Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
54. Di rumah Asha


__ADS_3

Aji menceritakan semua apa yang terjadi dengan Khairi di sekolah pada Asha. Wanita itu hanya mampu diam dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh pria di depannya. Dia tidak percaya dengan apa yang sudah dialami sang putra karena selama ini, anak itu tidak pernah bercerita apa pun mengenai kejadian di sekolah. Pantas saja jika disinggung soal kegiatan sekolah, Khairi sangat malas untuk bercerita. Berbeda saat di awal-awal anak itu sekolah yang terlihat begitu antusias menceritakan kegiatannya.


"Aku tidak memiliki maksud apa pun. Yang aku katakan memanglah kenyataan. Kalau kamu tidak percaya, silakan tanya para guru di sana, itu pun kalau mereka mau berkata jujur, kalau tidak aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku juga tidak tahu di sana ada kamera CCTV atau tidak," ujar Zaki dengan menatap wanita di depannya, yang saat ini hanya terdiam dengan pikirannya yang sedang kosong.


Asha menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan pelan. Sepertinya dia melewatkan banyak hal tentang perkembangan sang putra. Kali ini dirinya harus bertindak tegas, tidak ada yang boleh menyakiti putranya.


"Baiklah, terima kasih atas perhatiannya, tapi tetap saja sebaiknya kamu segera pergi dari sini. Biarlah untuk urusan anakku, aku yang akan mengurus semuanya," pungkas Asha yang tidak ingin Aji terlibat dalam kehidupannya lagi.


"Maaf, aku tidak bisa menuruti keinginanmu karena tadi aku sudah berjanji pada Khairi bahwa aku akan menemuinya." Aji segera berjalan memasuki rumah.


Meskipun Asha berusaha untuk menghalangi langkah Aji, tetapi dia tidak bisa mengalahkan tenaga yang dimiliki pria itu. Tentu saja hal tersebut membuat Aji senang kali ini. Dirinya tidak akan menyerah. Apa pun akan dia lakukan. Apalagi sekarang di sini ada Bik Ika, Aji juga perlu penjelasan dari wanita paruh baya itu, kenapa menyembunyikan keberadaan Asha selama ini. Padahal tahu bahwa keluarga Papa Roni sudah sangat berusaha mencarinya.


"Papa!" pekik Khairil yang segera memeluk Aji.


Hal itu tentu saja membuat pria itu senang karena tadi anaknya seperti ragu untuk mengakui dirinya sebagai papa, tetapi setelah bertemu dengan Asha, Khairi lebih leluasa mengungkapkan perasaannya. Dia mengerti pasti Khairi takut, apa dirinya benar-benar papanya atau hanya berpura-pura.


"Anak Papa lagi main apa?"


"Aku main Lego, tadinya mau main mobilan ini, tapi aku nggak tahu cara mainnya," jawab Khairi sambil menunjukkan mobil yang tadi dibelikan oleh Aji saat di perjalanan pulang.


"Sini, Papa coba dulu, nanti Papa ajarin kamu cara mainnya."

__ADS_1


Khairi mengangguk dengan begitu antusias. Hal itu membuat Aji merasa sedih karena melihat sang putra yang kurang perhatiannya selama ini karena itu, dia berjanji akan menebus semua rasa bersalahnya dengan memberikan waktu seutuhnya untuk Khairi. Sebenarnya Zaki ingin menghubungi kedua orang tua dan kedua mertuanya. Namun, saat dipikirkan kembali, dia tidak ingin mereka melakukan sesuatu yang nantinya malah akan membuat Asha dan Khairi ketakutan.


Lebih baik semua dia lakukan sendiri dengan perlahan, mengambil hati mereka dan memberi cinta yang tulus agar mereka mau kembali bersamanya dengan keinginannya sendiri. Sudah cukup pria itu melakukan kesalahan dulu, sekarang tidak lagi.


"Wah keren sekali!" seru Khairi sambil memainkan mobil remot yang ada di tangannya dengan menirukan cara Aji tadi.


Dulu anak itu hanya bisa bermimpi bisa memiliki mainan seperti ini. Dia selalu iri pada teman temannya yang sudah memilikinya lebih dulu. Setiap kali Khairi ingin meminjam, pasti berakhir dengan pertengkaran karena mereka enggan meminjamkannya, takut jika anak itu malah akan merusak mainannya. Sekarang dia sudah memilikinya sendiri, bahkan kali ini miliknya lebih canggih daripada milik teman-temannya.


Khairi bisa memperlihatkan pada semua orang, bahwa dia bisa punya mobil yang bagus. Bahkan sudah memiliki papa, papanya sudah pulang dari bekerja. Itulah kenapa dirinya sudah punya mainan, tadi Aji juga sudah menjanjikan akan membelikan mainan yang lebih banyak lagi.


"Nak, sekarang waktunya Khairi bobo siang, ya! Nanti lagi mainnya," tegur Asha yang sebenarnya ingin Aji segera pergi dari rumah ini.


"Nggak boleh gitu dong, Sayang. Nanti kalau Khairi kecapean terus sakit bagaimana? Khairi mau disuntik om dokter?"


"Aku nggak mau, aku mau main sama papa."


Asha masih berusaha mencoba membujuk sang putra, tapi tetap saja Khairi menolak untuk pergi tidur dan malah memeluk sang papa. Hingga akhirnya Aji yang kasihan pada Asha pun angkat bicara. "Sekarang Khairi bobo dulu, ya! Ini 'kan sudah siang, nanti kalau Khairi sakit kasihan Mama."


"Tapi aku masih mau main sama Papa."


"Bagaimana kalau tidurnya Papa temenin. Nanti setelah bangun kita main lagi," tawar Aji.

__ADS_1


Khairi mengangguk dengan begitu antusias. Anak itu pun mengajak sang papa untuk ke kamarnya, kamar yang selama ini dia tempati bersama dengan mamanya. Asha ingin mencegahnya. Namun, sudah terlambat, sang putra sudah membawa Aji masuk ke dalam kamar mereka.


Wanita itu semakin bingung bagaimana cara untuk membuat Aji segera pergi dari rumah ini. Bik Ika yang melihat pun hanya bisa mengusap pundak Asha. Mungkin ini memang sudah saatnya Khairi mengetahui siapa jati diri yang sebenarnya. Anak itu juga perlu mengenal keluarga besarnya.


"Bu ...."


Asha menatap Bik Ika seolah meminta pendapat mengenai keberadaan Aji saat ini. Pria itu tidak seharusnya berada di rumah ini. Mereka sudah tidak memiliki hubungan apa pun, rasanya tidak pantas jika harus tinggal satu rumah. Bagaimana jika nanti istri Aji tahu dan datang marah-marah, pasti akan menimbulkan masalah.


"Percayalah jika ini memang takdir untuk kalian. Hadapi saja semuanya dengan ikhlas, insya Allah semua bisa terselesaikan dengan baik, tanpa harus ada perselisihan di antara kalian. Sudah cukup kamu pergi dari masalah-masalah ini. Sekarang saatnya kamu menghadapinya," ujar Bik Ika.


Dia tidak ingin Asha menjauh dari keluarganya lagi. Sebagai orang tua, wanita itu sangat mengerti bagaimana perasaan mantan majikannya. Pasti saat ini mereka merindukan kehadiran Asha di rumah. Sekarang Bik Ika akan mendukung apa yang dilakukan Aji.


"Tapi aku takut, Bu. Bagaimana kalau papa tetap ingin memisahkan aku dan Khairi?" tanya Asha dengan suara pelan.


"Sekarang Khairi sudah besar, tidak mungkin Tuhan akan memisahkan kalian. Kalaupun memang benar, itu pasti akan sulit mengingat anak itu juga pintar. Kamu sekarang juga sudah lebih kuat daripada dulu. Ibu yakin kamu bisa menjaga anakmu, Ibu juga bisa melihat cinta yang begitu besar di mata Nak Aji kali ini. Pasti dia juga akan melindungi kalian meskipun sekarang status sudah berbeda."


Asha menatap Bik Ika dengan ragu, apakah benar yang dikatakan wanita paruh baya itu? Sungguh dia sangat takut jika keluarganya akan menyakiti Khairi. Selama ini anak itu sudah cukup menderita bersamanya. Masihkah harus menghadapi masalah dalam keluarga besarnya.


"Sebaiknya kamu juga istirahat, sepertinya kamu juga lelah."


Bik Ika segera masuk ke dalam rumah, sementara Aji menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat. Entah apa yang dilakukan oleh kedua pria yang berbeda usia itu. Meskipun mereka bilang akan tidur, tetapi Asha tidak yakin akan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2