
Malam ini Asha tidak bisa tidur. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Namun, tidak mau berburuk sangka dulu, wanita itu berusaha untuk menenangkan dirinya, sungguh sangat sulit untuk dilakukan. Asha memutuskan untuk melakukan shalat sunnah agar hatinya merasa tenang.
Segala doa dia panjatkan, bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk sang putra dan juga pria yang selama ini selalu ada di dalam hatinya. Tidak sedikit pun tempatnya tergeserkan oleh orang lain, padahal banyak pria yang mendekatinya. Bahkan ada pula yang datang melamarnya. Namun, semuanya ditolak oleh Asha dengan alasan jika dirinya masih seorang Istri, padahal sudah jelas-jelas Aji sudah memberinya talak sebelum pergi hari itu.
Di sebuah hotel Aji pun tidak bisa tidur. Entah kenapa sedari tadi dia selalu kepikiran dengan anak yang ditemui tadi siang. Dirinya merasa jika anak itu sangat mirip dengan Asha. Apakah mungkin jika anak itu memang benar-benar anak istrinya, tetapi rasanya sangat tidak mungkin mengingat gadis yang Aji tolong memanggilnya bukan dengan nama Khairi. Anak itu juga memanggil Gadis itu kakak.
Kemarin dia terburu-buru untuk pergi ke tempat proyek jadi, tidak banyak bertanya mengenai mereka. Pria itu memutuskan besok akan pergi ke sekolah itu. Meskipun anak itu bukanlah anak Asha, yang penting bisa bertemu dengannya. Itu saja bisa mengobati rasa rindunya pada anak yang sudah terpisah darinya lima tahun yang lalu.
***
Seperti keinginannya semalam, pagi ini Aji datang ke sebuah taman kanak-kanak. Dia ingin bertemu dengan anak yang kemarin ditemui. Saat pria itu memasuki gerbang sekolah, ada beberapa anak berlarian di taman, ada pula yang bermain di tempat permainan karena memang saat ini sudah waktunya istirahat. Aji mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan anak itu.
Namun, dia tidak melihatnya. Tiba-tiba saja anak-anak berkerumun di tengah taman, terlihat seperti mereka sedang berkelahi. Ada dua orang guru yang berlari untuk melerai mereka. Aji yang penasaran pun juga ikut ke sana dan mendekat. Alangkah terkejutnya ternyata anak yang dia cari ternyata pelaku dari perkelahian itu.
Terlihat wajah anak itu memerah karena marah. Kedua tangannya pun mengepel di kedua sisi tubuhnya. Aji bisa melihat jika anak itu benar-benar dalam keadaan emosi yang tinggi. Seorang guru meminta anak itu untuk meminta maaf. Namun, anak itu dengan tugas menolak karena merasa tidak bersalah.
__ADS_1
"Nak, tidak boleh seperti itu, kamu harus minta maaf. Kamu 'kan sudah memukul temanmu, bukankah sesama teman harus saling minta maaf jika salah? Ayo, minta maaf! Ibu temani," ucap seorang guru dengan tersenyum.
"Aku tidak mau! Aku tidak salah, dia yang salah! Sudah jelek-jelekin mama," tolak Khairi dengan tegas.
Berbagai upaya dan bujuk rayu dilakukan oleh guru. Namun, Khairi tetap pada pendiriannya, tidak mau meminta maaf. Aji begitu kagum pada anak itu karena memiliki pendirian yang tegas. Dia yakin jika sebelumnya pasti telah terjadi percekcokan di antara keduanya, hingga membuat anak itu begitu marah seperti itu.
Aji yang penasaran pun segera mendekat dan bertanya pada seorang guru. "Maaf, Bu. Ini ada apa, ya? Kenapa rame-rame?"
"Oh, maaf, Pak. Murid kami tadi sedang berkelahi, biasa anak-anak seperti itu. Bapak sendiri siapa? Saya baru melihat Anda. Apa Anda salah satu wali murid yang ada di sini?"
"Anda kenal dengan Khairi?" tanya guru itu, seketika membuat tubuh Aji mematung.
Nama itu, nama yang selama ini sangat dia rindukan dan selalu ada dalam setiap doanya. Pandangan Aji pun tertuju pada anak yang menurut gurunya itu bernama Khairi. Ternyata apa yang menjadi pikirannya semalam benar-benar telah terjadi. Anak yang ada di depannya memanglah bernama Khairi. Namun, belum tentu juga jika anak itu adalah anak Asha, bisa jadi hanya nama saja yang sama.
Aji harus mencari tahu segala sesuatunya. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan yang ada, semoga kali ini benar-benar bisa menemukan Asha dan putranya. Sudah lima tahun dia mencari selama ini dan belum membuahkan hasil. Sekarang semua ada di depan mata, semoga benar-benar seperti keinginannya.
__ADS_1
"Pak, Anda kenal dengan Khairi?" tanya guru itu lagi, seketika membuat Aji tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah guru tadi. Dia mengangguk pelan tanpa mengucapkan satu kata pun.
"Bapak mungkin bisa membantu kami untuk membujuk Khairi agar mau meminta maaf pada temannya. Bagaimanapun juga mereka masih anak-anak, wajar jika ada kesalahpahaman sedikit."
Guru itu mencoba untuk berbicara kepada Aji, berharap pria itu mau mengerti keadaan anak-anak saat ini. Apalagi akhir-akhir ini Khairi juga sering berkelahi dengan temannya. Bukan maksud guru untuk membela salah satu dari mereka, hanya saja sepertinya sekarang Khairi punya kesabaran yang sangat tipis. Padahal sebelumnya anak itu sangat baik pada siapa pun.
Pihak sekolah juga sudah pernah berbicara dengan kakaknya yang sering menjemput untuk berbicara dari hati ke hati, tetapi sepertinya itu tidak berpengaruh. Meskipun begitu, Khairi tetaplah anak yang pandai dan sopan pada gurunya. Hanya saja interaksi dengan temannya yang semakin buruk.
"Mohon maaf, Bu. Kita belum mengetahui bagaimana kejadian yang sebenarnya. Bagaimana bisa Ibu meminta dia untuk meminta maaf, seharusnya Anda tanyakan dulu apa yang terjadi dan kenapa mereka bisa sampai bertengkar. Bukan meminta Khairi untuk meminta maaf lebih dulu. Jika Anda meminta Khairi untuk minta maaf, anak ini juga harus minta maaf karena keduanya sama-sama salah, sudah bertengkar dan kita tidak tahu siapa yang memulai," tukas Aji yang tidak suka jika Khairi disalahkan. Meskipun dia juga tidak tahu kejadian yang sebenarnya.
"Tapi, Pak, akhir-akhir ini Khairi sering bertengkar dengan teman lainnya dan dia tidak pernah mau untuk meminta maaf."
"Dia tidak mau meminta maaf bukan berarti dia bersalah. Saya yakin Khairi akan meminta maaf jika dia memang benar-benar bersalah telah melukai temannya," sahut Aji dengan begitu yakin.
Entah kenapa Aji bisa berkata demikian. Padahal dia tidak mengenal Khairi sama sekali, ini pun untuk kedua kalinya mereka bertemu. Namun, dalam hati pria itu meyakini hal tersebut. Meskipun nanti penilaiannya salah, Aji tidak akan menyesal karena apa yang dia katakan memang benar.
__ADS_1
Khairi merasa terharu saat mendengar ada orang yang membelanya. Dia merasa bahagia, padahal tidak tahu siapa laki-laki itu. Hatinya menghangat, terasa seperti ada seorang ayah yang membelanya karena selama ini hanya mama saja yang selalu ada untuknya.