Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
119. Enggan berjauhan


__ADS_3

"Kenapa sejak datang tadi kamu terus aja cemberut? Apa kamu senang ada masalah?" tanya Asha pada adiknya saat mereka berada di dalam kamar tamu.


Asha sengaja mengajak adiknya tidur di sana saja. Meskipun hubungan keduanya sangat dekat, tetapi tetap ada batasan juga yang tidak seharusnya Vania tahu jadi, lebih baik tidur di kamar tamu saja. Adiknya juga tidak keberatan tidur di mana pun asal tempatnya nyaman.


"Aku itu kesal sama Kakak, kayak anak kecil saja nyuruh aku ke sini buat nemenin tidur. Aku 'kan capek mau istirahat," sahut Vania dengan cemberut.


"Sekarang juga kamu bisa beristirahat."


"Bagaimana bisa istirahat, sejak tadi kakak ngajakin aku ngobrol terus."


"Kakak 'kan kangen sama kamu. Apa kamu tidak kangen sama kakak? Sudah sangat lama kita tidak tidur bersama. Sejak kuliah Kakak sudah sibuk, kamu juga sudah jarang ada waktu untuk bersama karena selalu saja ada acara dengan teman-temanmu."


Vania terdiam, apa yang dikatakan kakaknya memang benar. Dia juga sebenarnya sangat rindu dengan kakaknya, hanya saja gadis itu merasa tidak enak jika mengganggu kebersamaan keluarga kakaknya. Vania juga sekarang sudah mulai sibuk dengan pekerjaan barunya jadi, waktu bersantai banyak berkurang.


"Kenapa Kakak tidak tidur sama kak Aji saja? Kenapa harus sama aku? Kakak nggak kasihan sama suami Kakak yang sendirian di kamar?"


"Jangan pikirkan soal itu, lagian Mas Aji saat ini ada di rumah mamanya, mana mungkin aku pergi ke sana juga."


"Kenapa Kakak nggak ikut Mas Aji ke sana? Seharusnya 'kan Kakak ikut suami Kakak dan aku nggak usah datang ke sini. Apa jangan-jangan Kakak bertengkar dengan Kak Aji?"

__ADS_1


"Enak saja. Mana mungkin seperti itu. Kami itu pasangan suami istri yang romantis mana mungkin bertengkar. Sudah, jangan terlalu memikirkan masalah kami, Mas Aji sedang merindukan mamanya makanya dia tadi izin ke sana," jawab Asha berbohong.


Dia tidak mungkin mengatakan alasan sesungguhnya kenapa sang suami pergi. Pasti nanti Vania akan merasa tidak enak dan merasa bersalah jadi, lebih baik adiknya tidak tahu. Lagipula Aji juga tidak keberatan keluar rumah malam ini.


"Oh ya, pekerjaan kamu gimana? Dan hubungan kamu dengan atasanmu apa sudah ada kemajuan?"


Seketika Vania melotot, bisa-bisanya Asha berpikir seperti itu. Dia saja tidak pernah memikirkannya. "Kakak ini bicara apa sih! Pekerjaanku selalu baik dan mengenai atasanku aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan dia jadi, jangan berpikir yang macam-macam. Nanti yang ada malah jadi fitnah. Lagian atasanku itu juga masih terluka mantannya dan tidak ingin berhubungan dengan wanita mana pun jadi, Kakak nggak usah terlalu banyak berpikir urusan tidak penting itu. Aku juga tidak tertarik dengannya."


"Tapi kenapa Kakak justru merasakan ada hal yang berbeda di antara kalian? Kalian juga terlihat serasi satu sama lain. Atasanmu juga terlihat seperti pria yang baik, tidak ada salahnya 'kan mencoba sesuatu hubungan serius? Siapa tahu nanti hubungan itu justru lebih langgeng daripada pasangan di luaran sana, yang berhubungan bertahun-tahun dan bercerai pada akhirnya."


"Kakak kenapa harus bahasa aku? Aku sudah mengatakan kalau aku dan atasanku itu tidak ada hubungan apa pun. Saat ini bagiku yang penting adalah bagaimana melakukan pekerjaan dengan baik. Aku tidak ingin membuat orang-orang yang sudah percaya padaku kecewa dengan hasil yang aku berikan. Aku harus bisa melakukan pekerjaanku dengan baik."


Vania mengangguk dan memeluk kakaknya. Keduanya terlihat begitu bahagia, kerinduan akan kebersamaan kini sudah terobati. Mereka sama-sama sepakat jika setelah ini mereka harus sering-sering bertukar kabar. Bukan hanya saat sedang ada sesuatu yang penting saja, tetapi saat mereka sedang bersantai dalam keadaan apa pun.


Keesokan paginya Vania pergi ke kantor dengan menggunakan mobil Asha, sekalian gadis itu juga mengantar chairi ke sekolah Aji sendiri tidak bisa pulang karena dia mendapat pesan dari asistennya jika ada kuliahnya yang memajukan jam pertemuan jadi pagi karena mereka harus segera kembali ke luar negeri, padahal sudah sangat rindu pada istrinya, tetapi dia juga tidak mungkin egois mengorbankan pekerjaan. Apalagi banyak orang yang bergantung di perusahaan itu. Aji tidak mau membuat kesalahan sedikit pun yang bisa menggoyahkan pertahanan perusahaan.


***


Dira membantu bibi dan sang mertua memasak di dapur. Sedari tadi wanita itu terus saja tersenyum, membuat bibi dan Mama Liana saling berpandangan. Keduanya bingung apa yang terjadi pada menantunya itu. Namun, saat mengetahui rambut Dira yang basah serta jalannya yang sedikit aneh, membuat mereka mengerti dan hanya bisa mengulum senyum. Keduanya berharap jika Hasbi dan Dira akan selalu bahagia bersama selamanya.

__ADS_1


"Dira, panggil suami kita sarapan sama-sama," ucap Mama Liana pada sang menantu yang diangguki oleh Dira. Saat memasuki kamar ternyata Hasbi masih sibuk dengan laptopnya. Tadi dia berpikir jika pria itu sudah bersiap akan pergi kerja.


"Mas, sarapan sudah siap. Kenapa kamu belum siap juga? Apa kamu tidak pergi ke kantor hari ini? Bukannya kemarin kamu bilang kalau ini hari pertama kamu kerja?" Tanta Dira sambil mencari pakaian kerjanya.


"Iya, tapi ini masih ada pekerjaan. Sebentar lagi juga selesai," sahut Hasbi sambil tersenyum ke arah sang istri.


Dira pun memilih untuk pergi ke kamar mandi, dia juga harus bersiap untuk pergi bekerja karena hari ini ada perkenalan atasan baru. Kemarin atasannya sudah mengatakan jika tidak ada yang boleh terlambat, takutnya nanti akan mendapat peringatan. Dira mendengar jika atasan baru kali ini orangnya tegas dan tidak pandang bulu dalam memperlakukan karyawannya. Tidak peduli mereka pegawai senior atau bukan, semua di matanya sama.


"Maaf, hari ini aku tidak bisa mengantar kamu pergi kerja," ucap Hasbi saat dirinya juga bersiap untuk pergi ke kantor.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti, kamu juga sudah mulai bekerja jadi, pasti capek jika harus bolak-balik. Lagian aku juga bisa pergi sendiri."


Hasbi mengangguk. Namun, pria itu malah memeluk sang istri, membuat Dira merasa aneh sekaligus malu. Di bawah pasti kedua orang tuanya sudah menunggu, tapi di kamar malah mereka bermesraan seperti ini.


"Aku merasa berat sekali berpisah darimu. Apa sebaiknya kita hari ini ambil cuti saja, ya? Aku ingin menghabiskan waktu seharian bersamamu."


Dira yang berada dalam pelukan sang suami pun tersenyum. Dia mengerti bagaimana perasaan Hasbi. Namun wanita itu juga tidak mungkin mengabaikan pekerjaannya. Sang suami juga memiliki tanggungjawab yang lebih besar.


"Jangan seperti itu, Mas. Kita masih memiliki banyak waktu, kalau kita habiskan seharian ini pasti rasanya akan membosankan."

__ADS_1


"Tidak ada rasa bosan jika bersama denganmu. Justru rasanya lebih membahagiakan."


__ADS_2