Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
113. Ngidam


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Hasbi dan Dira saat memasuki rumah.


"Waalaikumsalam, kalian sudah pulang? Mama kira malam ini kalian tidur di apartemen dulu," sahut Mama Liana.


"Tidak, Ma, besok 'kan Dira sudah mulai kerja jadi, beres-beresnya sekalian hari ini saja biar tidak repot besok," jawab Hasbi sambil menarik koper sang istri.


"Dira sudah mulai kerja besok? Cepat sekali! Besok berangkat kerja pakai sopir Mama saja, kalau pakai mobil sendiri Mama khawatir."


"Jangan begitu, Ma. Aku tidak mau ngerepotin. Aku juga sudah terbiasa menyetir mobil sendiri. Lagipula tempat kerjaku juga tidak terlalu jauh dari sini," sela Dira yang merasa tidak enak.


"Untuk besok biar aku yang antar. Aku 'kan belum kerja masih lusa," timpal Hasbi.


"Iya, biar besok diantar Hasbi saja."


Akhirnya Dira mengiyakan saja, tidak ada salahnya juga diantar oleh sang suami. Hasbi pun segera membawa barang-barang istrinya ke kamar. Dira pun ikut membantu, dia tidak ingin sang suami repot karena dirinya.


***


"Sayang, apa kamu tidak menginginkan sesuatu?" tanya Aji.


Entah yang ke berapa kalinya dia bertanya. Sejak kemarin pria itu terus saja bertanya pada sang istri apa yang diinginkan. Namun, Asha merasa enggan. Wanita itu tidak menginginkan sesuatu jadi, dia hanya bisa berkata tidak atau menggelengkan kepala, yang justru membuat sang suami sedih karena merasa tidak dibutuhkan.


"Kamu kenapa sih, Mas? Dari kemarin tanya-tanya terus? Aku 'kan sudah bilang kalau aku nggak ingin sesuatu."


"Tapi aku pengen beliin sesuatu buat kamu, Sayang. Aku ingin tahu bagaimana rasanya menuruti keinginan ibu hamil," ujar Aji dengan wajah penuh harap.


"Tapi, Mas, tidak semua ibu hamil mengidam. Ada juga yang biasa saja, yang penting aku dan calon anak kita itu sehat, itu sudah cukup."


"Iya, aku tahu, tapi sebagai seorang suami aku juga ingin tahu apa yang dirasakan oleh suami-suami lain di luaran sana. Yang kadang kesal karena keinginan istrinya aneh-aneh. kadang merasa bahagia karena akhirnya bisa mendapatkan apa yang diinginkan istrinya, sedangkan aku belum bisa merasakannya."

__ADS_1


Asha tidak menyangka jika Aji memiliki pemikiran seperti itu. Akan tetapi, itu wajar karena selama ini mereka jauh. Saat kehamilannya yang pertama juga sang suami tidak pernah membelikan apa pun saat dirinya ngidam. Padahal dalam hati dia juga ingin diperhatikan seperti sekarang ini.


Asha yang merasa kasihan pada Aji pun tiba-tiba teringat dengan sesuatu yang diinginkan. Namun, dia ragu apakah sang suami bisa memenuhinya atau tidak.


"Ada apa, Sayang? Kenapa ngeliatin aku kayak gitu? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" Tanta Aji, seketika membuat Asha tersenyum sambil mengangguk.


Tentu saja hal tersebut membuat Aji juga ikut tersenyum. Dia tidak sabar ingin tahu apa yang diinginkan oleh istrinya. Pasti pria itu akan berusaha sekuat tenaga agar bisa terwujud


"Apa yang kamu inginkan, Sayang? Katakan saja, aku pasti akan memberikannya. Berapa banyak pun yang kamu inginkan, aku pasti akan berusaha memenuhinya."


"Tapi apa yang aku inginkan ini mungkin tidak dinilai harganya, Mas."


"Maksudnya? Kamu ingin apa?"


Asha terlihat ragu untuk mengeluarkan suara. Namun, dalam hati dia benar-benar menginginkannya. Salah sendiri sang suami yang menawarkan diri, sekarang dirinya yang malah membayangkan makanan itu. Wanita itu menatap Aji dalam sebelum mengatakannya.


"Hah ...."


Aji melongo tidak percaya, bagaimana bisa sang istri meminta hal seperti itu. Hubungan dia dan Naura memang sudah membaik, tapi dia sudah benar-benar menjaga jarak dengan wanita itu. Sekarang malah Asha menginginkan sahabatnya dulu datang ke sini untuk memasak. Bukannya Aji tidak mau, hanya saja dia merasa aneh jika menghubungi Naura lagi.


Apalagi sekarang wanita itu sudah memiliki suami, pasti sedikit sulit memintanya datang. Aji juga tidak memiliki keberanian untuk menghubungi sahabatnya itu. Dia sudah memutuskan untuk tidak lagi terikat apa pun dengan Naura meskipun dalam hubungan persahabatan.


"Kenapa, Mas? Apa terlalu susah keinginanku sampai kamu bengong seperti itu?" tanya Asha dengan wajah sedihnya.


"Bu–bukan seperti itu, Sayang. Hanya saja kenapa harus Naura? Aku minta Bibi saja yang buatin kamu nasi goreng atau kita beli di luar, di tempat kesukaan kamu bagaimana?" tanya Aji yang berusaha mencari alternatif lain.


"Aku tidak mau, Mas. Aku 'kan sudah bilang aku mau lihat Naura masak, tapi kalau memang permintaanku itu terlalu sulit tidak usah, tidak apa-apa. Nanti juga lupa sendiri."


Aji pun merasa bersalah karena tidak bisa menuruti keinginan sang istri. Padahal sedari kemarin dia sudah menunggu Asha meminta sesuatu padanya, tapi sekarang saat sudah menginginkan sesuatu malah dirinya yang tidak bisa memenuhinya. Akhirnya pria itu pun mencoba untuk menghubungi Naura, tapi dengan menggunakan ponsel Asha, dia tidak ingin terjadi kesalahan pahaman nantinya.

__ADS_1


"Halo, assalamualaikum. Ada apa, Sha? Tumben kamu hubungin aku, pasti ada sesuatu?" tanya Naura yang berada di seberang telepon.


"Waalaikumsalam, em ... maaf, Nau. Ini aku."


"Oh, Aji, ada apa? Aku kira Asha yang telepon."


"Iya, aku sengaja pakai ponsel Asha. Itu karena aku ingin meminta bantu darimu."


"Meminta bantuan? Bantuan apa? Kalau aku bisa Insya Allah aku bantu. Memang ada apa?"


Aji masih diam, memikirkan bagaimana caranya memberitahunya. Dia jadi semakin merasa tidak enak karena menghubungi Naura saat butuh bantuan saja. Padahal selama ini pria itu sengaja menutup komunikasi. Meskipun Asha sendiri terkadang masih bertukar pesan dengan sahabatnya itu.


"Begini ... Asha menginginkan nasi goreng buatan kamu, apakah kamu mau datang ke rumahku dan membuatkan nasi goreng untuk Asha?"


"Nasi goreng? Kenapa tiba-tiba begini?" tanya Naura sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Mereka sudah lama tidak bertemu, hanya berkomunikasi saja. Itu pun hanya bertukar pesan dengan Asha. Dia juga tidak tahu di mana Aji dan Asha tinggal, entah bersama dengan orang tua Aji atau di rumahnya sendiri yang Naura tidak tahu alamatnya di mana.


"Sebenarnya saat ini Asha tengah hamil. Entah tiba-tiba dia meminta dibuatkan nasi goreng sama kamu. Aku harap kamu mengerti kalau ini permintaan ibu hamil."


"Alhamdulillah, kalau begitu. Aku ikut senang mendengar kabar bahagia dari kalian. Kalau begitu aku akan coba. Bagaimana kalau aku buatkan di rumahku saja jadi, nanti tinggal bawa ke rumah kalian."


"Jangan! Asha maunya lihat kamu memasak jadi, kamu buatnya di sini saja. Aku juga sudah menyiapkan bahan-bahannya."


"Oh begitu, ya sudah, tapi aku izin sama suamiku dulu ya! Mudah-mudahan diizinkan."


"Iya, tidak apa-apa."


Aji pun segera mengucap salam dan mengakhiri panggilan. Dia berharap Naura mau membantu, ini juga diluar kendalinya. Jika tidak pastinya Asha akan merasa sedih.

__ADS_1


__ADS_2