
Hasbi dan Dira sudah selesai mandi, keduanya tampak begitu segar. Pasangan suami istri itu duduk di tepi ranjang, masih dalam keadaan diam. Ingin mengatakan sesuatu agar tidak sepi, tetapi bingung harus berkata apa.
"Sebaiknya kita tidur, kamu pasti juga sudah lelah. Aku tahu kalau kamu belum siap karena aku pun begitu. Kita jalani pernikahan ini apa adanya saja, tidak perlu terlalu dipaksakan, yang nantinya akan saling menyakiti satu sama lain," ujar Hasbi dengan pelan.
Dira menatap sang suami sambil mengangguk, sejujurnya memang benar apa yang dikatakan Hasbi. Dirinya belum siap melakukan kewajiban yang harusnya dilakukan di malam pertama, tetapi jika pria itu menginginkan pun dia tidak akan menolak karena memang itu sudah menjadi kewajibannya. Sekarang Hasbi malah berbicara seperti itu, tentu saja semakin membuatnya lega sekaligus kagum pada suaminya. Jika itu orang lain sudah pasti tidak mau tahu tentang perasaan Dira yang penting nafsu mereka tersalurkan.
Pagi-pagi sekali sekeluarga akan makan di restoran. Mama Tia sudah mengirim pesan ke ponsel Dira, entah putrinya itu melihat atau tidak. Dia juga tidak mau menghubungi langsung, takut nanti malah mengganggu pengantin baru. Saat semua orang sudah berkumpul, tidak lama barulah Hasbi dan Dira datang, tentu saja keduanya merasa malu menjadi pusat perhatian.
Apalagi sedari tadi Aji dan Asha terus saja menatap keduanya dengan tatapan jahil. Hal tersebut semakin membuat Dira kesal, padahal tadi dia sudah sangat berusaha untuk bersikap biasa saja, tetapi pasangan suami istri itu selalu ada saja ulah untuk menggodanya.
"Kalian berdua apa ada rencana ingin bulan madu?" tanya Papa Harto, membuat Hasbi dan Dira saling berpandangan. Keduanya juga tidak pernah membahas hal itu dan tidak ada rencana apa pun.
"Sepertinya tidak, Pa. Aku juga cuma ambil cuti seminggu dan ini tinggal tiga hari lagi," jawab Dira.
"Jadi kamu langsung balik begitu saja? Nggak liburan dulu di sini?" tanya Mama Tia yang sebenarnya masih rindu pada putrinya. Dia masih ingin menghabiskan beberapa hari bersama.
"Tidak bisa, Ma, karena sebelumnya Dira sudah ambil cuti. Kalau ambil libur lebih panjang, nanti kalau ada acara aku tidak bisa libur lagi jadi, sekarang cuma ambil satu minggu."
"Kalau Hasbi sendiri bagaimana?" tanya Papa Harto pada sang menantu.
__ADS_1
"Kalau saya masih ada beberapa hari, Pa, jadi terserah Dita mau balik kapan. Aku masih bisa mengerjakan pekerjaanku lewat email," jawab Hasbi.
Mama Tia yang sebenarnya tidak rela pun akhirnya pasrah juga. Dia tidak mungkin menghalangi putrinya yang kini sudah menjadi seorang istri. "Ya sudah, kalau memang seperti itu. Terserah kalian mau balik kapan, tapi nanti jangan lupa sering-sering hubungin Mama. Jangan terlalu sibuk bekerja, harus memperhatikan kesehatan. Dira juga sebagai seorang istri harus memperhatikan makanan untuk suami, jangan makan makanan instan terus. Mentang-mentang kalian pada sibuk selalu makan makanan dari luar."
"Iya, Ma. Aku akan selalu ingat pesan Mama," sahut Dira dengan tersenyum.
"Kalau Bu Liana dan Pak Edo sendiri masih berapa lama di sini? Barangkali mau jalan-jalan kami siap menemani," tanya Papa Harto dengan tersenyum.
"Justru itu, Pak Harto. Sebenarnya kami juga sekalian berpamitan. Setelah ini juga kami harus kembali, saya tidak bisa berlama-lama ninggalin pekerjaan di sana. Nanti kalau ada waktu luang Insya Allah kami akan datang berkunjung lagi," jawab Papa Edo dengan perasaan tidak enak.
"Dengan senang hati kami akan menyambut kedatangan Anda dan keluarga."
"Terima kasih. Sejujurnya saya juga ingin melihat-lihat keadaan di sini, tapi mau bagaimana lagi, pekerjaan sudah menunggu. Kalau Pak Harto dan Bu Tia mau datang ke kediaman kami juga silakan, kami akan sangat senang sekali."
Mereka semua pun menikmati sarapan pagi dengan tenang, sambil sesekali bercanda bersama. Setelah selesai, mereka mengantarkan Mama Liana dan Papa Edo ke bandara barulah pulang ke rumah Papa Harto. Aji dan Asha memilih pulang ke rumahnya sendiri. Keduanya juga sudah sangat lelah.
Beberapa hari keduanya membantu segala persiapan pernikahan Dira. Apalagi wajah Asha juga terlihat begitu pucat, semakin membuat sang suami khawatir.
"Sayang, apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit? Nanti biar dokter yang periksa dan tahu kamu sakit apa? Wajah kamu pucat sekali," ujar Aji dengan rasa khawatirnya.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Mas, hanya saja aku memang sedang lelah. Kemarin juga aku kurang tidur," sahut Asha yang sedang bersandar dengan memejamkan mata, merasakan pusing di kepalanya.
"Aku sudah bilang beberapa kali, kamu jangan terlalu berlebihan dalam membantu urusan pernikahan Dira, sudah ada orang yang bertugas dan sudah dibayar, tapi kamu masih saja selalu sibuk," gerutu Aji dengan kesal.
"Aku sedang bahagia menyiapkan pesta pernikahan untuk adikku, Mas. Lagipula kemarin juga aku tidak apa-apa, nggak tahu juga kenapa pagi ini tiba-tiba kepalaku pusing sekali. Tadi juga saat sarapan makanannya rasanya tidak enak, tapi aku paksakan supaya bisa tertelan. Padahal itu makanan restoran ternama, tapi kenapa rasanya seperti itu?"
"Itu karena pertanda kamu memang sedang sakit. Tidak ada masalah dengan makanan itu, semua rasanya sama dan enak. Sebaiknya kita ke rumah sakit saja untuk memeriksakan kamu."
"Tidak usah, Mas. Aku tidak apa-apa, kita pulang saja. Saat ini aku lagi ingin tiduran di rumah saja, ingin istirahat. Nanti kalau sudah bangun juga pasti pusingnya hilang. Kalau kamu bawa aku ke rumah sakit, di sana malah bikin aku tambah pusing, bukannya sehat malah tambah sakit."
Aji menghela napas dan akhirnya menyetujui keinginan sang istri. Meskipun dalam hati dia sangat khawatir, tetapi tidak bisa memaksa wanita itu. Nanti jika Asha masih sakit juga barulah dia akan mengajak sang istri pergi ke rumah sakit. Begitu tiba di rumah, ternyata Asha sudah tertidur, begitu juga dengan Khairi yang sejak tadi duduk di belakang. Aji pun mengangkat sang istri kedalaman rumah bergantian dengan sang putra.
Siang hari saat Asha terbangun, tubuhnya terlihat begitu segar, senyum juga selalu menghiasi bibir wanita itu. Hal tersebut membuat Aji merasa lega, ternyata apa yang dikatakan sang istri benar. Keadaan wanita itu saat ini baik-baik saja, bahkan tidak terlihat jika tadi pagi sedang sakit.
"Mas, kenapa senyum-senyum lihatin aku? Apa ada sesuatu yang lucu?" tanya Asha sambil memperhatikan tubuhnya.
"Nggak ada, Sayang. Aku senang lihat kamu sehat seperti ini, tidak seperti tadi pagi. Aku sampai khawatir, takut terjadi sesuatu sama kamu."
"Aku 'kan sudah bilang kalau hanya pusing biasa. Aku hanya sedang lelah saja, buktinya sekarang aku biasa saja."
__ADS_1
"Iya, makanya mulai sekarang kamu harus jaga kesehatan, jangan terlalu banyak melakukan pekerjaan. Kalau perlu kamu tidak usah memasak, biar bibi saja yang melakukan semuanya. Aku sudah membayar asisten rumah tangga, untuk apa kalau tidak dipergunakan dan masih kamu yang memasak."
"Aku 'kan melakukannya untuk kamu, Mas."