
"Ma, mau aku buatkan teh?" tanya Asha pada sang mertua.
Sedari tadi Mama Tia menatap ke depan dengan pandangan kosong. Padahal Asha sudah mencoba untuk mengajaknya berbicara, tetapi sepertinya tidak berpengaruh sama sekali. Bahkan Mama Tia sama sekali tidak menghiraukan apa yang diucapkan oleh menantunya. Pikirannya saat ini semua tertuju pada Dira.
Asha sebenarnya tidak tega. Namun, wanita itu bisa apa jika memang sang papa mertua sudah mengambil keputusan. Apalagi semua ini terjadi juga karena kesalahan adik iparnya sendiri. Andai saja Dira bisa hati-hati dalam berpikir pasti semua ini tidak akan terjadi, tetapi kembali ini takdir mereka.
"Ma, jangan seperti ini. Mama juga harus juga kesehatan. Ingatlah masa depan Dira masih panjang, jangan buat papa dan Mas Aji semakin merasa bersalah. Aku yakin papa sebenarnya juga tidak mau seperti ini, tapi semuanya sudah terjadi. Aku yakin keputusan papa pasti sudah dipikirkan matang-matang. Mama juga pasti sudah mengenal papa luar dalam, Mama harus percaya pada papa," ucap Asha sambil menggenggam telapak tangan mertuanya.
Mama Tia pun menolehkan kepalanya dan menatap sang menantu. Benar apa yang dikatakan Asha, dia harus mulai menerima takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan. Dia hanya bisa berharap inilah yang terbaik untuk putrinya.
"Baiklah, sekarang kamu mau bantu Mama buat nyiapin acara lamaran besok, kan?" tanya Mama Tia dengan tersenyum paksa.
"Tentu, Ma. Bukankah aku di sini juga memang untuk membantu Mama?"
Keduanya pun mulai membicarakan beberapa hal untuk acara besok. Meskipun itu acara yang tidak diinginkan, tapi sebagai seorang pengusaha Papa Harto tidak mungkin menjamu tamu ala kadarnya. Apalagi ini lamaran untuk sang putri. Entah apa pun nanti yang terjadi dalam rumah tangga mereka, sebagai orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mudah-mudahan pria itu memang takdir dari Tuhan dan bisa memperlakukan Dira dengan baik.
Tidak berapa lama orang yang dimaksud oleh Papa Harto pun datang juga. Mama Tia dan Asha pun membahas semuanya dengan seksama agar tidak mengecewakan calon besan. Dira pun dimintai untuk ikut bergabung agar bisa menyampaikan keinginannya. Namun, gadis itu menolak dan lebih memilih berdiam diri di kamar.
Ini acara yang tidak diinginkan, mana mungkin dia bisa ikut bergabung merencanakannya. Biarlah keluarga saja yang mengatur, dia yakin pasti mereka sudah menyiapkan segala sesuatu.
__ADS_1
****
Hari yang dinantikan pun telah tiba. Ruang tamu rumah Papa Harto sudah di dekorasi sedemikian rupa. Kedua belah pihak memutuskan hanya keluarga inti saja yang datang. Namun Papa Harto tetap memberikan jamuan yang terbaik, bahkan pria itu juga memakai jasa catering.
Dira duduk didampingi oleh kedua orang tuanya. Sedari tadi gadis itu sudah mencoba untuk menahan air matanya. Sebelum dimake up dia sudah menumpahkan semuanya, tetapi tetap saja air mata itu masih ingin mengalir. Namun, peringatan dari papanya agar Dira tidak mempermalukan keluarga membuat gadis itu menahan perasaan sedihnya.
Mungkin memang ini sudah saatnya bagi gadis itu untuk berkorban demi keluarga. Dulu kakaknya juga menikah dengan Asha karena perjodohan. Buktinya sekarang mereka bisa bersatu dan bahagia meskipun sempat terjadi masalah. Dira sudah memutuskan untuk menerima semuanya dengan ikhlas. Dia yakin pasti ada kebaikan dibalik semua ini.
Acara dimulai dari pihak laki-laki yang meminta pada keluarga Dira agar gadis itu bisa menjadi bagian dari keluarga mereka. Hasbi juga menyampaikan permintaannya untuk melamar wanita yang tanpa sengaja tengah memasuki kehidupannya. Meskipun keduanya juga sampai sedikit ini tidak mengenal satu sama lain.
Papa Harto sebagai wali dari pihak wanita pun menjawab jika keluarga menerima lamaran ini. Pria itu sama sekali tidak bertanya pada putrinya karena tahu saat ini Dira sama sekali tidak bisa diajak bicara. Lagi pula keputusan juga sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat sama sekali. Papa Harto juga sudah mencari tahu tentang keluarga dari Hasbi.
Ternyata mereka orang-orang baik. Meskipun mereka tinggal di luar negeri dengan segala kebebasan yang ada, tetapi di keluarga mereka punya aturan sendiri. Harto pun sangat mengaguminya. Dia yakin Dira pasti akan bahagia berada di tengah-tengah keluarga mereka.
Aji dan Asha memilih menemani putranya yang sedang menikmati hidangan. Sedari tadi tangan pria itu tidak lepas menggenggam telapak tangan sang istri. Melihat acara adiknya jadi mengingatkan Aji tentang masa lalu dan juga kebodohannya. Asha yang mengerti pun memberi pengertian pada sang suami jika ini semua memang sudah takdir.
Tentu saja Aji tetap merasa sedih. Namun, dengan bujukan sang istri membuat senyum terukir di bibir pria itu. Lagi pula dia juga sudah berjanji tidak akan membuat kesalahan apa pun lagi di kemudian hari, malah dirinya berkeinginan membuat sang istri bahagia.
"Menurut kamu, apa dia pria baik?" tanya Asha.
__ADS_1
"Mudah-mudahan saja. Papa juga pasti sudah mencari tahu tentang dia," jawab Aji yang menatap ke arah adiknya.
***
Sementara itu, Dira sudah duduk berdampingan dengan Hasbi dan sudah berbaur dengan keluarga lain. Keduanya sudah merasa lapar, akhirnya Mama Tia lah yang meminta mereka bergabung.
"Terima kasih sudah mau menerimaku," bisik Hasbi yang hanya bisa didengar oleh Dira.
Seketika tubuh gadis itu menegang, dia tidak pernah sedekat ini dengan seorang pria. Tentu saja Dira gugup sekaligus takut. Dia hanya diam tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Hasbi, lebih fokus untuk mengendalikan dirinya agar tidak membuat kesalahan. Apalagi beberapa kerabat juga sesekali mencuri pandang ke arahnya.
Sementara itu, Hasbi tersenyum sambil melirik ke arah Dira. Ternyata calon istrinya malu-malu, tidak menyangka dirinya akan berjodoh dengan gadis seperti itu. Namun, dalam hati dia merasa senang. Daripada bersama dengan Devi yang ternyata sudah memiliki kekasih, lebih baik bersama dengan Dira.
Pria itu juga sudah mencari tahu banyak hal tentang gadis itu. Memang benar kata kedua orang tuanya, Dira lebih cocok untuk dijadikan seorang istri dan ibu untuk anak-anak kelak. Mengenai cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, tapi mencari seorang wanita yang layak sangatlah sulit. Beruntung sekarang dia mendapatkannya.
Hasbi mengeluarkan ponsel dan memberikannya pada Dira. Tentu saja hal tersebut membuat gadis itu bingung.
"Tulis nomor ponselmu di sini mungkin kedepannya aku akan menghubungimu untuk membahas rencana pernikahan kita nanti," ucap Hasbi yang akhirnya dimengerti oleh Dira.
Mau tidak mau gadis itu pun akhirnya menuliskan nomornya dan kembali menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya. Keduanya kembali melanjutkan makanannya.
__ADS_1
Para tetua sendiri sekarang sedang membahas kapan acara pernikahan akan berlangsung. Kedua pasangan calon pengantin menyerahkan semuanya pada kedua orang tua, terserah acaranya mau diadakan kapan. Dira dan Hasbi juga sudah ikhlas menerima semuanya.
Akhirnya hari pun sudah ditentukan, mereka akan menikah dalam satu bulan lagi. Pesta akan di langsungkan di negara ini, tentu saja semua yang mengurus adalah Papa Harto dan keluarga karena keluarga Hasbi juga harus kembali ke negaranya. Begitu juga dengan Dira yang harus kembali bekerja. Mungkin nanti satu minggu sebelum acara dia akan pulang.