Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
115. Kembali bekerja


__ADS_3

Usai menikmati makan siang, Asha mengajak Naura untuk bersantai di taman samping rumah sambil menemani anak-anak bermain. Aji sendiri tadi pamit untuk pergi ke kantor karena tiba-tiba ada pekerjaan mendadak. Pria itu juga lebih tenang meninggalkan istrinya dengan keadaan yang lebih baik. Apalagi ada Naura yang menemani.


"Putrimu cantik sekali, sepertinya kita nanti bisa jadi besanan," ucap Asha sambil memperhatikan dua anak yang sedang bermain.


Naura sedikit terkejut mendengarnya. Dia melihat ke arah Asha sebentar dan kembali fokus pada dua anak itu. Mereka memang terlihat begitu akrab. Naura juga suka melihatnya. Apalagi Ara juga bukan orang yang mudah bersosialisasi dengan banyak orang karena anaknya yang pendiam, tetapi bukan berarti menjodohkan mereka juga.


"Mereka masih terlalu kecil untuk urusan seperti itu jadi, biarkan saja semua mengalir begitu saja," sahut Naura.


"Ya, tentu saja aku tidak akan memaksa mereka. Aku hanya sedang berandai-andai saja. Kalaupun nanti mereka benar-benar berjodoh aku justru senang, setidaknya hubungan kita akan semakin baik."


Naura menatap wanita di sampingnya dengan perasaan bersalah. Meskipun Asha sudah memaafkannya, terapi dia selalu merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.


"Asha, apa kamu tidak pernah membenciku setelah apa yang sudah aku lakukan? Karena aku kamu menderita selama lima tahun. Andai saja aku tidak berbuat seperti itu, pasti kamu sudah bahagia bersama dengan Aji dari dulu."


"Sudahlah, bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan kalau semua itu memang sudah takdir. Sekarang aku sudah bahagia bersama dengan Mas Aji. Lupakan saja apa yang sudah pernah terjadi. Sekarang yang penting bagaimana kita menjalani masa depan kita agar selalu bahagia."


"Iya, aku juga bersyukur sekarang. Kamu dan Aji berbahagia hidup bersama dan semoga seterusnya seperti itu."


Keduanya pun berbincang membicarakan banyak hal.


***


Pagi-pagi sekali Dira sudah bangun dan membantu mertuanya untuk menyiapkan sarapan pagi. Padahal Mama Liana sudah memperingatkan menantunya untuk istirahat saja. Apalagi hari ini sudah mulai bekerja, tetapi Dira menolak dengan beralasan jika dirinya sudah terbiasa membantu bibi memasak saat di apartemen. Dia juga tidak terbiasa tidur setelah Subuh, yang ada nanti malah kesiangan.


Akhirnya Mama Liana membiarkan saja. Wanita itu juga senang bisa memasak dengan menantunya. Andai saja Dira tidak bekerja pasti mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Apalagi Mama Liana dari dulu sudah menginginkan kehadiran anak perempuan yang bisa diajak ke mana-mana. Pasti sangat menyenangkan jika berjalan-jalan dengan anak perempuan, berbeda dengan anak laki-laki yang selalu saja menggerutu jika diajak pergi.

__ADS_1


Setelah semua makanan terhidang di meja makan. Dira undur diri ke kamar dan membersihkan diri. Dia harus bersiap untuk segera pergi ke kantor. Hasbi sendiri sibuk dengan laptopnya, sesuai janjinya pagi ini akan mengantar sang istri.


Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Mereka terlihat begitu menikmati sarapan.


"Tumben Mama buat sambal dua macam, biasanya cuma satu," ucap papa Edo sambil melihat menu pagi ini.


"Itu bukan mama yang buat, Pa. Itu buatan Dira, Mama cuma goreng ikannya saja."


"Oh, ya!" Papa Edo pun mencicipinya. "Sambal buatan kamu enak, Dira. Kapan-kapan buat lagi ya!" pinta Papa Edo.


Mama Liana menatap sang suami sambil memukul lengannya pelan. "Papa ini malah ngerepotin menantunya. Dira ini 'kan juga kerja. Mama maunya dia istirahat, kenapa sekarang malah Papa suruh masak."


"Eh, iya! Maafin Papa ya," ucap Papa Edo yang merasa bersalah.


"Nggak pa-pa, Ma, Pa. Justru aku senang ada kegiatan, nggak cuma tidur aja di kamar. Lagian masih pagi juga dan aku nggak ada kerjaan."


"Iya, Mas. Aku tahu keadaan tubuhku kok!" sahutnya sambil tersenyum.


Hati Dira menghangat mendapat perhatian dari sang suami. Dia merasa berada di tengah-tengah mereka, bayangan mertua jahat serta suami yang selalu membela mamanya lenyap begitu saja. Kalau mertuanya sebaik Mama Liana, Dira juga tidak keberatan jika sang suami lebih membela mertuanya. Itu juga merupakan bakti seorang anak.


Mereka pun makan dengan tenang. Setelah itu Hasbi mengantar istrinya pergi bekerja. Jarak antara rumah dan tempat kerja Dira kebetulan tidak terlalu jauh jadi, tidak perlu takut terlambat.


"Kamu pulangnya jam berapa? Biar nanti aku jemput," tanya Hasbi saat keduanya dalam perjalanan.


"Biasanya sore setelah ashar. Nanti aku kirim pesan saja, aku tidak tahu hari ini ada lembur atau tidak."

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu nanti kamu kabari saja."


Begitu sampai di tempat kerja Dira, Hasbi turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk sang istri. Wanita itu pun keluar dengan sedikit canggung sekaligus malu kepada teman-temannya. Sekarang dia harus terbiasa dengan keadaan seperti itu, bagaimanapun juga Hasbi adalah suaminya. Beberapa orang yang ada di sana juga memperhatikan keduanya.


Semua orang tahu jika Dira sudah menikah, hanya saja ada beberapa yang tidak tahu bagaimana rupa dari suami teman kerjanya itu. Mereka cukup kagum dengan wajah Hasbi yang terlihat begitu berwibawa. Mengingat beberapa berita mengenai pernikahan Dira yang tidak mengenakkan, mereka pikir rekannya tidak bahagia. Namun, saat melihat keduanya seromantis itu, rasanya tidak mungkin jika tidak ada cinta di hati mereka masing-masing.


Apakah mungkin sikap yang mereka tunjukkan hanyalah sebuah pencitraan seperti yang selama ini mereka lihat pada pasangan terkenal. Rasanya tidak mungkin, apalagi saat melihat wajah keduanya yang terlihat begitu bersinar.


"Terima kasih sudah mengantar, Mas. Aku masuk dulu," pamit Dira.


"Iya, hati-hati."


Dira mengulurkan tangan agar bisa mencium punggung tangan sang suami. Hasbi yang mengerti pun segera mengulurkan tangannya. Sungguh hati pria itu menghangat mendapat perlakuan demikian. Dia jadi enggan untuk berjauhan dengan istrinya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Dira segera masuk ke dalam perusahaan. Hasbi memandanginya hingga sang istri tidak terlihat. Pria itu pun segera masuk dalam mobil dan meninggalkan gedung perusahaan tempat sang istri bekerja.


Sementara itu, Dira yang baru sampai di tempatnya mendapat perhatian dari semua temannya. Mereka semua berkeliling di depan mejanya, membuat wanita itu mengerutkan keningnya.


"Ada apa? Kenapa kalian ngelihatin aku kayak gitu? Apa ada yang aneh dengan penampilanku?" tanya Dira sambil memperhatikan dirinya sendiri. Dia merasa penampilannya biasa saja seperti kemarin, tetapi kenapa semua orang menatapnya seperti itu.


"Kenapa kamu nggak bilang kalau suamimu begitu tampan? Aku sangat iri melihatnya."

__ADS_1


Dira mengerutkan keningnya karena merasa heran dengan sikap mereka. Dia pun melihat temannya satu persatu. "Dari mana kalian tahu? Bukannya kalian tidak ada yang datang ke acara nikahanku? Dari tadi juga kalian ada di ruangan ini."


__ADS_2