirinya berstatus sebagai seorang ayah. Namun, tidak memiliki kuasa apa pun atas anak itu. Dia hanya bisa memberikan kasih sayang saja tidak lebih. Entah sampai kapan itu bisa terjadi, pria itu ingin sepenuhnya menjadi ayah dari Khairi.
Bukan hanya status di atas akta saja, tetapi juga kehidupan sehari-hari dan untuk masa depannya. Terserah apa yang dikatakan orang mengenai dirinya, dia tidak peduli. Yang penting baginya saat ini adalah melihat kebahagiaan di wajah istri dan anaknya itu sudah cukup bagi Aji.
"Sekarang kita masuk, yuk! Kita bicarakan sama Mama," ajak Aji yang diangguki Khairi.
"Nanti Papa yang minta sama mama, ya! Agar aku bisa sekolah di tempat lain," pinta Khairi.
__ADS_1
"Iya."
Sementara itu, Asha yang berada di depan pintu mendengar percakapan antara ayah dan anak itu. Dalam hatinya menghangat, apalagi saat melihat wajah putranya yang begitu bahagia. Entah kapan terakhir dia melihat anaknya bisa bahagia dengan begitu tulusnya.
"Assalamualaikum," ucap Aji membuyarkan lamunan Asha.
"Wa–waalaikumsalam," jawab Asha dengan tergagap karena terlalu memikirkan anaknya, hingga tidak sadar jika Aji sudah ada di depannya.
Dia merutuki kebodohannya karena mudah sekali terhanyut dalam lamunannya. Asha pun masuk ke dalam rumah begitu saja tanpa mengatakan apa pun. Aji yang mengikutinya dari belakang hanya mengulum senyum. Dari semalam pria itu begitu merindukan anak dan istrinya.
Sekarang sudah terobati saat melihat wajah keduanya. Entah bagaimana nanti jika Asha benar-benar menolak kehadiran dirinya, bagaimana mengobati rasa rindu itu. Mudah-mudahan Tuhan memberinya jalan agar bisa meluluhkan hati istrinya.
Bik Ika yang sedang menyapu terkejut mendapati Aji yang datang ke rumahnya. Kemarin mereka memang sempat bertemu. Namun, belum ada waktu saling menyapa, hingga sampai sekarang masih terasa kaku. Wanita paruh baya itu juga dulu pernah berbohong pada majikannya, semakin menambah rasa bersalahnya.
"Apa kabar, Bik?" sapa Aji memulai pembicaraan.
"Saya baik, Den. Den Aji sendiri bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, saya juga baik. Mama Nisa sempat nyari Bibi ke rumah lama Bibi, tapi nggak ketemu," ucap Aji, membuat Bik Ika merasa sedih.
"Nyonya Nisa dan Tuan Roni bagaimana kabarnya, Den?"
"Alhamdulillah, baik. Meskipun terkadang Mama Nisa juga perlu pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisinya. Maklum, Bik. Saat waktunya periksa, Mama Nisa selalu saja beralasan untuk tidak pergi."
Asha yang mendengar Aji menyebut nama kedua orang tuanya pun jadi ikut bersedih. Selama ini dia tidak tahu menahu keadaan mereka, apakah baik-baik saja atau tidak. Bahkan dari kemarin pria itu juga tidak menceritakan apa pun tentang Mama Nisa dan Papa Roni padanya, tetapi pada Bik Ika justru mengatakan semuanya. Ingin sekali Asha kembali bertanya, tetapi dia merasa gengsi. Akhirnya hanya mendengarkan saja pembicaraan kedua orang tua itu.
"Sekarang keadaan nyonya baik-baik saja, kan, Den?" tanya Bik Ika yang terlihat begitu khawatir dan juga merasa bersalah.
"Semua baik-baik saja kok. Kadang Mama Tia juga menemani Mama Nisa untuk periksa kalau Papa Roni ada di luar kota."
Bik Ika dan Asha kembali terkejut. Apakah hubungan kedua wanita itu sudah membaik seperti dulu. Mereka memang dulunya bersahabat baik, ke mana-mana selalu bersama, tetapi sejak kejadian itu Asha mengira jika hubungan mereka memburuk, bahkan tidak mau saling mengenal satu sama lain. Siapa sangka jika saat ini dia mendengar berita itu dari Aji. Tidak mungkin 'kan pria itu berbohong mengenai keadaan kedua orang tua mereka.
"Papa, aku lapar," ucap Khairi membuat pembicaraan para orang tua terhenti.
Asha pun tersadar jika diri memang belum memberi makan sang putra karena memang, dari tadi anak itu merajuk dan tidak ingin pergi ke sekolah. Saat akan mengajak mandi, Aji malah datang dan membuat kegiatan Asha batal.
"Kamu belum sarapan, Sayang?" tanya Aji, Khairi pun mengangguk membuat pria itu menatap Bik Ika dan Asha bergantian.
__ADS_1
Dia bingung harus berkata apa karena tidak tahu juga di rumah ada makanan atau tidak. Hingga akhirnya Asha pun mengatakan pada Aji untuk langsung membawa Khairi ke ruang makan saja, biar bisa makan di sana.
"Kamu sudah sarapan belum, Mas?" tanya Asha tanpa melihat ke arah pria itu karena memang kebetulan makanan masih ada banyak jadi, sekalian menawarkan untuk Aji. Kalau pun menolak juga tidak masalah bagi Asha, dia hanya ingin berbuat baik.
"Kebetulan belum, tadi aku terburu-buru ke sini jadi, tidak sempat sarapan."
"Kenapa terburu-buru, Mas? Kamu harusnya bisa menjaga kesehatan."
Aji tersenyum mendengar perhatian yang diberikan oleh Asha. Sebelumnya dia berpikir bahwa wanita itu tidak akan peduli, tetapi sekarang malah mendapat perhatian. Sungguh membuatnya bahagia.
"Tadinya aku ingin mengantar ke sekolah jadi, takut terlambat, makanya langsung ke sini saja. Eh! Ternyata anak ini nggak mau sekolah," ujar Aji sambil mengusap rambut anaknya. "Mengenai sekolah Khairi, aku juga ingin mengatakan sesuatu."
"Iya, Mas. Nanti saja setelah sarapan," jawab Asha yang kemudian beralih menatap sang putra. "Khairi, mau Mama suapin?" tawarnya pada anak itu. Namun, mendapatkan gelengan darinya.
"Aku bisa makan sendiri, Ma. Aku 'kan sudah besar," jawab anak itu yang mendapat senyuman dari Aji. Pria itu pun mengusap rambut anaknya dengan gemas.
Aji mulai menikmati sarapannya. Dalam suapan pertama, mata pria itu berkaca-kaca, tidak menyangka akan bisa menikmati makanan ini lagi. Selama ini memang dia diam-diam merindukan masakan sang istri. Sudah banyak tempat restoran yang Aji datangi, hanya untuk sekedar mencicipi rasa makanan seperti masakan sang istri. Namun, semuanya tidak ada yang seperti ini.
Sekarang pria itu bisa merasakannya kembali, rasanya begitu sangat bahagia. Padahal dulu dia orang yang sangat menentang tugas Asha untuk melayani dirinya, tetapi kini justru Aji sangat merindukan perhatian yang dulu Asha berikan padanya. Mudah-mudahan saja di masa depan dia bisa merasakan hal itu lagi.
Setelah sarapan, Asha membawa Khairi ke kamar untuk dimandikan. Untung saja anak itu menurut tanpa banyak protes lagi, sedangkan Aji masih berada di meja makan dengan menikmati teh hangat buatan Asha. Sungguh sangat nikmat sekali hidup seperti ini, begitulah pikir pria itu.
Tidak berapa lama, terdengar suara ramai dari arah depan rumah, membuat Asha yang berada di kamar menjadi penasaran apa yang terjadi di depan rumah, hingga menimbulkan suara gaduh. Bahkan beberapa diantara mereka juga saling berteriak. Khairi yang berada di samping mamanya pun merasa ketakutan dan memeluk wanita itu.
"Ada apa, ya? Kenapa di luar ramai sekali?" tanya Asha saat sudah keluar dari kamar, dia juga bertemu dengan Aji di ruang keluarga.
"Sepertinya itu warga sekitar, sebaiknya kita lihat saja," jawab Aji yang diangguki oleh Asha.
Mereka pun akhirnya keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Benar saja di sana memang ada beberapa orang sedang berdiri di depan rumah. Bik Ika dan Amira mencoba untuk menenangkan mereka. Namun, sepertinya warga tidak mau tahu.
"Itu mereka pezinanya! Usir saja mereka dari sini!" teriak salah satu warga sambil menunjuk ke arah Asha dan Aji yang baru datang.
"Ya, usir saja mereka!" timpal yang lain.
"Bu, ada apa ini?" tanya Asha saat berada di samping Bik Ika.
Wanita paruh baya itu pun terlihat kebingungan harus menjawab apa. Hingga akhirnya seseorang yang diyakini sebagai pemuka desa memberikan instruksi agar para warga tenang lebih dulu.
__ADS_1