Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
79. Pindah


__ADS_3

Sebagai seorang pria sekaligus suami, tentu saja Aji ingin memilih melindungi istri dan anaknya dari siapa pun yang ingin mengganggunya. Apa pun akan dia lakukan agar keluarganya baik-baik saja. Selain sebagai bentuk tanggung jawabnya, Pria itu juga merasa takut jika Asha akan kembali pergi dari kehidupannya seperti sebelumnya. Aji tidak akan sanggup untuk merasakan hal itu lagi, cukup dulu hanya sekali.


Setelah selesai menghabiskan makanannya, Aji mengajak istri dan anaknya untuk pulang karena memang waktu juga sudah malam. Sedari tadi Mama Nisa sudah menghubungi mereka menanyakan kapan akan pulang. Asha sudah memberi kabar jika akan makan malam di luar. Mama Nisa pun mengerti dan tidak akan menunggu mereka.


Begitu mobil yang Aji kendarai sampai di rumah, terlihat rumah sudah sepi mungkin penghuninya sudah tidur. Untung ada Bibi yang membukakan pintu. Khairi juga sudah tertidur di kursi belakang, hingga akhirnya Aji yang menggendong dan membawanya ke kamar.


"Kamu mau mandi, Mas?" tanya Asha.


"Iya, tapi nanti saja. Aku mau duduk sebentar, mau mengistirahatkan tubuh dulu," jawab Aji yang duduk di sofa kamarnya.


Asha pun memutuskan untuk mandi lebih dulu. Dia juga merasa lelah dan ingin istirahat, tetapi tubuhnya terasa lengket tidak enak kalau langsung tidur. Begitu Asha masuk ke dalam kamar mandi, Aji mencoba menghubungi seseorang untuk meminta bantuan.


"Halo, ada apa? Tumben kamu hubungin aku?" tanya seorang pria yang berada di seberang telepon, yang tidak lain adalah sahabatnya yang bernama Dani. Dia juga seorang ahli IT yang bisa mencari tahu segala hal yang berhubungan dengan teknologi. Aji juga sempat meminta bantuannya saat mencari Asha. Meskipun pada akhirnya tidak ketemu.


"Aku butuh bantuanmu untuk mencari informasi tentang seseorang."


"Bukannya kamu bilang kalau kamu sudah menemukan istrimu?"


"Aku memang sudah menemukannya, kali ini aku butuh bantuanmu untuk mencari informasi orang lain. Nanti aku akan kirim foto dan juga profilnya, kamu cari tahu semua tentang dia dan apa saja yang sudah terjadi padanya selama enam tahun ini," ucap Aji dengan begitu serius, sesekali matanya melihat ke arah kamar mandi, takut jika istrinya keluar.


"Oh, ada apa ini? Apakah ini juga berhubungan dengan masa lalumu dan juga tentang istrimu?"


Aji menghela napas kesal. Dia ingin mempercepat pembicaraan agar Asha tidak mengetahuinya, tetapi Dani malah banyak bertanya.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan banyak tanya. Nanti saat kamu mendapatkan informasi juga kamu akan tahu sendiri. Kali ini aku tidak ingin mendengar kegagalan karena informasi yang aku butuhkan juga tidak terlalu sulit untukmu."


Dani mencebikkan bibirnya. "Mentang-mentang aku gagal sekali dalam misiku, seenaknya saja kamu menghinaku. Kemarin karena istrimu saja yang terlalu pandai menyembunyikan jati diri, sampai-sampai aku tidak bisa menemukannya, tapi kali ini tenang saja, aku akan usahakan agar bisa menemukan informasi orang yang kamu inginkan."


"Ya sudah, itu saja yang ingin aku katakan. Aku mau istirahat."


Aji pun segera memutus sambungan tanpa menunggu jawaban dari temannya. Pria itu tidak ingin Asha mengetahui apa yang sudah dia lakukan dan tidak ingin membebani pikiran wanita itu, biarlah urusan Arvin dirinya selesaikan sendiri. Aji yakin jika pria itu bukanlah seseorang yang harus dia takuti.


Aji pun mengirim foto Arvin yang dia dapat saat mencari tahu tentang Asha dulu, juga alamat kedua orang tua laki-laki itu. Entah apa mungkin mereka masih tinggal di sana atau tidak, biarlah nanti Dani yang mencari tahu sendiri. Dia sangat percaya dengan kemampuan sahabatnya.


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Asha pun keluar dari sana dan meminta sang suami untuk segera membersihkan diri. Tanpa penolakan pria itu pun mengangguk saja dan mengikuti perintah sang istri. Untung saja dia tadi segera mengakhiri panggilan jika tidak memakai rasa pasti akan tahu.


***


"Pa, aku mau ikut ke rumah baru, aku nggak mau sekolah," pinta Khairi sambil merengek pada papanya.


Aji berjongkok di depan putranya dan berkata, "Nanti kalau Khairi sudah pulang sekolah baru kita ke rumah baru, ya! Sekarang Khairi harus sekolah dulu, baru kemarin kamu masuk sekolah, masa sekarang harus libur?"


Aji berusaha membujuk sang putra dengan pelan. Dia tidak mau anak itu merasa sedih dan tersisih. Akhirnya Khairi pun mengangguk. Meskipun dalam hati merasa sedih karena tidak diperbolehkan untuk ikut pulang ke rumah. Namun, anak itu juga tidak ingin mengecewakan papanya yang sudah berusaha keras untuk menyekolahkannya.


Aji, Asha dan Khairi pamit pada Mama Nisa dan Papa Roni. Kedua orang tua itu merasa berat dengan kepergian anak dan cucunya, tetapi mau bagaimana lagi, mereka sekarang sudah membangun keluarga sendiri.


"Mas, apa kita perlu mengadakan acara syukuran untuk rumah baru? Apa sebelumnya kamu sudah mengadakan acara itu?" tanya Asha di sela perjalanan mereka.

__ADS_1


"Sebelumnya aku hanya ngadain acara kecil-kecilan bersama keluarga, tapi sekarang kita menempati rumah itu bersama-sama. Kalau kamu ingin mengadakan acara lagi tidak masalah, malah semakin bagus. Aku justru sangat senang, anggap saja itu doa agar keluarga kita diberi keberkahan."


"Boleh, Mas?"


"Tentu saja boleh, apa pun yang kamu lakukan selama itu demi kebaikan kenapa tidak? Aku juga tidak masalah berapa pun uang yang harus aku keluarkan, semua untukmu dan anak kita."


Asha merasa terharu dengan jawaban sang suami, rasa syukur tak hentinya dia panjatkan. Beribu ucapan terima kasih tidak akan cukup. Sungguh Tuhan begitu baik padanya yang seorang hamba berlumur dosa. Wanita itu berharap dirinya bisa termaafkan.


Asha pun mengangguk, memang dia sudah merencanakan ingin mengadakan acara syukuran. Seperti keinginan Aji, dirinya juga ingin keluarganya bahagia dan selalu diberi keberkahan. Wanita itu akan membuat acara yang sakral meski hanya acara sederhana saja.


Tidak berapa lama akhirnya mereka sampai juga di sekolah tempat Khairi menimba ilmu. Anak itu terlihat senang saat akan bertemu dengan teman-temannya. Aji lega karena anak itu jadi tidak terlalu sedih karena keinginannya tidak terpenuhi. Setelah memastikan Khairi masuk ke dalam kelas, Aji pun mengajak menuju rumahnya.


Sepanjang perjalanan, entah kenapa Asha tiba-tiba menjadi pendiam. Hal itu membuat sang suami merasa aneh dan pria itu pun bertanya, "Ada apa, Sayang? Kenapa kamu diam saja? Bukannya tadi kamu merencanakan akan membuat syukuran?"


"Tidak ada apa-apa, Mas," jawab Asha dengan tersenyum kaku.


"Kamu tidak bisa bohong sama aku. Bukankah kita sudah sepakat bahwa tidak akan ada lagi kebohongan di antara kita berdua?"


Asha pun menundukkan kepala, padahal sudah sedari tadi dia sudah mencoba untuk menahan diri agar tidak menunjukkan kegelisahannya di depan Aji. Sepertinya sang suami peka dari yang wanita itu bayangkan sebenarnya.


"Sejak kedatangan Arvin kemarin aku gelisah, Mas. Aku selalu takut bagaimana nanti kalau orang yang sudah mengambil kesucianku datang dan tiba-tiba ingin mengambil Khairi dariku? Aku tidak sanggup jika kehilangan putraku. Dia yang selama ini sudah membuatku bertahan hidup dan menjadi kekuatan terbesarku. Entah bagaimana jadinya jika aku harus kehilangan Khairi."


Aji tentu saja terkejut. Dia saja sama sekali tidak pernah berpikir ke arah sana, tetapi kenapa tiba-tiba Asha memikirkan hal itu. Tidak dipungkiri apa yang dikatakan istrinya memang benar, suatu saat mungkin saja pria itu akan datang, entah kapan itu terjadi. Namun, tidak untuk sekarang. Aji menepikan mobilnya dan menggenggam telapak tangan sang istri guna memberi ketenangan pada wanita itu.

__ADS_1


"Jika memang benar ketakutan kamu akan terjadi, kamu tenang saja. Ada aku di sisimu yang selalu menemanimu dalam keadaan apa pun. Kita akan berusaha untuk mempertahankan Khairi.Lagi pula pria itu juga tidak memiliki hak apa pun terhadap khairi. Meskipun dia memang ayah kandung Khairi, tetapi tidak sedikit pun dia ikut campur dalam membesarkannya. Dia juga bukan suamimu jadi, dia tidak memiliki hukum apa pun."


__ADS_2