
"Bukan kamu saja yang beruntung memiliki kakak ipar seperti Asha. Kakak juga sangat beruntung memiliki istri sebaik dia. Dulu dia selalu melakukan tugas seorang istri dengan baik meskipun kakak tidak pernah melakukan tugas seorang suami. Jika mengingat hal itu Kakak jadi merasa sangat bersalah padanya. Kakak harap kamu jangan pernah melakukan kesalahan itu. Apa pun nanti bentuk suamimu dan sikapnya, kamu harus tetap menghargai dan menghormatinya. Yakinlah, kalau memang suamimu orang baik pasti juga akan memperlakukan kamu dengan baik. Walaupun tidak juga kamu harus berusaha untuk melunakkan hatinya," ujar Aji menasihati adiknya.
"Terima kasih nasehatnya, Kak. Aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik," sahut Dira dengan tersenyum.
"Tapi ingat! Jangan terlalu dipaksa, lakukan sesuai kemampuanmu."
Dalam dekapan sang kakak, Dira menganggukkan kepala. Saat bersama dengan keluarga, memanglah hal yang paling membahagiakan. Apalagi saat bisa mencurahkan apa yang menjadi kegundahan dalam hati. Gadis itu mengurai pelukannya dan menatap kakaknya.
"Kak, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Tanya saja. Memang ada apa?"
"Apa yang laki-laki sukai dan apa yang tidak agar aku nanti tidak membuat kesalahan."
Aji terkekeh sambil mengusap rambut adiknya. "Kamu ini ada-ada saja. Setiap orang pasti memiliki karakter dan kepribadian masing-masing, tidak bisa disamakan. Apalagi Kakak juga tidak tahu bagaimana kepribadian calon suamimu, bagaimana bisa Kakak memberimu saran? Lebih baik saat ini kamu fokus saja untuk berusaha menjadi istri yang baik, jangan terlalu banyak yang dipikirkan. Pelajari semuanya secara perlahan, seiring berjalannya waktu kamu akan terbiasa dengan sikap dan sifat suamimu."
Dira mencebikkan bibirnya karena tidak mendapatkan jawaban dari kakaknya. "Sepertinya aku harus banyak belajar dari Kak Asha. Nanti sajalah aku bicara dengan dia, bicara sama Kakak percuma saja, pasti Kakak akan membela kaum laki-laki," sahut Dira yang kemudian menetap ke depan, membuat Aji menggelengkan kepala.
Jawabannya tidak ada masalah lalu, kenapa adiknya malah berkata demikian, tetapi Aji tidak ambil pusing, yang penting sekarang dia bisa melihat wajah adiknya lebih ceria itu sudah cukup.
Dua hari telah berlalu, Dira harus kembali ke tempat tinggalnya selama ini untuk kembali bekerja. Masa cutinya sudah habis. Untuk rencana pernikahan, dia serahkan semua kepada mama dan kakak iparnya. Komunikasi dirinya dan Hasbi juga sudah mulai terjalin. Meskipun hanya sampai bertukar pesan saja.
__ADS_1
Tadinya Papa Harto mengirim seseorang untuk menemani putrinya. Namun, Dira menolak karena memang selama ini dirinya juga sudah terbiasa di luar negeri seorang diri. Tempat tinggalnya juga aman jadi tidak perlu seseorang untuk menemaninya lagi. Di sana juga sudah ada bodyguard yang dikirim papanya dulu yang sampai saat ini masih bekerja dengannya.
Sebelumnya Papa Harto juga sudah membujuk Dira agar berhenti bekerja saja agar bisa mengistirahatkan tubuhnya, sekaligus ikut menyiapkan pesta. Namun, gadis itu menolak karena dirinya masih nyaman dengan apa yang dilakukan. Lagi pula pekerjaan yang didapat kini juga memang sudah menjadi keinginannya dan mendapatkan pekerjaan itu juga tidak mudah. Bagaimana mungkin dia harus menyerah begitu saja.
Mungkin nanti ada saatnya dia akan berhenti, tetapi tidak untuk saat ini. Apalagi nanti setelah menikah dia juga ikut sang suami yang juga satu negara.
Pesawat yang ditumpangi Dira telah sampai di tempat yang dituju. Saat gadis itu keluar, dia bisa melihat keberadaan Hasbi di sana. Hal tersebut cukup membuatnya terkejut. Namun, berusaha untuk terlihat sesantai mungkin.
"Hai," sapa Dira canggung.
"Hai juga."
"Kamu nungguin aku?" tanya Dira sambil melihat ke kiri ke kanan, takutnya pria itu menunggu orang lain. Barangkali ada saudaranya yang datang juga.
Jantung Dira berdetak tidak beraturan, tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari seorang pria yang baru dikenalnya. Mereka memang belum dekat satu sama lain, hanya sebatas berkirim pesan untuk menanyakan kabar dan pesta. Selebihnya tidak pernah membahas hal yang lain.
Gadis itu melihat ke kiri dan ke kanan, mencoba untuk menyembunyikan rasa gugupnya, tetapi tetap saja Hasbi bisa melihat hal tersebut. Pria itu mengerti dan hanya bisa mengulum senyum.
"Ayo, aku antar kamu ke tempat tinggalmu! Agar nanti saat aku ada perlu denganmu, aku bisa langsung datang."
Dira hanya mengangguk saja karena pasti kedepannya mereka akan sering bertemu, secara langsung maupun lewat sambungan telepon. Keduanya berjalan beriringan menuju mobil Hasbi yang terparkir di depan.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan keduanya masih diam, sama-sama tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Sesekali mereka juga saling lirik, sungguh keadaan yang membuat suasana tidak nyaman, tetapi mereka harus mulai membiasakannya. Kedepannya mereka pasti akan selalu bertemu.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Hasbi memulai pembicaraan.
"Tanya saja. Selama itu tidak mengganggu, aku akan menjawabnya.
"Kenapa kamu menerima lamaranku begitu saja? Padahal tadinya aku mengira kamu akan menolakku."
"Tadinya aku juga ingin melakukan hal itu, tapi aku tidak tega melihat keadaan papa dan mama. Kalau aku menolak, pasti mereka harus bekerja keras untuk mencari alasan yang tepat dengan cara yang halus. Aku juga yakin itu pasti tidak akan mudah karena memang di sini akulah yang salah. Aku tidak mungkin membuat kedua orang tuaku menyelesaikan masalahku di usiaku yang seperti ini. Aku bukan anak kecil lagi yang harus menyusahkan orang tua dengan masalah yang sudah aku perbuat."
Hasbi menganggukkan kepala. Tadinya dia pikir Dira akan menjawab jika menerima lamaran tersebut karena tertarik dengannya, tetapi ternyata tidak. Mungkin karena pria itu terlalu percaya diri.
"Kamu sendiri kenapa mau melamar aku? Padahal kita tidak saling kenal," tanya Dira balik.
"Entahlah, saat melihat kamu datang dan mengaku hamil anakku, tiba-tiba saja jantungku berdetak tak beraturan. Aku tidak tahu itu karena terkejut atau karena hal yang lainnya, tapi saat melihatmu ada perasaan bahwa sebenarnya kamu memang wanita yang baik. Hanya saja saat itu keadaannya memang mendesak saja. Ternyata apa yang aku pikirkan benar, kamu memang wanita yang baik. Demi sahabatmu, sampai kamu rela melakukan hal itu. Bahkan sampai detik ini pun hubunganmu dengan dia masih baik-baik saja. Tadinya aku mengira persahabatan kalian akan berakhir."
"Devi tidak melakukan kesalahan. Semua murni aku yang memiliki ide, mana mungkin aku menjauhi Devi. Devi juga sudah meminta maaf kepadaku, juga kedua orang tuanya. Hanya saja aku sadar diri karena memang aku yang bersalah."
"Kamu dekat juga dengan keluarga Devi?" tanya Hasbi yang menolehkan kepalanya sekilas dan kembali melihat depan.
"Selama aku di sini hanya keluarga Devi dan juga Angel yang dekat, yang lainnya tidak ada."
__ADS_1
Keduanya pun kembali terdiam hingga akhirnya mobil pun berhenti di depan rumah minimalis. Tempatnya begitu asri, hingga membuat siapa pun penghuninya pasti akan merasa nyaman. Hasbi dibuat terkagum dengan suasana halaman rumah. Pasti semua tanaman dijaga dengan baik.