
Aji sudah mengurus administrasi, dia kembali ke ruangan UGD di mana Asha sudah ada di dalam sana dengan dokter. Pria itu duduk di kursi panjang yang ada di sana dan menatap pintu yang tertutup itu. Jujur saja dalam hati Aji khawatir, Asha ada di bawah pengawasannya. Apa yang terjadi pada wanita itu dia akan mempertanggungjawabkannya.
Sementara itu, dokter di dalam ruangan tengah memeriksa keadaan Asha. Perutnya mengalami kontraksi lagi, tapi kali ini lebih hebat daripada sebelumnya sehingga Asha meringis kesakitan. Dokter mengambil sarung tangan dan memeriksa dan dia berkata, “Pembukaan sempurna. Pasien siap dibawa ke ruangan bersalin!” ujar dokter kepada perawat yang membantunya.
“Baik, Dokter!”
Perawat itu segera mempersiapkan segala sesuatunya, dokter memasangkan jarum infus untuk menjaga cairan tubuh Asha. Wajahnya sudah memucat, gigitan pada bibir menandakan jika wanita ini sangat kesakitan.
“Siap untuk melahirkan, Bu?” tanya dokter tersebut kepada Asha yang dijawab anggukkan kepala oleh wanita itu.
Pintu ruangan UGD dibuka, Aji yang sedang memikirkan keadaan Asha bangkit dan mendekat pada dokter.
“Dokter, bagaimana keadaan ... istri saya?” tanya Aji yang sempat terdiam sejenak, menyebut Asha sebagai istrinya.
“Istri Bapak akan melahirkan. Kami akan membawanya ke ruangan bersalin. Anda bisa ikut dengan kami jika mau, mari!" ucap dokter tersebut. Pintu terbuka lagi, dua perawat mendorong brankar Asha keluar dari sana untuk menuju ruangan bersalin.
Aji melirik Asha yang tampak tenang, meski bibirnya digigit kuat-kuat hingga terlihat memutih. Kasihan, tapi memang sudah resiko seorang wanita merasakan sakitnya akan melahirkan.
Sampai di ruangan bersalin, Asha masuk ke dalam sana, tapi tidak begitu dengan Aji yang hanya diam di depan pintu. Dokter keluar dari ruangan itu setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus.
“Pak Aji, Anda boleh masuk ke dalam ruangan untuk menemani istri,” ucap dokter tersebut dengan senyuman di bibirnya.
Aji diam, hingga akhirnya ....
“Saya menunggu di sini saja.”
Dokter terdiam sebentar, menatap Aji dengan heran.
“Saya nggak kuat. Tolong Dokter tangani istri saya dengan baik.” Aji kemudian meninggalkan dokter dan duduk di depan bangku yang tersedia di sana.
“Oh, baiklah. Akan saya tangani dengan baik Ibu Asha dan bayinya.”
Dokter tak banyak bicara, kembali ke dalam ruangan bersalin dan bersiap menangani Asha untuk melahirkan. Asha tengah ditangani perawat, melihat dokter yang hanya masuk sendirian saja, tiba-tiba hatinya kecewa. Padahal dia sangat berharap jika Aji mau menemaninya. Sungguh wanita itu sangat-sangat takut proses persalinan ini sendiri.
Jika ada Bik Ika, pasti Asha akan meminta wanita itu untuk menemaninya, tetapi dia ke sini hanya berdua bersama dengan suami. Rasanya tidak enak meminta Aji untuk menemaninya. Pasti pria itu juga tidak akan mau menemaninya.
"Ibu bisa melewati semua dengan baik,” ucap dokter tersebut seraya melayangkan senyuman kepada Asha.
“Apa suami saya nggak mau masuk, Dokter?” tanya Asha.
“Ah, Pak Aji mungkin mau menghubungi keluarga yang lain,” ujar dokter. Tak mungkin rasanya mengatakan jika laki-laki itu tidak mau masuk, mungkin saja laki-laki itu terlalu gugup dengan kelahiran anak pertamanya. “Sudah siap untuk melahirkan?” tanya wanita itu lagi sambil memasang sarung tangan medisnya.
__ADS_1
Asha menganggukkan kepalanya. Meski dia kecewa karena tidak ada yang mendampinginya saat ini, tapi Asha harus bisa dan harus kuat untuk melahirkan bayinya.
Dokter menginstruksikan kepada Asha step by step, apa yang ibu hamil itu harus lakukan untuk mengurangi rasa sakit dan mengejan pada saat kontraksi terasa. Cukup baik Asha melakukan apa yang dokter katakan, meski peluh mengucur di kening dan lehernya, tapi dia tidak patah semangat mengeluarkan malaikat kecilnya.
“Akh!!!”
Teriakan Asha terdengar hingga ke luar ruangan. Aji bisa mendengarnya dengan jelas sehingga dia hanya bisa mer*mas jemarinya di atas pangkuan. Bayangan Asha yang sedang bertaruh nyawa terlintas di dalam kepalanya. Tiba-tiba saja dia merasa kasihan kepada wanita itu.
“Dorong!” seru dokter saat Asha mengejan dengan kuat.
“Sakit, Dokter!” teriak Asha.
“Sedikit lagi, Bu. Ayo, sedikit lagi. Tarik napas dan dorong yang kuat!” ucap dokter dengan sabar. Hingga satu jam lamanya Asha berjuang di dalam sana, akhirnya dia bisa mendorong dan lahirlah seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Suara tangisan bayi itu terdengar keras sampai ke telinga Aji. Helaan napas lega Aji rasakan.
“Alhamdulillah,” gumam Aji ikut senang. Mendengar tangis anak itu membuat hatinya lega.
“Alhamdulillah, Selamat Bu Asha,” ucap dokter yang kemudian membawa bayi itu ke atas tubuh sang ibu dengan posisi tertelungkup. Bau amis dari tubuh putranya tidak dia gubris sama sekali, yang ada pada saat ini adalah kebahagiaan Asha melihat putranya lahir dengan selamat. “Anak Ibu tampan sekali.”
Asha menangis, antara senang dan sedih. Senang karena dia telah menjadi seorang ibu, tapi sedih karena putranya bukanlah anak dari suaminya kini.
Dengan perlahan, Asha mencium kening putranya yang masih menangis dengan kencang.
Dokter keluar dari ruangan bersalin dan Aji sudah menunggunya di depan ruangan itu.
“Selamat, Bapak. Anak Bapak adalah bayi laki-laki yang sangat tampan.”
“Lalu istri saya? Apakah selamat?” tanya Aji lagi.
“Alhamdulillah, ibu dan bayinya selamat,” ucap dokter cantik itu.
Sekali lagi helaan napas lega terdengar dari mulut Aji, bahunya yang tegang kini merosot mendengar kabar baik itu.
“Kami akan memindahkan Ibu Asha dan bayinya ke ruang inap. Saya permisi,” pamit wanita berusia empat puluh tahun itu. Aji mempersilakan dokter itu dan kembali duduk di tempat semula.
Tidak berselang lama, brankar Asha dibawa ke ruang inap yang telah disediakan rumah sakit tersebut. Aji melihat betapa bahagianya Asha dengan senyum merekah menatap putranya itu.
‘Tampan,’ batin Aji, tapi dalam hati sangat sakit mengingat bahwa bayi itu bukanlah darah dagingnya.
Dokter meninggalkan ruangan Asha, Aji duduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidur Asha bersama dengan anaknya. Pandangan sang istri tak henti menatap sang bayi yang ada di tempat tidur khusus untuk bayi, membuat Aji sedikit sebal.
“Mau kemana, Mas?” tanya Asha saat Aji berdiri dari duduknya. Pakaian Aji masih sedikit basah dengan bercak darah yang terlihat di ujung bawah pakaiannya.
__ADS_1
Aji tak menjawab, hanya pergi tanpa kata sama sekali.
Sementara itu, Asha melihat kepergian Aji dengan hati yang sedikit tergores. Jangankan untuk melihat anaknya, untuk bertanya kabar saja dia tidak.
Asha harus menerima apa yang Aji lakukan terhadapnya. Salahnya, semua ini salahnya juga. Dia merasa mengantuk, tiba-tiba saja pintu terbuka.
“Asha!” seru Tia dengan senang, di belakangnya mengikuti sang istri, Harto berjalan dengan sama senangnya.
“Mama?” Asha tak menyangka ada Tia dan Harto di sana. Dia mencoba untuk bangun, tapi Tia mendekat dan melarang menantu kesayangannya dan menyuruhnya kembali berbaring saja.
“Mama datang?”
“Iya dong, masa nggak datang? Kamu kenapa nggak kasih tau Mama kalau mau melahirkan?” tanya Tia dengan pelototan di matanya, tapi tatapan penuh sayang di dalam sorot mata itu untuk sang menantu.
“Ah, Mama. Aku sendiri nggak tau kalau mau melahirkan. Untung Mas Aji ada di rumah dan segera bawa aku ke rumah sakit,” ucap Asha dengan senyuman.
Tia melirik Aji yang baru saja masuk ke dalam. “Dia nggak pingsan kan?” tanya Tia dengan lirikan pada menantunya. Asha tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Syukur deh kalai dia nggak pingsan. Mama sempat khawatir kalau dia akan pingsan.” Tia tertawa geli, Aji mendengarnya dengan jelas, tapi dia mengabaikan pembicaraan antara ibu dan juga istrinya.
“Aji, anak kalian ganteng banget. Siapa namanya?” tanya Tia, tapi Aji hanya diam tidak menjawab. Asha tidak pernah membicarakan tentang nama anaknya itu dan dia tidak bisa lancang dengan memberi bayi itu sebuah nama. Ingin juga memberi nama, tetapi takut jika sang istri sudah lebih dulu menyiapkan nama.
“Ah, kami belum ketemu nama yang bagus, Ma. Kami masih memilih soal nama,” ucap Asha saat melirik Aji yang hanya diam dan tidak mau berbicara sama sekali.
Setelah setengah jam Tia dan Harto ada di sana, barulah Nisa dan Roni datang kemudian. Mereka tampak haru melihat akhirnya Asha sudah melahirkan dan membuat dua orang itu menjadi kakek dan nenek.
“Mama!” seru Asha saat orang tuanya mendekat. Tangis Asha pecah saat Nisa datang dan memeluknya. Dua orang itu menangis dalam haru dan bahagia yang tidak bisa digambarkan.
“Alhamdulillah. Alhamdulillah!” Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Nisa. Beberapa kali mencium kening dan pipi sang putri dan memeluknya dengan erat. Menyesal karena mereka tidak bisa menemani saat Asha melahirkan tadi malam.
“Mana cucu Mama?” tanya Nisa tak sabar. Tia baru saja memangkunya di dekat Aji, digoda bagaimana pun juga anak itu masih tertidur dengan sangat nyenyak.
“Aji kamu sudah gendong anak kamu?” tanya Tia pada putranya.
“Aku belum, aku nggak berani,” ucap Aji menolak. Itu memang kenyataannya, tubuh bayi begitu lentur, dia takut menyakitinya.
Asha melihatnya dari brankar, Aji menolak anak laki-lakinya itu dan tidak mau berdekatan dengannya. Akan tetapi, Tia memaksa sang putra untuk menggendong bayi tersebut.
“Nggak berani karena nggak terbiasa. Ini, kamu harus coba gendong anak kamu. Nanti juga bisa,” ucap Tia sambil memberikan bayi tersebut ke atas gendongan Aji.
Mau tak mau Aji menerima makhluk kecil tersebut dengan tubuh yang kaku dan tegang. Takut jika anak itu melompat dan terjatuh ke lantai. Tia dan Nisa tertawa geli melihat wajah Aji yang langsung pucat.
Nisa mendekat, ingin melihat lebih jelas wajah cucu laki-lakinya.
__ADS_1
“Ya ampun, tampan sekali. Memang sih lebih banyak wajah Asha, tapi hidungnya mirip ayahnya," ujar Nisa mengelus pipi merah cucunya dengan telunjuknya.
Asha menundukkan pandangannya saat bersitatap dengan Aji. Sorot mata laki-laki itu tegas dan menyeramkan baginya. Padahal Aji hanya merasa tidak enak pada sang istri, saat mendengar ucapan Mama Nisa. Pria itu masih berpikir jika anak itu adalah anak mantan kekasih Asha dan istrinya menunggu kedatangan pria itu.