
"Pa, sebentar lagi Pak Rendra mau ke sini," ucap Vania pada papanya, yang saat ini sedang menikmati sarapan pagi.
"Mau ke sini? Mau ngapain?" tanya sang papa balik.
"Katanya mau balikin kunci apartemen, sekaligus mau berterima kasih."
"Ya sudah, biarkan saja asal jangan terlalu lama karena sebentar lagi Papa juga harus ke kantor."
"Mungkin sebentar lagi. Aku juga sudah bilangin dia kalau jangan terlalu lama."
Mereka pun melanjutkan menikmati sarapan bersama. Mama Nisa sedari tadi hanya diam menyimak. Dia juga sudah mendengar cerita tersebut dari sang suami. Meski dalam hati wanita itu kesal pada atasan putrinya, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Tidak berapa lama Rendra akhirnya datang juga. Dia berterima kasih pada Papa Roni yang sudah memberinya tempat tinggal dan juga sudah menolongnya dari klab malam. Jika tidak, entah apa yang sudah terjadi padanya. Sebenarnya pria itu juga merasa tidak enak karena sudah merepotkan orang yang sama sekali tidak dikenalnya.
__ADS_1
"Lain kali Nak Rendra hati-hati. Di kota ini banyak sekali orang yang suka memanfaatkan orang lain. Kalau mau ke mana-mana sebaiknya ajak teman atau keluarga. Jangan pergi sendiri seperti semalam, apalagi ke tempat seperti itu."
"Iya, Pak. Terima kasih sekali lagi. Saya jadi merasa tidak enak karena sudah merepotkan Anda. Padahal saya sama sekali tidak mengenal Anda, tapi Anda sudah sangat baik kepada saya."
"Saya hanya melakukan tugas sebagai sesama manusia. Tidak mungkin saya membiarkan kamu sendirian di sana. Apalagi putri saya juga mengenalmu."
Mereka pun berbincang sejenak hingga akhirnya Rendra pamit undur diri. Dia harus pulang lebih dulu, sementara Papa Roni dan Vania pergi ke tempat kerja masing-masing.
***
"Aduh, maaf, Dev. Aku nggak bisa, aku sudah dijemput sama Hasbi di luar," tolak Dira sambil membereskan mejanya dan bersiap untuk pulang.
"Kamu mau pergi sama dia?"
__ADS_1
"Iya, mamanya Hasbi ingin bertemu. Sejak pertunangan aku nggak pernah bertemu dengannya, makannya beliau ingin bertemu denganku sekalian makan malam."
Devi menganggukkan kepala, ada sedikit rasa iri dalam hatinya karena Dira begitu diterima di dalam keluarga Hasbi, sedangkan dirinya, keluarga sang kekasih sama sekali tidak menyukainya. Semua selalu memandangnya sinis, padahal jika dipikirkan kembali gadis itu juga tidak kurang apa pun. Devi juga dari keluarga kaya, mereka tetap saja tidak suka, tetapi hal tersebut tidak masalah baginya. Asalkan sang kekasih mencintainya, itu sudah cukup membuatnya bahagia karena yang akan menjalani hidup dengannya adalah pria itu bukan keluarganya.
"Ya sudah kalau begitu, baik-baik ya, sama calon mertua," ucap Devi yang kemudian berlalu dari sana.
Dira pun segera pergi dari sana menuju tempat parkir, di mana Hasbi sudah menunggu.
"Sudah lama?" tanya Dira yang sudah berdiri di depan Hasbi.
Pria itu tersenyum dan menggelengkan kepala. "Baru saja, ayo masuk! Kita harus segera pergi, mama sudah menunggu di rumah," ajak Hasbi sambil membuka pintu mobil miliknya. Dira pun segera masuk.
Dari kejauhan Devi melihat semuanya. Hal itu semakin membuat dia merasa iri hati. Andai saja dia tidak membatalkan perjodohan dirinya dan Hasbi, pasti saat ini dirinyalah yang diperlakukan sedemikian rupa. Seharusnya gadis itu percaya pada kedua orang tuanya, bahwa Hasbi dan keluarganya memang orang baik, yang akan memperlakukannya seperti ratu.
__ADS_1
Akan tetapi, karena cintanya pada sang kekasih, membuatnya buta dan lebih memilih untuk membatalkan semuanya. Jika saja perjodohan itu berlanjut pasti dia juga akan bahagia.
"Tidak aku tidak boleh berpikir seperti itu. Bagaimanapun juga aku sudah memiliki seorang kekasih dan aku mencintainya. Aku yakin suatu hari nanti kami akan bahagia bersama. Lagi pula Dira adalah temanku, tidak sepantasnya aku iri padanya. Seharusnya aku kasihan karena gara-gara aku, dia menerima Hasbi jadi suaminya. Padahal mereka sama sekali tidak saling mengenal," gumam Devi sambil melihat kepergian mobil yang ditumpangi oleh sahabatnya.