Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
58. Suami Asha


__ADS_3

"Begini, Bu Asha, saya mendapatkan laporan dari para warga, kalau Anda telah memasukkan pria ke dalam rumah sejak kemarin. Bahkan semalam pria itu pulang larut malam, ada juga yang melapor jika Anda mesra-mesraan dengan pria itu. Kami hanya takut jika Anda melakukan hal yang tidak seharusnya dan itu akan membuat desa kami menjadi sial jadi, kami datang ke sini untuk mengkonfirmasi mengenai hal itu," ucap Pak lurah mewakili para warga yang ada di sana.


Asha tentu saja terkejut mendengar hal itu. Dia sangat tahu siapa yang dimaksud oleh warga desa. Namun, tuduhan itu sama sekali tidak disangka olehnya. Padahal dirinya dan Aji tidak melakukan apa pun, bagaimana bisa mereka berkata bahwa dia dan Aji bermesraan? Sungguh hal itu membuat dirinya sangat marah.


"Sudah, Pak lurah, tidak usah dibalik-baikin wanita seperti dia. Langsung usir saja dari desa ini! Kami tidak mau di desa kami ada wanita yang tidak benar!" teriak seorang ibu-ibu.


"Iya, itu sama saja memberikan contoh pada para gadis di desa ini. Kami tidak mau anak gadis kami ikut-ikutan seperti dia," timpal yang lain.


"Ibu-ibu, tolong tenang dulu, biarkan saya berbicara dengan Bu Asha."


Sebenarnya pak lurah kesal juga dengan sikap para warga. Sebagai seorang pemimpin, dia juga tidak boleh mengambil tindakan sesuka hati. Takutnya nanti salah mengambil keputusan dan akan mempengaruhi jabatannya. Sebagai seorang lurah dia hanya ingin warganya hidup tenang dan berdampingan.


"Bagaimana, Bu Asha? Apa Anda bisa menjelaskan semuanya?"


"Pak, saya sama sekali tidak melakukan apa pun seperti yang dituduhkan oleh para warga," jawab Asha yang langsung mendapat sanggahan dari warga.


"Jangan bohong! Kemarin saya lihat kamu dipeluk sama laki-laki ini!"


"Iya, benar. Saya juga melihatnya."


Asha ingin membantah, tetapi apa yang dikatakan warga itu memang benar. Dia bingung harus bagaimana membela diri. Aji yang melihat wajah bingung sang istri pun mulai angkat bicara.


"Pak, bolehkah saya berbicara?" tanya Aji pada pak lurah.

__ADS_1


"Oh iya, silakan. Anda laki-laki itu, kan? Anda juga harus menjelaskan yang sebenarnya, silakan!"


Aji pun menjawab pertanyaan para warga. Tanpa gentar dia menatap semua warga di sana, tampak sekali wibawa pria itu. Beberapa dari warga pun mengaguminya.


"Begini, Pak. Apa salah jika seorang suami memeluk istrinya? Apakah haram jika suami istri bermesra-mesraan? Kenapa harus menjadi masalah di desa ini?"


"Maksudnya apa, ya, Pak? Apakah Anda ini suami dari Ibu Asha?"


"Benar, Pak. Saya adalah suami dari Asha, bertahun-tahun saya bekerja di kota dan baru hari ini bisa berkumpul lagi dengan istri saya. Sebagai seorang suami, wajar 'kan kalau saya memeluk istri saya setelah sekian lama tidak bertemu?" tanyanya.


Semua warga diam, antara percaya dan tidak dengan apa yang dikatakan Aji. Semua orang memang tahu jika suami Asha pergi merantau, tetapi tidak pernah melihat wajahnya sama sekali jadi, wajar jika mereka ragu. Di rumah ini juga tidak ada satu pun foto pria itu.


"Apa buktinya jika Anda ini istri dari bu Asha? Anda bisa saja hanya mengaku-ngaku saja, kan?"


Aji pun mengangguk, ini yang memang dia tunggu dari tadi. "Baiklah, tunggu sebentar. Kebetulan buku nikah kami ada di mobil, saya ambil dulu."


Aji pun berjalan menuju mobilnya dan mengambil beberapa berkas yang ada di sana. Untunglah dia selalu membawa buku nikahnya ke mana pun, serta ada foto pernikahannya di sana, juga foto bersama saat Khairi baru lahir. Pria itu memang selalu membawanya. Jika Aji rindu, dia akan memeluk foto tersebut. Memang terdengar tidak masuk akal, tetapi itulah yang dilakukannya.


"Ini, Pak," ucap Aji sambil menyerahkan semua berkas yang dia miliki pada pak lurah.


Warga yang berada di samping pak lurah pun mendekat untuk melihat. Memang benar, di sana ada dua buku nikah beserta foto mereka. Para warga yang melihat itu pun jadi merasa bersalah karena menuduh Asha yang tidak tidak. Selama ini memang wanita itu terkenal di desa dan baru kali ini melakukan kesalahan, lebih tepatnya difitnah.


"Iya, benar, Pak. Mohon maafkan kami, nama Anda Aji, kan? Saya sebagai lurah di sini mohon maaf karena sudah menuduh Anda yang tidak-tidak. Padahal Anda pasti sudah sangat merindukan istri Anda," ucap pak lurah yang merasa tidak enak.

__ADS_1


"Iya, Pak. Tidak apa-apa, wajar kalau Anda curiga. Semua warga juga tidak mengenal saya. Memang ini pertama kalinya saya pulang."


"Tapi kenapa Anda semalam pulang, Pak Aji? Kenapa tidak menginap di rumah saja? Padahal Anda sudah lama tidak bertemu Bu Asha, pasti sangat merindukannya," tanya Pak lurah yang mulai kepo dengan urusan orang lain.


"Itu dia masalahnya, Pak. Istri saya sedang merajuk jadi saya perlu membujuknya," Jawab Aji dengan pelan, tapi masih bisa didengar oleh orang lain, termasuk Asha yang saat ini melotot ke arah pria itu.


"Kenapa istri Anda marah, Pak?"


"Kami 'kan sudah bertahun-tahun tidak bertemu jadi, dia merajuk karena saya tidak memberi kabar selama ini. Lagi pula saya 'kan juga harus menikah lagi dengan istri saya secara agama karena bagaimanapun kami sudah terlalu lama berpisah."


Pak lurah mengangguk dan menjawab, "Memang sebaiknya seperti itu, Pak. Apa perlu saya menyiapkan semuanya untuk Anda? Warga di sini juga pastinya tidak akan keberatan dengan hal itu."


Aji tersenyum mendengarnya, ternyata warga di sini cukup baik juga untuk diajak kerjasama. Dia akan sangat berterima kasih jika bisa kembali bersama Asha.


"Tentu saja saya mau, tapi tunggu saya melunakkan hati istri saya dulu. Nanti kalau semuanya sudah beres, saya akan menghubungi Anda," sahut Aji dengan tersenyum, berbeda dengan Asha yang saat ini sudah sangat kesal.


Pak lurah dan para warga pun meminta maaf pada Asha dan Aji. Mereka pun pulang kembali ke rumah masing-masing, sementara kini di rumah Asha sangat geram pada Aji yang sudah berkata tidak-tidak pada pak lurah dan warga di sini.


"Mas, kenapa berkata seperti itu? Bukankah hubungan kita sudah berakhir sejak lama? Kamu ...."


Belum selesai Asha melanjutkan perkataannya, Aji sudah mengangkat tangannya agar wanita itu menghentikan perkataannya. Dia melirik ke arah sang putra, tidak ingin anak itu mendengar apa yang orang tuanya bicarakan. Bagaimanapun ini urusan orang dewasa dan tidak ingin Khairi sedih mendengarnya.


"Bik, bisa ajak Khairi masuk sebentar!" pinta Aji pada Bik Ika yang segera diangguki wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2