Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
30. Tidak mau berpisah


__ADS_3

“Pa, nggak mungkin. Aku nggak mau berpisah dengan Asha dan anakku,” tolak Aji dengan keras, membuat sang istri menatapnya dengan tidak percaya.


Selama ini dia mengira jika pria itu tidak mau bersamanya dan ingin segera lepas, tetapi saat sekarang ada kesempatan, kenapa Aji menolak? Bukankah seharusnya dia senang.


Mama Tia yang melihat pun menjadi geram, dia tidak mau putranya bersama dengan seorang wanita seperti Asha. Tia memikirkan sesuatu. “Nggak bisa, Aji. Kamu mau mem— Akh!” teriak Tia sambil memegangi dadanya dan meringis kesakitan. Bahkan wanita itu kini terduduk ke lantai yang dingin.


“Mama!”


Aji hendak meraih sang ibu, tapi Tia mengangkat tangannya agar Aji tidak mendekat dan menyentuhnya.


“Kalau kamu nggak mau Mama mati, ceraikan dia sekarang juga!” ujar Tia.


Aji hendak berbicara untuk menolak, tapi Tia kembali merintih dan semakin keras saja. Pria itu semakin merasa bersalah, satu sisi dia mulai dekat dengan Asha dan bayinya, tidak ingin berpisah dengan mereka. Namun, melihat keadaan mamanya yang seperti ini, Aji tidak mungkin mengabaikannya.


Akhirnya, dengan berat hati, Aji menjatuhkan talak untuk Asha di depan kedua orang tuanya dan orang tua Asha. Hatinya sakit saat kata-kata itu keluar dari mulutnya, tapi Aji sangat takut jika mamanya sakit semakin parah. Apalagi terakhir kali dokter sudah memperingatkan dirinya.

__ADS_1


Asha merasa sedih dengan kata talak yang dijatuhkan oleh Aji. Hal ini memang sudah wanita itu perkirakan, tetapi tetap saja rasanya sakit saat menghadapinya secara langsung. Namun, dia harus sadar diri. Tidak mungkin dia mengharapkan banyak hal dari sang suami yang tidak mencintainya.


Sementara pernikahan mereka pun telah melalui kesepakatan meski dua tahun belumlah terlewati, hanya setengahnya saja. Asha harus terima dengan status dirinya kini, meski dulu pernah berharap jika pernikahan mereka akan bertahan selamanya, satu kali seumur hidup. Namun, dia harus sadar jika kesalahannya ini tidak mudah untuk dimaafkan.


Akhirnya Roni dan Nisa membawa Asha untuk pulang, mereka membantu membereskan barang-barang yang bisa mereka ambil. Tia mengatakan jika mereka akan mengurus semua barang yang tersisa dan mengantarkannya ke tempat tinggal Roni dan Nisa secepatnya.


Sekali lagi Roni dan Nisa meminta maaf karena sudah mengecewakan besannya. Padahal hubungan mereka sangat baik, tetapi Asha telah menghancurkan semuanya. Jika saja putrinya mengatakan sudah memiliki kekasih dan ingin menikahinya, Roni dan Nisa pun tidak akan memaksa.


Asha tidak sempat berpamitan dengan baik karena saat keluar dari kamarnya, Aji dan kedua orang tuanya sudah tidak ada. Dengan berat hati, wanita itu menyeret langkah kakinya dengan menggendong anaknya serta. Semua memori indah yang terjadi di apartemen ini terlintas begitu saja di kepalanya. Meski sang suami terus menolaknya dan tidak memperlakukannya dengan baik, dia tidak mempermasalahkan.


Akan tetapi, Asha sangat sedih akan meninggalkan tempat yang sudah beberapa bulan ini menjadi tempatnya berteduh, menjadi tempatnya menenangkan diri, dan menjadi tempat memupuk perasaan kepada Aji. Kini semuanya harus kandas begitu saja. Rumah tangganya hancur karena ulahnya sendiri, Asha akui ini memang kesalahannya dan dia tidak pernah menyalahkan takdirnya. Justru wanita itu bersyukur bisa mengenal laki-laki sebaik Aji.


Roni membukakan pintu mobil belakang agar Asha segera masuk, sementara Bik Ika memasukkan semua barang-barang ke bagian belakang mobil mereka. Mama Nisa masuk lebih dulu dan duduk di depan.


Perjalanan seakan menjadi lebih panjang daripada biasanya. Asha kini hanya terdiam menatap wajah mungil sang anak yang baru saja berusia satu minggu. Tangis tak terbendung lagi untuk Asha, menciumi kening sang putra yang kini masih tertidur dengan lelap. Untung saja bayi itu tidur, jadi tidak mengganggu orang tuanya yang saat ini masih marah

__ADS_1


‘Maafin Mama, Sayang. Maaf karena kamu nggak bisa mendapatkan kasih sayang lengkap seperti yang lainnya. Padahal selama ini Mama sudah sangat berusaha, tetapi akhirnya harus gagal juga,’ batin Asha sedih.


“Papa nggak nyangka dengan kelakuan kamu selama ini, Asha! Kamu sudah bikin kami kecewa, kamu sudah bikin kami malu di hadapan Tia dan Harto! Apa yang kamu pikirkan selama ini, ha! Kalau kamu sudah melakukannya dengan orang lain, kenapa kamu setuju untuk menikah dengan Aji?” ujar Roni marah sambil memukul kemudinya dengan kasar.


Asha yang ada di kursi belakang bersama dengan Bik Ika hanya bisa menangis. Di saat yang seperti ini dirinya butuh seseorang yang bisa menenangkannya, butuh seseorang yang bisa mendengar keluh kesahnya. Apakah mungkin ayah dan ibunya kini bisa mengerti apa yang terjadi? Rasanya sangat sulit saat semuanya sedang dikuasai emosi.


“Lebih baik anak itu dititipkan ke panti asuhan! Membuat malu saja!” Asha terkejut mendengar ucapan papanya dengan tanpa bertanya padanya terlebih dahulu. “Papa nggak mau anak haram itu besar di keluarga kita. Jika ada yang bertanya, kita katakan saja dengan yang lain, anak ini sudah mati!” ujar Toni.


Asha menggelengkan kepalanya, dia sangat tidak setuju dengan keputusan sepihak itu. Bayi itu adalah darah dagingnya, masih teringat jelas saat dirinya berusaha melahirkan bayi itu ke dunia dengan taruhan nyawa. Segala usaha wanita itu lakukan agar putranya lahir dengan sehat dan sempurna. Sekarang saat sudah berada di dunia, sang papa seenaknya saja mau memisahkan mereka.


Asha tidak akan mau mrlakukannya. Dia masih bisa menahan sakit hati saat dipaksa harus berpisah dengan Aji, tetapi tidak kali ini dengan putranya. Khairi adalah hidup dan masa depannya. Asha tidak bisa berpisah dengan bayinya.


“Nggak, Pa. Aku nggak mau.” Tolak Asha seraya memeluk putranya dengan erat.


Roni mengusap wajahnya dengan kasar, melirik pada sang putri dari spion di depannya. Namun, air mata yang keluar dari mata sembab putrinya tidak membuat laki-laki paruh baya itu menjadi luluh hatinya. Hatinya sudah terlanjur sakit. Rasa bencinya pada bayi itu juga sudah menguasai hati dan pikirannya.

__ADS_1


“Keputusan kami sudah bulat, Asha. Kamu nggak bisa membawa anak itu ke dalam keluarga kita!”


“Ma—“ Asha mencoba untuk mendapatkan simpati dari sang ibu, tapi apa yang dia dapatkan hanya ucapan pasrah seorang Nisa yang sangat menghormati setiap keputusan yang suaminya berikan. “Apa Mama tega lihat cucu Mama sendiri jauh dari ibunya? Apa Mama tega cucu Mama tinggal di tempat lain yang kita nggak tau bagaimana di sana?” ujar Asha penuh harap. Dia sangat berharap jika sang ibu akan membujuk ayahnya dan membatalkan keputusan itu.


__ADS_2