Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
31. Pergi


__ADS_3

“Maaf, Asha. Benar apa yang Papamu katakan, lebih baik dia tinggal di panti asuhan. Dia akan lebih bahagia di sana," sahut Mama Nisa tanpa melihat ke arah putrinya.


Sebenarnya dia tidak tega, tetapi wanita itu juga memikirkan bagaimana nama baik keluarganya. Selama ini dirinya dan sang suami selalu berusaha agar mereka menjadi keluarga terpandang, mana mungkin membiarkan hancur begitu saja.


Jujur Asha kecewa dengan kata-kata mamanya, seakan dia tidak memikirkan hak anak yang seharusnya besar bersama dengan orang tuanya, kewajiban orang tua yang seharusnya mengurusi dan menjaga anak-anaknya.


“Ma, Pa. Apa kalian tega?” tanya Asha dengan suara lirih, pelukannya pada sang putra pun semakin erat.


“Dia akan tetap besar dalam pengawasan kita, tapi bukan besar bersama kita. Kamu jangan khawatir, Asha. Papa akan penuhi semua kebutuhannya sampai dia dewasa. Asal kamu tidak menampakkan diri kamu sebagai ibunya, Papa akan membuat anak itu hidup dengan layak.”


Asha terdiam. Meski ayahnya menjanjikan semua hal yang baik sekalipun, rasanya tidak adil baginya untuk hidup berjauhan dengan Khairi. Apalagi dia tidak boleh mengakui dirinya sebagai ibu dari anak ini. Rasa sakit karena melahirkan saja belum sembuh, kini dirinya dipaksa untuk melupakan sang putra.


Tangis Asha berderai, sakit hatinya semakin dalam atas perlakuan kedua orang tuanya, juga atas ucapan Tia dan keinginan egois sang ayah. Dia kini seorang ibu, mana mungkin tega meninggalkan sang putra dan pergi dari kehidupannya.


Perjalanan semakin jauh, Asha paham ke mana arah tujuan sang ayah setelah ini. Sudah terlalu jauh menuju jalan pulang. Satu-satunya tempat tujuan mereka saat ini adalah panti asuhan.


“Jadi, kalian mau aku meninggalkannya di panti asuhan?”


Roni terdiam, melirik Asha dari spion sedang menciumi wajah putranya dengan rakus. Dia mencoba memantapkan hatinya jika memang ini adalah pilihan yang terbaik.


“Kamu nggak akan bisa mengubah keputusan kami! Keputusan kami sudah bulat, Asha!” ucap sang ayah dengan nada geram.

__ADS_1


Khairi tiba-tiba saja menangis, seolah mengerti jika dirinya akan dibuang dan dipisahkan dengan mamanya. Asha segera menyusui anak itu dengan tangisan sedihnya. Dia tidak rela meninggalkan Khairi di sana sendirian dengan orang asing apalagi dengan waktu yang sangat lama.


Bik Ika melirik Asha yang memeluk Khairi dengan erat, derai tangis wanita yang baru saja menjadi seorang ibu itu bisa dia rasakan sangat berat sekali.


Asha memandang wajah sang putra sambil memikirkan sesuatu. Dia tidak ingin berpisah dengan putranya, apa pun akan dilakukannya agar bisa selalu bersama dengan bayinya.


“Pa, aku nggak tahan. Boleh aku ke toilet sebentar?” tanya Asha sambil merapatkan kakinya, seolah dirinya memang sudah tidak tahan. "Aku juga perlu mengganti popok Khairi,” lanjut wanita itu.


Roni melirik sang istri yang masih mengusap air mata yang mengalir melewati pipinya. Pasti Nisa juga merasakan kesedihan yang dirasakan putrinya.


“Jangan lama-lama! Kita berhenti di pom bensin nanti,” ujar Roni dengan ketus kemudian melajukan mobilnya untuk mencari pom bensin terdekat.


Bik Ika melirik anak asuhnya itu, lama hidup bersama dengan Asha membuatnya yakin jika wanita ini memiliki sebuah rencana. Dia bersumpah akan membantu sebisanya.


“Jangan lama-lama,” ucap Roni kepada Asha.


Asha mengangguk singkat dan membawa anaknya ke toilet ditemani oleh Bik Ika yang akan membantunya mengurusi Khairi.


“Bik, tolong aku. Bisa Bibi kasih alasan sama mereka? Bilang aja Bibi ke minimarket dan nggak lihat aku di toilet,” ucap Asha memohon. Asha melihat ke arah di mana mobil ayahnya berada.


Bik Ika mengambil beberapa lembar uang dan membuka sebuah cincin miliknya, kemudian memberikan kepada Asha. Dia yakin jika wanita ini akan lebih membutuhkannya daripada dia. Bik Ika juga menuliskan sebuah alamat di kertas kecil yang ditemukannya.

__ADS_1


“Bawa ini. Neng Asha akan lebih membutuhkannya daripada Bibi. Pergilah ke alamat itu, di sana ada anak Bibi. Biar nanti Bibi yang jelaskan sama dia lewat sambungan telepon,” ujar wanita paruh baya itu. Asha menatap haru pada wanita yang telah ikut membesarkannya. Dia tak percaya, bahkan Bik Ika lebih baik daripada ibunya di saat yang seperti sekarang ini.


“Bi—“


“Sudah, cepet pergi.”


Bik Ika menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia menemukan seorang wanita yang baru saja keluar dari dalam toilet dengan membawa tas besar di tangannya. Asha memperhatikan apa yang dilakukan oleh Bik Ika. Wanita itu mengeluarkan uang yang ada di salam saku bajunya dan memberikannya kepada wanita tersebut.


Tak lama Bik Ika kembali kepada Asha dan memberikan jaket serta kerudung besar untuk Asha milik wanita tadi.


“Neng, pakai ini. Bawa Khairi dari sini, kerudung ini pasti bisa menutupi keberadaan Khairi. Urusan Bapak, biar Bibi yang tangani. Cepat!” ujar Bik Ika.


Wanita itu membantu Asha mengenakan hijab besar yang saat dipakai menutupi hingga ke pinggang. Hijab itu bisa menutupi keberadaan Khairi dengan baik. Bik Ika juga memasang jaket ke tubuh Asha hingga dia yakin jika Roni dan Nisa tidak akan mengenali putrinya saat pergi dari sini.


“Maskernya jangan lupa!” ujar wanita itu.


Asha memakainya dengan cepat dan meminta wanita yang tadi melakukan transaksi dengannya pergi bersama dengan Asha hingga naik ke angkutan umum. Dia akan pergi ke kampung halaman Bik Ika dengan menggunakan Bis agar jejaknya tidak terdeteksi.


“Makasih, Bi.” Asha terharu, sangat sedih karena harus pergi dari sini. Bik Ika tidak tahan, memeluk Asha dengan erat sebelum melepaskan wanita itu untuk pergi ke tempat yang jauh.


“Hati-hati ya.” Tak lupa Bik Ika juga mencium Khairi yang telah dijaganya semenjak dia ada di dalam kandungan sang ibu.

__ADS_1


“Terima kasih ya, Bu.” Bi Ika ucapkan pada wanita itu. Asha tidak tahu apa yang Bik Ika katakan kepadanya sehingga wanita tersebut mau membantunya.


Dengan dada yang berdebar, Asha berjalan dan berusaha untuk tidak mencolok dan menimbulkan kecurigaan. Hingga akhirnya Asha berhasil menyelinap dan masuk angkutan umum yang kebetulan lewat, lalu membawanya ke suatu tempat. Akhirnya wanita itu bisa bernapas lega bisa lepas dari papanya. Meski tidak tahu bagaimana nasib ke depannya, tetapi ini lebih baik daripada harus dipisahkan dengan anaknya.


__ADS_2