Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
39. Aji berbicara dengan mertua


__ADS_3

"Apa Papa sudah mencarinya? Kira-kira ke mana dia pergi?" tanya Aji pada Papa Roni.


"Kami semua sudah mencarinya ke mana pun, bahkan ke rumah saudara, baik yang jauh maupun yang dekat. Namun, tidak ada satu pun diantara mereka yang mengetahui keberadaan Asha. Aku juga sudah meminta seorang detektif untuk mencarinya, tapi tetap saja belum menemukan petunjuk apa pun. Apalagi kamera CCTV di tempat Asha kabur sedang mati jadi, kita semua tidak tahu ke mana dia," jawab Papa Roni dengan lesu, dia juga sudah lelah dengan semua ini, tetapi keinginannya untuk mencari keberadaan sang putri tetaplah besar.


Aji mengusap wajahnya kasar. Dia sangat berharap bisa menemukan sang istri hari ini. Namun, kini harapannya hanya tinggal angan semata. Pria itu sangat berharap bisa bertemu dengan istrinya, tetapi kini semua harapannya hilang begitu saja. Andai saja Aji tidak mengusir istrinya saat itu, pasti semua tidak akan terjadi seperti ini. Sungguh dia sangat-sangat menyesal tidak bisa melindungi orang yang dicintainya dan juga menjadi tanggung jawabnya.


"Apa Papa sudah melaporkan hal ini ke kantor polisi?"


"Kami tidak bisa melakukan hal itu. Asha pergi dengan keinginannya sendiri, bagaimana bisa kami melaporkannya. Dia sendiri yang tidak ingin lagi bersama dengan keluarga ini. Semua memang karena Papa. Andai saja aku tidak meminta Asha untuk membawa anaknya ke panti asuhan, pasti dia tidak akan memilih pergi. Sebagai seorang ibu pasti dia lebih memilih anaknya daripada hal yang lain, tapi aku menutup mata karena aku berpikir Asha tidak akan membantah apa yang aku perintahkan, mengingat selama ini dia adalah anak yang patuh. Tidak pernah sekalipun membantah perintah kedua orang tua. Namun, sekarang keadaan yang memaksanya untuk berubah dan itu memang pilihan yang tepat bagi seorang ibu."


Mama Nisa yang melihat penyesalan sang suami pun segera mendekat dan mengusap punggung pria itu, berusaha memberi ketenangan padanya. Dia juga merasakan hal yang seperti suaminya rasakan. Sejak kecil dirinya memberi kasih sayang dan cinta sepenuhnya, kini harus berpisah dengan sang putri, entah sampai kapan.


"Sudahlah, Pa. Percuma juga meratapi semua yang sudah terjadi. Sekarang lebih baik kita berusaha untuk menemukan Asha, semoga saja dia dalam keadaan baik-baik saja," sela Mama Nisa.


Papa Roni mengangguk, Ketiga orang itu pun larut dalam keheningan yang terjadi. Mereka memikirkan langkah apa yang akan diambil setelah ini, tidak ingin kehilangan Asha, sebisa mungkin akan menemukan wanita itu bersama dengan anaknya. Terutama Aji yang sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi pada istrinya. Sungguh dia tidak menyangka semua ini akan terjadi.

__ADS_1


"Baiklah, aku juga akan berusaha untuk bisa menemukan Asha," ucap Aji membuat Papa Roni dan Mama Nisa menatapnya.


"Maaf, Nak Aji. Bukankah kamu sudah menjatuhkan talakmu pada Asha? Bagaimana dengan kedua orang tuamu nanti jika kamu masih saja peduli pada Asha?" tanya Mama Nisa.


Wanita itu senang karena Aji juga ikut membantu, tetapi dia juga tidak ingin nantinya akan mendapat masalah dengan mantan besannya dan akan menimbulkan salah paham yang baru. Mama Nisa sudah cukup malu dengan kelakuan putrinya, tidak ingin lagi melempar kotoran di wajah orang lain. Meskipun hubungan mereka sudah tidak baik, itu lebih baik daripada harus membuat malu lagi.


"Kedua orang tuaku sudah tahu, Ma. Mengenai perceraianku, aku memang sudah menjatuhkan talak pada Asha secara agama, tapi secara hukum dia masih sah istriku dan aku berniat ingin merujuknya kembali. Aku harap Papa dan Mama juga setuju dengan hal itu."


Lagi-lagi Papa Roni dan Mama Nisa hanya bisa diam dengan sorot mata yang penuh tanya. Mereka bingung harus menjawab apa dan berkata apa. Dia tahu Aji pasti lebih terluka daripada yang lainnya, tetapi kenapa justru pria itu yang ingin kembali dengan putrinya. Sungguh mulia sekali hatinya.


"Apa Nak Aji tidak malu memiliki istri seperti Asha? Khairi juga bukan anak kamu," ujar Mama Nisa dengan mata memerah menahan tangis.


"Sampai kapan pun Khairi tetaplah anakku. Dia lahir setelah kami menikah, berarti dia adalah Anakku. Sudah, Ma, tidak ada pembahasan mengenai hal itu. Baik di mata orang atau siapa pun Khairi tetaplah anakku, tidak akan ada yang bisa merubahnya. Bahkan dalam akta kelahirannya pun namaku yang tertera di sana. Mama jangan membicarakan hal itu lagi," sahut Aji dengan tegas.


Mama Nisa yang sudah sedari tadi menahan air mata, akhirnya tumpah juga. Dia menangis hingga sesenggukan, merasa tersanjung dengan apa yang Aji katakan. Orang yang selama ini dimanfaatkan oleh putrinya, ternyata begitu sangat baik dan dengan terbuka menerima semua yang dilakukan oleh putrinya.

__ADS_1


"Sekali lagi Mama mewakili Asha minta maaf sama kamu dan terima kasih sudah menerima Asha dan putranya. Kamu laki-laki yang baik, semoga kalian segera dipertemukan lagi dan bisa berbahagia bersama."


"Amin, memang itulah yang aku butuhkan saat ini, Ma. Doa dari Mama dan Papa agar aku segera menemukan istri dan anakku. Aku janji setelah aku menemukan mereka, aku akan menjaga dan mencintainya seumur hidupku. Hanya Asha yang ada di hatiku sekarang dan selamanya."


Siapa yang menyangka jika Aji akan benar-benar luluh dengan cinta yang Asha berikan selama ini. Padahal sebelumnya pria itu tetap kekeh tidak akan pernah mencintai sang istri. Wanita itu sudah memberikan warna tersendiri dalam hidupnya. Aji jadi mengerti arti dari cinta yang tulus tanpa mengharapkan imbalan.


Meskipun selama ini Asha telah memanfaatkan keberadaannya untuk putranya. Namun, dia tahu jika istrinya juga melakukan itu karena terpaksa, demi masa depan buat anaknya yang tidak ingin menjadi korban bully-an yang saat ini semakin merajalela. Bahkan korbannya bisa saja mengakhiri hidup karena tidak tahan dengan semua itu.


"Pa, bolehkah aku tahu di mana kejadian saat aja kabur dari Papa dan Mama?" tanya Aji sebelum pergi, dia juga perlu sedikit informasi kepergian sang istri.


Papa Roni dan mama Nisa pun menceritakan sedikit kejadian waktu itu, di mana mereka berhenti di tempat pengisian bahan bakar minyak. Saat itu tempatnya memang cukup ramai dan CCTV di area sana juga mati. Aji hanya mendengarkan semuanya dengan seksama, dia juga mengetahui tempat itu karena memang itu arah perjalanan ke apartemennya dulu.


"Aku tadi lihat ada pekerja baru, Ma. Apa Bik Ika masih bekerja di sini?"


"Bik Ika sudah berhenti setelah sebulan Asha pergi. Waktu itu Bibi sering sakit kepala karena keluarga tidak tega, keluarganya menjemput bibi ke sini dan membawanya pulang. Sebenarnya Mama juga berat, tetapi melihat keluarga yang merasa kasihan pada ibunya pun akhirnya Mama izinkan mereka membawa Bik Ika pulang."

__ADS_1


__ADS_2