
Aji terbangun dari tidurnya. Baru membuka sedikit matanya, dia langsung terperanjat karena terkejut waktu sudah siang. Matahari juga sudah meninggi. Ternyata lama juga dirinya tertidur, padahal niat pria itu datang ke sini untuk menemui sang putra. Sekarang malah tidur di ruang tamu, di atas tubuhnya juga terdapat sebuah selimut.
Pasti seseorang sudah menyelimutinya, entah itu Bik Ika atau sang istri. Aji pun segera bangun dan mencoba mencari keberadaan putranya. Saat ke dalam rumah ada Bik Ika di sana.
"Bik, Khairi mana? Apa sudah berangkat sekolah?"
"Ada di luar, sedang main bola, Den."
Aji pun segera berbalik. Namun, Bik Ika lebih dulu mencegahnya. "Sebaiknya Aden makan dulu, Aden 'kan tadi belum sarapan."
"Nanti saja, Bik. Aku mau cari Khairi dulu, dia pasti marah padaku."
Bik Ika pun tidak lagi mencegah karena dia tahu memang benar apa yang dikatakan Aji. Jika Khairi saat ini sedang merajuk karena papanya tidak kunjung bangun. Begitu pria itu keluar memang tampak sang putra sedang main bola. Tubuhnya sudah begitu berkeringat, pasti anak itu sudah terlalu lama bermain bola.
Aji pun segera mendekatinya dan merebut bola dari kaki Khairi. Namun, sayang anak itu malah berbalik arah dan mengabaikan keberadaan papanya. Aji tertunduk lesu, beginilah menghadapi anaknya yang sedang merajuk, sebisa mungkin dia bersabar dan mencoba mengambil hati putranya.
"Sayang, maafkan Papa ya! Papa salah karena tadi ketiduran. Kenapa tadi Khairi nggak bangunin Papa saja?"
"Mama yang nggak bolehin, katanya Papa capek. Aku udah bilang Papa nggak boleh capek-capek, aku mau main sama Papa."
Aji tersenyum, sedari dulu dia merindukan hal seperti ini. Sering terbayang bagaimana menghadapi anak yang merajuk, ternyata menakutkan juga.
"Iya, sekarang Papa sudah bangun, ayo kita main!"
"Nggak mau! Aku sudah capek, dari tadi nungguin Papa nggak bangun-bangun."
"Maafin Papa, ya! Sekarang Khairi mau apa? Papa bakalan turutin apa pun yang Khairi minta."
__ADS_1
Sebagai orang yang tidak pernah berinteraksi dengan seorang anak, tentu saja Aji merasa kesulitan membujuk sang putra, tetapi dia bukan orang yang mudah menyerah. Akan pria itu usahakan sampai Khairi luluh padanya. Anggap saja ini permulaan karena seterusnya mungkin akan lebih sering menghadapi anak yang merajuk.
"Nggak mau! Aku nggak mau apa-apa."
"Jangan begitu dong, Sayang. Terus apa yang harus Papa lakuin agar kamu nggak marah lagi?"
Khairi tampak berpikir sambil mengetukkan jari telunjuknya di pelipisnya. Dia pun menatap papanya dan menjawab, "Aku mau main di mall seperti teman-teman."
"Mau main di mall? Main apa, Sayang?"
"Apa saja, pokoknya yang seperti teman-teman. Ada mobil-mobilan terus pukul-pukul anjing begitu. Teman-teman sering cerita kalau di sekolah, sekarang aku mau pergi sama Papa."
"Baiklah, ayo kita pamit sama mama dulu. Mama sekarang di mana?"
"Mama lagi kerja."
Aji Membuang napas pelan, gara-gara ketiduran dia melewatkan banyak hal. Dari menyambut putranya yang baru bangun tidur, sarapan bersama serta ingin melihat tempat kerja sang istri. Pria itu ingin tahu seberapa besar usaha kerajinan yang dilakukan Asha.
Aji dan Khairi pun berpamitan pada Bik Ika. Wanita paruh baya itu sudah meminta Aji untuk sarapan lebih dulu, takutnya nanti pria itu malah asam lambungnya kambuh. Namun, dia mengatakan jika dirinya baik-baik saja karena saat ini yang terpenting adalah membuat Khairi senang. Tidak masalah soal makanan, nanti dia bisa beli di mall saat mereka sedang bermain.
Sepanjang perjalanan selalu ada saja yang dikagumi oleh Khairi. Aji hanya tersenyum menanggapi, sesekali menjawab pertanyaan yang diajukan sang putra. Hingga tidak terasa akhirnya mereka sampai juga di mall yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Meskipun bukan pusat perbelanjaan yang besar seperti biasanya, tetapi cukup membuat Khairi bahagia karena bisa pergi bersama dengan Aji ke sini.
Ini memang bukan pertama kali Khairi pergi ke mall, hanya saja anak itu jarang memainkan permainan karena dia tidak memiliki teman. Terkadang anak itu pergi bersama dengan Asha atau Tiara, tetap saja Khairi yang tidak terlalu suka. Dia selalu ingin pergi bersama dengan ayahnya dan sekarang tidak menyangka akhirnya bisa terkabul juga. Banyak sekali permainan yang dimainkan oleh anak itu, Aji pun menuruti keinginan putranya saja, tidak peduli berapa banyak uang yang dia habiskan asalkan bisa membuat Khairi tersenyum bahagia sudah membuatnya senang.
Saat sedang asik bermain, tiba-tiba Aji merasakan perutnya melilit. Dia baru sadar jika tadi pagi belum sarapan, semalam juga karena terlalu ingin segera menyelesaikan pekerjaannya, hingga lupa tidak makan malam. Sebenarnya tadi juga pria itu sudah merasa lapar. Namun, tidak tega melihat wajah sedih putranya jadi, Aji berusaha untuk menahan.
Sekarang ternyata akhirnya kalah juga dengan kondisi tubuhnya. Tadinya tidak masalah untuk menunda sarapan hingga nanti waktu makan siang, tetapi sekarang malah seperti ini. Dia berharap semua baik-baik saja agar bisa menyenangkan sang putra.
__ADS_1
"Papa kenapa?" tanya Khairi dengan berdiri di depan papanya, yang saat ini terduduk sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Tidak apa-apa, Sayang. Ini hanya sakit perut biasa, Khairi main saja dulu, ya! Papa lagi sakit perut," jawab Aji sambil mencoba menahan rasa sakitnya.
Khairi tidak peduli dengan apa yang dikatakan papanya. Dia berusaha untuk membantu Aji agar perutnya tidak sakit lagi. Namun, pria itu semakin merasa bertambah sakit. Khairi yang tidak tega pun segera mengajak papanya pulang.
"Kita pulang saja, Pa. Sepertinya Papa sakit sekali."
"Papa tidak apa-apa, Sayang. Kamu 'kan belum selesai main, apa kamu mau makan siang dulu?"
"Tidak tidak usah, Pa. Papa sudah sakit sekali, ayo kita pulang saja!" ajak Khairi, Aji pun hanya mengangguk.
Namun, saat akan bangun dari duduknya, perut Aji semakin terasa sakit, hingga akhirnya tidak tahan juga dan kembali duduk. Dia meminta bantuan seseorang untuk membawanya ke klinik terdekat. Aji sama sekali tidak melepaskan pegangannya pada sang putra. Dia meminta agar anak itu mengikutinya saja. Khairi yang memang takut terjadi sesuatu pada papanya pun hanya mengangguk dan patuh mengikuti ayahnya ke mana pun perginya. Hingga akhirnya mereka sampai juga di klinik di samping mall.
"Mas, apa tidak sebaiknya Mas menghubungi keluarga, barangkali ada yang mau datang dan menunggu Mas di sini. Saya juga harus pergi, keluarga saya menunggu di sana," ucap pria tadi yang menolongnya
Aji pun mengangguk dan mengambil ponselnya, meminta pria tadi untuk menghubungi Asha saja. Jika dia seorang diri pasti lebih memilih menghubungi anak buahnya saja, tetapi karena di sini ada Khairi jadi, lebih baik Asha saja yang datang dan membawa anaknya pulang. Terlihat wajah sang putra yang begitu ketakutan sejak tadi. Aji juga tidak masalah jika di klinik ini sendirian.
Seorang dokter datang memeriksa keadaan Aji dan bertanya, "Apa Bapak memiliki riwayat sakit asam lambung?"
"Iya, Dok. Memang saya pernah sakit asam lambung dan lumayan parah."
"Terus kenapa Bapak sampai lupa untuk makan jika sebelumnya pernah sakit seperti itu?" Dokter tersebut menggelengkan kepala, heran dengan orang-orang yang menganggap remeh penyakitnya.
"Tadinya saya ingin sekalian makan siang saja, Dok, tapi ternyata sistem kekebalan tubuh saya tidak cukup kuat, hingga akhirnya tumbang juga."
"Lain kali harus lebih hati-hati ya, Pak. Untung saja segera dibawa ke sini. Ke depannya jangan sampai telat meskipun cuma satu jam saja."
__ADS_1
"Iya, Dok. Terima kasih."
"Tunggu perawat akan membawakan makanan ke sini, Pak. Nanti Tolong dihabiskan dan tunggu sampai cairan infusnya habis baru Anda bisa pulang."