Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
80. Menyukai rumahnya


__ADS_3

Aji dan Asha telah sampai di rumah mereka. Di sana sudah ada pekerja yang biasanya memang membersihkan rumah tersebut dan menjaganya. Itulah kenapa suasana rumah tampak begitu bersih dan indah dipandang. Asha begitu terkesima dengan rumah pembelian sang suami.


Rumahnya tidak terlalu besar. Namun, tidak tidak kecil juga, hanya saja yang membuat Asha tertarik adalah taman di samping rumah yang terlihat sangat luas. Sepertinya Khairi akan sangat suka bermain di sana nanti. Aji pun mengajak sang istri untuk masuk ke dalam rumah untuk melihat apa saja yang ada di sana.


Sang istri pun mengangguk dan mengikuti suaminya. Lagi-lagi Asha dibuat terkagum dengan dekorasi rumah itu, semuanya membuat siapa pun yang datang akan merasa betah. Dia berharap keinginannya tentang memiliki keluarga bahagia bisa terkabul.


"Siapa yang mendekorasi rumah ini, Mas? Indah sekali, pasti arsiteknya berpengalaman," tanya Asha tanpa melihat ke arah sang suami, matanya fokus memindai setiap sudut rumah dan apa saja yang ada di sana.


"Tentu saja aku, Sayang. Beberapa bulan kita tinggal bersama, sudah cukup untukku bisa mengetahui apa yang kamu suka dan aku mencoba untuk mewujudkannya dalam rumah ini. Apa kamu suka?" tanya Aji dengan menatap wajah sang istri, menunggu jawaban wanita itu mudah-mudahan tidak mengecewakan.


"Sangat suka, terima kasih. Rumah ini begitu indah dan nyaman, terima kasih sudah menciptakan suasana ini. Aku sungguh merasa bahagia bisa memiliki suami sepertimu. Terima kasih juga sudah mencintai dan menyayangiku."


Aji berjalan mendekat ke arah sang istri dan menggenggam kedua telapak tangan wanita itu.


"Apa pun yang aku lakukan kini hanyalah untuk kebahagiaanmu dan Khairi. Apa pun akan aku lakukan untuk kalian agar kalian bisa nyaman hidup bersama denganku. Aku hanya ingin kamu yang selalu ada di sampingku, menemaniku hingga akhir usia. Kamu mau 'kan?"


"Tentu saja, sekarang kamu adalah orang imamku. Apa pun perintahmu pasti akan aku laksanakan, asal tidak bertolak belakang dengan hati nuraniku."


Aji tersenyum hangat dengan jawaban sang istri. "Aku juga tidak akan mungkin mengajakmu untuk melakukan hal yang salah. Ya sudah, ayo sekarang kita lihat-lihat sekitar rumah ini."

__ADS_1


Aji pun membawa sang istri berkeliling rumah. Mengenai barang-barang miliknya biar asisten rumah tangga yang mengatur. Pria itu mempekerjakan dua orang wanita sebagai membantu, keduanya melakukan pekerjaan rumah bersama-sama. Tidak ada tukang bersih-bersih ataupun memasak, semuanya dilakukan bersama-sama.


Dia juga memperkerjakan seorang satpam dan juga seorang tukang kebun. Memiliki taman yang begitu luas tentu Aji tidak akan membiarkan Asha melakukan sendiri. Wanita itu sama sekali tidak keberatan dengan hal itu, dia juga tidak akan mampu membersihkan rumah dengan halaman yang seluas ini. Masalah keinginannya memasak untuk sang suami dan putranya nanti, itu akan Asha bicarakan lagi dengan sang suami.


Pasti terkadang juga dia butuh pembantu, saat dirinya tidak bisa menyiapkan makanan untuk suami dan anaknya. Biarlah nanti diatur lagi. Di belakang rumah ternyata ada kolam yang sangat besar, airnya pun begitu jernih dan segar.


"Kenapa kolamnya besar sekali, Mas? Bahkan ini lebih besar daripada di rumah mama."


"Aku memang sengaja membuatnya lebih besar. Aku ingat saat aku mengajak Khairi ke tempat wisata dan berenang di sana. Dia terlihat begitu bahagia, makanya aku membuat kolam sebesar ini."


"Jadi kolam ini masih baru?" tanya Asha yang mengingat jika pertemuan mereka memang belum lama.


"Iya, sebelumnya sudah ada, tapi tidak sebesar ini dan setelah tahu keinginan Khairi aku membuatnya lebih besar lagi."


"Bukan hanya kolam ini saja, Sayang, tapi seluruh rumah dan isinya, aku membuatnya untukmu dan juga Khairi. Tidak ada alasan lain yang mendasarinya, semuanya demi kamu dan Khairi agar kalian nyaman saat tinggal bersamaku dan tidak berniat untuk meninggalkanku lagi."


Asha terdiam sambil menatap sang suami. Ternyata pria itu merasa trauma ditinggalkan oleh dirinya. Wanita itu jadi merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan selama ini. Namun, memang saat itu Asha tidak punya pilihan lain selain pergi. Jika tidak, nyawa anaknya akan dalam bahaya.


Meskipun anak itu akan baik-baik saja di panti asuhan, tetap saja sebagai seorang ibu dia tidak mau dipisahkan dengan anaknya, terlepas bagaimana cara anak itu hadir di dunia ini. Apalagi saat melihat Khairi yang tumbuh begitu sehat dan cerdas, membuat Asha merasa bersyukur ada yang menemaninya.

__ADS_1


"Maafkan aku pergi begitu saja."


"Tidak usah minta maaf, aku tahu alasan kamu pergi. Jika aku menjadi dirimu, saat itu aku pun akan melakukan hal yang sama karena sebagai orang tua pasti akan selalu ingin yang terbaik untuk anaknya. Aku juga sangat kagum memiliki istri seperti kamu. Mulai saat ini, di rumah ini, kita akan mulai semuanya dari awal, mengukir kenangan indah yang bisa kita ceritakan kepada anak dan cucu kita nanti. Rumah ini akan menjadi saksi bagaimana keluarga kita akan selalu bahagia. Masalah yang datang pasti akan tetap selalu ada, tapi kita akan sama-sama menghadapinya dan memecahkan setiap persoalan yang ada tanpa emosi. Aku akan selalu menggenggam tanganmu dan tidak akan pernah melepaskannya dalam keadaan apa pun."


Asha menganggukkan kepala dengan air mata yang menetes. Namun, senyum tetap terukir di bibir wanita itu. Dia berjanji akan menjadi istri yang bisa dibanggakan, juga akan membesarkan anak-anak mereka dengan penuh kasih sayang. Khairi tidak akan kekurangan cinta dari kedua orang tuanya. Cukup lima tahun bagi anak itu tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah, kini akan mendapatkan kasih sayang utuh dan berlebih.


Setelah cukup melihat keseluruhan isi rumah, Asha memutuskan untuk membereskan pakaiannya dan sang suami yang ada di kamar. Tadinya Aji sudah meminta pembantu untuk melakukannya. Namun, Asha melarang karena merasa itu adalah pekerjaan ringan dan dia pun bisa melakukannya. Lagi pula wanita itu juga sudah memutuskan untuk tidak memperbolehkan sembarangan orang masuk ke dalam kamar. Meskipun itu pembantu rumahnya.


Untuk urusan kamar, Asha akan menyelesaikan semuanya sendiri. Membersihkan kamar dan mengepel akan dia lakukan, bahkan urusan kamar mandi yang ada di kamar juga dia lakukan sendiri. Apa yang menjadi keinginan istri, Aji sempat tidak setuju. Kamar mereka juga cukup luas, tetapi setelah mendengar alasan sang istri kenapa ingin melakukan semuanya sendiri Aji pun tidak protes lagi.


"Sayang, aku mau jemput Khairi ke sekolah, kamu mau ikut?"


"Tidak, Mas. Aku masih ada beberapa yang belum selesai. Tidak apa-apa 'kan kamu jemput Khairi sendiri?"


"Tentu saja tidak apa-apa. Mama Tia baru saja menghubungiku katanya dia sedang dalam perjalanan ke sini. Mungkin sebentar lagi akan sampai."


"Iya, Mas."


"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu." Aji buat mencium kening sang istri dan berlalu dari sana.

__ADS_1


Asha hanya tersenyum memandangi punggung sang suami yang menghilang di balik pintu. Sangat berbeda dengan masa lalu. Dulu dia selalu berharap bahwa Aji bisa mencintai dan memperlakukannya selayaknya istri. Namun, hingga berbulan-bulan dirinya tidak kunjung mendapatkan itu semua.


Hingga akhirnya kebohongan yang selama ini dia tutupi terbongkar sudah. Saat itulah hidupnya benar-benar hancur. Untung saja ada Khairi yang menemaninya, Asha menjadi wanita yang kuat dan saat ini dia bersyukur akhirnya Aji bisa benar-benar mencintainya dan menerima Khairi menjadi anaknya. Pria itu juga tidak pernah mempermasalahkan dari mana asal-usul anak itu.


__ADS_2