
"Apa Mama punya nomor telepon Bik Ika? Barangkali Asha mengatakan sesuatu padanya sebelum pergi? Asha 'kan begitu dekat sama Bik Ika, rasanya nggak mungkin kalau Bik Ika tidak tahu apa-apa," tanya Aji yang mencoba mencari kemungkinan yang ada. Dia berharap firasatnya benar.
"Ada, Mama punya nomor teleponnya. Sebentar biar Mama cari." Mama Nisa pun segera membuka ponselnya mencoba mencari nomor asisten rumah tangganya yang dulu, begitu menemukannya dia segera menghubunginya. Namun, ternyata nomornya tidak aktif.
"Nomornya tidak aktif," ucap Mama Nisa dengan lesu.
"Coba lihat, Ma!" pinta Aji sambil mengulurkan tangan meminta ponsel mertuanya.
Aji pun mencoba menghubungi Bik Ika dengan ponselnya. Namun, hasilnya sama, ternyata tidak aktif. Ketiga orang itu semakin bingung harus bagaimana. Sungguh kepergian Asha sangat minim petunjuk, bahkan wanita itu pergi tanpa satu pun orang yang dituju.
"Kalau alamat rumah Bik Ika, Mama ada nggak?" tanya Aji lagi.
"Ada, dulu di berkas kerja Bik Ika, tapi nggak tahu masih ada apa nggak berkas itu. Kamu tunggu dulu, biar Mama cari di dalam."
Mama Nisa segera pergi ke dalam rumah, sementara di ruang tamu masih ada Papa Roni dan Aji. Roni merasa bersalah saat ini, seandainya dirinya tidak egois dan meminta Asha untuk meninggalkan bayinya di panti asuhan, pasti tidak akan ada kejadian seperti ini. Namun, semuanya terlambat. Menyesal pun tidak ada gunanya, sementara Aji mencoba menghubungi seseorang yang bisa membantunya untuk mencari sang istri. Orang itu meminta beberapa petunjuk sebelum Asha benar-benar hilang. Meskipun sangat minim, pria itu akan menjelaskan nanti saat bertemu.
"Ini, Nak Aji berkas Bik Ika. Apa mungkin Bik Ika masih tinggal di sana? Ini berkas sudah sangat lama, sejak Asha lahir, itu pertama kali bibi bekerja di rumah ini."
__ADS_1
"Tidak ada salahnya mencoba. Mudah-mudahan saja Bik Ika masih tinggal di sana."
Mama Nisa mengangguk, dalam hati dia juga berharap jika mantan asisten rumah tangganya itu masih tinggal di sana, hanya Bik Ika harapan satu-satunya saat ini. Meskipun tidak yakin jika asisten rumah tangganya itu mengetahui sesuatu. Setidaknya nanti tidak ada yang mengganjal di hatinya setelah bertemu.
Aji segera menghubungi anak buahnya agar segera pergi ke alamat yang tertera di sana. Bisa saja pria itu pergi langsung ke sana, tetapi dia juga harus mencari Asha di kota ini melalui tempat terakhir sang istri pergi. Dia juga harus menemui detektif terlebih dahulu, untuk meminta pertolongannya mencari Asha, istrinya juga belum tentu ada di rumah Bik Ika. Nanti jika wanita itu benar-benar di sana barulah dia akan pergi menjemput.
Aji berpamitan pada kedua mertuanya untuk pulang. Dia harus mulai mencari tahu keberadaan sang istri. Mama Nisa berpesan pada pria itu untuk memberitahu segala sesuatu tentang Asha jika memang ada kabar tentang putrinya. Wanita itu sudah sangat merindukan anaknya.
Asha adalah anak yang penurut. Selama ini tidak pernah melakukan kesalahan apa pun jadi, saat Asha melakukan kesalahan mereka tentu sangat marah, tetapi tidak mengurangi rasa kasih sayang pada wanita itu. Aji pun berjanji akan segera mengabari kedua mertuanya, jika menemukan petunjuk tentang keberadaan sang istri. Dia juga mengerti bagaimana perasaan Papa Roni dan Mama Nisa karena saat ini dirinya pun berjauhan dengan putranya.
Meskipun Aji dan Khairi hanya bertemu sebentar, tetapi ikatan di antara keduanya begitu kuat. Kelucuan anak itu menarik Aji untuk menyayanginya. Bahkan orang yang baru mengenalnya pun ajan langsung jatuh cinta.
"Aji, kamu sudah pulang? Asha mana? Bukankah kamu tadi bilang mau menjemput dia? Kenapa kamu pulang sendiri? Apa Asha tidak mau ikut bersama kamu?" tanya Mama Tia saat melihat wajah lelah sang putra. Ditambah lagi Aji pulang seorang diri tanpa membawa istrinya.
Padahal sebelumnya laki-laki itu begitu bersemangat ingin membawa sang istri untuk pulang. Apakah memang Asha terlanjur sakit hati, hingga tawaran dari suaminya untuk pulang? Mama Tia mengikuti langkah putranya hingga duduk ruang keluarga. Dia masih menunggu jawaban dari Aji.
"Asha sudah pergi, tidak ada yang tahu di mana dia sekarang," jawab Aji dengan bergumam, tetapi masih bisa terdengar.
__ADS_1
Papa Harto yang baru datang pun dibuat bingung dengan kalimat yang diucapkan Aji. Dia menatap sang istri seolah bertanya ada apa. Mama Tia yang tidak tahu hanya bisa menggelengkan kepala tanpa bersuara.
"Maksud kamu apa sih? Memang Asha pergi ke mana?" tanya Papa Harto, sementara Mama Tia hanya diam menunggu jawaban dari sang putra.
"Asha pergi dari kedua orang tuanya. Dia kabur setelah pulang dari apartemen waktu itu. Dalam perjalanan pulang Papa Roni menginginkan Asha membawa anaknya ke panti asuhan karena Asha menolak, akhirnya nekat kabur dari kedua orang tuanya waktu mereka berhenti di pengisian bahan bakar."
"Astaghfirullahaladzim, lalu sekarang bagaimana keadaannya? Di mana dia sekarang?" tanya Mama Tia yang begitu khawatir. Bagaimanapun kejadian itu dirinya juga turut andil.
"Mereka semua tidak ada yang tahu karena sampai saat ini, Papa Roni dan Mama Nisa belum menemukan keberadaannya, bahkan orang suruhannya pun tidak menemukannya sama sekali. Yang lebih menyakitkan, Asha pergi tanpa membawa apa pun, hanya tas selempangnya saja. Tentu saja tidak ada isinya apa-apa, yang pasti tidak akan cukup untuk membuat mereka bertahan hidup sampai saat ini."
Saat menikah, Aji pernah memberikan kartu kredit pada Asha, terapi sayangnya wanita itu mengembalikannya saat kejadian hari itu. Dia meletakkan kartu tersebut di meja kamar beserta cincin saat sedang mengambil baju. Andai saja sang istri membawa dan memakainya pasti Aji akan tahu keberadaannya.
Papa Harto dan Mama Tia terlihat lemas, mereka tidak menyangka jika menantunya akan memilih jalan ini. Keduanya mengerti alasan besannya yang ingin agar anak Asha ditempatkan di panti asuhan saja, itu pasti demi nama baik keluarga. Namun, sebagai orang tua mereka juga mengerti bagaimana perasaan Asha, yang tidak ingin meninggalkan anaknya. Apalagi sang menantu dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih sayang, pasti akan sangat sulit terpisah dengan anaknya. Khairi juga terlihat begitu menggemaskan. Siapa yang rela berjauhan dengan anak itu.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku masih mencarinya, Pa. Mudah-mudahan saja Asha segera ditemukan dan setelah itu aku tidak akan membiarkan dia pergi dariku."
__ADS_1
"Nanti Papa akan bantu agar anak Papa mencarinya juga, mudah-mudahan saja bisa ketemu. Itupun kalau ada masih tinggal di kota besar, kalau di perkampungan akan sangat sulit karena sangat minim data yang masuk."
Aji membenarkan apa yang dikatakan papanya, bahkan data untuk keluar negeri akan ada datanya di bandara jika memang harus melakukan perjalanan udara. Kalau kereta api juga masih ada, kecuali bis pasti tidak ada datanya dan angkutan umum mungkin hanya itu.