Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
46. Tidak sengaja


__ADS_3

"Kenapa cucu Oma menolak pergi ke sekolah? Apa ada masalah di sekolah?" tanya Bik Ika. Namun, Khairi masih tetap pada posisinya mempertahankan keadaannya yang sedang memejamkan mata. Wanita paruh baya itu mengerti dan kembali bersuara, "Mama kamu sudah keluar dari kamar, sekarang kamu cerita sama nenek. Apa yang sebenarnya terjadi?"


Khairi pun membuka selimutnya dengan perlahan dan menatap neneknya dengan pandangan sedih. Dari kemarin dia ingin bercerita. Namun, selalu tertahan karena takut membuat mamanya sedih. Biasanya anak itu akan cerita pada Tiara apa yang dirasakan, tetapi akhir-akhir ini gadis itu sibuk dengan kuliahnya.


"Bulan depan kata bu guru, sekolah akan mengadakan rekreasi, Nek. Semua teman-teman mau ngajak papa dan mamanya. Aku mau ikut, tapi papa tidak ada. Pasti nanti teman-teman akan mengejekku karena hanya pergi sama mama. Aku mau cari Papa, Nek. Di mana sekarang papa tinggal, biar aku yang jemput papa. Nanti papa nggak perlu kerja jauh-jauh, di sini saja. Bisa 'kan pergi ke sawah bantu Pak lurah atau kerja di pasar seperti ayahnya Adit. Nenek tahu 'kan di mana papa sekarang? Aku ingin bertemu dengan papa sekarang," ujar Khairi dengan air mata yang menetes.


Selama ini anak itu selalu saja menyimpan perasaannya sendiri, tidak mau membuat Asha sedih, apalagi sampai menangis. Sudah banyak sekali yang wanita itu korban, bahkan Bik Ika saja tidak berani bertanya mengenai hal-hal yang menyinggungnya. Namun, kini ada hati anak yang merasa rindu dengan ayahnya. Dia bisa merasakan betapa besar kesedihan yang dirasakan Khairi.


Kali ini Bik Ika hanya bisa memeluknya tanpa banyak berkata. Air matanya pun ikut menetes mewakili hatinya yang juga merasa sakit. Andai saja dulu Asha tidak ditalak oleh suaminya, pasti saat ini anak itu bisa hidup normal seperti yang lain meski tanpa kasih sayang, seperti Asha dulu.


"Nenek juga tidak tahu, Nak. Kita doakan saja supaya papa nanti pulang, biar bisa pergi rekreasi sama Khairi," ujar Bik Ika mencoba untuk menenangkan cucunya.


"Aku nggak mau nunggu lagi, Nek. Aku maunya sekarang kenapa, lapa nggak boleh pergi jauh-jauh. Mama juga sudah kerja, kenapa papa tidak bantu Mama saja."


Bik Ika sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya bisa menangis sambil memeluk di cucunya. Sebelumnya juga dia sudah mengingatkan Asha untuk menghubungi salah satu keluarga, tetapi wanita itu tetap pada pendiriannya. Bik Ika pun mengerti apa alasan wanita itu menutup segala akses komunikasi dengan keluarganya. Itu pasti karena tekanan keluarganya yang sebelumnya pernah terjadi.


Bik Ika juga tidak berhak terlalu mengatur kehidupan Asha yang juga berhak bahagia bersama dengan anaknya. Dia pun tidak rela jika Asha harus menitipkan Khairi di panti asuhan. Lima tahun mereka hidup bersama membuat wanita paruh baya itu sangat mencintai Khairi. Bik Ika akan melakukan apa pun demi kebahagiaan orang tang sudah dianggap anak dan cucunya.

__ADS_1


Sementara itu, dibalik pintu Asha menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar. Dia mendengar semua apa yang dikatakan putranya pada Bik Ika. Wanita itu pun merasa terluka dengan apa yang dirasakan oleh anaknya. Selama ini Asha pikir sang putra tidak akan membahas mengenai ayahnya.


Beberapa kali memang Khairi pernah bertanya tentang ayahnya dan dia mengatakan hal yang sama. Jika ayahnya pergi keluar kota untuk bekerja, tidak menyangka jika akhirnya harus berakhir seperti ini. Tidak ingin kehadirannya diketahui siapa pun, Asha melangkahkan kakinya meninggalkan kamar itu menuju taman belakang rumah.


Dia perlu menenangkan diri, dilihatnya ponsel yang masih menyala, tampak deretan nomor keluarganya yang selama ini masih tersimpan rapi di sana. Ada perasaan ingin menghubungi mereka. Namun, ada keraguan dalam hati Asha, hingga akhirnya wanita itu menggelengkan kepala dan mematikan ponselnya. Dia tidak ingin dipisahkan dengan Khairi, apa pun yang terjadi Asha akan tetap bertahan di tempat ini agar selalu bisa bersama dengan sang putra dan menjadi saksi perkembangan anak itu.


Sesulit apa pun jalannya nanti, akan dia hadapi seorang diri. Tidak peduli cibiran atau cemohon dari orang lain, yang ada dalam pikirannya hanyalah masa depan untuk sang putra. Mungkin sekarang sangat menyakitkan bagi Khairi, tetapi saat anaknya itu bisa berpikir, pasti akan mengerti kenapa dirinya melakukan semua ini.


***


"Pak, ini proposal yang anda inginkan," ucap Hana—sekretaris Aji yang juga ikut menangani proyek ini.


Aji pun tersadar dari lamunannya, dia segera meraih map itu dan meminta Hana untuk keluar lebih dulu. Pria ingin memeriksa segala sesuatunya agar tidak terlewat, tidak ingin apa yang sudah dipercayakan padanya hancur begitu saja. Apalagi ini proyek miliknya meskipun harganya tidak sebesar proyek lain, tetap saja Aji harus bertanggung jawab.


Setelah memastikan semuanya benar, Aji pun membawa berkas itu keluar dari ruangnya dan pergi menuju lokasi tempat proyek yang saat ini sedang berjalan. Terlalu terburu-buru membuat hampir saja dia menabrak seseorang yang sedang menyeberang. Untung saja pria itu segera mengerem mobilnya, hingga tidak sampai menabrak orang.


Aji segera turun dan untuk melihat apakah orang itu tidak apa-apa. "Maaf, Nona. Saya tidak sengaja, apa Anda tidak apa-apa?"

__ADS_1


"Oh iya, tidak apa-apa. Maaf saya juga terburu-buru menjemput adik saya jadi tidak terlalu memperhatikan sekitar."


"Syukurlah kalau tidak apa-apa, memang kamu mau menjemput adik kamu di mana?"


"Ada di taman kanak-kanak sebelah sana. Seharusnya aku sudah menjemputnya satu jam yang lalu, tapi karena di kampus tadi ada urusan sedikit jadi aku telat."


"Kalau begitu biar saya antarkan," tawar Aji yang merasa bersalah pada gadis itu.


"Tidak perlu, saya merasa terlalu merepotkan Anda."


"Tidak apa-apa, anggap saja ini sebagai permintaan maaf saya pada Anda."


Merasa dirinya sedangkan buru-buru dan tidak ada waktu lagi, akhirnya wanita itu pun mengangguk. Aji mengantarkannya ke tempat taman kanak-kanak yang sebelumnya sudah disebutkan. Begitu sampai di sana wanita itu segera turun dan mencari keberadaan adiknya, hingga tatapannya tertuju pada seorang anak yang sedang menunggu di pos satpam.


"Tole!" panggil wanita tadi dengan sedikit berteriak.


"Kakak!"

__ADS_1


__ADS_2