
"Foto yang kamu posting di media sosial itu hasil karya siapa?" tanya Mama Nisa yang masih berada di sambungan telepon.
Seketika pandangan Aji tertuju pada Asha yang juga sedang menatapnya. Untuk saat ini dia juga tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya. Pria itu masih ingin mengambil hati Asha terlebih dahulu, tidak ingin wanita itu merasa terpaksa menerima keberadaan dirinya. Mungkin nantinya malah akan berbalik Asha tidak mau menerima Aji karena pria itu telah mengatakan keberadaannya pada keluarganya, yang selama ini sudah dia Coba hindari.
"Itu milik salah seorang teman, Ma. Kebetulan dia juga punya usaha seperti itu jadi, aku membantunya saja," jawab Aji yang tidak sepenuhnya berbohong.
"Oh begitu," jawab Mama Nisa dengan nada sedih.
"Memangnya ada apa, Ma? Kenapa tiba-tiba Mama tanya hal seperti itu?"
"Tidak apa-apa, hanya saja Mama teringat sesuatu."
"Teringat apa?"
"Bukan apa-apa. Ya sudah, kalau begitu kamu hati-hati di sana. Mama tutup dulu teleponnya, assalamualaikum."
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Aji, Mama Nisa mengakhiri teleponnya begitu saja. Pria itu tidak mungkin mengatakannya sejujurnya pada sang mertua. Mama Nisa memang curiga jika barang yang di posting Aji adalah buatan putrinya. Dulu Asha juga orang yang sangat kreatif, suka mendaur ulang sesuatu dan suka membuat kerajinan terbuat dari apa saja.
Akan tetapi, orang seperti Asha juga bukan satu orang saja. Di luaran sana banyak orang yang juga sama kreatifnya, bahkan lebih. Mama Nisa tidak ingin menceritakan apa pun agar tidak membuat orang di sekitarnya sedih.
"Waalaikumsalam," gumam Aji yang segera menghela napas.
Sebenarnya ada rasa bersalah dalam hati pria itu karena berbohong pada sang mertua. Lebih baik nanti saja dia bicarakan hal itu dengan Mama Nisa secara langsung. Tentu saja setelah dia berhasil meluluhkan hati istrinya.
"Itu Nyonya Nisa, Den?" tanya Bik Ika mewakili pertanyaan yang ingin sekali ditanyakan oleh Asha dari tadi. Namun, terlalu malu jika bertanya secara langsung.
"Iya, Bik. Tadi Mama Nisa tanya mengenai postingan aku di media sosial."
"Saya tadi memposting hasil usaha Asha di sini, barangkali ada teman aku yang mau tertarik. Ternyata Mama Nisa juga melihatnya dan dia penasaran. Mungkin dia merasa mengenal orang yang membuatmu jadi, bertanya langsung padaku."
Asha yang mengerti arah pembicaraan sang suami pun hanya diam membisu. Dalam hati dia sangat rindu pada mamanya. Namun, di sisi lain wanita itu takut jika bertemu dengan mereka yang ada nanti malah akan menimbulkan masalah. Asha juga belum tahu bagaimana keadaan keluarganya setelah dia pergi.
__ADS_1
Semua orang pun melanjutkan sarapannya, setelah itu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aji harus pergi bekerja segera. Namun, sebelum itu dia harus mengantarkan Khairi ke sekolah. Tadinya anak itu tidak mau pergi, tapi dengan bujukan Asha dan bantuan Aji akhirnya Khairi mau pergi juga. Namun, sebagai gantinya Aji yang mengantar, sang putra ingin memperkenalkan papanya kepada semua temannya agar teman-teman tidak ada lagi yang mengejeknya.
***
"Pagi, Mbak Asha," sapa seorang yang selama ini bekerja pada Asha untuk membuat kerajinan.
Wanita itu memang sengaja menyewa sebuah rumah kosong yang tidak jauh dari rumahnya, untuk melakukan pekerjaan bersama dengan beberapa orang. Bukan usaha yang besar, tapi cukup untuk kehidupan mereka sehari-hari. Mereka juga terlihat begitu antusias karena bisa mendapat pemasukan uang, tidak harus selalu bergantung pada suami.
"Pagi juga, Mbak."
"Mbak Asha suaminya tampan sekali, saya saja sampai terkagum-kagum loh."
Asha hanya menanggapi dengan senyuman. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Wanita itu akui wajah sang suami memang tidak berubah dari dulu. Hal tersebut semakin membuat Asha tidak percaya diri.
"Mbak Asha harus hati-hati, jangan terlalu cuek sama suami. Nanti kalau diambil sama pelakor baru tahu rasa. Mbak tahu sendiri warga kampung sini tidak ada yang segan merebut suami Mbak Asha. Kalau Mbak Asha nggak mau dinikahi lagi, bisa-bisa suaminya diambil pelakor."
__ADS_1
Asha merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Tidak ditutupi jika dirinya juga merasa takut akan hal itu. "Saya percaya dengan yang namanya jodoh. Kalau Mas Aji memang jodohku, mau dirayu seperti apa pun pasti akan tetap menjadi milikku," sahutnya dengan menampilkan senyum manis.
"Jangan salah, Mbak. Jodoh juga perlu diperjuangkan, jangan hanya ditunggu saja. Kita juga bisa menciptakan takdir sendiri dengan usaha kita. Jangan berserah begitu saja."